Wednesday, 5 June 2013

AL-QURAN


Al-Qur’ān (ejaan KBBI: Alquran, Arab: القرآن) adalah kitab suci agama Islam. Umat Islam percaya bahwa Al-Qur'an merupakan puncak dan penutup wahyu Allah yang diperuntukkan bagi manusia, dan bagian dari rukun iman, yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, melalui perantaraan Malaikat Jibril. Dan sebagai wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah SAW adalah sebagaimana yang terdapat dalam surat Al-'Alaq ayat 1-5.[1]

Etimologi
Ditinjau dari segi kebahasaan, Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab yang berarti "bacaan" atau "sesuatu yang dibaca berulang-ulang". Kata Al-Qur’an adalah bentuk kata benda (masdar) dari kata kerja qara'a yang artinya membaca. Konsep pemakaian kata ini dapat juga dijumpai pada salah satu surat Al-Qur'an sendiri yakni pada ayat 17 dan 18 Surah Al-Qiyamah yang artinya:

    “Sesungguhnya mengumpulkan Al-Qur’an (di dalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan Kami. (Karena itu,) jika Kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikuti {amalkan} bacaannya”.(75:17-75:18)

Terminologi
Dr. Subhi Al Salih mendefinisikan Al-Qur'an sebagai berikut:

“Kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan ditulis di mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir, membacanya termasuk ibadah”.

Adapun Muhammad Ali ash-Shabuni mendefinisikan Al-Qur'an sebagai berikut:

"Al-Qur'an adalah firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s. dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta membaca dan mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas"

Dengan definisi tersebut di atas sebagaimana dipercayai Muslim, firman Allah yang diturunkan kepada Nabi selain Nabi Muhammad SAW, tidak dinamakan Al-Qur’an seperti Kitab Taurat yang diturunkan kepada umat Nabi Musa AS atau Kitab Injil yang diturunkan kepada umat Nabi Isa AS. Demikian pula firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang membacanya tidak dianggap sebagai ibadah, seperti Hadits Qudsi, tidak termasuk Al-Qur’an.

Nama-nama lain Al-Qur'an
Dalam Al-Qur'an sendiri terdapat beberapa ayat yang menyertakan nama lain yang digunakan untuk merujuk kepada Al-Qur'an itu sendiri. Berikut adalah nama-nama tersebut dan ayat yang mencantumkannya:

    Al-Kitab QS(2:2),QS (44:2)
    Al-Furqan (pembeda benar salah): QS(25:1)
    Adz-Dzikr (pemberi peringatan): QS(15:9)
    Al-Mau'idhah (pelajaran/nasihat): QS(10:57)
    Al-Hukm (peraturan/hukum): QS(13:37)
    Al-Hikmah (kebijaksanaan): QS(17:39)
    Asy-Syifa' (obat/penyembuh): QS(10:57), QS(17:82)
    Al-Huda (petunjuk): QS(72:13), QS(9:33)
    At-Tanzil (yang diturunkan): QS(26:192)
    Ar-Rahmat (karunia): QS(27:77)
    Ar-Ruh (ruh): QS(42:52)
    Al-Bayan (penerang): QS(3:138)
    Al-Kalam (ucapan/firman): QS(9:6)
    Al-Busyra (kabar gembira): QS(16:102)
    An-Nur (cahaya): QS(4:174)
    Al-Basha'ir (pedoman): QS(45:20)
    Al-Balagh (penyampaian/kabar) QS(14:52)
    Al-Qaul (perkataan/ucapan) QS(28:51)

Struktur dan pembagian Al-Qur'an
Surat, ayat dan ruku'

Al-Qur'an terdiri atas 114 bagian yang dikenal dengan nama surah (surat). Setiap surat akan terdiri atas beberapa ayat, di mana surat terpanjang dengan 286 ayat adalah surat Al Baqarah dan yang terpendek hanya memiliki 3 ayat yakni surat Al Kautsar, An-Nasr dan Al-‘Așr. Surat-surat yang panjang terbagi lagi atas sub bagian lagi yang disebut ruku' yang membahas tema atau topik tertentu.

Makkiyah dan Madaniyah
Sedangkan menurut tempat diturunkannya, setiap surat dapat dibagi atas surat-surat Makkiyah (surat Mekkah) dan Madaniyah (surat Madinah). Pembagian ini berdasarkan tempat dan waktu penurunan surat dan ayat tertentu di mana surat-surat yang turun sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah digolongkan surat Makkiyah sedangkan setelahnya tergolong surat Madaniyah.

Surat yang turun di Makkah pada umumnya suratnya pendek-pendek, menyangkut prinsip-prinsip keimanan dan akhlaq, panggilannya ditujukan kepada manusia. Sedangkan yang turun di Madinah pada umumnya suratnya panjang-panjang, menyangkut peraturan-peraturan yang mengatur hubungan seseorang dengan Tuhan atau seseorang dengan lainnya (syari'ah). Pembagian berdasar fase sebelum dan sesudah hijrah ini lebih tepat, sebab ada surat Madaniyah yang turun di Mekkah.

Juz dan manzil

Dalam skema pembagian lain, Al-Qur'an juga terbagi menjadi 30 bagian dengan panjang sama yang dikenal dengan nama juz. Pembagian ini untuk memudahkan mereka yang ingin menuntaskan bacaan Al-Qur'an dalam 30 hari (satu bulan). Pembagian lain yakni manzil memecah Al-Qur'an menjadi 7 bagian dengan tujuan penyelesaian bacaan dalam 7 hari (satu minggu). Kedua jenis pembagian ini tidak memiliki hubungan dengan pembagian subyek bahasan tertentu.

Menurut ukuran surat

Kemudian dari segi panjang-pendeknya, surat-surat yang ada di dalam Al-Qur’an terbagi menjadi empat bagian, yaitu:

1.        As Sab’uththiwaal (tujuh surat yang panjang). Yaitu Surat Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisaa’, Al-A’raaf, Al-An’aam, Al Maa-idah dan Yunus
2.        Al Miuun (seratus ayat lebih), seperti Hud, Yusuf, Mu'min dan sebagainya
3.        Al Matsaani (kurang sedikit dari seratus ayat), seperti Al-Anfaal, Al-Hijr dan sebagainya
4.        Al Mufashshal (surat-surat pendek), seperti Adh-Dhuha, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas dan sebagainya


Hubungan dengan kitab-kitab lain
Berkaitan dengan adanya kitab-kitab yang dipercayai diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Muhammad SAW dalam agama Islam (Taurat, Zabur, Injil, lembaran Ibrahim), Al-Qur'an dalam beberapa ayatnya menegaskan posisinya terhadap kitab-kitab tersebut. Berikut adalah pernyataan Al-Qur'an yang tentunya menjadi doktrin bagi ummat Islam mengenai hubungan Al-Qur'an dengan kitab-kitab tersebut:

    Bahwa Al-Qur'an menuntut kepercayaan ummat Islam terhadap eksistensi kitab-kitab tersebut. QS(2:4)
    Bahwa Al-Qur'an diposisikan sebagai pembenar dan batu ujian (verifikator) bagi kitab-kitab sebelumnya. QS(5:48)
    Bahwa Al-Qur'an menjadi referensi untuk menghilangkan perselisihan pendapat antara ummat-ummat rasul yang berbeda. QS(16:63-64)
    Bahwa Al-Qur'an meluruskan sejarah. Dalam Al-Qur'an terdapat cerita-cerita mengenai kaum dari rasul-rasul terdahulu, juga mengenai beberapa bagian mengenai kehidupan para rasul tersebut. Cerita tersebut pada beberapa aspek penting berbeda dengan versi yang terdapat pada teks-teks lain yang dimiliki baik oleh Yahudi dan Kristen.







Tuesday, 4 June 2013

Peristiwa Israk dan Mikraj dan Pengajaran Yang Perlu di Hayati



Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad S.A.W. keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah menuruti baginda hingga ke hari kiamat.

Sahabat yang dirahmati Allah,

Setiap tahun apabila sampai tanggal 27 Rejab umat Islam diseluruh dunia akan mengadakan majlis sambutan peristiwa Israk dan Mikraj. Israk dan Mikraj berlaku pada 27 Rejab, setahun sebelum Hijrah Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah.

Apabila berbicara tentang peristiwa Israk dan Mikraj ini, kita secara spontan akan terbayang kisah perjalanan Rasulullah S.A.W bersama malaikat Jibril dan Mikail yang boleh dibahagikan kepada dua fasa.

01.Israk yakni perjalanan Nabi SAW menaiki binatang Buraq dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa, di Baitulmaqdis, Palestin.

02.Mikraj ialah perjalanan dari Masjidil Aqsa ke Sidratil Muntaha di langit yang ketujuh.



Perjalanan Rasulullah S.A.W ini telah diabadikan oleh Allah S.W.T di dalam Al-Quran, Surah Al-Isra' ayat 1 yang bermaksud;

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Menariknya, keseluruhan perjalanan Rasulullah S.A.W hanya berlangsung pada satu malam.

Para ulama, hadis, ulama feqah dan ulama tafsir secara umum menegaskan bahawa perisitiwa Israk dan Mikraj di mana kedua-duanya berlaku dalam satu malam dan dalam keadaan baginda SAW sedar. Ia berlaku pada jasad atau tubuh dan roh Nabi SAW bukannya roh sahaja. Sebagaimana difahami daripada firman Allah dalam ayat tadi di mana Allah menegaskan "asra bi 'abdihi lailan" yang bermaksud memperjalankan hamba-Nya pada waktu malam. Perkataan hamba yang dimaksudkan di sini iaitu Nabi Muhammad S.A.W yang mana meliputi batang tubuh dan rohnya serentak bukannya rohnya sahaja. Jika ia berlaku pada rohnya sahaja maka sudah tentu firman Allah itu berbunyi "asra bi rohi 'abdihi lailan" yang bermaksud memperjalankan roh hamba-Nya pada waktu malam tetapi yang berlaku sebaliknya di mana Allah secara jelas menyatakan bahawa Dia telah memperjalankan hamba-Nya iaitu Nabi SAW dalam keadaan tubuh dan rohnya serentak.

Peristiwa ini pada pandangan orang yang tidak beriman atau mereka yang tipis imannya, mereka menyatakan bahawa peristiwa ini tidak mungkin akan berlaku atau pun mereka berbelah bahagi samada mahu mempercayainya atau pun sebaliknya. Tetapi bagi orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan rasul-Nya maka mereka tetap percaya dengan penuh keimanan kepada peristiwa ini.

Setelah baginda S.A.W menceritakan apa yang telah terjadi padanya kepada masyarakat umum maka orang-orang kafir bertambah kuat mengejek dan mendustakan baginda S.A.W. Fitnah terhadap baginda S.A.W bertambah kuat malah ada juga di kalangan mereka yang sebelum ini telah memeluk Islam telah pun murtad kembali. Manakala bagi mereka yang begitu membenarkan baginda S.A.W maka iman mereka tetap utuh sebagaimana kita lihat kepada reaksi Sayyidina Abu Bakar apabila dia mendengar berita daripada orang ramai tentang apa yang telah diberitahu oleh Nabi S.A.W lalu beliau dengan tegas menyatakan :

"Benar! Aku menyaksikan bahawa engkau merupakan Rasulullah. Jika baginda S.A.W mengatakan bahawa baginda telah diperjalankan lebih jauh daripada itu maka aku tetap beriman kepadanya". Inilah ketegasan dan keyakinan yang tidak berbelah bahagi Sayyidina Abu Bakar dalam mempercayai Allah dan rasul-Nya sehingga beliau digelar as-Siddiq yang membawa maksud pembenar.

Selain itu, pernah juga diriwayatkan Rasulullah S.A.W berjumpa dengan pelbagai keadaan manusia ketika di dalam perjalanan tersebut. Meskipun kisah tentang peristiwa bersejarah ini seringkali diulangcerita oleh para penceramah setiap kali sambutan Israk dan Mikraj diadakan, saya melihat roh dan intipati di sebalik peristiwa ini masih tidak meresap ke dalam jiwa masyarakat Islam.

Sahabat yang dimuliakan,

Sebelum berlakunya Israk dan Mikraj Rasulullah S.A.W mengalami pembedahan dada/perut oleh malaikat. Hati Baginda S.A.W dicuci dengan air zamzam, dibuang ketul hitam ('alaqah) iaitu tempat syaitan membisikkan waswasnya. Kemudian dituangkan hikmat, ilmu, dan iman ke dalam dada Rasulullah S.A.W. Setelah itu, dadanya dijahit dan dimeterikan dengan "khatimin nubuwwah". Selesai pembedahan, didatangkan binatang bernama Buraq untuk ditunggangi oleh Rasulullah dalam perjalanan luar biasa yang dinamakan "Israk" itu.

Semasa Israk ( Perjalanan dari Masjidil-Haram ke Masjidil-Aqsa ):

Sepanjang perjalanan (Israk) itu Rasulullah S.A.W diiringi (ditemani) oleh malaikat Jibrail dan Israfil. Tiba di tempat-tempat tertentu (tempat-tempat yang mulia dan bersejarah), Rasulullah telah diarah oleh Jibrail supaya berhenti dan bersembahyang sebanyak dua rakaat. Antara tempat-tempat berkenaan ialah:

01.Negeri Thaibah (Madinah), tempat di mana Rasulullah akan melakukan hijrah,

02.Bukit Tursina, iaitu tempat Nabi Musa A.S. menerima wahyu daripada Allah,

03.Baitul-Laham (tempat Nabi 'Isa A.S. dilahirkan),



Dalam perjalanan itu juga baginda Rasulullah S.A.W menghadapi gangguan jin 'Afrit dengan api jamung dan dapat menyasikan peristiwa-peristiwa simbolik yang amat ajaib.

Peristiwa-peristiwa tersebut adalah seperti berikut :

01.Kaum yang sedang bertanam dan terus menuai hasil tanaman mereka. apabila dituai, hasil (buah) yang baru keluar semula seolah-olah belum lagi dituai. Hal ini berlaku berulang-ulang. Rasulullah S.A.W diberitahu oleh Jibrail: Itulah kaum yang berjihad "Fisabilillah" yang digandakan pahala kebajikan sebanyak 700 kali ganda bahkan sehingga gandaan yang lebih banyak.

02.Tempat yang berbau harum.Rasulullah S.A.W diberitahu oleh Jibrail : Itulah bau kubur Masitah (tukang sisir rambut anak Fir'aun) bersama suaminya dan anak-anaknya (termasuk bayi yang dapat bercakap untuk menguatkan iman ibunya) yang dibunuh oleh Fir'aun kerana tetapt teguh beriman kepada Allah (tak mahu mengakui Fir'aun sebagai Tuhan).

03.Sekumpulan orang yang sedang memecahkan kepala mereka. Setiap kali dipecahkan, kepala mereka sembuh kembali, lalu dipecahkan pula. Demikian dilakukan berkali-kali. Jibrail memberitahu Rasulullah: Itulah orang-orang yang berat kepala mereka untuk sujud (sembahyang).

04.Sekumpulan orang yang hanya menutup kemaluan mereka (qubul dan dubur) dengan secebeis kain. Mereka dihalau seperti binatang ternakan. Mereka makan bara api dan batu dari neraka Jahannam. Kata Jibrail : Itulah orang-orang yang tidak mengeluarkan zakat harta mereka.

05.Satu kaum, lelaki dan perempuan, yang memakan daging mentah yang busuk sedangkan daging masak ada di sisi mereka. Kata Jibrail: Itulah lelaki dan perempuan yang melakukan zina sedangkan lelaki dan perempuan itu masing-masing mempunyai isteri/suami.

06.Lelaki yang berenang dalam sungai darah dan dilontarkan batu. Kata Jibrail: Itulah orang yang makan riba.



07.Lelaki yang menghimpun seberkas kayu dan dia tak terdaya memikulnya, tapi ditambah lagi kayu yang lain. Kata Jibrail: Itulah orang tak dapat menunaikan amanah tetapi masih menerima amanah yang lain.

08.Satu kaum yang sedang menggunting lidah dan bibir mereka dengan penggunting besi berkali-kali. Setiap kali digunting, lidah dan bibir mereka kembali seperti biasa. Kata Jibrail: Itulah orang yang membuat fitnah dan mengatakan sesuatu yang dia sendiri tidak melakukannya.

09.Kaum yang mencakar muka dan dada mereka dengan kuku tembaga mereka. Kata Jibrail: Itulah orang yang memakan daging manusia (mengumpat) dan menjatuhkan maruah (mencela, menghinakan) orang.

10.Seekor lembu jantan yang besar keluar dari lubang yang sempit. Tak dapat dimasukinya semula lubang itu. Kata Jibrail: Itulah orang yang bercakap besar (Takabbur). Kemudian menyesal, tapi sudah terlambat.

11.Seorang perempuan dengan dulang yang penuh dengan pelbagai perhiasan. Rasulullah tidak memperdulikannya. Kata Jibrail: Itulah dunia. Jika Rasulullah memberi perhatian kepadanya, nescaya umat Islam akan mengutamakan dunia daripada akhirat.

12.Seorang perempuan tua duduk di tengah jalan dan menyuruh Rasulullah berhenti. Rasulullah S.A.W tidak menghiraukannya. Kata Jibrail: Itulah orang yang mensia-siakan umurnya sampai ke tua.

13.Seorang perempuan bongkok tiga menahan Rasulullah untuk bertanyakan sesuatu. Kata Jibrail: Itulah gambaran umur dunia yang sangat tua dan menanti saat hari kiamat.

Setibanya di masjid Al-Aqsa, Rasulullah turun daripada Buraq. Kemudian masuk ke dalam masjid dan mengimamkan sembahyang dua rakaat dengan segala anbia dan mursalin menjadi makmum.

Rasulullah S.A.W terasa dahaga, lalu dibawa Jibrail dua bejana yang berisi arak dan susu. Rasulullah S.A.W memilih susu lalu diminumnya. Kata Jibrail: Baginda membuat pilhan yang betul. Jika arak itu dipilih, nescaya ramai umat baginda akan menjadi sesat.

Semasa Mikraj ( Naik ke Hadhratul-Qudus Menemui Allah S.W.T );

Didatangkan Mikraj (tangga) yang indah dari syurga. Rasulullah S.A.W dan Jibrail naik ke atas tangga pertama lalu terangkat ke pintu langit dunia (pintu Hafzhah).

Di Langit Pertama: Rasulullah S.A.W dan Jibrail masuk ke langit pertama, lalu berjumpa dengan Nabi Adam a.s. Kemudian dapat melihat orang-orang yang makan riba dan harta anak yatim dan melihat orang berzina yang rupa dan kelakuan mereka sangat huduh dan buruk. Penzina lelaki bergantung pada susu penzina perempuan.

Di Langit Kedua: Nabi S.A.W dan Jibrail naik tangga langit yang kedua, lalu masuk dan bertemu dengan Nabi Isa A.S. dan Nabi Yahya A.S.

Di Langit Ketiga: Naik langit ketiga. Bertemu dengan Nabi Yusuf A.S.

Di Langit Keempat: Naik tangga langit keempat. Bertemu dengan Nabi Idris A.S.

Di Langit Kelima: Naik tangga langit kelima. Bertemu dengan Nabi Harun A.S. yang dikelilingi oleh kaumnya Bani Israil.

Di Langit Keenam: Naik tangga langit keenam. Bertemu dengan Nabi-Nabi. Seterusnya dengan Nabi Musa A.S. Rasulullah mengangkat kepala (disuruh oleh Jibrail) lalu dapat melihat umat baginda sendiri yang ramai, termasuk 70,000 orang yang masuk syurga tanpa hisab.

Di Langit Ketujuh: Naik tangga langit ketujuh dan masuk langit ketujuh lalu bertemu dengan Nabi Ibrahim Khalilullah yang sedang bersandar di Baitul-Makmur dihadapi oleh beberapa kaumnya. Kepada Rasulullah S.A.W, Nabi Ibrahim A.S. bersabda, "Engkau akan berjumapa dengan Allah pada malam ini. Umatmu adalah akhir umat dan terlalu dhaif, maka berdoalah untuk umatmu.

Suruhlah umatmu menanam tanaman syurga iaitu LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH Mengikut riwayat lain, Nabi Ibahim A.S. bersabda, "Sampaikan salamku kepada umatmu dan beritahu mereka, syurga itu baik tanahnya, tawar airnya dan tanamannya ialah lima kalimah, iaitu: SUBHANALLAH, WAL-HAMDULILLAH, WA LA ILAHA ILLALLAH ALLAHU AKBAR dan WA LA HAULA WA LA QUWWATA ILLA BILLAHIL- 'ALIYYIL-'AZHIM. Bagi orang yang membaca setiap kalimah ini akan ditanamkan sepohon pokok dalam syurga".

Setelah melihat beberpa peristiwa lain yang ajaib. Rasulullah dan Jibrail masuk ke dalam Baitul-Makmur dan bersembahyang (Baitul-Makmur ini betul-betul di atas Baitullah di Mekah).

Di Tangga Kelapan: Di sinilah disebut "al-Kursi" yang berbetulan dengan dahan pokok Sidratul-Muntaha. Rasulullah S.A.W menyaksikan pelbagai keajaiban pada pokok itu: Sungai air yang tak berubah, sungai susu, sungai arak dan sungai madu lebah. Buah, daun-daun, batang dan dahannya berubah-ubah warna dan bertukar menjadi permata-permata yang indah. Unggas-unggas emas berterbangan. Semua keindahan itu tak terperi oleh manusia. Baginda Rasulullah S.A.W dapat menyaksikan pula sungai Al-Kautsar yang terus masuk ke syurga. Seterusnya baginda masuk ke syurga dan melihat neraka berserta dengan Malik penunggunya.

Di Tangga Kesembilan: Di sini berbetulan dengan pucuk pokok Sidratul-Muntaha. Rasulullah S.A.W masuk di dalam nur dan naik ke Mustawa dan Sharirul-Aqlam. Lalu dapat melihat seorang lelaki yang ghaib di dalam nur 'Arasy, iaitu lelaki di dunia yang lidahnya sering basah berzikir, hatinya tertumpu penuh kepada masjid dan tidak memaki ibu bapanya.

Di Tangga Kesepuluh: Baginda Rasulullah sampai di Hadhratul-Qudus dan Hadhrat Rabbul-Arbab lalu dapat menyaksikan Allah SWT dengan mata kepalanya, lantas sujud. Kemudian berlakulah dialog antara Allah dan Muhammad, Rasul-Nya:

Allah SWT : Ya Muhammad.

Rasulullah : Labbaika.

Allah SWT : Angkatlah kepalamu dan bermohonlah, Kami perkenankan.

Rasulullah : Ya, Rabb. Engkau telah ambil Ibrahim sebagai Khalil dan Engkau berikan dia kerajaan yang besar. Engkau berkata-kata dengan Musa. Engkau berikan Dawud kerajaan yang besar dan dapat melembutkan besi. Engkau kurniakan kerajaan kepada Sulaiman yang tidak Engkau kurniakan kepada sesiapa pun dan memudahkan Sulaiman menguasai jin, manusia, syaitan dan angin. Engkau ajarkan Isa Taurat dan Injil. Dengan izin-Mu, dia dapat menyembuhkan orang buta, orang sufaq dan menghidupkan orang mati. Engkau lindungi dia dan ibunya daripada syaitan.

Allah S.W.T : Aku ambilmu sebagai kekasih. Aku perkenankanmu sebagai penyampai berita gembira dan amaran kepada umatmu. Aku buka dadamu dan buangkan dosamu. Aku jadikan umatmu sebaik-baik umat. Aku beri keutamaan dan keistimewaan kepadamu pada hari kiamat. Aku kurniakan tujuh ayat (surah Al-Fatihah) yang tidak aku kurniakan kepada sesiapa sebelummu. Aku berikanmu ayat-ayat di akhir surah al-Baqarah sebagai suatu perbendaharaan di bawah 'Arasy. Aku berikan habuan daripada kelebihan Islam, hijrah, sedekah dan amar makruf dan nahi munkar. Aku kurniakanmu panji-panji Liwa-ul-hamd, maka Adam dan semua yang lainnya di bawah panji-panjimu. Dan Aku fardukan atasmu dan umatmu lima puluh (waktu) sembahyang.

Selesai munajat, Rasulullah S.A.W di bawa menemui Nabi Ibrahim A.S. kemudian Nabi Musa A.S. yang kemudiannya menyuruh Rasulullah S.A.W merayu kepada Allah S.W.T agar diberi keringanan, mengurangkan jumlah waktu sembahyang itu. Selepas sembilan kali merayu, (setiap kali dikurangkan lima waktu), akhirnya Allah perkenan memfardukan sembahyang lima waktu sehari semalam dengan mengekalkan nilainya sebanyak 50 waktu juga.

Selepas Mikraj:

Rasulullah S.A.W turun ke langit dunia semula. Seterusnya turun ke Baitul-Maqdis. Lalu menunggang Buraq perjalanan pulang ke Mekah pada malam yang sama. Dalam perjalanan ini baginda bertemu dengan beberapa peristiwa yang kemudiannya menjadi saksi (bukti) peristiwa Israk dan Mikraj yang amat ajaib itu (Daripada satu riwayat peristiwa itu berlaku pada malam Isnin, 27 Rejab, kira-kira 18 bulan sebelum hijrah). Wallahu'alam.

(Sumber : Kitab Jam'ul-Fawaa'id)

Sahabat yang dikasihi,

Kesimpulannya, Peristiwa Israk dan Mikraj bukan hanya sekadar sebuah kisah sejarah yang diceritakan kembali setiap kali 27 Rejab menjelang. Adalah lebih penting untuk kita menghayati pengajaran di sebalik peristiwa tersebut bagi meneladani perkara yang baik dan menjauhi perkara yang tidak baik. Peristiwa Israk dan Mikraj yang memperlihatkan pelbagai kejadian aneh yang penuh pengajaran seharusnya memberi keinsafan kepada kita agar sentiasa mengingati Allah S.W.T dan takut kepada kekuasaan-Nya.

Seandainya peristiwa dalam Israk dan Mikraj ini dipelajari dan dihayati benar-benar kemungkinan manusia mampu mengelakkan dirinya daripada melakukan berbagai-bagai kejahatan. Kejadian Israk dan Mikraj juga adalah untuk menguji umat Islam (apakah percaya atau tidak dengan peristiwa tersebut). Orang-orang kafir di zaman Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam langsung tidak mempercayai, malahan memperolok-olokkan Nabi sebaik-baik Nabi bercerita kepada mereka.

Peristiwa Israk dan Mikraj itu merupakan ujian dan mukjizat yang membuktikan kudrat atau kekuasaan Allah Subhanahu Wataala. Allah Subhanahu Wataala telah menunjukkan bukti-bukti kekuasaan dan kebesaran-Nya kepada Baginda Sallallahu Alaihi Wasallam.

Dengan kita mendengar dan menghayati kisah dan cerita yang berlaku di dalam peristiwa Israk dan Mikraj kita perlu ambil ikhtibar dan yakin bahawa bumi Baitulmaqdis Palestin yang menjadi tempat bermulanya Mikraj Nabi SAW adalah bumi penuh berkah dan terdapat Masjidil Aqsa (kiblat pertama umat Islam)

Baitulmaqdis dan Masjidil Aqsa adalah harta umat Islam yang telah dirampas oleh Zionis Yahudi laknatullah. Umat Islam perlu berusaha, berkorban dan berdoa semoga tempat suci umat Islam ini dapat dipulangkan kembali kepada pangkuan umat Islam. Peristiwa Israk dan Mikraj akan lebih bermakna apabila umat Islam seluruhnya dapat membantu saudara-saudara kita di Palestin dan dapat memulihkan dan menguasai Baitulmaqdis dan menghalau Yahudi laknatullah daripada menguasai dan membunuh saudara-saudara kita di Palestin.

Friday, 24 May 2013

BUKTI MANUSIA AKAN DIHIDUPKAN KEMBALI OLEH ALLAH S.W.T.





Pada suatu hari, setelah Nabi Muhammad S.A.W. memberi keterangan kepada orang ramai bahawa setiap manusia yang sudah mati akan di hidupkan kembali, maka ramai orang yang kebanyakannya adalah orang -orang yang jahil itu dengan serentak mula mengejek dengan berteriak-teriak dan bersiul-siul sambil berloncat-loncatan.

Di antara orang ramai itu ada dua orang penting yang termasuk kaum cendekiawan dan pemimpin, iaitu Ubay bin Ka'ab dan al-As' bin Wail.

Kedua pemimpin ini selain tidak percaya bahawa orang-orang yang sudah mati beribu-ribu tahun akan hidup kembali, juga akan mempergunakan keterangan itu untuk menjatuhkan atau mengalahkan Rasulullah S.A.W.

Kedua orang itu pulang ke rumahnya untuk mengambil cangkul, lalu menuju ke kuburan. Kuburan itu mereka gali, mereka keluarkan tulang-belulang manusia yang terdapat di dalamnya, lalu membawa tulang-belulang itu ke hadapan Rasulullah S.A.W.

Di hadapan Rasulullah S.A.W., tulang-belulang itu mereka injak-injak dengan kaki sehingga hancur-lebur menjadi debu. Debu itu lalu mereka tiup ke udara sehingga berterbangan. Lalu mereka berkata kepada Rasulullah:

"Engkaulah yang mengatakan bahawa Allah akan menghidupkannya kembali?"

Untuk menjawab tentangan itu, turunlah Malaikat Jibrail kepada Rasulullah S.A.W. membawa wahyu dari Allah S.W.T.

Allah S.W.T berfirman (yang bermaksud):
"Tidakkah manusia itu melihat dan mengetahui, bahawa Kami telah menciptakan dia dari (setitis) air benih? Dalam pada itu (setelah Kami sempurnakan kejadiannya dan tenaga kekuatannya) maka dengan tidak semena-mena menjadilah ia seorang pembantah yang terang jelas bantahannya (mengenai kekuasaan Kami menghidupkan semula orang-orang yang mati).
Serta ia mengemukakan satu misal perbandingan kepada Kami (tentang kekuasaan itu), dan ia pula lupakan keadaan Kami menciptakannya sambil ia bertanya: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-tulang yang telah hancur seperti debu?". Katakanlah: "Tulang-tulang yang hancur itu akan dihidupkan oleh Tuhan yang telah menciptakannya pada awal mula wujudnya; dan Ia Maha Mengetahui akan segala keadaan makhluk-makhluk (yang diciptakanNya). Tuhan yang telah menjadikan api dari pohon-pohon yang hijau basah untuk kegunaan kamu, maka kamu pun selalu menyalakan api dari pohon-pohon itu. Tidakkah diakui dan tidakkah dipercayai bahawa Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi (yang demikian besarnya) berkuasa menciptakan semula manusia sebagaimana Ia menciptakan mereka dahulu? Ya! Diakui dan dipercayai berkuasa! Dan Dialah Pencipta yang tidak ada bandinganNya, lagi Yang Maha Mengetahui".
(Yasin: 77-81).

PERJANJIAN DI ALAM RUH

Perjanjian Ruh di alam arwah. Ia merupakan sebuah perjanjian di antara kita semua dengan Allah s.w.t., Pencipta, Pemilik serta Pentadbir sekelian alam ini sebelum Ruh dimasukkan ke dalam jasad kita sebagai manusia. Perjanjian Ruh ini termuat di dalam beberapa tempat di dalam al Qur’an. Salah satu ayat yang menyentuh tentangnya ialah ayat yang menceritakan tentang ciri-ciri manusia yang Allah sebutkan sebagai layak memasuki Syurga ‘Adn. Syarat pertama seperti yang dinyatakan ialah manusia itu memenuhi janji tidak akan mempersekutukan Allah dengan apa jua pun sebagaimana dia pernah persaksikan di alam arwah.

Perjanjian ini ada disebutkan di dalam al Qur’an dan kitab-kitab agama lain termasuk kitab-kitab golongan sofis sejak zaman berzaman . Ia menunjukkan sejak zaman-berzaman, pengetahuan tentang terdapatnya satu perjanjian antara ruh manusia dan penciptaNya bukanlah sebuah subjek yang pelik untuk dibicarakan. Allah membenarkan tentang adanya perjanjian sedemikian rupa.  Terdapat penjelasan mengenai bila perkara itu berlaku serta apa intipati perjanjian tersebut yang sentiasa menjadi subjek yang dipertuturkan oleh golongan manusia yang berfikir sejak zaman berzaman. Pertama, biar saya jelaskan apa kata Allah di dalam al Qur’an mengenai Perjanjian Ruh ini.


Telah berlaku satu perjanjian antara Ruh dan Allah sebelum dari Ruh kita semua dimasukkan ke dalam jasad yang diciptakan kemudiannya di dalam turutan yang dijelaskan di dalam ayat 172 hingga 174 surah ar a’raaf seperti berikut :

Dan ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka, iaitu anak cucu mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”, mereka menjawab : “Betul, kami menjadi saksi,”, (ia diperingatkan supaya) tidak kamu mengatakan di hari kiamat kelak: “Sesungguhnya kami terhadap hal-hal ini (keesaan Allah) adalah orang-orang yang lalai,”. 172

Atau agar kamu tidak mengatakan : “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedangkan kami ini adalah anak-anak keturunan yang datang sesudah mereka, maka apakah Engkau akan membinasakan kami kerana perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?” 173

Dan demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu agar mereka kembali. 174

Prof Dr. HAMKA, menjelaskan Perjanjian Ruh ini merupakan antara subjek yang seharusnya diberikan perhatian dan diberikan perhatian khusus. Ini kerana umumnya manusia terlupa. Akan terbit rasa tidak tenteram dan hilang ketenangan di dalam jiwa setiap manusia sekiranya mereka tidak kembali diperingatkan tentang butir utama perjanjian yang pernah dimeterai antara kita dengan Allah s.w.t.

Rumah, kereta, kemewahan serta keluarga yang besar tidak menjanjikan sebuah ketenangan kepada jiwa. Jiwa itu sentiasa meronta-ronta cuba mencari sebab kenapa rasa gundah serta tidak gembira itu masih hadir ketika kehidupan kita berterusan dikelilingi dengan segala apa yang ditafsirkan sebagai kemewahan.
Seolah-olah terdapat satu ruang kosong yang meruntun perasaan. Seolah-olah jiwa itu sedang mencari sesuatu tetapi tidak diketemukan. Ia sangat pelik, lalu segala yang dipandang sebagai nikmat-nikmat yang dikejar-kejar sebelum ini, mula kelihatan tidak memberikan kepuasan sepenuhnya terhadap remedi bagi kekosongan yang dicari. Pada sangkaan awal, pasangan hidup yang cantik, harta, rumah yang besar, kenderaan mewah, serta anak pinak yang disangka dapat mengubat resah di dalam jiwa itu gagal menghadirkan dirinya. Perasaan tersebut hadir seolah-olah ia mmberitahu kepada hati dan perasaan kita bahawa terdapat satu tanggungjawab atau tugasan yang masih belum diselesaikan.

Lalu kita cuba untuk mencari jawapan. Perlahan-lahan kita menyelidiki apa yang tidak kena dengan diri kita pada waktu tersebut. Secara zahir, segalanya kelihatan tidak bermasalah. Kemudian barulah terdetik, mungkin ada sesuatu yang tidak kena dengan sisi dalaman di dalam diri. Ia mungkin ada kena mengena dengan jiwa yang tidak tenang.

Lalu, barulah disedari bahawa jiwa itu terdiri dari tubuh yang dihidupkan dengan ruh. Kombinasi keduanya menjadikan tubuh itu berfungsi dan dapat menjalani kehidupan. Mana mungkin manusia itu mendapat ketenangan jikalau ruhnya tidak mendapat makanan yang tepat. Kehendak ruh atau rohani inilah yang menyebabkan ramai manusia merasakan diri mereka kosong walaupun hidup dikelilingi dengan pelbagai nikmat dan kemewahan.

Ruh berkehendakan supaya janji yang pernah dimeterai antara mereka dan Tuhan ditepati. Kehendak inilah yang mana jika tidak dipenuhi akan menghantui setiap jiwa manusia yang akan sentiasa dihambat rasa kekosongan kerana hidup bertuhankan segala perkara lain kecuali Allah. Manusia mengejar harta, kedudukan, publisiti dan pangkat seolah-olah itulah tujuan utama mereka hidup di dalam dunia. Itu merupakan trajektori pemikiran yang silap jika kehidupan bahagia menjadi destinasi yang ingin ditujui.
Tetapi Allah tidak pernah membiarkan manusia itu terkapai-kapai di dalam mencari jawapan. Lantas pada setiap kali umat manusia hilang panduan, Allah s.w.t. mengutuskan para nabi dan rasul untuk mengajak serta mengingatkan kembali dasar tauhid yang menjadi intipati utama perjanjian antara ruh kita dengan Allah s.w.t., Pencipta dan Pentadbir sekelian alam.

Itulah yang menjadi intipati kepada ayat 172 hingga 173 surah al A’raaf. Rasul dikirimkan kepada umat manusia supaya manusia tidak mengatakan kembali bahawa mereka tidak pernah diperingatkan tentang perjanjian untuk tidak menyekutukan Allah dengan segala sesuatu yang lain.
Menepati Perjanjian Ruh ini menjadi syarat utama bagi manusia-manusia yang dikira layak untuk layak memasuki syurga. Di dalam surah ar Ra’d ayat 19 hingga 26, Allah s.w.t. menyebut tentang penghuni Syurga ‘adn.

Adakah orang yang mengetahui bahawasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu itu benar sama seperti orang yang buta? Sesungguhnya yang mahu mengambil pelajaran itu hanyalah orang-orang yang berakal sahaja. 19

Iaitu orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merosakkan perjanjian. 20

Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan (iman, silaturrahim) dan mereka yang takut kepada Rabb mereka dan takut kepada hisab yang buruk. 21

Dan orang-orang yang sabar kerana mencari keredhaan Rabbnya, dan mendirikan solat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan, orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan yang baik. 22

Syurga ‘Adn, yang mereka masuk ke dalamnya dengan orang-orang yang saleh dari bapa-bapanya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedangkan malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari setiap pintu. 23

Kesejahteraan buat kalian berkat kesabaran kalian, maka alangkah baiknya tempat kesudahan ini. 24

Banyak mufassir serta ulama’ cuba mentafsirkan bagaimana perjanjian tersebut dimeterai. Perkara itu cuba dijauhkan dari penulisan ini kerana ianya diluar daripada bidang keupayaan manusia untuk mendapatkan gambaran sebenarnya. Malah cara bagaimana perjanjian itu dimeterai antara ruh dan Tuhan yang menciptakannya juga akan dijauhi sedapatnya. Yang penting, intipati kepada perjanjian itu diketahui dan bagaimana cara perjanjian itu boleh dipenuhi telah dijelaskan sepenuhnya di dalam al Qur’an.
“Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ‘Ruh itu termasuk urusan Rabbku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit’.” (Al-Isra: 85)
Cuma penulisan ini digarapkan atas tujuanbagi menunjukkan bahawa perkara Perjanjian Ruh ini merupakan sebuah subjek yang turut menjadi sentuhan dan perbincangan manusia-manusia yang menamakan diri mereka manusia beragama sejak zaman berzaman.

Al Qur’an secara jelas menyatakan bahawa semua agama yang wujud dimukabumi ini pada hari ini sejak semalam jauh, berasal dari satu agama yang sama. Agama yang asal itu ialah Islam yang diperkenalkan kepada manusia semenjak zaman Nabi Adam a.s.

Pada mulanya manusia itu ialah umat yang satu (menurut agama Allah yang satu, tetapi setelah mereka berselisihan), maka Allah mengutuskan Nabi-nabi sebagai pemberi khabar gembira (kepada orang-orang yang beriman dengan balasan syurga), dan pemberi amaran (kepada orang-orang yang ingkar dengan balasan azab neraka) dan Allah menurunkan bersama Nabi-nabi itu kitab-kitab suci yang (mengandungi keterangan-keterangan yang) benar, untuk menjalankan hukum di antara manusia mengenai apa yang mereka perselisihkan. Dan (sebenarnya) tidak ada yang melakukan perselisihan melainkan orang-orang yang telah diberi kepada mereka kitab-kitab suci itu, iaitu sesudah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas nyata, - mereka berselisih semata-mata kerana hasad dengki sesama sendiri. Maka Allah memberikan pertunjuk kepada orang-orang y ang beriman ke arah kebenaran yang diperselisihkan oleh mereka (yang derhaka itu), dengan izinNya. Dan Allah sentiasa memberi pertunjuk hidayahNya kepada sesiapa yang di kehendakiNya ke jalan yang betul-lurus (menurut undang-undang peraturanNya). (al Baqarah ayat 213)

Ruh, Pembalasan Akhirat dan Syariat Awal Manusia
Anak-anak Adam a.s. telah mengetahui mengenai beberapa syariat ringkas. Ia melibatkan beberapa hukum asas dan pengetahuan bahawa setiap perbuatan itu akan mendapat balasan yang setimpal diakhirat. Kerana itulah, apabila diugut untuk dibunuh dengan tindakan zalim oleh Qabil, Habil hanya menyatakan perkara berikut kepada saudara kandungnya. Surah al Maidah ayat 27 hingga 29 berikut.

Dan bacakanlah (wahai Muhammad) kepada mereka kisah (mengenai) dua orang anak Adam (Habil dan Qabil) yang berlaku dengan sebenarnya, iaitu ketika mereka berdua mempersembahkan satu persembahan korban (untuk mendampingkan diri kepada Allah). Lalu diterima korban salah seorang di antaranya (Habil) dan tidak diterima (korban) dari yang lain (Qabil). Berkata (Qabil): Sesungguhnya aku akan membunuhmu!. (Habil) menjawab: Hanyasanya Allah menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.

Demi sesungguhnya! Jika engkau hulurkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak sekali-kali akan menghulurkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Kerana sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan Yang mentadbirkan sekalian alam.
Sesungguhnya aku mahu supaya engkau kembali dengan (membawa) dosa (membunuhku) dan dosamu sendiri. Maka dengan itu menjadilah engkau dari ahli Neraka dan itulah dia balasan orang-orang yang zalim.

Pewaris nabi yang terawal, Habil, tidak mahu bertindak zalim di atas kezaliman yang bakal ditimpakan ke atasnya. Maka jadilah dia korban pertama demi mempertahankan prinsip yang dipegangnya bahawa semua perbuatan jahat itu akan mendapat balasan dari Allah. Tetapi untuk memaksanya bertindak zalim dan ganas sebagai balasan kepada perbuatan zalim yang bakal ditimpakan saudara kandungnya ke atasnya, ianya tidak menjadi pilihannya sama sekali. Sempurna mendapat didikan dari ayahandanya yang merupakan ayahanda kepada kita semua, dia menolak untuk mengambil jalan bermusuhan dengan saudaranya sekalipun saudaranya secara jelas menzalimi dirinya. Betapa kualiti ini, tidak kelihatan lagi di dunia ini kecuali pada pewaris nabi yang sedikit jumlahnya.

Melalui kisah yang cukup ringkas diceritakan di dalam Al Qur’an ini, terlalu banyak maklumat yang diperolehi mengenai kehidupan keluarga manusia terawal di dunia. Pertama, mereka telah bercucuk tanam dan memelihara binatang ternak sebagai makanan. Jelas mereka telah mempunyai sistem tugasan dan teknik bagi mencukupkan keperluan asas iaitu makanan.  Mereka telah mempunyai sistem hidup yang sistematik dan membahagi-bahagikan tugas sebagaimana manusia dengan pemikiran yang  bertamadun melakukannya. Mereka juga menyelesaikan perebutan dan konflik melalui sistem timbang tara yang pada waktu itu diadili oleh Allah s.w.t. dengan korban salah seorang dari mereka diterima Allah bagi menyelesaikan isu yang timbul sesama mereka. Mereka telah mempunyai pengetahuan tentang apa yang baik dan apa yang buruk untuk dikerjakan. Mereka telah mempunyai set undang-undang yang menunjukkan bahawa setiap perbuatan itu akan mendapat balasan yang setimpal. Mereka juga telah mengetahui mengenai kematian dan destinasi yang bakal dituju selepas kematian.

Mereka telah mengetahui mengenai aspek rohani bahawa setiap jiwa itu terdiri dari ruh dan jasad. Ia difahami apabila Habil berkata kepada Qabil, bahawa dia akan kembali membawa dosa-dosanya dan dosa dia membunuh Habil apabila berhadapan dengan Allah diakhirat nanti. Jelas di sini, Habil mengetahui bahawa apabila mati nanti, jasadnya mungkin akan disimpan bumi, tetapi ruh tetap hidup dan akan dibangkitkan kembali diakhirat nanti.

Itulah kehebatan al Qur’an, dapat menjelaskan pelbagai perkara hanya di dalam 3 ayat ringkas. Di dalam 3 ayat sebegini ringkas, hampir seluruh sistem hidup keluarga manusia yang terawal di dunia dijelaskan hampir sepenuhnya. Banyak mitos tentang aspek kehidupan manusia terawal yang seringkali dikaitkan dengan bidang arkeologi yang berkiblatkan barat menjadi tidak relevan dan dapat diperbetulkan hanya melalui 3 ayat ringkas dan mudah ini. Sebenarnya kisah Habil dan Qabil tidak berakhir pada ayat 29 surah al Maidah tersebut, tetapi ianya dilanjutkan sehingga ayat 31. Banyak lagi lapis pengetahuan yang boleh digali melalui penelitian ke atas dua ayat tambahan tersebut. Jika mula mengambil serius dengan al Qur’an, Allah s.w.t. akan membuka jalan-jalan pemahaman yang lebih dalam. Tahukah sahabat-sahabat pengunjung blog satuhala ini, di dalam kisah Adam a.s. dan keluarganya yang dicatatkan di dalam al Qur’an, terdapat pelbagai ilmu lagi selain  yang boleh dijadikan panduan kepada pelbagai bidang dari bidang serius seperti arkeologi hingga ke bidang glamor seperti fesyen. Tahukah sahabat-sahabat pengunjung bahawa al Qur’an dan Sunnah memberikan panduan bagaimana untuk membezakan yang mana satu antara beberapa tengkorak di bawah ini merupakan tengkorak manusia lampau dan mana satu yang bukan? Jika Nabi secara jelas dapat memberikan jawapan kepada setiap persoalan yang diberikan kepadanya melalui bantuan Allah, seharusnya pewaris nabi turut menjadi kemuncak pusat rujukan untuk semua umat Islam di dalam pelbagai bidang supaya mereka dapat menjalankan usaha mereka mengikut jalan yang betul dan tidak sia-sia membuang masa.




Monday, 20 May 2013

PERHIASAN HATI



Kata-kata hukama: "Tidak cukup mengaku Islam, tetapi tidak beramal. Tidak cukup banyak beramal tetapi hatinya tidak dihias."

Hati adalah tempat pandangan ALLAH swt. ALLAH tidak menilai atau memandang hambaNYA dari rupa atau badannya tetapi dari kesucian hatinya. Maka itu adalah sangat penting bagi kita untuk mencantikkan dan menghias hati supaya dapat menarik perhatian dan pandangan ALLAH terhadap diri kita.

Sabda Rasulullah saw, yang maksudnya; "Bahawasanya, ALLAH Taala tidak melihat pada rupa kamu dan badan kamu. ALLAH hanya pandang pada hati kamu."
- Riwayat Muslim dan Ibn Majah


Fungsi Hati

Dari segi fisikal tubuh manusia, hati adalah sebuah organ yang mempunyai fungsi penting bagi kehidupan manusia itu. Hati adalah tempat menerima darah bersih (yang mengandungi oxigen) dan darah kotor (yang mengandungi tosik tubuh). Hati akan menghantar darah bersih kepada sel-sel tubuh yang memerlukannya. Hati juga akan menyahtosikkan (bersihkan) darah kotor sebelum darah itu dihantar kembali ke jantung. Jika hati mengalami kerosakan, maka fungsi ini tentunya akan terganggu dan tubuh manusia akan menanggung akibatnya.

Dari sabda Rasulullah saw. yang bermaksud; "Sesungguhnya, di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila ia baik nescaya akan baik semua tubuhnya, dan apabila ia rosak akan rosaklah seluruh tubuhnya. Ia adalah hati."

Dari segi kerohanian, hati adalah kalbu iaitu tempat tersimpan segala emosi dan perasaan halus manusia yang tidak diketahui oleh manusia lain. Hati juga adalah tempat menyimpan segala niat perbuatan manusia sama ada perbuatan harian mahu pun perbuatan fardu ibadat.

Hati yang baik akan melahirkan perbuatan (amal) yang baik. Begitu juga hati yang jahat akan melahirkan perbuatan yang jahat juga. Amal ibadah yang banyak namun jika hatinya dipenuhi dengan kekotoran, amal ibadahnya tidak akan diredai ALLAH swt. Ingatlah bahawa masuk syurga itu bukan kerana amal soleh kita tetapi masuk syurga adalah dengan reda ALLAH swt. Satu cara mendapat reda ALLAH ialah dengan akhlak yang baik. Akhlak yang baik tidak boleh dicapai tanpa hati yang baik juga.

Bagaimanakah dapat kita dapat baikkan hati?
Hati yang baik ialah hati yang telah dihias dengan perhiasan-perhiasan hati. Tetapi sebelum hati itu dihias, terlebih dahulu hati hendaklah dibersihkan dari kekotorannya. Tidak berfaedah menghias hati yang masih kotor.

Umpama seorang wanita yang memakai perhiasan seperti gelang emas, kalung emas, cincin berlian, kerabu permata dan tiara bertahta mutiara tetapi wanita itu berpakaian kotor, berwajah comot dan berserabut rambutnya, apakah pandangan orang ramai terhadap dirinya? Sudah tentu perhiasan yang mahal itu tidak memberi seri kepada wanita itu malahan ia akan dianggap wanita kurang waras akalnya.

Begitu juga dengan rumah kita. Sebelum menghiasnya dengan langsir cantik, perabut cantik, jambangan bunga yang cantik, permaidani yang mahal dan sebagainya, rumah itu mestilah dibersihkan terlebih dahulu dari segala kekotoran. Tentu tidak masuk akal untuk menghias rumah yang masih kotor, bukan?

Maka hati juga mesti dibersihkan terlebih dahulu sebelum ia boleh dihias. Dan untuk membersihkan hati mestilah kenal akan perkara-perkara yang mengotorkan hati itu. Setelah kenal dan tahu perkara-perakara yang mengotorkan hati, berusahalah mencari cara untuk membersihkannya. Setelah hati bersih darikekotoran, baharulah ia boleh dihias supaya dapat menarik perhatian ALLAH swt. (reda ALLAH).


Perkara-perkara yang mengotorkan hati.

Perkara-perkara yang mengotorkan hati (kalbu) adalah sifat-sifat keji yang tidak disukai ALLAH swt. Sifat-sifat keji ini dikenali juga sebagai sifat-sifat mazmumah. Jika dirasa sifat-sifat ini ada pada diri, hendaklah segera berusaha untuk membersihkan sifat-sifat ini dari diri. Ini kerana sifat-sifat keji ini akan meninggalkan titik hitam (zan) di hati. Semakin lama dan banyak sifat-sifat keji ini dibiarkan, maka semakin banyaklah zan berada di hati. Dan jika tidak dibersihkan dengan betul kelak keseluruhan hati akan menjadi hitam kerana titik zan yang terlalu banyak. Hati yang gelap dengan zan akan menjadi keras. Hati yang keras akan susah untuk dimasuki nur iman selain susah untuk menerima nasihat. Jika ini terjadi orang yang empunya hati itu akan merasa malas untuk beribadat dan merasa senang pula dengan perkara-perkara maksiat.

Sifat-sifat keji (sifat mazmumah) yang mengotorkan hati:-


    Sangat berlebih-lebihan dalam makanan.

    Sangat berlebih-lebihan dalam berkata-kata.

    Marah.

    Dengki.

    Cintakan dunia.

    Bakhil.

    Cintakan kemegahan.

    Takabbur.

    Ujub.

    Riak.

Jika sifat-sifat keji ini dapat dibersihkan dari hati, hati akan menjadi baik dan lembut dan senang untuk menerima ilmu, nasihat, dan nur iman dari ALLAH swt. Hati yang telah bersih juga hendaklah dihias dengan supaya ALLAH swt suka memandangnya. Dan apabila ALLAH suka memandang kepada hati yang bersih dan berhias, diri yang empunya hati itu akan diberi Reda ALLAH swt. Manusia sangat perlu mendapat Reda ALLAH kerana dengan Reda ALLAH ini kita akan dapat masuk ke dalam syurga yang dijanjikan.

Apakah perkara-perkara yang boleh menjadi hiasan kepada hati yang telah bersih itu?

[Click here for more gifs and graphics] Perhiasan-Perhiasan Hati.

Terdapat 12 perhiasan hati. Perkara-perkara yang menjadi hiasan hati ialah sifat-sifat terpuji yang disukai ALLAH swt. Sifat-sifat terpuji ini ada banyak tetapi yang terpenting ada 12 sifat iaitu:-

1) Taubat
Erti taubat pada bahasa ialah kembali atau pulang ke pangkal jalan. Taubat pada hukum syarak ada 3 iaitu:-


    rasa menyesal atas perbuatan maksiat itu

    tinggalkan maksiat itu

    berazam tidak akan kembali kepada maksiat itu

Sentiasalah bertaubat walaupun terhadap dosa-dosa kecil kerana setiap dosa kecil yang tidak dibersihkan akan menjadi titik hitam (zan) yang akan menggelapkan hati.

Dari sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, yang bermaksud; "Wahai sekelian manusia! Taubatlah kamu kepada ALLAH swt. Bahawasanya aku bertaubat kepadaNYA satu hari seratus kali."

2) Raja' dan Khauf
Raja' bererti berharap-harap akan Reda dan Rahmat ALLAH swt. Orang Islam dilarang dari merasa putus-asa. Dengan adanya rasa berharap ini akan membuat diri kita sentiasa melakukan yang terbaik supaya dapat Reda dan RahmatNYA.

Khauf pula bererti takut iaitu takut akan mendapat murka ALLAH swt. Dengan adanya rasa takut ini akan menjauhkan diri kita dari perkara-perkara yang akan mendatangkan murka ALLAH itu.

3) Zuhud

Zuhud bukan membuang kehidupan dunia. Islam tidak melarang umatnya dari bekerja keras untuk mencapai kejayaan. Islam tidak melarang untuk menjadi kaya. Erti zuhud yang sebenar ialah tidak ada keinginan dunia di dalam hati. Kehidupan duniawi hanya di zahirnya sahaja sedangkan hatinya sangat mencintai kehidupan akhirat.

Sabda Rasulullah saw. yang bermaksud; "Apabila ALLAH swt mengkehendaki hamba kebaikan, nescaya dizuhudkan hatinya iaitu memadai dia akan apa yang ada pada dirinya di dunia, dan menjadikan hatinya gemar kepada akhirat dan dilihatkan aib dirinya."

4) Sabar

Erti sabar ialah menahan diri dari merasa marah kepada perkara yang menyusahkannya dan menahan lidah dari mengadu masalah hidupnya kepada yang selain ALLAH. Sabar adalah fardu ain atas setiap mukallaf sama ada sabar dalam mengerjakan ketaatan kepada ALLAH atau sabar dalam meninggalkan perkara maksiat atau sabar dalam menghadapi balak (ujian ALLAH).

5) Syukur

Syukur membawa erti menggunakan nikmat-nikmat yang dianugerahkan ALLAH swt kepada perkara-perkara yang disukai ALLAH. Gunakanlah mata, telinga, lidah, tangan serta kaki untuk kebaikan. Begitu juga bersyukur dengan rezeki yang diberi ALLAH adalah dengan menggunakannya ke jalan yang benar.

6) Iklas

Iklas bererti membuat sesuatu kebaikan itua adalah semata-mata kerana hendak mendapat reda ALLAH swt dan bukan untuk dipuji makhluk.

7) Tawakal

Menyerah kepada takdir semata-mata tanpa sebarang usaha bukanlah yang dimaksudkan dengan tawakal. Makhluk dianugerahkan dengan pancaindera untuk digunakan dalam berusaha dan akal untuk berfikir. Makhluk wajib berusaha kemudian berdoa dan akhir sekali bertawakal kepada ALLAH swt.

Ertit tawakal yang sebenarnya ialah menyerahkan dengan keyakinan segala keputusan kepada ALLAH setelah berusaha dan berdoa.

8) Reda

Menerima dengan rasa penuh keyakinan apa yang ditakdir ALLAH swt. Orang yang reda dengan ketentuan ALLAH swt akan mendapat Reda ALLAH pula. Orang yang mendapat Reda ALLAH balasannya adalah syurga.

9) Mahabatillah

Ertinya kasih akan ALLAH. Kasih akan ALLAH adalah tanda kesempurnaan iman. Salah satu syarat iman ialah kasihkan ALLAH. Untuk kasih kepada ALLAH mestilah mengenalNYA terlebih dahulu. Apabila hati telah ada rasa kasih, segala perintahNYA akan dilaksanakan tanpa ada rasa jemu atau malas.

10) Zikrulmaut

Mengingati mati bukan bererti kita berputus asa dalam hidup dan mengharapkan mati. Mengingati mati akan mendatangkan rasa insaf dan ingat akan adanya kehidupan lain setelah kematian. Mengingati mati akan membuat kita berhati-hati dalam menjalani kehidupan di dunia ini kerana segala perbuatan dan percakapan akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.

11) Tafakkur

Berfikir sangat-sangat digalakkan kerana ia adalah satu anugerah makhluk yang diberi akal. Gunakan akal untuk berfikir tentang kejadian alam dan segala isinya. Dengan bertafakkur manusia akan mengenal Tuhannya.

12) Muhasabah

Muhasabah ertinya menghitung diri sendiri. Orang yang sentiasa menghitung dirinya sendiri kelak tidak akan terperanjat apabila dirinya dihitung kelak di makhamah ALLAH swt.

Inilah 12 perhiasan hati yang wajib ada pada hati orang yang beriman. Apabila hati telah dihias dengan perhiasan-perhiasan tersebut, sudah pasti ALLAH akan memandang hati itu dengan penuh kasih sayang dan akan diberi RedaNYA, insya-ALLAH.

Sunday, 19 May 2013

~ PERISTIWA YANG BERLAKU DI PADANG MAHSYAR ~ (Rasulullah menangis di Padang Mahsyar)



BismillahirRahmaanirrahiim.

Dari Usman bin Affan bin Dahaak bin Muzahim daripada Abbas ra, bapa saudara Rasulullah SAW dari Rasulullah SAW telah bersabda, yang bermaksud:

"Aku adalah orang (manusia) yang paling awal dibangkitkan dari kubur (bumi) pada hari kiamat yang tiada kebanggaan. Bagiku ada syafaat pada hari kiamat yang tiada kemegahan. Bendera pujian di tanganku dan nabi-nabi keseluruhannya berada di bawah benderaku. Umatku adalah umat yang terbaik. Mereka adalah umat yang pertama dihisab sebelum umat yang lain. Ketika mereka bangkit dari kubur, mereka akan mengibas (membuang) tanah yang ada di atas kepala mereka. Mereka semua akan berkata:

"Kami bersaksi bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan kami bersaksi bahawa Muhammad itu Rasulullah. Inilah yang telah dijanjikan oleh Allah Taala serta dibenarkan oleh para rasul." Ibnu Abbas ra berkata: "Orang yang pertama dibangkitkan dari kubur di hari kiamat ialah Muhammad SAW. Jibril as akan datang kepadanya bersama seekor Buraq. Israfil pula datang dengan membawa bersama bendera dan mahkota. Izrail pula datang dengan membawa bersamanya pakaian-pakaian syurga."

Jibril as akan menyeru: "Wahai dunia! Di mana kubur Muhammad SAW?" Bumi akan berkata: "Sesungguhnya, Tuhanku telah menjadikan aku hancur. Telah hilang segala lingkaran, tanda dan gunung-ganangku. Aku tidak tahu dimana kubur Muhammad SAW."

Rasulullah SAW bersabda:

"Lalu diangkatkan tiang-tiang dari cahaya dari kubur Nabi Muhammad SAW ke awan langit. Maka, empat malaikat berada di atas kubur."

Israfil bersuara: "Wahai roh yang baik! Kembalilah ke tubuh yang baik!" Maka, kubur terbelah dua. Pada seruan yang kedua pula, kubur mula terbongkar. Pada seruan yang ketiga, ketika Rasulullah SAW berdiri, baginda SAW telah membuang tanah di atas kepala dan janggut baginda SAW. Baginda SAW melihat kanan dan kiri. Baginda SAW dapati, tiada lagi bangunan.

Baginda SAW menangis sehingga mengalir air matanya ke pipi. Jibril as berkata kepadanya: "Bangun wahai Muhammad! Sesungguhnya kamu di sisi Allah Taala di tempat yang luas." Baginda SAW bertanya, "Kekasihku Jibril! Hari apakah ini?"

Jibril as menjawab: "Wahai Muhammad! Janganlah kamu takut! Inilah hari kiamat. Inilah hari kerugian dan penyesalan. Inilah hari pembentangan Allah Taala." Baginda SAW bersabda: "Kekasihku Jibril! Gembirakanlah aku!"

Jibril as berkata: "Apakah yang kamu lihat di hadapanmu?" Baginda SAW bersabda: "Bukan seperti itu pertanyaanku." Jibril as berkata: "Adakah kamu tidak melihat bendera kepujian yang terpacak di atasmu?" Baginda SAW bersabda: "Bukan itu maksud pertanyaanku. Aku bertanya kepadamu akan umatku. Di mana perjanjian mereka?" Jibril as berkata: "Demi keagungan Tuhanku! Tidak akan terbongkar oleh bumi daripada manusia, sebelummu?" Baginda SAW bersabda: "Nescaya akan, kuatlah pertolongan pada hari ini. Aku akan mensyafaatkan umatku." Jibril as berkata kepada baginda SAW: "Tungganglah Buraq ini wahai Muhammad SAW dan pergilah ke hadapan Tuhanmu!" Jibril as datang bersama Buraq ke arah Nabi Muhammad SAW. Buraq cuba meronta-ronta.

Jibril as berkata kepadanya: "Wahai Buraq! Adakah kamu tidak malu dengan makhluk yang paling baik dicipta oleh Allah Taala? Sudahkah Allah Taala perintahkan kepadamu agar mentaatinya?" Buraq berkata: "Aku tahu semua itu. Akan tetapi, aku ingin dia mensyafaatiku agar memasuki syurga sebelum dia menunggangku.

Sesungguhnya, Allah Taala akan datang pada hari ini di dalam keadaan marah. Keadaan yang belum pernah terjadi sebelum ini." Baginda SAW bersabda kepada Buraq: "Ya! Sekiranya kamu berhajatkan syafaatku, nescaya aku memberi syafaat kepadamu." Setelah berpuas hati, Buraq membenarkan baginda SAW menunggangnya lalu dia melangkah. Setiap langkahan Buraq sejauh pandangan mata.

Apabila Nabi Muhammad SAW berada di Baitul Maqdis di atas bumi dari perak yang putih, malaikat Israfil as menyeru: "Wahai tubuh-tubuh yang telah hancur, tulang-tulang yang telah reput, rambut-rambut yang bertaburan dan urat-urat yang terputus-putus! Bangkitlah kamu dari perut burung, dari perut binatang buas, dari dasar laut dan dari perut bumi ke perhimpunan Tuhan yang Maha Perkasa. Roh-roh telah diletakkan di dalam tanduk atau sangkakala. Di dalamnya ada beberapa tingkat dengan bilangan roh makhluk.

Setiap roh, akan didudukkan berada di dalam tingkat. Langit di atas bumi akan menurunkan hujan dari lautan kehidupan akan air yang sangat pekat seperti air mani lelaki. Daripadanya, terbinalah tulang-tulang. Urat-urat memanjang. Daging kulit dan bulu akan tumbuh. Sebahagian mereka akan kekal ke atas sebahagian tubuh tanpa roh.

Allah Taala berfirman: "Wahai Israfil! Tiup tanduk atau sangkakala tersebut dan hidupkan mereka dengan izinKu akan penghuni kubur. Sebahagian mereka adalah golongan yang gembira dan suka. Sebahagian dari mereka adalah golongan yang celaka dan derita." Malaikat Israfil as menjerit: "Wahai roh-roh yang telah hancur! Kembalilah kamu kepada tubuh-tubuh mu. Bangkitlah kamu untuk dikumpulkan di hadapan Tuhan semesta alam." Allah Taala berfirman: "Demi keagungan dan ketinggianKu! Aku kembalikan setiap roh pada tubuh-tubuhnya!"

Apabila roh-roh mendengar sumpah Allah Taala, roh-roh pun keluar untuk mencari jasad mereka. Maka, kembalilah roh pada jasadnya. Bumi pula terbongkar dan mengeluarkan jasad-jasad mereka. Apabila semuanya sedia, masing-masing melihat. Nabi SAW duduk di padang pasir Baitul Maqdis, melihat makhluk-makhluk. Mereka berdiri seperti belalang yang berterbangan. 70 umat berdiri. Umat Nabi Muhammad SAW merupakan satu umat (kumpulan). Nabi SAW berhenti memperhatikan ke arah mereka.

Mereka seperti gelombang lautan. Jibril as menyeru: "Wahai sekalian makhluk, datanglah kamu semua ke tempat perhimpunan yang telah disediakan oleh Allah Taala." Umat-umat datang di dalam keadaan satu-satu kumpulan. Setiap kali Nabi Muhammad SAW berjumpa satu umat, baginda SAW akan bertanya: "Di mana umatku?"

Jibril as berkata: "Wahai Muhammad! Umatmu adalah umat yang terakhir." Apabila nabi Isa as datang, Jibril as menyeru: Tempatmu!" Maka nabi Isa as dan Jibril as menangis. Nabi Muhammad SAW berkata: "Mengapa kamu berdua menangis." Jibril as berkata: "Bagaimana keadaan umatmu, Muhammad?"

Nabi Muhammad bertanya: "Di mana umatku?" Jibril as berkata: "Mereka semua telah datang. Mereka berjalan lambat dan perlahan." Apabila mendengar cerita demikian, Nabi Muhammad SAW menangis lalu bertanya: "Wahai Jibril! Bagaimana keadaan umatku yang berbuat dosa?" Jibril as berkata: "Lihatlah mereka wahai Muhammad SAW!" Apabila Nabi Muhammad SAW melihat mereka, mereka gembira dan mengucapkan selawat kepada baginda SAW dengan apa yang telah Allah Taala muliakannya. Mereka gembira kerana dapat bertemu dengan baginda SAW. Baginda SAW juga gembira terhadap mereka.

Nabi Muhammad SAW bertemu umatnya yang berdosa. Mereka menangis serta memikul beban di atas belakang mereka sambil menyeru: "Wahai Muhammad!" Air mata mereka mengalir di pipi. Orang-orang zalim memikul kezaliman mereka.

Nabi Muhammad SAW bersabda: "Wahai umatku." Mereka berkumpul di sisinya. Umat-umatnya menangis. Ketika mereka di dalam keadaan demikian, terdengar dari arah Allah Taala seruan yang menyeru: "Di mana Jibril?"

Jibril as berkata: "Jibril di hadapan Allah, Tuhan semesta alam." Allah Taala berfirman di dalam keadaan Dia amat mengetahui sesuatu yang tersembunyi: "Di mana umat Muhammad SAW?" Jibril as berkata: "Mereka adalah sebaik umat."

Allah Taala berfirman: "Wahai Jibril! Katakanlah kepada kekasihKu Muhammad SAW bahawa umatnya akan datang untuk ditayangkan di hadapanKu." Jibril as kembali di dalam keadaan menangis lalu berkata: "Wahai Muhammad! Umatmu telah datang untuk ditayangkan kepada Allah Taala." Nabi Muhammad SAW berpaling ke arah umatnya lalu berkata: "Sesungguhnya kamu telah dipanggil untuk dihadapkan kepada Allah Taala." Orang-orang yang berdosa menangis kerana terkejut dan takut akan azab Allah Taala. Nabi Muhammad SAW memimpin mereka sebagaimana pengembala memimpin ternakannya menuju di hadapan Allah Taala.

Allah Taala berfirman: "Wahai hambaKu! Dengarkanlah kamu baik-baik kepadaKu tuduhan apa-apa yang telah diperdengarkan bagi kamu dan kamu semua melakukan dosa!" Hamba-hamba Allah Taala terdiam. Allah Taala berfirman: "Hari ini, Kami akan membalas setiap jiwa dengan apa yang telah mereka usahakan. Hari ini, Aku akan memuliakan sesiapa yang mentaatiKu. Dan, Aku akan mengazab sesiapa yang menderhaka terhadapKu. Wahai Jibril! Pergi ke arah Malik, penjaga neraka! Katakanlah kepadanya, bawakan Jahanam!"

Jibril pergi berjumpa Malik, penjaga neraka lalu berkata: "Wahai Malik! Allah Taala telah memerintahkanmu agar membawa Jahanam." Malik bertanya: "Apakah hari ini?"

Jibril menjawab: "Hari ini adalah hari kiamat. Hari yang telah ditetapkan untuk membalas setiap jiwa dengan apa yang telah mereka usahakan." Malik berkata: "Wahai Jibril! Adakah Allah Taala telah mengumpulkan makhluk?" Jibril menjawab: "Ya!" Malik bertanya: "Di mana Muhammad dan umatnya?" Jibril berkata: "Di hadapan Allah Taala!" Malik bertanya lagi: "Bagaimana mereka mampu menahan kesabaran terhadap kepanasan nyalaan Jahanam apabila mereka melintasinya sedangkan mereka semua adalah umat yang lemah?" Jibril berkata: "Aku tidak tahu!" Malik menjerit ke arah neraka dengan sekali jeritan yang menggerunkan.

Neraka berdiri di atas tiang-tiangnya. Neraka mempunyai tiang-tiang yang keras, kuat dan panjang. Api dinyalakan sehingga tiada kekal mata seorang dari makhluk melainkan bercucuran air mata mereka (semuanya menangis). Air mata sudah terhenti manakala air mata darah manusia mengambil alih. Kanak-kanak mula beruban rambut. Ibu-ibu yang memikul anaknya mencampakkan mereka.

Manusia kelihatan mabuk padahal mereka sebenarnya tidak mabuk. Rasulullah SAW Membela Umatnya Di padang mahsyar orang yang mula-mula berusaha ialah nabi Ibrahim as.

Baginda bergantung dengan asap Arsy yang naik lalu menyeru: "TuhanKu dan Penguasaku! Aku adalah khalilMu Ibrahim. Kasihanilah kedudukanku pada hari ini! Aku tidak meminta kejayaan Ishak dan anakku pada hari ini."

Allah Taala berfirman: "Wahai Ibrahim! Adakah kamu melihat Kekasih mengazab kekasihnya." Nabi Musa as datang. Baginda bergantung dengan asap Arsy yang naik lalu menyeru: "KalamMu. Aku tidak meminta kepadaMu melainkan diriku. Aku tidak meminta saudaraku Harun. Selamatkanlah aku dari kacau bilau Jahanam!" Isa as datang di dalam keadaan menangis.

Baginda bergantung dengan Arsy lalu menyeru: "Tuhanku. Penguasaku. Penciptaku! Isa roh Allah. Aku tidak meminta melainkan diriku. Selamatkanlah aku dari kacau bilau Jahanam!" Suara jeritan dan tangisan semakin kuat.

Nabi Muhammad SAW menyeru: "Tuhanku. Penguasaku Penghuluku. !Aku tidak meminta untuk diriku. Sesungguhnya aku meminta untuk umatku dariMu!" Ketika itu juga, neraka Jahanam berseru: "Siapakah yang memberi syafaat kepada umatnya?"

Neraka pula berseru: "Wahai Tuhanku. Penguasaku dan Penghuluku! Selamatkanlah Muhammad dan umatnya dari seksaannya! Selamatkanlah mereka dari kepanasanku, bara apiku, penyeksaanku dan azabku! Sesungguhnya mereka adalah umat yang lemah. Mereka tidak akan sabar dengan penyeksaan." Malaikat Zabaniah menolaknya sehingga terdampar di kiri Arsy. Neraka sujud di hadapan Tuhannya.

Allah Taala berfirman: "Di mana matahari?" Maka, matahari dibawa mengadap Allah Taala. Ia berhenti di hadapan Allah Taala. Allah Taala berfirman kepadanya: "Kamu! Kamu telah memerintahkan hambaKu untuk sujud kepada kamu?" Matahari menjawab. "Tuhanku! Maha Suci diriMu! Bagaimana aku harus memerintahkan mereka berbuat demikian sedangkan aku adalah hamba yang halus?"

Allah Taala berfirman: "Aku percaya!" Allah Taala telah menambahkan cahaya dan kepanasannya sebanyak 70 kali ganda. Ia telah dihampirkan dengan kepala makhluk." Ibnu Abbas r.h. berkata: "Peluh manusia bertiti dan sehingga mereka berenang di dalamnya. Otak-otak kepala mereka menggeleggak seperti periuk yang sedang panas. Perut mereka menjadi seperti jalan yang sempit. Air mata mengalir seperti air mengalir. Suara ratap umat-umat manusia semakin kuat. Nabi Muhammad SAW lebih-lebih lagi sedih. Air matanya telah hilang dan kering dari pipinya. Sekali, baginda SAW sujud di hadapan Arsy dan sekali lagi, baginda SAW rukuk untuk memberi syafaat bagi umatnya. Para Nabi melihat keluh kesah dan tangisannya.

Mereka berkata: "Maha Suci Allah! Hamba yang paling dimuliakan Allah Taala ini begitu mengambil berat, hal keadaan umatnya.

Daripada Thabit Al-Bani, daripada Usman Am Nahari berkata: "Pada suatu hari Nabi SAW menemui Fatimah Az-Zahara' r.h. Baginda SAW dapati, dia sedang menangis."

Baginda SAW bersabda: "Permata hatiku! Apa yang menyebabkan dirimu menangis?" Fatimah menjawab: "Aku teringat akan firman Allah Taala." "Dan, kami akan mehimpunkan, maka Kami tidak akan mengkhianati walau seorang daripada mereka." Lalu Nabi SAW pun menangis. Baginda SAW bersabda: "Wahai permata hatiku! Sesungguhnya, aku teringat akan hari yang terlalu dahsyat. Umatku telah dikumpulkan pada hari kiamat dikelilingi dengan perasaan dahaga dan telanjang. Mereka memikul dosa mereka di atas belakang mereka. Air mata mereka mengalir di pipi." Fatimah r.h. berkata: "Wahai bapaku! Apakah wanita tidak merasa malu terhadap lelaki?"

Baginda SAW menjawab: "Wahai Fatimah! Sesungguhnya, hari itu, setiap orang akan sibuk dengan untung nasib dirinya. Adapun aku telah mendengar Firman Allah Taala:" Bagi setiap orang dari mereka, di hari itu atau satu utusan yang melalaikan dia." ( Abasa: 37) Fatimah ra. bertanya: "Di mana aku hendak mendapatkanmu di hari kiamat nanti, wahai bapaku?" Baginda SAW menjawab: "Kamu akan menjumpaiku di sebuah telaga ketika aku sedang memberi minum umatku." Fatimah r.h. bertanya lagi: "Sekiranya aku dapati kamu tiada di telaga?"

Baginda SAW bersabda: "Kamu akan menjumpaiku di atas Sirat sambil dikelilingi para Nabi. Aku akan menyeru: "Tuhan Kesejahteraan! Tuhan Kesejahteraan! Para malaikat akan menyambut: "Aamiin."

Ketika itu juga, terdengar seruan dari arah Allah Taala lalu berfirman: "Nescaya akan mengikuti kata-katanya pada apa yang kamu sembah." Setiap umat akan berkumpul dengan sesuatu yang mereka sembah. Ketika itu juga, neraka Jahanam melebarkan tengkuknya lalu menangkap mereka sebagaimana burung mematuk kacang.

Apabila seruan dari tengah Arsy kedengaran, maka manusia yang menyembahNya datang beriring. Sebahagian daripada orang yang berdiri di situ berkata: "Kami adalah umat Muhammad SAW!"

Allah Taala berfirman kepada mereka: "Mengapa kamu tidak mengikuti orang yang kamu sembah?" Mereka berkata: "Kami tidak menyembah melainkan Tuhan Kami. Dan, kami tidak menyembah selainNya."

Mereka ditanya lagi: "Kami mengenali Tuhan kamu?" Mereka menjawab: "Maha Suci diriNya! Tiada yang kami kenali selainNya." Apabila ahli neraka dimasukkan ke dalamnya untuk diazab, umat Muhammad SAW mendengar bunyi pukulan dan jeritan penghuni neraka. Lalu malaikat Zabaniah mencela mereka. Mereka berkata: "Marilah kita pergi meminta syafaat kepada Muhammad SAW!"

Manusia berpecah kepada tiga kumpulan. 1. Kumpulan orang tua yang menjerit-jerit. 2. Kumpulan pemuda. 3. Wanita yang bersendirian mengelilingi mimbar-mimbar. Mimbar para Nabi didirikan di atas kawasan lapang ketika kiamat.

Mereka semua berminat terhadap mimbar Nabi Muhammad SAW. Mimbar Nabi Muhammad SAW terletak berhampiran dengan tempat berlaku kiamat. Ia juga merupakan mimbar yang paling baik, besar dan cantik. Nabi adam as dan isterinya Hawa berada di bawah mimbar Nabi SAW.

Hawa melihat ke arah mereka lalu berkata: "Wahai Adam! Ramai dari zuriatmu dari umat Muhammad SAW serta cantik wajah mereka. Mereka menyeru: "Di mana Muhammad?" Mereka berkata: "Kami adalah umat Muhammad SAW. Semua umat telah mengiringi apa yang mereka sembah. Hanya tinggal kami sahaja.

Matahari di atas kepala kami. Ia telah membakar kami. Neraka pula, cahaya juga telah membakar kami. Timbangan semakin berat. Oleh itu tolonglah kami agar memohon kepada Allah Taala untuk menghisab kami dengan segera! Sama ada kami akan pergi ke syurga atau neraka." Nabi Adam as berkata: "Pergilah kamu dariku! Sesungguhnya aku sibuk dengan dosa-dosaku. Aku mendengar firman Allah Taala: Dan dosa Adam terhadap Tuhannya kerana lalai. Mereka pergi berjumpa nabi Nuh as yang telah berumur, umur yang panjang dan sangat sabar. Mereka menghampirinya. Apabila nabi Nuh as melihat mereka, dia berdiri.

Pengikut (umat Nabi Muhammad SAW) berkata: "Wahai datuk kami, Nuh! Tolonglah kami terhadap Tuhan kami agar Dia dapat memisahkan di antara kami dan mengutuskan kami dari ahli syurga ke syurga dan ahli neraka ke neraka." Nabi Nuh as berkata: "Sesungguhnya, aku sibuk dengan kesalahanku. Aku pernah mendoakan agar kaumku dimusnahkan. Aku malu dengan Tuhanku. Pergilah kamu berjumpa Ibrahim kekasih Allah Taala! Mintalah kepadanya agar menolong kamu!"

Nabi Ibrahim as berkata: "Sesungguhnya aku pernah berbohong di dalam usiaku sebanyak tiga pembohongan di dalam Islam. Aku takut dengan Tuhanku. Pergilah kamu berjumpa Musa as! Mintalah pertolongan darinya!"

Nabi Musa as berkata: "Aku sibuk dengan kesalahanku. Aku pernah membunuh seorang jiwa tanpa hak. Aku membunuhnya bukan dari kemahuanku sendiri. Aku dapati dia melampaui batas terhadap seorang lelaki Islam. Aku ingin memukulnya. Aku terperanjat kerana menyakitinya lalu menumbuk lelaki tersebut. Ia jatuh lalu mati. Aku takut terhadap tuntutan dosaku. Pergilah kamu berjumpa Isa as!"

Mereka pergi berjumpa nabi Isa a.s. Nabi Isa a.s. berkata: "Sesungguhnya Allah Taala telah melaknat orang-orang Kristian.

Mereka telah mengambil aku, ibuku sebagai dua Tuhan selain Allah Taala. Hari ini, aku malu untuk bertanya kepadaNya mengenai ibuku Mariam." Mariam, Asiah, Khadijah dan Fatimah Az-Zahra' sedang duduk.

Ketika Mariam melihat umat Nabi Muhammad SAW dia berkata: "Ini umat Nabi Muhammad SAW. Mereka telah sesat dari Nabi mereka." Suara Mariam, telah didengari oleh Nabi Muhammad SAW Nabi Adam a.s. berkata kepada nabi Muhammad SAW. "Ini umatmu, wahai Muhammad! Mereka berkeliling mencarimu untuk meminta syafaat kepada Allah Taala."

Nabi Muhammad SAW menjerit dari atas mimbar lalu bersabda: "Marilah kepadaku, wahai umatku! Wahai sesiapa yang beriman dan tidak melihatku. Aku tidak pernah lari dari kamu melainkan aku sentiasa memohon kepada Allah Taala untukmu!" Umat Nabi Muhammad SAW berkumpul di sisinya. Terdengar suara seruan: "Wahai Adam! Ke marilah kepada Tuhanmu!" Nabi Adam as berkata: "Wahai Muhammad! Tuhanku telah memanggilku. Moga-moga Dia akan meminta kepadaku."

Nabi Adam as pergi menemui Allah Taala. Allah Taala berfirman kepadanya: "Wahai Adam! Bangunlah dan hantarkan anak-anakmu ke neraka!" Nabi Adam as bertanya: "Berapa ramai untukku kirimkan?" Allah Taala berfirman: "Setiap seribu lelaki kamu hantarkan seorang ke syurga, 999 orang ke neraka."

Allah Taala berfirman lagi: "Wahai Adam! Sekiranya Aku tidak melaknat orang yang berdusta dan Aku haramkan pembohongan, nescaya Aku akan mengasihi anakmu keseluruhannya. Akan, tetapi, Aku telah janjikan syurga bagi orang yang mentaatiKu Neraka pula bagi orang yang menderhakaiKu Aku tidak akan memungkiri janji Wahai Adam! Berhentilah di sisi Mizan (timbangan).

Sesiapa yang mempunyai berat pada kebaikannya daripada dosanya walaupun seberat biji sawi, bawalah dia untuk memasuki syurga tanpa perlu berunding denganKu! Sesungguhnya Aku telah menjadikan bagi mereka, satu kejahatan dengan satu dosa.

Manakala satu kebaikan dengan sepuluh pahala agar memberitahu mereka bahawa, sesungguhnya Aku tidak akan memasukkan mereka ke dalam neraka melainkan setiap yang kembali akan dikembalikan dengan dosa bagi orang yang melampaui batas."

Nabi Adam as berkata: "Tuhanku! Penguasaku! Engkau lebih utama bagi menghisab berbanding aku. Hamba itu adalah hambaMu dan Engkau Maha Mengetahui sesuatu yang ghaib!"

Umat Muhammad SAW Diseru Meniti Sirat Allah Taala menyeru: "Wahai Muhammad! Bawalah umatmu untuk dihisab dan lintaskan mereka di atas Sirat yang dilebarkan. Panjangnya sejauh 500 tahun perjalanan." Malaikat Malik berdiri di pintunya (neraka). Dia menyeru: "Wahai Muhammad!

Sesiapa yang datang dari umatmu dan bersamanya ada perlepasan dari Allah Taala, maka dia akan terselamat. Sekiranya sebaliknya maka, dia akan terjatuh di dalam neraka. Wahai Muhammad! Katakan kepada orang yang diringankan agar berlari! Katakan kepada orang yang diberatkan agar berjalan!"

Nabi Muhammad SAW bersabda kepada malaikat Malik: "Wahai Malik! Dengan kebenaran Allah Taala ke atasmu, palingkanlah wajahmu dari umatku sehingga mereka dapat melepasi! Jika tidak, hati mereka akan gementar apabila melihatmu." Malaikat Malik memalingkan mukanya dari umat Nabi Muhammad SAW. Umat Nabi Muhammad SAW telah di pecahkan kepada sepuluh kumpulan. Nabi Muhammad SAW mendahului mereka lalu bersabda kepada umatnya: "Ikutlah aku wahai umatku di atas Sirat ini!"

Kumpulan pertama berjaya melintasi seperti kilat yang memancar.

Kumpulan kedua melintasi seperti angin yang kencang.

Kumpulan ketiga melintasi seperti kuda yang baik.

Kumpulan yang keempat seperti burung yang pantas.

Kumpulan yang kelima berlari.

Kumpulan keenam berjalan.

Kumpulan ketujuh berdiri dan duduk kerana mereka dahaga dan penat. Dosa-dosa terpikul di atas belakang mereka. Nabi Muhammad SAW berhenti di atas Sirat. Setiap kali, baginda SAW melihat seorang dari umatnya bergayut di atas Sirat, baginda SAW akan menarik tangannya dan membangunkan dia kembali.

Kumpulan kelapan menarik muka-muka mereka dengan rantai kerana terlalu banyak kesalahan dan dosa mereka. Bagi yang buruk, mereka akan menyeru: "Wahai Muhammad SAW!" Nabi Muhammad SAW berkata: "Tuhan! Selamatkan mereka! Tuhan! Selamatkan mereka"! Kumpulan ke sembilan dan ke sepuluh tertinggal di atas Sirat.

Mereka tidak diizinkan untuk menyeberang. Dikatakan bahawa, di pintu syurga, ada pokok yang mempunyai banyak dahan. Bilangan dahannya tidak terkira melainkan Allah Taala sahaja yang mengetahui. Di atasnya ada kanak-kanak yang telah mati semasa di dunia ketika umur mereka dua bulan, kurang dan lebih sebelum mereka baligh. Apabila mereka melihat ibu dan bapa mereka, mereka menyambutnya dan mengiringi mereka memasuki syurga. Mereka memberikan gelas-gelas dan cerek serta tuala dari sutera.

Mereka memberi ibu dan bapa mereka minum kerana kehausan kiamat. Mereka memasuki syurga bersama-sama. Hanya tinggal, kanak-kanak yang belum melihat ibu dan bapa mereka.

Suara tangisan mereka semakin nyaring. Mereka berkata: "Aku mengharamkan syurga bagi diriku sehingga aku melihat bapa dan ibuku." Kanak-kanak yang belum melihat ibu dan bapa mereka telah berkumpul. Mereka berkata: "Kami masih di dalam keadaan yatim di sini dan di dunia." Malaikat berkata kepada mereka: "Bapa-bapa dan ibu-ibu kamu terlalu berat dosa mereka. Mereka tidak diterima oleh syurga akibat dosa mereka."

Mereka terus menangis malah lebih kuat dari sebelumnya lalu berkata: "Kami akan duduk di pintu syurga moga-moga Allah Taala mengampuninya dan menyatukan kami dengan mereka." Demikianlah! Orang yang melakukan dosa besar akan dikurung di tempat pembalasan yang pertama oleh mereka iaitu Sirat. Ia dipanggil "Tempat Teropong." Kaki-kaki mereka akan tergantung di Sirat.

Nabi Muhammad SAW melintasi Sirat bersama orang-orang yang soleh di kalangan yang terdahulu dan orang yang taat selepasnya. Di hadapannya, ada bendera-bendera yang berkibaran. Bendera Kepujian berada di atas kepalanya. Apabila bendera baginda menghampiri pintu syurga, kanak-kanak akan meninggikan tangisan mereka.

Rasulullah SAW bersabda: "Apa yang berlaku pada kanak-kanak ini?" Malaikat menjawab: "Mereka menangis kerana berpisah dengan bapa dan ibu mereka. "Nabi SAW bersabda: "Aku akan menyelidiki khabar mereka dan aku akan memberi syafaat kepada mereka, Insya Allah."

Nabi Muhammad SAW memasuki syurga bersama umatnya yang berada di belakang. Setiap kaum akan kekal didalam rumah-rumah mereka. Kita memohon kepada Allah Taala agar memasukkan kita di dalam keutamaan ini dan menjadikan kita sebahagian daripada mereka.

Amin Ya Rabbal Alamin.

Wallahu'alam.

(SUMBER : Al-Hikmah)

10 perkara yang dijanjikan ALLAH akan kekal.




10 Perkara Yang Dikekalkan ALLAH swt

Sifat kekal (baqo') adalah sifat ketuhanan terkaya yang layak ada hanya pada DIRI ALLAH swt. Yang selain ALLAH (makhluk) tidak boleh mempunyai sifat kekal kecuali apa yang dikehendaki ALLAH. Ertinya ALLAH Maha Berkuasa untuk menjadikan makhluknya kekal iaitu tidak akan musnah makhluk itu selagi diKehendaki ALLAH. ALLAH memberi nikmat kekal ke atas makhluk-makhluk yang diKehendakiNYA. Nikmat kekal yang diberi ALLAH ini dinamakan 'imdad'.

Maka kekal pada makhluk yang diberi imdad adalah tidak hakiki. Kekal pada makhluk adalah dijadikan kekal oleh ALLAH. Kekal pada makhluk bukan kekal yang bersifat ketuhanan. Kekal pada makhluk bukan sifat kesempurnaan. Kekal pada makhluk adalah satu kurnia yang diberi Khaliq kepada makhlukNYA.

Perkara-perkara yang diberi imdad atau  nikmat kekal adalah di alam ghaib iaitu bukan di alam dunia ini kerana alam semesta dan segala isinya termasuk alam dunia manusia ini akan musnah apabila datangnya Hari Kiamat kelak.


Ada 10 perkara yang dijanjikan ALLAH akan kekal.

1) Syurga beserta segala isinya.

Syurga adalah tempat tinggal yang dijanjikan kepada umat manusia yang taat kepada ALLAH. Di dalam syurga disediakan pelbagai nikmat yang tidak akan habis. Apa yang terdapat di dalam syurga termasuk para penghuninya (manusia dan jin yang beriman) akan kekal buat selama-lamanya.

Firman ALLAH dalam surah al-Baqarah ayat 82, yang bermaksud; "Dan orang-orang yang beriman dan beramal soleh, KAMI akan memasukkan mereka ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, sebagai janji ALLAH yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada ALLAH?"

Kehidupan di dalam alam syurga adalah sentiasa menjadi lebih baik dan lebih nikmat. Tiada lagi kematian di dalam syurga itu. Manusia akan kekal dalam keadaan muda bahkan akan sentiasa di dalam keadaan perawan dan teruna. Segala nikmat syurga seperti sungai-sungai, pepohonan, makanan, minuman dan segala kecantikan alam syurga itu tidak akan binasa dan terus-menerus kekal adanya.


2) Nereka dan segala isinya.

Firman ALLAH dalam surah at-Taubah ayat 68, yang bermaksud; "ALLAH menjanjikan orang-orang Munafik lelaki dan perempuan serta orang-orang kafir dengan neraka jahannam; mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu menjadi balasan mereka; dan ALLAH melaknat mereka, dan bagi mereka azab siksa yang kekal."

Ayat ini jelas menyatakan bahawa neraka itu kekal, manusia (dan juga iblis serta jin kafir) dalam nereka kekal dan segala azab siksa neraka juga kekal.

Ada pendapat yang mengatakan bahawa penghuni neraka itu terbagi 2 iaitu;-


    manusia yang kufur, ingkar dan durhaka terhadap ALLAH

    manusia yang mukmin (beriman) tetapi berdosa yang banyak.

Manusia golongan pertama iaitu yang kafir, ingkar dan durhaka terhadap ALLAH adalah yang kekal di dalam neraka. Sementara manusia yang melakukan dosa tetapi masih ada iman di hatinya mereka ini tidak akan kekal di dalam neraka. Ertinya apabila sampai masanya ( semua dosa telah dibakar api neraka) mereka ini akan dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan juga ke syurga lalu kekal mereka di dalam syurga itu.

Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui.

3) Roh manusia

Firman ALLAH dalam surah al-Isra' ayat 85, yang bermaksud; "Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh; katakanlah bahawa roh itu termasuk urusan Tuhanku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan (tentang roh) melainkan sedikit."

Roh adalah ciptaan ALLAH yang tidak dapat difikirkan hakikatnya. Tiada siapa yang dapat menghuraikan dari apakah roh itu di perbuat.

Setiap manusia yang dilahirkan di alam dunia akan ditiupkan rohnya semasa di dalam rahim ibunya pada masa yang hanya diketahui oleh ALLAH swt. Maka lahirlah manusia itu bersama jasad dan roh. Apabila manusia itu mati, jasadnya akan hancur kembali ke bumi tetapi rohnya akan terus hidup di alam barzakh (alam kubur). Kemudian roh itu akan disatukan kembali kepada jasad manusia pada Hari Kebangkitan. Roh itu akan kekal bersama jasad manusia di sepanjang perjalanan manusia menuju ke syurga atau ke neraka.

4) Asal benih manusia

Asal kejadian ciptaan manusia adalah dari tanah. Para bijak pandai telah mengkaji asal kejadian manusia dan berpendapat bahawa setiap manusia itu mempunyai asal benih yang terletak di penghujung tulang belakanya. (Dalam dunia haiwan penghujung tulang belakang itu tempat bermulanya ekor) Dalam dunia manusia, penghujung tulang belakang itu mengandungi satu sel induk kejadian manusia. Sel ini terlalu kecil untuk dilihat dengan mata kasar dan tidak akan musnah walaupun jasad manusia itu telah hancur ditelan bumi atau hangus dibakar api atau lenyap dimakan ikan di lautan. Apabila datangnya Hari Kiamat sel induk manusia ini akan terendam dalam air hujan lebat yang tidak diketahui berapa lamanya kemudian apabila tiba masanya ia akan menjadi jasad manusia yang baru. Pada Hari Kebangkitan jasad manusia yang baru itu akan dibangkitkan lalu dikembalikan rohnya dan hiduplah manusia itu di alam yang baru iaitu alam masyar.

Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui.

5) Lauhil Mahfuz

Lauhil Mahfuz adalah tempat suratan nasib manusia ditulis sebelum ditiup roh. Tidak ada penerangan yang terperinci tentang lauhil mahfuz ini kecuali ia wujud di alam  azali (alam yang telah wujud sebelum adanya alam dunia). Ia adalah perkara ghaib dan wujud di alam ghaib juga.

Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui.

6) Qolam

Qolam adalah perkara ghaib juga. Ia adalah alat yang menulis di lauhil mahfuz. Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui.

7) Kursi

Kalimah kursi terdapat di ayat al-Baqarah ayat 255 (ayat kursi); "....Kursi ALLAH meliputi langit dan bumi..."
Ada tafsir yang memberi erti 'Kursi' itu sebagai Ilmu dan Kekuasaan ALLAH atau Kerajaan ALLAH. Maka 'Kursi' ALLAH ini adalah kekal dengan KehendakNYA jua.

Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui.

8) Arasy

Satu lagi perkara ghaib yang hanya diketahui oleh ALLAH swt ialah Arasy. Firman ALLAH dalam surah al-Mukminun ayat 86, yang bermaksud; "Tanyalah; Siapakah yang memiliki dan mentadbir langit yang tujuh, dan Tuhan yang mempunyai Arasy yang besar?"

Ada yang mentafsirkan Arasy sebagai Kekuasaan Kerajaan ALLAH yang akan kekal dengan kehendakNYA jua. Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui.

9) Jasad para Nabi dan Rasul ALLAH swt.

Para alim ulama' berpendapat bahawa jasad para Nabi dan Rasul ALLAH swt adalah terpelihara dari hancur. Dan apabila tiba Hari Kebangkitan kelak, jasad para ambiak ini akan dihidupkan kembali bersama roh mereka.

Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui.

10) Jasad manusia yang mati syahid dan penghafal al-Quran

Jasad manusia yang mati syahid (mati dalam peperangan membela agama Islam) dan juga jasad para penghafal al-Quran juga akan dikekalkan sampai Hari Kiamat tidak akan hancur dimakan tanah.

Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui.

thm_Btflyorg[A]Inilah 10 perkara yang dijanjikan akan dikekalkan adanya. Kekal mereka adalah kekal yang dijadikan kekal iaitu kekal 'arabi atau kekal mendatang. Perkara-perkara ini pada asalnya adalah tidak ada kemudian dijadikan ada. ALLAH Berkehendak bahawa mereka menjadi kekal adanya lalu mereka pun kekal adanya. Kekal mereka kerana dijanjikan ALLAH. Kekal mereka tidak hakiki ( yang sebenarnya).

*** Lauhil Mahfuz, Qolam, Kursi dan Arasy adalah perkara-perkara yang tidak ada huraian dan penerangannya kerana mereka wujud di alam ghaib (azali) iaitu alam yang wujud sebelum wujudnya alam dunia.

*** Bagi jasad manusia yang dikekalkan, ianya hanya berlaku selepas kebinasaan (kematian). Tiada manusia hidup yang boleh kekal di alam dunia kerana segala isi alam semesta telah ditetapkan akan binasa.