Monday, 20 January 2014

KAROMAH IMAM MAHDI


Bay’at Imam Mahdi as
( Siri Kedatangan Imam Mahdi as, Nabi Isa as/Yesus Christ & Armageddon 13)
Terjemahan sohbet Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani ar-Rabbani

Bismillah hirRohman niRohim

Tanpa Imam Mahdi as maka tidak akan ada kesatuan umat islam, karena kekalifahan Islam akan terbentuk melalui kekalifahan Imam Mahdi as. Ketika Imam Mahdi as datang maka saat itu jihad menjadi kewajiban bagi seluruh umat islam, yaitu jihad melawan Dajjal dan deputy-deputynya. Sebelum Imam Mahdi as datang maka jihad belum menjadi kewajiban seluruh umat islam
dunia.

Pada saat kemunculan Imam Mahdi as ditandai dengan tiga kali takbir Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar maka seketika itu segala teknologi akan tidak berfungsi. Seluruh alat perang modern mati. Banyak negara saat ini membeli berbagai senjata berat modern, untuk apa?.

Imam Mahdi as akan mengambil amanah dari Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasalam, yaitu bendera beliau, jubah dan pedang Nabi saw di Istambul di Museum Topkapi. Kemunculan pertama beliau di Makkah kemudian beliau ke Madinah. Imam Mahdi as adalah figur yang nyata, adalah bagian dari islam, jika kalian menolaknya atau mengatakan saya tidak tahu, maka kalian sebenarnya telah menolak sebagian islam, artinya kalian menolak islam secara keseluruhan karena islam adalah ajaran yang sempurna. Allah telah menyempurnakan ajaran islam, jika kalian membuang salah satunya maka kalian tidak mengikuti islam

Saat ini mengapa banyak Ulama Ahlul Sunah wal Jama’ah tidak berbicara tentang Imam Mahdi as, sementara Syiah menerimanya dan menjadi bagian dari islam, tetapi ahlul sunah jamaah membuat bagian-bagian terpisah. Wahabi menerima tetapi nabi saw mengatakan inti iman adalah ibadah, Siapa ulama ahlul sunah jamaah saat ini yang bicara tentang Imam Mahdi as,sangat sedikit sebagian terbesar adalah Ulama Tasawuf, para Ahli Sufi sementara sebagian besar mereka lupa untuk membicarakan tentang Imam Mahdi as.

Imam Mahdi as sudah hadir saat ini, beliau tinggal menunggu izin Allah swt untuk mengumumkan kedatangannya. Para Awliya telah bertemu dengan beliau dan mengambil bayat. Pada tahun 1971 Mawlana Syaikh Hisyam diperintahkan untuk suluk dan khalwat,
ketika beliau sedang duduk hendak berdzikir tiba-tiba Syaikh Abdullah Faiz dating dan mengajak Mawlana Syaikh Hisyam untuk bertemu Sayidina Mahdi as. Ketika itu Mawlana sering sekali mendapat tugas untuk menulis sohbah-sohbah Grandsyaikh Abdullah Faiz, dimana beliau sering bicara berjam-jam nonstop dan tidak pernah mengulangnya seperti air terjun ilmu itu dicurahkan. Darimana pengetahuan itu datang, tak ada satupun buku yang beliau baca. Ini adalah pengetahuan yang langsung Allah turunkan melalui Qalbu nabi Muhammad saw kepada para WaliNya, ilmu kehadiran (hudur) karena ruh Awliya selalu bersama Nabi Muhammad saw, ini adalah ilmu dengan kehadiran.

Dan ketika saya mulai dzikir, Grandsyaikh Abdulah datang membawa saya untuk berbayat kepada Imam Mahdi as. Beliau mengatakan, “Tutup matamu, karena engkau tak dapat melihat Imam Mahdi as saat ini, karena cahayanya yang demikian besar akan membakarmu, lalu sekarang julurkan lenganmu. Ketika saya menjulurkan tangan, maka Grandsyaikh berkata sekarang kau telah memegang tanganku bersama 7007 wali dari Naqshbandi, dan sekarang engkau bersama 124.000 ambiya ( para Nabi), dan sekarang diatasmu adalah tangan Imam Mahdi as dan terakhir tangan Rasulullah saw. Kemudian Mahdi as memberikan talqin, bayat kepada saya beserta 7007 wali naqshbandi dan 124.000 anbiya. Ini adalah pengalaman yang sangat luar biasa besarnya, sehingga untuk beberapa hari saya tidak mampu mengingat apapun, saya berada dalam keadaan tak sadar, extase, gila untuk beberapa hari,

Kemudian Mahdi as mengundang saya bertemu dengan Sayidina Isa as, dan Granbdsyaikh Abdulah bersama saya. Mahdi as membawa saya kesuatu tempat dengan gerakan seperti berpindah dengan cepat dalam posisi berdiri tanpa berjalan, bukan terbang tetapi bergerak secara spiritual. Pada saat itu saya melihat pemandangan dikedua sisi kami berjalan adalah ribuan tentara Imam Mahdi as. Grandsyaikh mengatakan bahwa waktunya sudah sangat dekat kedatangan Imam Mahdi as,dan Mahdi as memberikan namamu untuk menjadi kalifahnya. Beliau memiliki 40 khalifah dan 59 deputy sehingga total 99 orang dimana setiap orang diberikan Nama Surga sesuai atribut 99 Nama Allah .

Ketika Allah Azzawajalla mengizinkan Imam Mahdi as tampil, maka pertama kali akan memperbaiki ulama. Karena banyak ulama akan menolak beliau, karena tidak percaya. Saat itu tak aka nada oposisi, tidak ada abu-abu, mereka yang menolak akan ikut Dajjal. Ahli kufur menolak Mahdi as, memang karena mereka ahli kufur. Kemudian Mahdi as akan bertakbir Allahu Akbar dia akan hadir di Makkah. Saat ini Mahdi as telah menikah dan memiliki tiga orang anak. Dia akan muncul pertama di Makkah kemudian ke Madinah dengan berkata laa hawlaa wala quwewata ilaa billah Bismillah hirRohman nirohim dan dan tiba-tiba beliau berada di Madinah.

Saat ini Imam Mahdi as berada di Gua Kebahagiaan di padang pasir antara Madinah dan Yaman. Para Awqliya mengatakan beliau tinggal bersama dengan deputy-deputynya. Ada tujuh kalifahnya yaitu Syahamatiu Fardhani, Yusuu as Siddiq, Abdur Rauf al Yamani, Immamul Arifin Amananul Haqq, Lisaanul Mutakallimin Aunullah as Sakhawi, Arif at Tayyar al Maruuf bi Mulhan, Burhaanul Kuramaa Ghautsul Anaam. Mereka adalah tujuh minister Imam Mahdi as. Mereka 24 jam bersama Imam Mahdi as secara spiritual beserta seluruh kalifah dan deputynya.

Tak seorangpun dapat mencapai tempat tersebut, karena dilindungii oleh 7 mahluk Spiritual : Budalla ( Wali Abdal), Nujaba, Nuqoba, Autad, Akhyar, Atab, Jin dan Malaikat, dan siapapun yang melewatinya akan berubah menjadi batu. Ketika tentara Perancis menjajah daerah itu ada beberapa tentara mreka yang menghilang secara misterius didaerah tersebut. Dan beberapa waktu yang lalu NASA pernah mengambil gambar melalui satelit dikawasan itu terlihat ada patung batu yangg serupa orang didaerah tsb. Mawlana juga mengatakan bahwa daerah itu terdapat pasir hidup yang akan menelan orang yang mendekati tempat tersebut.

Ketika zaman Imam Mahdi as, kita berjalan atau bergerak bukan dengan cara kita berjalan saat ini, tetapi kita bergerak dalam waktu dengan ilmu Kakikat at-Ta’. Saat ini kita berjalan dengan ruh berada didalam badan. Tetapi dengan hakikat at Ta’i maka ruh yang membungkus badan sehingga kecepatan ruh yang akan membawa badan. Badan kita saat ini lekat dengan bumi maka kalian tidak bisa bergerak melawan gravitasi. Ketika spiritual kalian naik maka ruh akan membungkus badan maka kalian dapat berjalan dengan tidak bergantung gravitasi bumi. Nafsu, maksiat dan ego menjerat kalian dalam garvitasi, tetapi ketika ruh sudah menguasai Ego dan nafsu maka graviatasi bumi tidak mengikat lagi.

Seperti di bulan astronaut tak terikat gravitasi,demikian juga dengan spiritual power yang akan membawa badan yang telah dibungkus ruh dapat bergerak sangat cepat. Ruh adalah enerji dengan kecepatan cahaya, bahkan lebih cepat dari kecepatan pikiran dan bahkan lebih cepat lagi seperti seperti kecepatan malaikat. Kecepatan malaikat lebih cepat dari kecepatan pikiran, sementara kecepatan pikiran lebih cepat dari kecepatan cahaya. Awliya bergerak dengan hakikat at-Ta’I tersebut, pertama dia mengeluarkan ruh dari badannya dan dia bungkus badan dalam ruhnya dan bergerak, ketika sampai ditempat tujuan maka dia taruh lagi ruh tersebut kedalam badan. Ini adalah penjelasan dalam tingkatan paling rendah dari hakikat at-Ta’i.

Setiap mukmin dan muslim akan mendengar takbir Mahdi as. Ada yang menerima dan ada yang menolak meskipun mereka ulama. Kemudian dengan mengucapkan Bismillah,Imam Mahdi akan berada di Syam, Damaskus. Itulah sebabnya saat ini banyak orang yang ingin tinggal di Syam. Banyak Awliya yang ingin tubuhnya dikuburkan di Syam ketika meninggal. Ketika Awliya meninggal ditempat lain, maka malaikatpun kemudian memindahkan tubuh tersebut ke Syam.Sayidina Zainab ra, juga dikuburkan di Syam, dan saat ini ribuan peziarah mendatangi makam beliau sehingga makam beliau saat ini sedang dalam renovasi .

Nabi sallallahu alaihi wasalam pernah mengatakan,”Saya tidak meminta apapun kepada kalian kecuali hargai dan peliharalah keturunanku”. Oleh sebab itu Allah menurunkan Kalifah terakhir dibumi dari keturunan Nabi Muhammad saw, ini sebagai bukti kecintaan Allah terhadap ahlul bayt yang saat ini sangat tidak dihargai oleh wahabi salafi. Nabi Muhammad saw tidak pernah memasuki Syam, karena dia meninggalkannya untuk Imam Mahdi as, karena kalau Nabi saw telah masuk Syam maka Mahdi as sudah tidak perlu lagi memasuki Syam oleh karena itu ketika Nabi saW sampai di pintu Syam beliau berhenti.

Imam Mahdi as akan bertakbir Allahu Akbar sebanyak tiga kali, maka seluruh teknologi black out, mati tak ada yg bisa bergerak. Setiap orang yang memiliki iman yang kuat dengan Hakikat at-Tai akan pindah ke Syam, kemudian dalam semalam Imam Mahdi as memerintahkan jin dan mahluk spiritual untuk membuat bangunan yang besar untuk menampung seluruh mukmin yang datang. Bangunan dengan kubah yang sangat indah akan selesai dalam semalam. Ketika itu ribuan orang dating ke Syam dan Allah akan melebarkan Syam. Kemudian Mahdi as akan mendeklarisakan jihad melawan Dajal. Dajal waktu itu akan keliling dunia untuk membuat kengingungan.

Pada saat Mahdi as ke Istambul untuk mengambil amanah Nabi saw, yaitu jubah, pedang dan bendera Nabi saw, maka beliau didampingi 12.000 tentara yang wajahnya serupa dengan Sayidina Ali ra karamallahu wajhah. Semua sama wajahnya dan sama pedangnya dan dipimpin langsung oleh Ali ra. Ali ra hingga kini masih hidup dan belum pernah mati, dia akan muncul bersama Mahdi as. Dulu putri Nabi saw yang sangat disayangi Fatimah ra pernah mengadu kepada Nabi saw, bahwa Ali ra sering berhari-hari tidak pulang kerumah, dan Nabi saw menjawabnya, “Ya Fatimah aku yang menugaskan Ali untuk mencegah invasi mahluk asing kebumi ini. Ali ra ditugaskan ke outer space, ke ruang angkasa dan galaksi lain, apabila tidak karena Ali ra maka bumi ini telah lama diinvasi oleh aliens ratusan tahun yang lalu.

Dalam hikayat Sahabh, maka ketika Ali ra dalam sakaratul maut dia meminta diletakkan di ontanya dan ontanya dibiarkan berjalan dan menghilang dibalik bukit. Ketika itu sahabat menunggu selama berjam-jam kemudian ada kafilah dari arah berlawanan dan sahabat menanyakan apakah mereka bertemu dengan Sayidina Ali ra? Mereka menjawab bahwa mereka bertemu Ali ra dan mengucapkan salam dan Ali ra membalas salam itu. Maka Awliya berpendapat bahwa Ali ra bersama Imam Mahdi as saat ini. Kemudian Ali ra dan Mahdi as akan kemasjid Amawi untuk bertemu Nabi Isa as. Imam Mahdi as akan menawarkan Nabi Isa untuk menjadi imam solat karena beliau Isa as adalah seorang nabi, tetapi Nabi Isa as akan menolak dan mengatakan bahwa saya datang kedua ini untuk menjadi umat nabi Muhammad saw maka Imam Mahdi as menjadi imam solat.

Kemudian Mahdi as memohon kehadiran Nabi saw, dan Nabi akan tampil fresh secara fisik seperti manusia hidup lainnya. Ya, karena hari itu adalah akhir zaman maka barzah dan dunia menyatu. Saat itu banyak awliya Allah mencium tangan beliau. Tergantung levelnya masing-masing, ada yang mencium tangan Nabi sekali, ada yang dua kali sampai dengan ada yang mencium sebanyak 12,000 kali. Setiap kalian mencium tangan beliau saw, maka ilmu hikmah yang tak terhingga akan mengalir ke hatimu,

Pada saat itu ilmu mengalir dan ditransfer melalui tatapan mata. Islam akan meliputi seluruh dunia, dan kemudian Nabi Isa as akan membunuh dajal. Dajal tak bisa masuk tiga tempat yaitu, Makkah, Madinah dan Syam. Mudah-mudahan Allah memberikan kita kesempatan bisa bersama Mahdi as. Jika seseorang berniat ingin
bertemu Mahdi as tetapi dia telah meninggal maka dia akan dihidupkan kembali untuk bersama Mahdi as, jika mereka berdoa,” Ya Allah biarkan aku menjadi pendukung Mahdi as, kemudian dia meninggal maka Allah akan menghidupkan dia bersama Mahdi as. Apa sulitnya bagi Allah dengan kasih sayangnya, maka dengan ‘kun fayakun’ setiap orang yang berniat berjumpa pada waktu itu akan berjumpa seperti orang hidup biasa, InsyaAllah kita akan berada pada saat itu.

Ramalan munculnya Imam Mahdi



Selain keterangan daripada setiap agama besar didunia ini, terdapat pula sekumpulan peramal yang terkenal didunia yang turut meramalkan kedatangan Imam Mahdi atau seorang pemimpin yang bertaraf dunia, yang akan turun untuk menjalankan pemerintahan yang sangat adil, pada zaman ini, pada abad ini, kurun ini dan alaf ini. Memang meramalkan sesuatu ramalan adalah suatu perbuatan yang buruk,mendatangkan dampak besar kepada akidah kita. Namun ramalan yang bertepatan maksudnya dengan perkhabaran hadis-hadis, berita-berita daripada asar para sahabat RA, kasyaf para wali dan firasat para mukmin tidak salah disebutkan, kerana keterangan mereka ini sebenarnya membantu menjelaskan lagi maksud hadis-hadis, asar-asar, kasyaf-kasyaf dan firasat-firasat itu. Hal ini sebenarnya tidak menjejaskan iman kita jika betul cara dan tempatnya.

Sebahagian mereka ini adalah peramal semata-mata, manakala sebahagian lagi adalah orang-orang besar bagi agama masing-masing, yang telah mencapai taraf kasyaf pula, iaitu menurut pandangan agama mereka.

Antara peramal bertaraf antarabangsa yang amat terkenal pada hari ini adalah Michel de Nostredame atau Nostradamus, suatu nama yang hampir sudah tidak perlu diperkenalkan lagi, kerana sudah begitu terkenalnya. Ramalan-ramalannya sudah umum tersebar dan bukan sedikit pula yang sudah menjadi kenyataan. Antara ramalannya yang amat menggoncangkan dunia Barat ialah bahawa seorang pemimpin baru bertaraf dunia akan muncul, Islam akan kembali menguasai dunia pada alaf baru ini, dan seterusnya memerangi Kristian-Eropah.
Ramalannya bahawa seorang pemimpin baru beragama Islam akan muncul dan seterusnya menguasai seluruh dunia adalah berdasarkan ramalan beliau seperti berikut:

In the year 1999 and seven monthsfrom the sky will come the great King of Terror.He will bring back to life the King of the Mongols,Before and after, war reigns.

Pada bulan tujuh, tahun 1999Dari langit akan turun seorang Raja Agung.Dia akan menghidupkan kembali KhalifahSejak itu dan seterusnya, perang meletus.

Tempat muncul pemimpin tersebut adalah di sebuah negara di sebelah Timur, bukan di negara Arab atau di sebelah Barat, berdasarkan ramalan berikut:

From the tree water signs (seas) will be born a man
Who will celebrate Thursday as his feast day.
His renown, praise, reign and power will grow
On land and sea, bringing trouble to the East.

Dari pertemuan tiga lautan, akan lahir seorang lelaki
Yang merayakan hari Khamis
Namanya, kemuliaannya, jajahannya dan kuasanya naik
Di darat dan laut, menggoncangkan seluruh Timur.
Pemimpin berkenaan akan memimpin pasukan tenteranya yang besar jumlahnya untuk menyerang dan menakluki Eropah dan dibantu oleh seluruh umat Islam.

One who the infernal gods of Hannibal
Will cause to be reborn, terror of all mankind
Never more horror nor the newspapers tell of worse in the past,
Then will come to the Romans through Babel (Iraq).

Dialah dewa pembunuh manusia
Membangkitkan ketakutan kepada manusia.
Tidak terbayangkan sebelumnya kengerian ini
Kemudian mendatangi Barat melalui Iraq.
Pemimpin berkenaan memerangi, mengalahkan dan memasuki Eropah dengan memakai serban biru, membawa undang-undang Islam untuk diamalkan oleh seluruh pendudukan Eropah, dan peristiwa besar inilah yang amat menakutkan setiap hati pemimpin Kristian dan Yahudi.

This King will enter Europe wearing a blue turban,
He is one that shall cause the infernal gods of Hannibal to live again
.He will be the terror of mankind.
Never more horror

Raja ini memasuki Eropah memakai serban biru
Dia menjadi dewa pembunuh seluruh manusia.
Dia menakutkan seluruh kemanusiaan (si kafir)
Tiada lagi yang lebih menakutkan.

Selain itu, Sami-sami Hindu di India turut meramalkan melalui ramalannya beberapa tahun lepas bahawa bakal Perdana Menteri Malaysia selepas ini bukan lagi dari kalangan orang politik. Diberitakan bahawa Perdana Menteri Malaysia pernah mengemukakan beberapa nama untuk ditenung sebagai bakal Perdana Menteri supaya dapat dilantik sebagai Timbalan Perdana Menteri. Semua nama yang dikemukakan itu ditolak kerana diberitahu nama-nama mereka itu tidak ada dalam senarai sebagai pengganti Perdana Menteri. Sahih atau tidak berita ini, tidak dapat dipastikan.

Jelaslah bahawa orang yang bakal menjadi Perdana Menteri Malaysia selepas ini tidak lagi dari kalangan orang-orang politik. Tambahan pula, seorang ulama besar di Malaysia telah baru-baru ini membuat perisytiharan bahawa tokoh agama akan menjadi pemimpin Malaysia pada alaf baru ini. Kebetulan pula, Malaysia ini dikatakan sebagai pusat kebangkitan Islam kali kedua, pada akhir zaman, iaitu zaman kita ini. Jika dikaitkan kedua-dua penyataan ini, bagaikan ada kaitan yang rapat antara kedua-duanya.

Anak murid Wali Songo yang amat terkenal di Pulau Jawa, Sabdopalon. Turut menyebutkan bahawa Imam Mahdi akan dibaitkan oleh sembilan tokoh Wali Ghausul Alam yang diketuai oleh seseorang dari Malaysia yang disebutkan sebagai Syeikh Malaya. Beliau menyebutkan bahawa,“Imam Mahdi datang dengan pakaian serba putih dibantu oleh Rijalullah Ghaib atau juga disebut Wali Ghosul’alam sembilan yang diantaranya adalah Seh Malaya yang turun di Tanah Arab”.Salah seorang Wali Songo iaitu Sunan Gunung Jati, turut membuat ramalan berdasarkan kasyaf dari Allah bahawa kebangkitan Islam kali kedua ini akan dipimpin oleh seorang tokoh yang memakai serban. Dia dikatakan amat berpegang teguh pada sorban kanjeng (ekor serban) Nabi Muhammad SAW. Yang dimaksudkan dengan sorban kanjeng itu adalah pemimpin umat yang terakhir, sesuai dengan kedudukan ekor serban yang terletak dihujung sekali. Sorban kanjeng juga bermaksud mengikut benar-benar sunnah yang diamalkan oleh Baginda Rasulullah SAW semasa hayatnya dahulu.

Peramal dari Jawa yang disebut sebagai Pangeran Wijil, yang mengarang Kitab Rangka Jayabaya, turut membuat ramalan bahawa pemimpin yang dimaksudkan itu, lahir di Makkah, memakai serban yang berbunga tujuh cabang, orangnya selalu kesandung kesampar. Dia tidak pernah diduga akan menjadi pemimpin umat manusia pada suatu hari nanti. Dikatakan lebih lanjut lagi bahawa sebelum raja baru ini muncul, akan berlaku huru-hara dan kerusuhan. Dan raja itulah yang akan menjadi orang tengah atau pengaman diantara pihak yang sedang bergaduh itu. Tanpa diduga-duga, orang ramai pun bersetuju melantiknya sebagai pemimpin mereka kerana jasanya yang amat besar itu dan keupayaan yang menakjubkan itu.

Demikianlah sedikit lagi keistimewaan yang ada pada peribadi yang bergelar Imam Mahdi ini. Memang Imam Mahdi itu sungguh-sungguh adalah Orang Allah, orang yang dibesarkan kerana sememangnya Orang Besar Tuhan, besar namanya, besar kedudukannya, patut dibesarkan dan perlu disebut secara besar-besaran pula. Sambutan kepada kemunculannya kelak, juga akan dibuat secara penuh besar-besaran, amat meriah, penuh gembira, sepenuh-penuh kesyukuran, sesuai dengan kedudukannya sebagai orang besar Allah itu. Tidak ada sambutan yang lebih besar dan meriah selain daripada sambutan terhadap kedatangannya ke dunia ini.Dan ekoran daripada kepercayaan kepada munculnya Imam Mahdi yang sangat istimewa inilah, muncul dari semasa ke semasa orang yang mendakwa dirinya sebagai Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu itu. Mereka ini langsung tidak berasa malu dengan dakwaan kosong mereka itu. Setelah beberapa lama masa berlalu, ternyata pula dakwaan mereka itu adalah palsu dan tujuan mereka disebalik dakwaan itu terbongkar. Selalunya, mereka langsung tidak berjaya mendirikan kerajaan Mahdiyahnya, malah gagal pula mengubah keadaan masyarakat setempatnya kepada yang lebih baik, sedangkan yang demikian itu wajib berlaku kerana telah disebutkan oleh hadis-hadis.

original site by Nagara Tetangga

Tujuh Puluh Ribu Masuk Syurga Tanpa Hisab


Dengan Nama...
Al-‘AzizurRaheem, Al-‘AzizulHakeem, Al-‘AffururRaheem.
“Tujuh Puluh Ribu”

Mukadimah: Doa Malaikat Pemikul ‘Arasy

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا
“Yang memikul ‘Arasy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhan mereka dan mereka beriman kepada-Nya serta memohonkan ampun bagi orang-orang yang beriman,”

رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ
"Ya Tuhan kami, Rahmat dan Ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan Al-Jahim.”

رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam Syurga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara nenek-moyang mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Al-‘Azizul-Hakeem,

وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ ۚ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Dan peliharalah mereka dari kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari kejahatan pada Hari Itu, maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepada mereka dan itulah kemenangan yang agung."
(QS. Al-Mu’min 40:7-9)
Tiga Hadith

Perawi 1: Dari Ibnu 'Abbas: Nabi bersabda, "Umat Manusia dipertunjukkan di hadapanku dan aku melihat seorang Nabi melewati dengan sekumpulan besar pengikutnya, dan seorang Nabi lagi melewati dengan hanya sekumpulan kecil pengikut, dan seorang lagi Nabi melewati dengan hanya 10 orang pengikut, dan seorang lagi Nabi melewati dengan hanya 5 orang pengikut, dan seorang lagi Nabi melewati hanya berseorangan. Kemudiannya aku memandang lagi lalu melihat segolongan manusia yang besar jumlahnya, lalu aku bertanyakan Jibril, "Adakah mereka ini pengikutku?". Dia menjawab, "Tidak, tetapi pandanglah ke sebelah ufuk.". Aku memandang lalu melihat segolongan manusia yang teramat besar jumlahnya. Jibril berkata, "Mereka itulah para pengikutmu, dan yang di barisan hadapannya ialah 70,000 orang yang langsung tidak dihisab amalan mereka dan tidak pula mereka diazab.". Aku bertanya, "Kenapa sedemikian?". Dia menjawab, "Oleh kerana mereka itu tidak terlibat dalam melecurkan diri, tidak terlibat dengan Ruqyah, tidak terlibat dengan khurafat; mereka hanya yakin dengan Tuhan mereka semata-mata.". Mendengar itu, 'Ukashah bin Mihsan bangun lalu berkata, "Mohonlah dari ALLAH supaya aku salah seorang dari mereka.". Nabi bersabda, "Ya ALLAH, jadikan dia salah seorang dari mereka.". Kemudian seorang lelaki lain bangun seraya berkata, "Mohonlah dari ALLAH supaya aku salah seorang dari mereka.". Nabi bersabda, "Ukashah telah mendahului kamu." (HR Bukhary: Kitab #76, Hadith #549)

Dari Perawi 2: Dari Ibnu 'Abbas: Nabi bersabda, "Telah dipertunjukkan padaku umat-umat terdahulu. Seorang atau dua Nabi melewati dengan para pengikut yang sedikit, seorang Nabi lain dengan tanpa ada seorang pengikut pun. Tiba-tiba aku dipertunjukkan sekumpulan yang besar dan aku menyangka mereka umatku, tetapi aku diberitahu, "Ini adalah Musa dan para pengikutnya, tetapi lihatlah di sebelah ufuk sana.". Aku melihat dan penglihatanku tertumpu kepada perhimpunan manusia yang teramat besar memenuhi ufuk. Aku diberitahu, "Mereka inilah umatmu dan dikalangan mereka adalah 70,000 yang akan memasuki Syurga tanpa dihisab.". Lalu Nabi bangun lalu terus masuk ke biliknya, dan para sahabat mula tertanya-tanya sesama mereka mengenai golongan (70,000) yang masuk Syurga tanpa dihisab. Sesetengah sahabat berkata, "Mereka ialah kita yang percayakan ALLAH dan mengikut setia Nabi-Nya; oleh kerana itu golongan tersebut (70,000) samada kita atau anak-anak kita yang dilahirkan pada era Islam, manakala kita dilahirkan pada era sebelum Islam di zaman Jahiliyyah.". Apabila Nabi mendengar perbualan mereka, beliau keluar lalu bersabda, "Mereka adalah golongan yang tidak mengamalkan Ruqyah, tidak percayakan khurafat, tidak melecurkan diri sebaliknya hanya mentauhidkan diri kepada Tuhan mereka.". Mendengar ini, 'Ukashah bin Mihsan bangun lalu berkata, "Adakah aku salah seorang di antara mereka wahai Nabi ALLAH?.". Nabi bersabda, "Ya.". Kemudian seorang lelaki lain bangun lalu bertanya, "Adakah aku di antara mereka?". Nabi bersabda, "Ukashah telah mendahului kamu.". (HR Bukhary: Kitab #71, Hadith #606)

Dari 'Aisyah (Ummul Mukminin): Nabi bersabda, "Tiada seorang pun yang dipanggil untuk dihisab pada Hari Kebangkitan, melainkan hanya akan binasa.". Aku bertanya, "Wahai Nabi ALLAH! Bukankah ALLAH telah berfirman, "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan dihisab dengan hisab yang mudah? (QS.84:7-8). Nabi ALLAH bersabda, "Tersebut maksudnya hanyalah pembentangan kitab amalan, tetapi barangsiapa yang kitab amalannya dipersoalkan pada Hari Kebangkitan, pastinya akan diazab.". (HR Bukhary: Kitab #76, Hadith #545)

Huraian 3 Hadith

HA Limdis pertama dan ke-2 membawa maksud yang sama, cuma versinya sedikit berbeza disebabkan perawinya berbeza. Hadith ke-3 adalah penerangan dari Nabi kepada isterinya (‘Aisyah Ummul Mukminin) mengenai hal “golongan yang dihisab” merujuk kepada Surah Al-Insyiqaq Ayat 7-8. Untuk memahami Ayat 7-8 ini perlulah memahami seluruh isi Al-Qur’an bahawa tanda-tanda ayat peringatan dari ALLAH semuanya ditujukan kepada orang Mukmin (beriman) supaya mereka menjadi Muslim (berserah diri) yang Bertaqwa (takutkan azab Tuhan di dunia dan di akhirat) lalu menjadi insan Mukhlisin (jujur) yang tidak disentuh Iblis, syaitan dan setan. Tidaklah Kitab Perjanjian Al-Qur’an ditujukan kepada orang-orang Cina agama Tok Nenek, Hindu, Kristian, Yahudi, Majusi, penyembah berhala, penyembah matahari, penyembah haiwan, penyembah pokok dan mana-mana penganut agama selain Islam kerana sudah tentunya mereka tidak mahu membacanya (Al-Qur’an) malahan tidak beriman dengannya. Mereka ini digelar ALLAH sebagai “kafir musyrik” (mendustakan lagi mensekutukan ALLAH). Manakala kita Umat Islam diperingatkan Tuhan supaya tidak menjadi “kafir” (engkar perintah-Nya) setelah mendapat Petunjuk dari Al-Qur’an. Pernyataan aku ini akan dicop sebagai “Wahhabism”, begitulah persangkaan kebanyakan manusia sombong yang suka bersangka-sangka tanpa Ilmu Haq.

Setelah faham seluruh Al-Qur’an termasuk Ayat-ayat Muhkamaat dan Mutasyabihat, barulah faham bahawa orang-orang “kafir musyrik” yang langsung tiada iman walaupun sebesar zarah akan disumbat ke neraka Jahannam tanpa melalui hisab. Mereka tidak mendapat Kitab Amalan langsung, dan mereka kekal di dalam Jahannam! Manakala seluruh Umat Muhammad yang beriman akan dihisab segala amalan mereka ketika di dunia melainkan 70,000 orang “golongan elit” di sisi Tuhan sahaja yang tidak mendapat Kitab Amalan dan mereka ini dikecualikan dari beratur panjang (entah betapa berat siksanya menanti giliran untuk dihisab, ALLAH-Hu ‘Aklam!). Orang mukmin (beriman) yang diberi Kitab Amalan dari arah kanannya, akan dipermudahkan pengadilan namun tetap diazab juga dalam Neraka Jahim akibat menzalimi diri sendiri ATAU dalam Neraka Saqar akibat tidak bersembahyang, tidak bersedekah, membicarakan kebathilan dan tidak menyakini Hari Pembalasan ATAU dalam Neraka Hawiyah akibat timbangan amalan baiknya lebih ringan berbanding amalan buruknya. Manakala orang mukmin (beriman) yang mensekutukan ALLAH dengan mana-mana makhluk-Nya, dengan harta kekayaan, dengan pangkat dan darjat, dengan kesenangan duniawi serta para penyembah thogut sehingga mengenepikan Tuhan pencipta mereka maka mereka akan mendapat Kitab Amalan dari arah belakang lalu celakalah mereka di dalam Neraka Jahannam! Dan Jahannam ada 7 buah pintu. Pintu terbawah adalah untuk “kafir musyrik” (lagi 6 pintu, ALLAH-HU ‘Aklam!). Selepas selesai diazab, masuklah mereka ke dalam Syurga dengan syarat ada iman dalam hati mereka walau sebesar zarah. “Kafir musyrik” kekal dalam Jahannam.

Kitab-kitab Amalan orang mukmin disimpan di dua tempat; 1) Sijjin – para penderhaka yang kafir (engkar) kepada perintah Tuhan, mereka ini akan diazab. 2) ‘Illiyin – orang-orang yang berbakti di dunia tetapi selalunya dianggap sesat dan ditertawakan oleh pemilik kitab simpanan di Sijjin. Mereka ini golongan elit penghuni Syurga Adn.

Umat Islam, Umat Muhammad telah menjangkau sekitar 1,500,000,000 (1.5 billion). 70,000 orang golongan elit dibahagikan dengan 1,500,000,000 mukmin lalu didarab 100% hanyalah sekitar 0.005% sahaja!

Persoalannya:
“Jika dikumpulkan seluruh Umat Muhammad sebermula dari Nabi Muhammad RasuluLLAH sehinggalah sekarang (dalam tempoh 1431 tahun), berapakah jumlah terkumpul Umat Muhammad dan berapakah pengurangan dari 0.005%?”
Kesimpulan
Dari 3 Hadith di atas, ‘prophecy’ Nabi memanglah tepat.

Nota:
1) `Ukashah bin Mihsan al-`Asdi
Pada hari Peperangan Badar, pedang 'Ukashah bin mihsan Al-Asdi telah patah, maka Nabi memberinya sebatang kayu yang apabila disentapnya lalu bertukar menjadi sebilah pedang putih yang panjang. 'Ukashah terus menggunakan pedang ini di dalam kebanyakan peperangan jihad Islamiyah sehinggalah beliau wafat semasa memerangi golongan murtad.

2) Para ulamak ASWJ berpendapat bahawa terdapat 2 jenis perubatan Ruqyah iaitu Rukyah Jahiliyyah dan Ruqyah Sunnah. Rukyah Jahiliyyah melibatkan pemakaian tangkal pelindung, azimat, jampi , pemujaan, sihir atau perkara-perkara khurafat lain yang bertentangan dengan akidah Islamiyyah. Ruqyah Sunnah pula melibatkan penggunaan ayat-ayat Al-Qur'an tertentu oleh beberapa orang sahabat Nabi dalam merawat penyakit, misalnya Ayat Kursy (QS. 2:255) dan Surah Al-Fatihah.

3) Para ustaz ASWJ amat biasa mengamalkan Ruqyah Sunnah dalam perawatan penyakit rasukan jin mau pun penyakit biasa. Mungkin mereka kurang faham Hadith-hadith di atas.

4) Tiada sebarang rekod dari Riwayat Hadith yang mengatakan Nabi Muhammad pernah menggunakan Ruqyah dalam perubatan. Tidaklah layak bagi seseorang Nabi yang tinggi darjatnya di sisi Tuhan untuk menggunakan Ruqyah, sekadar doa tauhidnya sahaja sudah tentu dimakbulkan Tuhan. Namun Nabi tidak menegah para sahabatnya menggunakan ayat-ayat tertentu dalam perubatan Ruqyah. Ini adalah kerana tiada Wahyu Ilahi yang melarang penggunaan ayat-ayat Al-Qur'an dalam Ruqyah perubatan.

5) Ulamak Salafi Tulen mengikut bulat-bulat Sunnah Nabi, menolak Sunnah Sahabat dan mereka ini tidak menggunakan Ruqyah kerana mereka mahu masuk ke dalam golongan 70,000 Umat Muhammad Tanpa Hisab.

6) Para pengamal Ilmu Khalifah dan para 'ArifbiLLAH pula tidak mengamalkan sebarang jenis Ayat Al-Qur'an sebagai Ruqyah sebaliknya menggunakan kaedah Tauhid Haq dalam menundukkan musuh dari kalangan manusia dan jin kaedah Haqqul Yaqin dalam merawat penyakit. Bagi mereka, seluruh Bani Jin tunduk rapat ke tanah apabila mereka lalu. Mereka juga yakin pada sabdaan Nabi bahawa penyakit biasa yang Tuhan timpakan adalah sebagai pembersihan dosa dan supaya mereka ingat ALLAH senantiasa melalui amalan ZikruLLAH. Mereka tersangat ingin untuk berada di saf hadapan golongan 70,000 Umat Muhammad Tanpa Hisab.

7) Ahli Sunnah Tanpa Jamaah (ASTJ) atau Sahabat Al-Kahfi, sependapat dengan Ulamak Salafi Tulen dan sependapat pula dengan para pengamal Ilmu Khalifah dan 'ArifbiLLAH, ditambah lagi mereka ini tidak mahu “mengecop” (“melecurkan”/mentatu anggota tubuh atau melabelkan) diri mereka dalam mana-mana jamaah berpengaruh dan tidak mengikut mana-mana imam kecuali hanya mengikut Sunnah Nabi Muhammad AbduLLAH Yang Terpuji dan Imam Muhammad AbdiLLAH Yang DiTunjuki. Mereka amat yakin untuk berada di saf paling hadapan di antara 70,000 (0.005%) Umat Muhammad Tanpa Hisab.

Friday, 6 December 2013

Mengenal Diri dan Wali Allah - BAB PERTAMA : Siapakah Kita? Dari Mana Dan Akan Ke Mana? Apakah Dia Ruh Dan Kalbu?



Sabda Rasulullah S.A.W.

"Sesungguhnya dalam tubuh jasad anak Adam itu ada seketul daging bila ia baik nescaya baiklah seluruh anggota tubuhnya dan bila jahat ia nescaya jahatlah seluruh anggota tubuhnya. Ketahuilah! Iaitulah kalbu (hati)." - Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim

Dari keterangan hadis itu dapatlah kita faham bahawa perbicaraan kemuncak asal usul manusia ialah hati (kalbu). Hati dalam diri manusia laksana raja pemerintah yang sangat ditaati oleh rakyat. Manakala anggota-anggota lahir : Umpama kaki, tangan, mata, hidung, mulut, telinga, perut, faraj, zakar dan sebagainya laksana rakyat jelata yang sentiasa patuh pada perintah raja. Bila ia memerintah kaki supaya menendang nescaya menendang lah ia, begitulah seterusnya.

Hati itu juga dipanggil 'hakikat keakuan' - aku itu aku ini, aku pergi ke sana, aku datang ke sini, rumah itu kepunyaan aku, kereta itu aku punya, aku.... aku aku. 'Aku' itulah sebenarnya hakikat insan kerana ia ganti nama bagi ruh atau kalbu dan dia laksana Tok Dalang wayang kulit sedangkan tubuh badan atau anggota-anggota kasar yang lahir laksana belulang kering. Apabila ia bercerai dari tubuh badan kasar nescaya jadi tubuh badan itu sebatang kara umpama tunggul kayu yang menunggu hancur reput.

Dialah yang akan menerima hukum pembalasan sama ada baik atau jahat di negeri akhirat, dialah yang memerintah negara-negara besar di dunia ini. Dialah yang menakluki makhluk-makhluk ini menjadi hamba abdi kepadanya, dialah yang menundukkan benda-benda jamadat, nabatat, hayawanat taat di bawah perintahnya, dialah juga punca hikmat dijadinya alam ini, kalau tidak kerananya sudah tentu segala makhluk dan syurga neraka tidak dijadi.

Dia datangnya dari alam ghaib atau alam al amr, oleh itu dia akan kembali ke alam ghaib. Ia wujud sebelum alam kasar atau alam Syahadah (kenyataan) ini wujud. Ia ditumpangkan ke alam dunia tempat sementara ini kerana ada tujuan untuk menerima ujian. Ia datang dari alam kejadian Tuhan yang aneh (Ruhaniah) yang tidak menerima binasa dan fana selama-lamanya.

Dialah yang menanggung rasa bahagia atau celaka di akhirat, dialah yang akan menerima suka duka dunia akhirat. Dialah yang sudah mengenali Tuhan di alam aruah sebelum benda-benda atau apa-apa ini dijadikan. dialah yang mengetahui segala hakikat suatu dengan tanggapan ilmunya. Dialah yang sudah hidup, melihat, mendengar, bercakap dan seterusnya bersifat dengan sifat-sifat ma'ani sebelum ia bercantum dengan tubuh badan kasar.

Dialah yang digelarkan fitrah Allah* yang sudah mengenali dan mengetahui agamaNya dengan tidak payah belajar atau mentelaah kitab di alam aruah yakni ia sudah mengenali segala-galanya sebelum ia dihantar atau dicantum dengan alam kasar (syahadah) ini. Malah ia pernah mengakui dan menyaksi di alam aruah bahawa Tuhan yang Esa itu ialah Allah bagaimana diceritakan dalam Quran dengan firmanNya :

(*Fitrah Allah ialah tabiat semulajadi penerimaan agama dan makrifat pada Allah.)

"Tidakkah Aku ini Tuhan kamu? Mereka menjawab bahkan."

Dialah juga dijadikan sebab diutuskan rasul-rasul ke alam dunia ini untuk mengawasi dan mengingati kembali mengenai perkara-perkara agama yang sudah manusia mengenali di zaman aruah dahulu, mudah-mudahan supaya manusia tidak mengotor fitrahNya malah hendaklah sentiasa bersih dari awal sampai akhir.

Firman Tuhan :

"Dialah fitrah yang Allah jadikan sesuai pada manusia, tidak dapat di ubah-ubah lagi pada kejadian Allah, itulah agama Allah yang betul."

Adapun orang-orang yang tiada menerima dan tiada mempercayai agama Allah yang disampaikan oleh rasul-rasul di dunia ini maka itulah tandanya mereka sudah mengotor fitrah bersih mereka yang asli dan sudah terpesong dari kebersihannya, dengan sebab itu mereka berhak mendapat gelaran 'kufur' di sisi Allah dan sewajarnya mereka akan kekal di dalam neraka Na'uzubillahimin Zalik.

Dialah juga tidak dijadikan atau dihantarkan ke alam syahadah ini melainkan dengan ada hikmat ubudiyyah iaitu beribadat  dan berbakti kepada Allah, Firman Allah :

"Tidaklah aku jadikan jin dan manusia melainkan supaya beribadat kepada Aku"

Dari huraian-huraian tersebut dapatlah kita mengerti dan faham seksyen-seksyennya :

Siapakah kita?

Dari mana kita datang?

Di mana kita sekarang?

Dan akan kemanakah kita?


PERBEZAAN-PERBEZAAN KALBU, RUH, NAFSU DAN AKAL

Perrkataan atau kalimah-kalimah kalbu, ruh, nafsu dan akal itu tetap berbeza dan tidak serupa pada sebutan dan bentuk tetapi pada hakikatnya adalah satu pada tujuan dan maksudnya. Ikutilah huraian-huraian bagaimana di bawah :


Perkataan Kalbu Ada Dua Pengertian :

Yang Pertama : Kalbu makna pertama ialah kalbu lahir atau yang dikatakan hati kasar iaitu seketul daging besar segempal tangan terletak dalam dada sebelah kiri manusia. Hati jenis ini berongga dan jadi tempat mengisi dan mengepam darah untuk menjalar ke seluruh urat saraf manusia. Hati ini memang dapat dilihat, dijamah, dan dikerat belah oleh pisau. Ia akan hancur dan busuk berulat bila mati. Hati jenis ini terdapat sama pada jenis haiwan-haiwan yang tidak berakal yang mana tiada nilaian sedikit pun di sisi Allah.

Yang Kedua : Kalbu dengan makna yang kedua ialah hati batin atau hati seni yang tidak dapat dilihat dengan mata kasar, tak dapat dijamah dengan tangan dan tak dapat dikerat potong oleh pisau, tetapi ia dapat dirasa oleh pengakuan batin sendiri tentang wujudnya, dan iaitu ialah suatu kejadian yang latifah rabbaniyyah atau yang dapat kita bahasakan dengan hati seni kejadian Tuhan yang ruhani. Hati ini yang berhubung rapat dengan kerja-kerja hati kasar tadi. Perhubungan kerja di antara kedua-duanya itu ialah suatu perkara yang tak dapat diterangkan oleh seluruh otak doktor jenis manusia kerana hati  batin umpama ini datang dari kejadian alam ghaib, manakala hati kasar adalah dari benda-benda alam kasar ini. Bandingannya boleh diberi begini : Hati batin itu laksana raja pemerintah dan hati kasar itu umpama istana raja tempat ia bertakhta dan anggota-anggota lahir umpama kaki, tangan dan sebagainya laksana rakyat jelata. Ia akan patuh kepada perintah raja, hati jenis ini tidak akan busuk, berulat dan tidak akan hancur buat selama-lamanya bila tubuh relai dari nyawa, dialah yang akan menemui alam akhirat. Dialah yang berasa bahagia dan celaka di dunia atau di akhirat.

Dengan hati latifah rabbaniyyah inilah maka hati kasar (jantung) itu dapat hidup dan berdenyut. Ia mempunyai sifat-sifat ta'aqul dan juga sifat-sifat ma'ani dari sejak ia dijadikan di alam aruah yakni sebelum ia bercantum dengan alam kasar ini. Ahli-ahli falsafah dan tasauf adalah bersependapat dan menanamkan hati jenis ghaib ini yakni ia bukan dari jenis benda, jirim atau aradh bahkan ia atau zatnya dapat berdiri sendiri dan terkaya daripada tubuh badan kasar. Hati dengan makna yang kedua inilah hakikat kejadian manusia yang mempunyai tanggungjawab kepada Tuhan dunia-akhirat.


Perkataan Ruh Ada dua Pengertian :

Yang Pertama : Ruh tabi'i namanya iaitu suatu kejadian wap atau gas yang keluar dari dalam hati kasar atau jantung yang berisi darah hitam. Wap atau gas itu berjalan dengan lancarnya ke seluruh bahagian urat saraf dalam anggota badan manusia. Bandingannya samalah seperti cahaya lampu di dalam sebuah rumah, ia dapat menyampaikan sinaran cahayanya ke seluruh ceruk dalam rumah itu. Ruh macam inilah digelar oleh doktor-doktor dunia hari ini dengan nama istilahnya 'Ruh'. Tetapi penulis lebih cenderung pengertian yang diistilahkan oleh doktor itu dapat dipadankan kepada istilah bahasa melayunya 'nyawa'. Jika logik demikian, maka jadilah istilah pengertian doktor itu adalah sama dengan pengertian 'nyawa' yang ada pada jenis-jenis haiwan yang tidak berakal iaitu wap atau gas yang terjadi dari angin keluar masuk dari udara ke dalam jantung dan paru-paru. Pada hal ruh yang sebenar  ialah ruh dari kejadian ghaib bukan dari jenis benda angin atau sebagainya, ruh makna yang pertama ini tidak ternilai sedikit pun di sisi Tuhan.

Yang Kedua : Ruh makna yang kedua ialah satu kejadian dari alam keanehan Tuhan yang dibahasakan kepada latifah rabbaniyyah iaitu serupalah dengan pengertian kalbu pada makna yang kedua tadi. Oleh itu ruh dan kalbu masing-masing dengan pengertian keduanya adalah sama pada hakikat dalam erti yang satu iaitu suatu kejadian Tuhan yang seni dan berupa bagaimana bentuk badan kasar kita masing-masing.

Ruh pengertian yang kedua ini tiada dapat dimengertikan sama sekali oleh seluruh otak manusia dari jenis apakah ia dijadikan? Dan bagaimana dikimia atau diramunkan, Firman Allah :

"Dan mereka lagi akan bertanya kepada engkau wahai Muhammad. Berkenaan Ruh hendaklah engkau jawab kepada mereka bahawa ruh itu adalah daripada urusan pekerjaan Tuhan"


Perkataan Nafsu Ada dua Pengertian :

Yang Pertama : Nafsu makna yang pertama ialah suatu pengertian yang meliputi segala tabiat-tabiat : marah, nafsu berahi dan syahwat dan termasuk juga sifat-sifat yang keji umpama hasad dengki, dendam kesumat, tamak haloba, ria' dan sebagainya. sifat tersebut sama ada wujudnya pada kejadian binatang dan manusia, sedikit atau banyak tetapi ia tiada sama sekali pada kejadian malaikat. Sabda Rasulullah S.A.W.

"Sejahat-jahat musuh engkau ialah nafsu engkau yang terletak di antara dua lambung engkau"

maksudnya hati engkau yang berhawa nafsu jahat, dan dengan sebab nafsu inilah datangnya syarak atau agama Allah menuntut setiap orang supaya menyuci dan mengawasinya setiap ketika.

Yang Kedua : Nafsu dengan makna yang kedua ialah suatu kejadian 'latifah rabbaniyyah' bagaimana huraian dalam pengertian yang kedua pada ruh atau kalbu yang demikian tadi,  oleh itu kalimah-kalimah : Nafsu, kalbu, dan ruh bolehlah dipakai kepada satu hakikat latifah yang sama pada jenis kejadian manusia dan sangatlah jauh berbeza dengan makhluk-makhluk lain yang umpama binatang.

Tetapi jika *diitlaqkan nafsu itu maka ghalibnya dipakai kepada nafsu yang jahat, nafsu jahat itu apabila digosok dan dicuci dengan sabun-sabun zikir kepada Allah dan diberus dengan tembaga mujahadah dan ikhals kepada Allah serta dipandu dan dipimpin pula oleh guru yang ahli maka sedikit demi sedikit akan terkikislah sifat-sfat karut kejahatan nafsu tadi, kemudian menunggu ia ketibaan warid atau nur dari Allah dan kemudian ia akan berpeluang pula mengecap Dzauq atau Syuhud yang kita gelarkan dia dengan hakikat dan makrifat, di waktu itu maka nafsu jahat tadi akan bertukar mendapat gelaran baru iaitu nafsu mutma-innah yakni nafsu yang tenang dan teguh dari mendapat godaan syaitan, dengan itu bererti ia sudah masuk ke dalam darjah permulaan wali kecil wilayah sughra.

(*Diitlaq dipakai secara umum)

Tetapi sebelum sampai kepada maqam nafsu mutma-innah (wali kecil) maka nafsu tadi tak dapat tidak mesti menempuh jalan tiga peringkat :

Yang pertama - Peringkat 'amma-rah' namanya iaitu nafsu yang suka dan pecah liur kepada kejahatan. Nafsu peringkat ini adalah sejahat-jahat dan sehina-hina nafsu dari peringkat-peringkat lain.

Yang kedua - Peringkat 'lawwa-mah' namanya iaitu nafsu yang kerapkali mengkritik diri sendiri apabila ia terjatuh ke dalam lembah angkara dosa, dan cepat-cepat ia bertaubat dan meminta ampun kepada Allah serta menyesal, nafsu ini tinggi sedikit daripada peringkat pertama.

Yang ketiga - Peringkat 'mulhamah' namanya iaitu nafsu yang telah bersih dari segala kekotoran hati peringkat pertama dan yang kedua tadi, oleh itu ia selalu dapat ilham-ilham yang berguna dan luarbiasa. Nafsu ini memang lebih tinggi daripada nafsu peringkat kedua.


Perkataan Akal Juga Ada Dua Pengertian :

Yang Pertama - Akal dengan makna pertama ini ialah akal dengan tabiatnya dapat memikir dan mengetahui segala hakikat sesuatu

Yang Kedua - Akal dengan makna yang kedua ini ialah akal yang alim dengan ilmunya dan ilmunya adalah sebagai sifat bagi akal. Pengertian yang seumpama ini adalah sama dengan pengertian 'latifah rabbaniyyah' bagaimana telah dihurai dahulu itu kerana tidak mungkin apa yang dimaksudkan dengan akal itu melainkan dengan pengertian yang kedua pada perkataan kalbu dan ruh itu jua.

Sabda Rasulullah S.A.W.

"Awal-awal benda dijadikan oleh Allah Taala ialah akal, kemudian berkata Allah kepada akal : berhadap olehmu. Maka berhadap ia, kemudian berkata Allah kepadanya : Pergi olehmu maka jauh ia".

Jadi dengan huraian-huraian yang lepas, jelas kepada kita bahawa apa yang dimaksudkan dengan kalimah-kalimah kalbu, ruh, akal dan nafsu yang berlainan sebutan bagaimana yang terdapat dalam hadis-hadis dan ayat-ayat Quran itu adalah satu erti jua pada hakikatnya iaitu 'latifah rabbaniyyah' yang dibahasakan kepada ruhani. Cuma yang berlainannya ialah bentuk dan sebutan kalimah-kalimah jua kerana mengikut pandangan dan iktibar dari segi-segi perkembangan jua : iaitu apabila ia kekal di dalam zulmah  syahwat nafsu dan maksiat maka pada ketika itu dinamakan 'nafsu'. apabila ia berasa gerun dan takut hendak melakukan maksiat dengan sebab terfikir bahawa perbuatan umpamanya itu suatu perkara yang dibenci Allah dan masyarakat maka diwaktu itu ia dinamakan 'akal'. Apabila ia tenang di bawah peraturan cahaya taat tetapi perasaannya sentiasa berbalik-balik, dan apabila ia tenang dan tetap jelira dengan Allah serta dibukakan mata ruhnya basirah dan disyuhudkan nur aslinya maka ketika itu ia dinamakan 'ruh'.

Di sana terdapat pula 'sirr' namanya iaitu apabila ia (nafsu) sudah bersih dari tarikan tabiat jahat hingga terjadi ia sebagai rahsia dan sirr semata-mata maka di waktu itu dinamakan 'sirr'. Tetapi semua nama-nama istilah itu tak lari daripada satu hakikat jua iaitu latifah rabbaniyyah namanya.

Inilah dia latifah rabbaniyyah satu daripada rahsia-rahsia yang datang dari alam ghaib Allah S.W.T. Firman Allah :

 Mengenal Diri dan Wali Allah - BAB PERTAMA : Siapakah Kita? Dari Mana Dan Akan Ke Mana? Apakah Dia Ruh Dan Kalbu?

Wednesday, 4 December 2013

TINGKATAN NAFSU MANUSIA


1. Nafsu Ammarah
Allah berfirman dalam Al Qur'an, maksudnya :"Sesungguhnya nafsu itu senantiasa mengajak kepada kejahatan." ( Yusuf :53)
Ayat tersebut berkaitan dengan peristiwa Nabi Yusuf dan isteri perdana menteri Mesir. Barang siapa yang memiliki nafsu ammarah, maka ia tidak lagi dapat menahan diri untuk menjaga kehormatan dirinya. Bahkan seseorang yang terkenal sekalipun akan jatuh dan terhina jika menuruti nafsu ammarah. Orang yang memiliki nafsu ammarah, tidak mampu lagi menjaga diri agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan maksiat. Karena inilah sehingga seseorang yang tidak pernah kita sangka akan melakukan maksiat, tiba-tiba minum arak, punya wanita simpanan, melakukan korupsi dan sebagainya. Hal ini adalah karena nafsu ammarah yang ada di dalam diri.

Nafsu ammarah inilah yang mendorong manusia melakukan kejahatan. Jika berhasil melakukan perbuatan maksiat, barulah terasa puas. Bahkan akhirnya manusia berlomba-lomba dalam perbuatan maksiat. Seseorang yang berada di peringkat nafsu ammarah tidak peduli dengan Akhirat. Ia mudah merasa kecewa tidak tahan dengan ujian. Kadang Allah memanjangkan umurnya agar puas dengan maksiat dan akhirnya dilemparkan ke dalam api Neraka. Orang yang mempunyai nafsu ammarah adalah ahli Neraka. Walaupun ada juga yang mencoba berpura-pura menjadi baik tapi kebaikan itu bertujuan untuk memudahkannya melakukan kejahatan dan mencari keuntungan pribadi.

2. Nafsu Lawwamah
Seseorang yang sudah memiliki kesadaran dan keinsafan akan menyadari bahwa kejahatan itu dosa dan kebaikan itu pahala. Ia ingin berbuat kebaikan tetapi tidak tahan lama. Ketika jatuh dalam kejahatan, ia merasa resah tak tentu arah.Walaupun merasa puas dengan kejahatan tapi hati menderita karena perbuatan itu. Meskipun begitu, terasa sangat berat untuk keluar dari kejahatan.

Terjadi perebutan pengaruh antara nafsu dan akal di dalam dirinya. Nafsu mengajak kepada kejahatan sedangkan akal mengajak kepada kebaikan. Orang yang memiliki nafsu lawwamah belum dapat membuat keputusan untuk berbuat baik baik. Ia seperti daun yang tertiup angin, terbawa ke mana arah saja angin bertiup. Ia belum ada kekuatan untuk meninggalkan maksiat. Setelah berbuat kebaikan, ia masih melakukan berbuat kejahatan. Kadang-kadang ke tempat ibadah, kadang-kadang ke tempat maksiat. Hatinya selalu merintih kepada Allah ketika tidak dapat melawan nafsu sehingga melakukan maksiat dan tidak dapat istiqamah dalam berbuat kebaikan.

3. Nafsu Mulhamah
"Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu, jalan kejahatan dan ketaqwaan." (Asy-Syams :8 )
Bagaimanakah rasa hati orang yang memiliki nafsu mulhamah ini? Seseorang yang berada di peringkat ini masih merasa berat ketika akan berbuat amal kebaikan. Jadi ia melakukan amal kebaikan dalam keadaan bermujahadah. Ia sanggup bermujahadah karena sudah mulai dapat merasa takut akan kemurkaan Allah dan neraka. Ketika berhadapan dengan hal-hal maksiat, sebenarnya sebagian dirinya masih rindu dengan hal-hal itu. Tetapi hatinya dapat melawan keinginan-keinginan itu dengan mengingat-ingat nikmat di Syurga.Seseorang yang memiliki nafsu mulhamah, di dalam hatinya masih banyak mazmumah atau sifat-sifat buruk. Tapi ia sudah dapat mengenali penyakit-penyakit hati yang ada dalam dirinya, hanya saja belum sanggup melawannya. Ia mencoba beribadah dengan sabar.

Apa arti sabar? Sabar adalah menahan perasaan tidak setuju di dalam hati untuk melahirkan rasa setuju. Orang yang memiliki nafsu mulhamah, jika mendapat pujian pasti masih merasa puas, senang dan berbangga. Ibadah yang dilakukan masih belum khusyuk. Bagaimanakah cara untuk melawan penyakit hati yang ada dalam diri orang yang berada di peringkat nafsu mulhamah ini? Karena penyakit-penyakit hati itu didorong oleh nafsu dan syaitan, maka untuk mengelak dari godaan syaitan dan nafsu ada baiknya mengamalkan zikir-zikir dan wirid-wirid tertentu. Syaitan dan nafsu hanya takut pada tuannya saja yaitu Allah. Bila kita berwirid dan berzikir, seolah-olah kita menunjukkan kepada nafsu dan syaitan bahwa Allah sedang melihat kita.

Amal kebajikan yang dilakukan karena Allah, bukan karena manusia, insya Allah amal kebaikan itu akan istiqomah. Jika amal kebaikan dilakukan karena orang lain atau karena guru kita misalnya, hal itu tidak akan tahan lama. Kita hanya akan melakukannya ketika ada orang lain atau ketika ada guru saja. Di belakang mereka boleh jadi kita akan berbuat maksiat. Jadi setiap kebajikan harus dilakukan karena Allah.
Orang yang berada di peringkat nafsu ini perlu dipimpin oleh guru mursyid yang betul-betul dapat mengenal jiwa muridnya dan dapat mengasuh murid-muridnya. Jika penyakit-penyakit hati itu sudah tidak ada lagi, maka sesorang itu akan akan merasakan suatu kemanisan baru dalam hatinya dan akan merasa benci dengan kejahatan. Di waktu itulah ia akan meningkat ke peringkat nafsu yang lebih baik lagi yaitu nafsu Muthmainnah.


4. Nafsu Muthmainnah
Terhadap orang yang memiliki nafsu muthmainnah, Allah berfirman dalam Al Qur'an:"Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang redha dan diredhai, maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam Syurga-Ku" (Al Fajr : 27-30)

Hamba Tuhan yang sebenar-benarnya adalah mereka yang telah sampai ke peringkat nafsu Muthmainnah. Sebelum itu hamba juga, tetapi hamba yang didasarkan kepada dia buat atau dipaksa, bukan atas dasar keredhaan. Orang yang sudah sampai kepada nafsu ini, dia sudah dijamin Syurga.

Bagaimanakah sifat orang-orang yang memiliki nafsu Muthmainnah? Seseorang yang telah berada di peringkat ini, ketika ia dapat melakukan amal kebaikan maka hatinya akan terasa sejuk. Hatinya tenang dan puas. Ia selalu merasa rindu untuk berbuat kebaikan dan senantiasa menunggu datangnya waktu untuk beribadah kepada Allah. Mereka ini disebut sebagai penggembala matahari karena senantiasa menunggu waktu sholat. Hatinya senantiasa merasa rindu dengan Allah. Jika membaca ayat-ayat Allah yang bekaitan dengan Neraka, mereka merasa takut dan cemas. Bahkan ada yang sampai pingsan dan mati.Mereka merasa takut dengan dosa-dosanya, seolah-olah dosa-dosa itu bagaikan gunung akan menimpa kepalanya. Jika berkorban, mereka sanggup berhabis-habisan, barulah terasa puas hatinya. Senantiasa merasa cemas dengan maksiat dan berusaha mencegahnya sekuat tenaga. Doanya mustajab, dengan segera dikabulkan Allah. Rezekinya dijamin oleh Allah. Mereka senantiasa sabar dengan ujian dari Allah dan rasa sabar itu kemudian meningkat menjadi redha kepada Allah. Dengan kesabaran dan keredhaan dalam hati mereka itu maka mereka akan meningkat kepada peringkat nafsu yang kelima yaitu nafsu Radhiah.

5. Nafsu Radhiah
Sifatnya:Walau hanya terhadap larangan yang kecil, mereka akan meninggalkan perkara yang dilarang itu dengan sungguh-sungguh. Terhadap perkara yang makruh, mereka menganggapnya seolah-olah itu perkara yang haram. Sedangkan terhdap perkara yang sunat, dianggap seolah-olah perkara yang wajib. Kalau tidak melaksanakan hal yang sunat seolah-olah berdosa. Kita dapat mempelajari kisah-kisah mereka. Kadang-kadang jika mereka mendapat musibah seperti kematian anggota keluarganya, mereka berkata "Alhamdulillah". Dalam sejarah terdapat kisah seorang seorang ibu yang anak-anaknya pergi berperangfi sabilillah. Ketika ada orang yang membawa berita bahwa anaknya telah gugur, ibu itu merasa gembira. Orang-orang yang semacam ini ini sudah mampu menjauhkan diri dari bahkan dari perkara yang syubhat. Apabila diseru kepada perjuangan di jalan Allah, mereka menyambutnya bagaikan menyambut hari raya. Kalau kita perhatikan, takbir hari raya itu adalah takbir yang dikumandangkan para sahabat setalah memeproleh kemenangan pada perang Khandak.
Sebagian dari mereka jika dilarang ke medan perjuangan mereka menangis. Di dalam Al Qur'an mereka disebut dengan "asnabul buka" sebanyak 18 orang. Ketika Rasulullah tidak memiliki cukup kendaraan untuk membawa mereka dalam peperangan Tabuk, mereka menangis siang dan malam. Mereka mengadu kepada Allah, apakah dosa mereka sehingga tidak dipilih ke medan perang. Sampai akhirnya Allah menurunkan wahyu kepada Rasulullah bahwa mereka menangis sepanjang malam karena menyangka mereka berdosa. Mereka begitu cinta dengan mati syahid. Mereka redha terhadap apa yang Tuhan redhai.

Dalam beribadah kepada Allah, mereka bukan sekedar merasakan kelezatan dalam berdoa atau membaca Al Quran, bahkan mereka juga merasakan kelezatan dalam beramal kebaikan. Akhlak mereka terpuji dan mulia di sisi Allah Mereka sanggup memberi maaf kepada orang lain bahkan ketika mereka memliki kekuasaan. Pernah seorang sahabat Rasulullah mengalamu sebuah peristiwa. Sahabat ini yang memiliki hamba sahaya. Suatu hari hamba sahaya itu membawa sebuah wadah yang berisi daging kambing. Tiba-tiba pisau yang berada di atas wadah itu terjatuh dan menimpa kepala anak sahabat tersebut yang sedang merangkak di bawah. Anak itu kemudian meninggal seketika. Karena kejadian itu, hamba sahaya itu ketakutan. Maka, sahabat tadi berkata kepadanya, "Tenanglah kamu. Anak itu milik Allah dan kini Allah telah mengambilnya kembali. Pada hari ini aku memerdekakan kamu."

Tidak ada seorangpun yang mampu melakukan hal yang demikian kecuali mereka yang memiliki nafsu Radhiah. Mereka akan merasa menderita apabila ada sahabatnya yang terjerumus dalam maksiat. Mereka akan mendoakan sahabat-sahabatnya secara khusus di malam hari agar diselamatkan dari perbuatan maksiat. Mereka juga banyak mendapat pertolongan dari Allah, di antaranya Allah memberikankan firasat yang tajam. Mereka dapat dengan mudah mengenali mana orang yang berbuat maksiat dan mana yang tidak tidak. Mereka dapat dengan mudah memimpin masyarakat karena mereka mengenal sifat-sifat hati manusia. Mereka dapat memberi nasehat-nasehat tepat kepada orang-orang yang mereka didik. Apabila mereka diusir dari masyarakat, maka tunggulah datanganya bala bencana dari Allah. Mereka juga dianugerahi oleh Allah dengan berbagai karamah. Begitu juga dengan kata-kata mereka.Lidahnya masin, apa yang disebut insya Allah akan terjadi.

6. Nafsu Mardhiah
Inilah peringkat nafsu kekasih-keasih Allah atau wali-wali besar. Merka redha kepada Allah dan Allah pun redha kepada mereka.

7. Nafsu Kamilah
Peringkat Nafsu Kamilah adalah peringkat nafsu yang sempurna. Inilah kesempurnaan yang dimiliki oleh para Nabi dan Rasul.
Setelah kita mengetahui di peringkat manakah nafsu kita, marilah kita berupaya meningkatkannya untuk mencapai hati yang selamat dan sejahtera untuk kembali kepada Allah SWT.

Sunday, 10 November 2013

Mengenal Sifat-sifat Tuhan


________________________________________
Mukadimah
Berbagai argumen telah kami sajikan di hadapan Anda untuk membuktikan wujud Tuhan Pencipta manusia dan semesta buana ini. Konklusi global dan mendasar yang dapat kita ambil dari beberapa uraian dan penjelasan sebelumnya ialah bahwa alam semesta ini tidak terjadi dan terwujud dengan sendirinya. Tetapi ia memiliki pencipta yang telah mewujudkannya. Dialah Tuhan Pencipta Yang Mahakuasa dan sempurna ilmu-Nya. Apakah hanya sekedar mengenal dan meyakini adanya Tuhan Pencipta, persoalan ketuhanan ini dapat dianggap selesai? Dengan kata lain, masih perlukah kita mengenal berbagai atribut dan sifat-sifat Tuhan Pencipta tersebut? Jika ya, lalu apa manfaatnya pengetahuan lebih lanjut tentangnya? Jawabnya adalah bahwa sekedar mengenal, mengetahui dan bahkan meyakini adanya Tuhan Pencipta bagi semesta buana ini, tidak dianggap memadai. Karena hal itu tidak akan membuahkan nilai-nilai positif dalam kehidupan, baik kehidupan dalam skala personal maupun sosial, dunia dan akhirat. Karenanya, diperlukan pembahasan lebih lanjut mengenai sifat-sifat Tuhan Pencipta tersebut secara logis dan filosofis, agar tujuan hidup (meraih kebahagiaan hakiki dan sejati) dapat terealisasi.

Terlebih, tanpa mengenal sifat-sifat-Nya, bisa jadi seseorang memiliki keyakinan tentang adanya Tuhan Pencipta, sementara gambaran dan pemahamannya terhadap Tuhan Pencipta tersebut masih kabur. Karenanya, tidak sedikit orang-orang yang menganggap benda tertentu atau energi tertentu sebagai Tuhan Pencipta mereka dan semesta ini.

Pada pembahasan terdahulu, kami telah jelaskan kepada Anda bahwa sebagian besar argumen filosofis itu hanya digunakan untuk membuktikan dan menetapkan keberadaan wâjib al-wujud (wujud Tuhan yang niscaya). Sementara untuk menetapkan sifat-sifat-Nya, baik yang berupa tsubutiyah (penetapan sifat-sifat kesempurnaan bagi-Nya), maupun yang berupa salbiyah (penafian sifat-sifat negatif dari-Nya) masih diperlukan argumen lain sebagai tambahan. Dengan ditetapkannya sifat-sifat tsubutiyah, akan menjadi jelas bahwa hanya Dia-lah yang layak disembah dan diibadati. Di samping itu, peluang untuk menetapkan keyakinan-keyakinan yang lainnya, seperti masalah utusan-Nya, hari kiamat dan lain sebagainya, menjadi terbuka lebar. Sementara penetapan sifat-sifat salbiyah atau penafian segala sifat-sifat yang tidak layak dari-Nya, dimaksudkan agar Tuhan Pencipta yang merupakan wâjib al-wujud itu tersucikan dari berbagai sifat-sifat yang disandang oleh makhluk-makhluk-Nya. Tanpa mengkaji dan memahami sifat-sifat salbiyah ini, seseorang akan terjerumus kepada tasybih (anthropomorphize), yaitu menyerupakan-Nya dengan makhluk ciptaan-Nya.

Pada penjelasan yang lalu -dengan berbagai argumen logis dan filosofis- dapat kita simpulkan bahwa Tuhan Pencipta itu tidak membutuhkan sebab selain-Nya dalam wujud-Nya, karena Dia merupakan wujud mandiri. Dan Dia-lah sebagai sebab dan illat bagi semua realitas yang bersifat mungkin. Dengan demikian -sebenarnya- ada dua sifat yang telah ditetapkan bagi-Nya di dalam uraian tersebut. Dua sifat tersebut ialah:

Pertama, bahwa wâjib al-wujud tidak butuh kepada selain-Nya, karena jika Dia butuh kepada wujud yang lain sekecil apa pun, maka wujud yang lain itu merupakan sebab bagi-Nya. Sementara telah kita ketahui bahwa hal itu mustahil terjadi bagi Tuhan Pencipta, karena akan terjadi tasalsul yang dinilai absurd.

Kedua, bahwa semua wujud yang bersifat mungkin adalah akibat yang membutuhkan sebab. Sementara tidak ada sebab dan illat lain selain Tuhan Pencipta sebagai wâjib al-wujud yang merupakan sebab dan illat utama bagi kemunculan dan keberadaan wujud-wujud mungkin tersebut.

Pada pembahasan kita kali ini, berdasarkan dua kesimpulan di atas, kami akan membahas konsekuensi masing-masing yang berhubungan dengan kedua sifat tersebut. Sehubungan dengan penetapan sifat-sifat tsubutiyah dan salbiyah, kami akan menjelasakan argumen-argumen yang sederhana dan sesuai dengan pembahasan-pembahasan yang telah lalu, agar dapat dipahami dengan mudah.

Tuhan Bersifat Azali dan Abadi
Penjelasan mengenai wujud mungkin atau mumkin al-wujud telah kita lewati pada pembahasan yang lalu. Ciri-ciri wujud mungkin adalah bahwa ia tidak wujud (eksis) secara mandiri, tetapi ia merupakan realitas akibat yang keberadaannya membutuhkan kepada realitas lainnya. Dengan demikian, ia berarti bergantung kepada wujud selainnya, karena ia pernah mengalami ketiadaan pada masa tertentu. Ketiadaan dan kesirnaannya pada masa tertentu itu menunjukkan bahwa dia butuh kepada selainnya, yaitu butuh kepada yang mengadakannya, Dialah wujud wâjib atau wâjib al-wujud. Mengingat bahwa wâjib al-wujud itu ada dengan sendirinya dan tidak membutuhkan kepada yang selainnya, maka berarti Dia bersifat abadi dan azali. Abadi artinya wujud-Nya tidak berakhir dan tidak diakhiri atau dibatasi oleh sesuatu. Azali artinya bahwa wujud-Nya tidak bermula atau tidak didahului oleh ketiadaan pada masa tertentu.

Dari uraian di atas, kita dapat menetapkan dua sifat pada wâjib al-wujud. Pertama, bahwa wâjib al-wujud itu bersifat azali, yakni Dia tidak didahului oleh ketiadaan. Kedua, Dia adalah abadi, yakni tidak akan tersentuh oleh ketiadaan selama-lamanya. Kedua sifat ini dapat juga disebut dengan sifat sarmadi.

Berdasarkan penjelasan ini, setiap sesuatu yang didahului oleh ketiadaan, atau ada kemungkinan menjadi sirna -walaupun hanya sekejap-, maka ia bukanlah wâjib al-wujud. Dari penjelasan ini menjadi jelas bahwa materi, sekuat apapun, tidak mungkin dan mustahil sebagai wâjib al-wujud atau wujud yang niscaya.

Sifat-sifat Positif dan Negatif
Sifat-sifat tsubutiyah atau positif ialah segala sifat kesempurnaan, seperti mahakuasa, mahatahu, mendengar, melihat dan lain sebagainya. Bila dikatakan bahwa Tuhan Pencipta itu mesti menyandang sifat-sifat tsubutiyah, artinya bahwa Dia memiliki berbagai sifat-sifat kesempurnaan yang tidak terbatas, berbeda dengan sifat-sifat kesempurnaan yang ada pada makhluk-Nya. Sifat-sifat kesempurnaan yang terdapat pada manusia itu terbatas dan bersumber dari-Nya. Lawan dari sifat-sifat tsubutiyah ialah sifat-sifat salbiyah (sifat-sifat negatif). Tuhan Pencipta Mahasuci dari sifat-sifat negatif ini, seperti tidak kuasa, tidak pandai, terangkap dan tersusun dan lain sebagainya. Tuhan Pencipta bersifat kuasa, esa dan basâthah (sederhana), artinya Dia tidak tersusun atau terangkap, karena Dia mandiri dan tidak butuh kepada selain-Nya. Sementara makhluk-makhluk-Nya, manusia misalnya, tersusun dari jasmani dan ruhani. Jasmaninya tersusun dan terangkap dari bermacam-macam anggota. Dan setiap yang tersusun dan terangkap pasti membutuhkan kepada yang lainnya yang merupakan sebab baginya.

Apabila kita berasumsi bahwa Tuhan Pencipta itu tersusun, tetapi bagian-bagiannya tidak ada secara fi'li (aktual), artinya belum terwujud saat sekarang ini dan akan muncul kemudian (bil quwwah/potensial), maka asumsi semacam ini batil. Karena sesuatu yang mempunyai bagian-bagian secara bil quwwah atau yang akan muncul kemudian, secara rasional pasti akan dapat dibagi. Walaupun secara fi'li (aktual=pada saat sekarang), bagian-bagiannya itu belum terealisasi dan belum terwujud. Dan adanya asumsi bahwa Tuhan Pencipta itu dapat dibagi, hal ini memestikan bahwa secara keseluruhan Dia bisa sirna. Misalnya seperti garis yang panjangnya satu meter. Apabila garis itu dibagi dua, yakni menjadi dua kali setengah meter, maka garis yang panjangnya satu meter tersebut telah sirna dan tidak ada lagi. Sementara telah kita pahami dari pembahasan yang telah lalu, bahwa Tuah Pencipta (wâjib al-wujud) tidak mungkin mengalami kefanaan ...(transient) dan kesirnaan, walaupun hanya sekejap saja.

Selain itu, perlu diperhatikan bahwa di antara karakter benda dan materi itu dapat disusun dan dirangkap, baik secara bil fi’li (aktual) maupun secara bil quwah (potensial). Sementara non-materi tidaklah demikian. Hal ini dapat ditangkap secara logis, sehingga tidak memerlukan kepada pemikiran filosofis yang dalam atau analisa dan penelitian. Dengan kata lain, bahwa setiap materi itu terangkap, dan setiap yang terangkap mustahil sebagai wâjib al-wujud dan Tuhan Pencipta. Berdasarkan hal di atas, kita dapat pula menetapkan kenon-materian Tuhan. Menjadi Jelas pula, bahwa Tuhan tidak mungkin dapat dilihat dengan mata kepala dan tidak mungkin dapat dijangkau dengan indera apapun, karena setiap yang dapat dilihat dan dijangkau oleh indera merupakan sifat-sifat khas benda dan materi. Sementara telah kita buktikan bahwa Tuhan itu non-materi.

Sampai di sini, kita telah dapat menetapkan sifat salbiyah lainnya bagi Tuhan Pencipta, yaitu ternafikannya ciri dan karakter materi dari zat-Nya. Dengan ternafikannya sifat materi tersebut, maka akan ternafikan pula semua sifat-sifat yang disandang oleh benda dan materi dari-Nya, seperti butuh kepada tempat dan masa. Karena ketika kita menggambarkan sebuah tempat, maka akan tergambar sesuatu yang memiliki bentuk dan panjang yang menempati tempat tersebut. Dengan demikian, mustahil bagi Tuhan Pencipta membutuhkan tempat. Demikian pula dengan masa. Setiap sesuatu yang bermasa dan tidak lepas dari zaman, pasti dapat dibagi kepada ekstensi masa dan durasinya. Oleh karena itu, hanya materi sajalah yang bermasa atau membutuhkan masa. Dengan penjelasan ini, dapat pula ditetapkan bahwa wâjib al-wujud tidak butuh kepada masa dalam wujud-Nya. Dan setiap yang membutuhkan tempat dan masa pasti bukan wâjib al-wujud.

Dengan demikian, kita sama sekali tidak mungkin dapat menggambarkan Tuhan Pencipta itu sebagai dzat yang butuh kepada tempat dan masa. Begitu pula, segala sesuatu yang membutuhkan tempat dan masa bukanlah wâjib al-wujud. Kemudian dengan ternafikannya waktu atau masa dari wâjib al-wujud, maka akan ternafikan pula adanya gerak, perubahan dan penyempurnaan dzat dari-Nya. Karena, setiap gerak atau perubahan apapun tidak mungkin terwujud tanpa masa. Oleh karena itu, orang-orang yang meyakini bahwa Tuhan Pencipta itu berada pada satu tempat seperti 'arsy atau menisbahkan gerak kepada-Nya, seperti Dia turun dari langit, atau meyakini bahwa Tuhan itu dapat dilihat dengan mata, atau dapat berubah dan meningkat, maka sebenarnya mereka tidak dan belum mengenal Tuhan dengan sebenarnya. Atau Tuhan yang mereka kenal itu adalah bukan Tuhan yang sebenarnya, melainkan Tuhan buatan, gambaran dan khayalan mereka sendiri. Secara global, bahwa setiap arti, gambaran dan konsep atau pemikiran yang menunjukkan kekurangan, keterbatasan dan kebutuhan pada dzat Tuhan, maka hal itu semua ternafikan dari dzat-Nya Yang Mahasuci. Inilah yang dimaksud dengan sifat salbiyah Ilahiyah (sifat-sifat negatif bagi Tuhan).

Sebab Pengada
Kesimpulan kedua yang dapat kita ambil dari argumen yang terdahulu ialah: bahwa wâjib al-wujud merupakan sebab dan illat (cause) bagi keberadaan makhluk-makhluk-Nya. Berikut ini kami akan membahas konsekuensi dari kesimpulan tersebut. Pertama-tama, kami akan menjelaskan macam-macam sebab, kemudian menyelidiki keistimewaan-keistimewaan Sebab Ilahi.

Sebab atau illat -secara umum- adalah setiap realitas dimana realitas lain terwujud dan bergantung kepadanya. Dan sesuatu yang bergantung dan terwujud darinya itu disebut akibat atau ma’lul. Sebab atau illat mencakupi juga syarat-syarat dan sebab penyiap (‘illat muiddah, preparing causes). Telah kita buktikan bahwa Tuhan Pencipta bersifat mandiri, sehingga tidak butuh kepada sebab apapun. Tidak adanya sebab bagi Tuhan, artinya bahwa Dia tidak mempunyai ketergantungan dengan realitas yang lain sekecil apapun. Oleh karena itu, tidak mungkin kita menyatakan bahwa Tuhan Pencipta mempunyai syarat dan pengada bagi wujud dan keberadaan-Nya.

Telah dijelaskan di atas bahwa Tuhan sebagai sebab dan illat utama bagi selain-Nya. Artinya bahwa Dia sebagai pencipta dan pengada seluruh makhluk-Nya. Dan hal itu merupakan makna khusus dari 'illah fâiliyah (sebab pelaku, efficient cause). Untuk menjelaskan poin ini, terlebih dahulu kita harus mengetahui secara global akan macam-macam sebab. Penjelasan yang lebih luas mengenai hal ini bisa dirujuk ke kitab-kitab Filsafat.

Telah kita ketahui, bahwa secara pasti munculnya tumbuh-tumbuhan di atas bumi ini disebabkan oleh adanya bibit-bibit, tanah yang subur, air dan udara. Di samping itu, harus pula terpenuhi faktor-faktor lainnya, seperti faktor alami atau insani yang menebarkan bibit-bibit tersebut di atas tanah dan mengalirkan air ke atasnya. Berdasarkan definisi sebab atau illat yang telah kami jelaskan, semua faktor-faktor ini merupakan sebab munculnya tumbuh-tumbuhan tersebut.

Dari aspek-aspek tertentu, sebab-sebab tersebut dapat diklasifikasikan kepada beberapa macam. Misalnya, sebab-sebab yang keberadaannya senantiasa bersifat dharuri (mesti) bagi terwujudnya akibat, hal itu dinamakan sebagai sebab hakiki (real cause). Sekelompok sebab yang kesinambungannya tidak diperlukan untuk kesinambungan wujud akibat, seperti petani -sehubungan dengan tanaman yang ditanamnya- dinamakan sebagai sebab penyiap (preparing causes). Ada pula sebab-sebab yang posisinya dapat digantikan oleh sebab-sebab selainnya, hal itu dinamakan sebagai sebab alternatif (illah badilah). Sedangkan sebab-sebab yang posisi dan pengaruhnya tidak mungkin digantikan oleh selainnya, maka ia dinamakan sebagai sebab eksklusif (‘illah munhasirah).

Terdapat satu macam sebab lain yang berbeda dengan sebab-sebab yang disebutkan pada realitas tumbuh-tumbuhan di atas. Sehubungan dengan sebab ini, kita dapat menemukan contohnya pada jiwa manusia dan sebagian keadaan dan kondisi kejiwaannya. Ketika seseorang menciptakan suatu bayangan atau gambaran di dalam benaknya, atau bertekad mengerjakan suatu tindakan, maka akan terjadilah di dalam dirinya suatu fenomena kejiwaan yang dinamakan dengan gambaran mental (shurah zihniyah), atau kehendak yang keberadaannya merupakan akibat dan bergantung kepada keberadaan jiwa (nafs). Jelas, akibat semacam ini tidak memiliki kemandirian sedikit pun dari sebabnya, dan tidak mungkin berpisah dan mandiri dari wujud sebabnya.

Tetapi pada saat yang sama, kita perhatikan bahwa “penciptaan jiwa” (fâ'iliyah nafs) atas gambaran di mental atau atas kehendak, hal itu memerlukan syarat-syarat tertentu yang muncul lantaran kekurangan, keterbatasan dan kemungkinan (imkan) wujud yang merupakan sifat-sifat substansial jiwa.

Oleh karena itu, penciptaan wâjib al-wujud atas alam raya ini, jauh lebih hebat dan lebih sempurna dibandingkan dengan penciptaan jiwa atas keadaan dan pengalaman-pengalaman dirinya. Kita tidak akan mendapatkan padanan ciptaan Tuhan atas seluruh ciptaan. Karena ciptaan Tuhan sama sekali tidak butuh kepada apapun untuk mengadakan akibat-Nya, yaitu akibat yang sekujur wujudnya hanyalah ketergantungan mutlak kepada-Nya.

Keistimewaan Sebab Pengada
Berdasarkan penjelasan di atas, kami dapat menyebutkan sifat-sifat khas yang penting yang dimiliki oleh Sebab Pengada (creative cause, illah mujidah).

Pertama, Sebab pengada memiliki seluruh kesempurnaan -yang dimiliki oleh akibatnya- secara lebih sempurna, sehingga ia bisa memberikan kesempurnaan kepada setiap akibat sesuai dengan kapasitas wujudnya masing-masing. Berbeda halnya dengan sebab penyiap dan sebab materi yang berlaku sebagai pengadaan lahan yang sesuai untuk perubahan pada wujud akibat, bukan untuk wujudnya itu sendiri. Oleh karena itu, sebab penyiap dan sebab materi tidak mesti mencakupi kesempurnaan-kesempurnaan yang terdapat pada akibatnya.

Misalnya, tersedianya tanah itu tidak perlu kepada kesempurnaan yang dimiliki oleh tumbuh-tumbuhan, atau keberadaan kedua orang tua tidak butuh kepada kesempurnaan anak-anaknya. Adapun Tuhan sebagai sebab pengada (creative cause, illah mujidah), mesti memiliki semua kesempurnaan-kesempurnaan wujud segala sesuatu, di samping sifat basatah-Nya (ketaktersusunan). Dengan kata lain bahwa segala kesempurnaan yang ada pada ciptaan Tuhan, pasti dimiliki oleh Tuhan sebagai penciptanya. Bahkan kesempurnaan yang ada pada Tuhan itu jauh lebih tinggi dan tidak bisa digambarkan atau dipadankan dengan segala kesempurnaan yang dimiliki makhluk-Nya.

Kedua, Sebab pengada itu mewujudkan akibatnya dari ketiadaan. Yakni, dia dapat menciptakan akibatnya. Tetapi, penciptaannya itu tidak mengurangi wujudnya sedikit-pun. Berbeda halnya dengan sebab alami (fa'il tabi'i) yang aktif, yaitu mengubah akibat yang ada dengan mengerahkan seluruh potensi. Apabila diasumsikan ada sesuatu yang terpisah dari dzat wâjib al-wujud, ini berarti bahwa dzat Tuhan dapat dibagi dan berubah. Padahal, ini telah jelas kemustahilannya.

Ketiga, Sebab pengada merupakan sebab sejati (real cause, 'illat hakikiyah). Oleh sebab itu, keberadaannya merupakan dharuri (niscaya) untuk kesinambungan wujud akibatnya. Berbeda dengan sebab penyiap; kesinambungan akibatnya tidak lagi butuh kepadanya.

Sehubungan dengan penjelasan tersebut, maka apa yang telah disampaikan oleh sebagian teolog bahwa kekekalan semesta tidak butuh kepada Tuhan, begitu juga apa yang dikatakan oleh sebagian filosof Barat, bahwa alam materi ini laksana jam yang telah diatur dan diukur putaran waktunya, lalu secara otomatis bergerak dengan sendirinya, sehingga alam semesta ini tidak butuh lagi kepada Tuhan Pencipta dalam melanjutkan berbagai aktifitasnya, maka pandangan-pandangan seperti ini jauh dari kebenaran. Karena alam wujud ini selalu butuh dan bergantung kepada Tuhan dalam segala keadaannya. Apabila Tuhan Pencipta itu menghentikan anugerah-Nya, walaupun hanya sekejap saja, maka akibatnya tidak akan ada lagi yang tersisa dari alam tersebut.(al Mubalaghah)

Smoga ALLAH bagi kefahaman buat kita smua.. adapun ilmu mengenal ALLAH ini adalah ilmu yang wajib di pelajari keatas setiap individu Islam, yakni fadhu ain.


Monday, 14 October 2013

KENAPAKAH ADA NAMA SURAH LUQMAN DLM QURAN..??





Diakui tiada detail mengenai Lukmanul hakim dlm quran. Kisahnya banyak dari Israeliat/ahli2 kitab yahudi & nasrani terdahulu.

Cuma di pondok bila kami tanya kenapakah nama surah itu diletakkan namanya/apakah lebihnya beliau, maka lazimnya tok guru akan ceritakan satu kisah di zaman seorang raja yahudi yang kebingungan apabila rakyatnya ramai mati diserang pelbagai penyakit kronik.

Lalu semua pendeta/ahli kitab dipanggil untuk menasihati raja tentang bagaimana sejarah penyelesaian kes terdahulu jika masalah seumpama itu melanda negara. Pendeta memaklumkan kepada raja bahawa raja terdahulu mengatasinya dengan bertanyakan ramuan ubatan kepada binatang-binatang yang ada. Dan untuk membolehkan memahami bahasa bianatang, raja perlu bertapa/berwirid menggunakan nama tuhan untuk tempoh tertentu hingga tuhan memberi petunjuk. Tempat pertapaan boleh dipilih sama ada di bukit, dalam gua, dalam laut dan sebagainya.

Raja bersetuju dan mengarahkan persediaan dibuat untuk baginda bertapa di dalam laut. Kotak cermin dibina dengan saluran udara khas sedalam lebih 30 kaki, dengan bekalan makanan memadai untuk tempoh 40 hari. Tidak berapa lama bertapa akhirnya Allah menghantar sepasang tangan ghaib mencampakkan satu bungkusan mengandungi gandum diiringi satu suara mengarahkan raja makan roti dari gandum itu, bagi membolehkannya memahami bahasa semua binatang.

raja memberi isyarat agar kotak pertapaannya dinaikkan dan dengan gembira mengumumkan kpd rakyat bahawa baginda telah berjaya mendapat petunjuk Tuhan untuk mengubati semua penyakit rakyatnya. Gandum diserahkan kepada tukang masak istana untuk dibuat roti. Sementara raja masuk berehat/tidur dan akan makan selepas bagun nanti.

Di dapur tukang masak istana ada seorang kanak-kanak berusia bawah 10 tahun yang bebas bermain kerana salah seorang tukang masak itu adalah ibunya. Setelah penat bermain dan merasa lapar budak kecil tersebut seperti biasa ke dapur tempat ibunya berkerja untuk makan. Tanpa sengaja beliau membuka saji dan makan roti yang dimasak oleh ibunya dari gandum hasil pertapaan siraja, hingga habis kerana menyangka seperti makanan2 lain sebelumnya.

Apabila raja bangun, maka diminta roti untuk dimakan. Siibu segera menyediakan roti lain. Setelah dimakan, raja memanggil semua pegawainya untuk cuba memahami bahasa kuda, keldai yang ada. Namun didapati baginda tidak faham sepatahpun.

Semua pendeta sekali lagi dipanggil utnuk memberi keterangan. Pendeta bertanya siraja adakah benar roti yang dimakan itu hasil dari gandum yang diperolehi dari pertapaan..?? Lalu tukang masak dipanggil. Beliau mengaku roti yang asalnya dari gandum pertapaan itu telah habis dimakan oleh anaknya yang masih kecil dan beliau memasak roti baru dari gandum yg sedia ada di dapur istana untuk santapan raja.

Raja pada awalnya amat murka, namun segera reda setelah menyedari yang memakannya adalah budak yang masih kecil. Lalu raja meminta untuk budak tersebut di bawa kepada bianatang. Ternyata anak tukang masak istana itu memahami semua bahasa binatang. Dari situ semua ramuan ubatan dapat diterjemah dari bahasa bianatang kepada bahasa manusia dan semua binatang dikumpulkan di sekitar istana (zoo) bagi membolehkan semua ramuan ubatan pelbagai penyakit dapat dicatat.

Sejak itulah raja melantik budak tersebut sebagai salah seorang menteri kanannya dan memerintahkan sesiapa yang menyebut namanya tanpa diiringi menyebut gelaran "Al-Hakim" (yang bijaksana) wajib dihukum bunuh. Budak bertuah itulah yang namanya tercatat sebagai salah satu surah dalam Al-Quran iaitu "Luqman".