Friday, 21 December 2012

PERKAHWINAN TANPA CINTA





PERKAHWINAN TANPA CINTA adalah normal melalui beberapa sebab seperti anjuran keluarga, kehendak orang tua dan memenuhi keperluan hidup untuk berpasangan.., sedang CINTA SEBENAR YANG DIDAMBA tidak hadir mengetuk kasih;.. 


 
Walau setiap pasangan yang berkahwin tanpa cinta cuba untuk mewujudkan kepuraa-puraan dengan kasih sayang supaya cinta itu wujud akhirnya, namun hakikatnya cinta itu tidak akan lahir juga sebab memang tak sesiapa boleh memaksa LAHIRKAN CINTA ITU untuk bercinta;.., walaupun mencuba untuk menyintai!! dan CINTA bukan boleh dibuat-buat.., dan bukan boleh dipaksa-paksa..! Justru, CINTA itu adalah perasaan yang lahir semulajadi.. satu ANUGERAH YANG yang MISTERI, indah dan menyentuh jiwa; Satu biasan aneh yang lahir dari jiwa dan tak dapat diukir dengan kata-kata pujangga..!.. 


 
Namun perkahwinan tanpa cinta tetap akan melahirkan satu PERASAAN HORMAT yang amat tinggi nilainya dan KAGUM AKAN PENGORBANAN pada PASANGANNYA yang SETIA DAN JUJUR yang akhirnya melahirkan satu kehidupan berkeluarga yang juga bahagia..!! Itu cuma mengharapkan sifat BARAKAH dan redha Ilahi semata jua..!! satu nilai estatika yang sukar ditafsirkan kalau kehilangan pasangannya dalam perkahwinan itu dan juga terasa sayang pada pelayaran perkahwinan yang telah dilalui..!! itu yang mengekalkan hubungan sesuatu hubungan selepas perkahwinan walaupun TANPA CINTA!!.. 






Tapi CINTA yang halus dan asyik tetap hadir juga pada naluri setiap yang bernama JIWA pada keinginan asalnya untuk BERCINTA DAN DICINTAI.., 


Justru, CINTA itu datang secara TIBA-TIBA, tanpa paksaan tapi memaksa jiwa dan memberontak bagaikan badai yang bergelora; penuh berahi dan indah semata-mata untuk terus menyintai dan terus dicintai;.., sehingga CINTA itu akhirnya hilang dan kecewa kerana sebab-sebab dikhianati, curang atau tiada nilai rindu pada pasangannya.. iaitu walaupun tanpa tindakbalas, tapi mengetahui kecurangan pasangan yang diminatainya itu, maka hilanglah CINTANYA dan hilanglah Anugerah yang dinamakan CINTA ITU.. bagai angin yang berhembus kencang di pantai yang tandus... ♥ ♥ ♥.. 





apapun kata pujangga amat indah..

'AKU TIDAK PERNAH BERMIMPI UNTUK MENYINTAI DIRIMU, NAMUN SUDAH SURATAN TAKDIR MENEMUKAN KITA, LALU AKU JATUH CINTA PADAMU".. 










Tak tahu apa sebabnya

Mengapa aku jatuh cinta
Padamu, sayang,
Tiap waktu ku rindu

Mengapa.... mengapa
Tak kuasa menolaknya
Dan tak kuasa menyatakan itu
Kepada mu disaat ini

Sebening air telaga
Sebersih awan tak tercela
Hatimu, sayang, ku dekati
Tak terasa

Ku merasakan berdosa
Bila (jika) hati mu yang suci
Ku nodai dengan rasa cinta
Dan akhirnya kau benci pada ku 



.. luv u babey!!



so, bila ada cinta.., makan pun bestttt...!! hihiiii...... love ya!


 “Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan anak-anak kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami IMAM bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Q.S Al-Furqan:74)


JANGAN SEMBUNYIKAN ILMU ALLAH



Dan apa-apa yang diturunkan Allah SAW yang berisi petunjuk dan penerangan yang tidak lain semua itu hanya untuk kebaikan manusia dan memberi petunjuk kepada jalan yang benar. Sedangkan menyembunyikan ilmu dan tidak menyampaikannya kepada umat manusia, itu berarti telah menghalangi misi risalah, dimana Allah SWT mengutus Nabi-Nabi dan Rasulnya semata-mata untuk maksud tersebut, dan juga berkhianat terhadap amanat yang telah dipikulkan di atas pundak para ulama.

Allah ta’ala berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاعِنُونَ * إِلا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan yang jelas dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati pula oleh semua yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan  kebenaran  terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” [QS. Al-Baqarah : 159-160].
 
Allah SWT berfirman yang artinya “Dan ingatlah ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu) ‘hendaklah kamu menerangkannya (isi kitab itu) kepada manusia dan janganlah kamu menyembunyikannya’...” (Q.S Ali-Imron:187), maka Allah sangat ingkar terhadap orang yang menyembunyikan sesuatu yang dihajatkan untuk orang banyak, terutama urusan agama, serta memberikan ancaman siksa yang pedih bagi siapa saja yang menyembunyikan ayat-ayat Allah dan ilmu-ilmu agama, karena perbuatan tersebut merupakan dosa besar yang berhak mendapat laknat dari Allah SWT dan semua makhluk yang bisa melaknat dan dijauhkan dari rahmat Allah. 

Hal tersebut diperkuat juga dengan Hadist Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan al-Hakim “Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu, kemudian ia menyembunyikannya, maka ia pada hari kiamat nanti akan dikendalikan dengan kendali api neraka”. Bahwa menyiarkan ilmu dan menyampaikannya kepada umat manusia agar petunjuk Illahi merata adalah Wajib.

Daripada Anas r.a. berkata, bersabda Rasulullah saw., "Selagi akan ada di akhir zaman ahli ibadat yang jahil dan ulama yang fasiq".
  
Dengan demikian, jelaslah bagi kita bahwa Islam adalah agama yang sempurna yang memberikan dorongan yang sangat besar untuk tersebarnya ilmu yaitu dengan menyampaikan dakwah kepada umat manusa, dan memerangi kebodohan dan kesesatan, dan Islam menilai menyiarkan ilmu termasuk ibadah, dan menyembuyikannya adalah berdosa. Rasulullah SAW telah bersabda “Sampaikanlah walapun hanya satu ayat” dan ia pun bersabda lagi “barang siapa ditanya mengenai suatu ilmu, kemudian ia menyembunyikannya, maka dia akan diberi kendali pada hari kiamat nanti dengan kendali api neraka”.

Al-Haafidh Ibnu Hajar rahimahullah saat mengomentari hadits di atas berkata :
ومعناه: لولا أن الله ذم الكاتمين للعلم ما حدث أصلا، لكن لما كان الكتمان حراما وجب الإظهار، فلهذا حصلت الكثرة لكثرة ما عنده.
“Dan makna dari perkataan ‘jika saja bukan karena dua ayat’ adalah : Jikalau bukan karena Allah mencela orang-orang yang menyembunyikan ilmu, aku tidak akan meriwayatkan hadits sama sekali. Namun karena menyembunyikan ilmu itu adalah diharamkan dan harus disampaikan, maka ia pun banyak meriwayatkan karena banyak hadits yang ia miliki” [Fathul-Baariy, 1/214].
Sebagian ulama pernah ditanya tentang satu perkara ilmu, namun ia tidak menjawabnya. Maka orang yang bertanya itu berkata : ‘Bukankah engkau telah mendengar hadits : ‘Barangsiapa yang mengetahui satu ilmu namun menyembunyikannya, niscaya ia akan diikat dengan tali kekang dari api neraka di hari kiamat kelak’ ?’. Maka ulama tersebut menjawab : ‘Tinggalkanlah tali kekang dan pergilah !. Apabila ada orang yang mengetahui ilmu ini dan kemudian aku menyembunyikannya, maka ikatlah aku dengan tali kekang ini !” [Al-Ba’iitsul-Hatsiits, hal. 440, ta’liq : Al-Albaaniy; Maktabah Al-Ma’aarif, Cet. 1/1417].

  Daripada Mughirah bin Syu' bah r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda, "Sentiasa di kalangan kamu ada golongan yang berjaya (dalam perjuangan mereka), sehingga sampailah suatu saat yang dikehendaki oleh Allah swt. Mereka sentiasa berjaya".

NOTA BUAT KAUM WANITA SOLEHAH


gambar hiasan
 
"Barang siapa-diantara para suami- bersabar atas perilaku buruk dari istrinya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan kepada Ayyub atas kesabarannya menanggung penderitaan. Dan barang siapa- diantara para istri-bersabar atas perilaku buruk suaminya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan kepada Asiah, isteri fir'aun"
 (HR Nasa-iy dan Ibnu Majah ).


BUAT KAUM HAWA...

istimewa buatmu... 
 
Fenomena isteri meleteri suami atau dengan kata lain, tidak menghormati suami, bagaikan sudah menjadi satu perkara biasa bagi kebanyakan pasangan dewasa ini. Malah si isteri seolah-olah tiada sedikitpun merasa bersalah melayani suami mereka seperti adik, kawan atau anak lelaki atau sesiapa sahaja lagaknya.
Apa yang lebih mendukacitakan ialah terdapatnya isteri yang menganggap menjaga hati atau melayani suami dengan bersikap sopan sudah tidak sesuai dalam keadaan masyarakat kita hari ini atau mungkin dianggap sebagai ketinggalan zaman. Ini menunjukkan bahawa tidak sedikit peranan dan pengaruh media massa, terutamanya televisyen, dalam ‘mendidik’ kaum Hawa di zaman ini.
Sebenarnya keadaan ini akan menjadi model yang tidak baik terhadap pertumbuhan jiwa anak-anak yang akan diwarisi dari satu generasi ke satu generasi lain sehingga akhirnya menjadi satu budaya yang negatif dalam kehidupan berkeluarga.
Terdapat banyak nash-nash di dalam Al-Quran dan hadis Rasulullah SAW yang menyatakan tentang kewajipan isteri mentaati suami, selama mana isteri tidak disuruh melakukan perkara-perkara maksiat. Antaranya ialah sabda Rasulullah SAW: “Jika sekiranya aku berhak menyuruh seseorang supaya sujud kepada seseorang yang lain, nescaya aku menyuruh para isteri sujud kepada suaminya.” (HR Ibnu Majah)
Dalam sebuah hadis yang lain daripada ‘Aisyah r.a.: “Saya pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: “Siapa orang yang lebih berhak ke atas seorang perempuan? Baginda bersabda: “Suaminya.” (HR Al-Bazzar dan Al-Hakim)

 
Sementara dalam sebuah hadis yang diriwayatkan daripada Ibnu Abbas r.a.: “Seorang perempuan telah datang menghadap Rasulullah SAW dan berkata: “Wahai Rasulullah, hamba adalah utusan perempuan-perempuan menghadap Tuan, bagi menanyakan perkara bahawa jihad, berperang di medan peperangan kerana membela pada jalan Allah dan agama telah difardhukan ke atas lelaki, jika mereka menang mereka dapat harta tawanan, dan jika mereka dibunuh mereka hidup di sisi Tuhan mereka dan makan rezeki di sana, dan kami kaum perempuan menjaga dan membantu mereka, maka apa yang kami dapat daripada perbuatan tersebut?Rasulullah SAW bersabda: “Anda sampaikan kepada perempuan-perempuan yang anda jumpa, bahawa taat kepada suami, dan mengakui hak-hak suami itu sama dengan pahala berperang dengan musuh- musuh Islam di medan peperangan, tetapi sedikit sangat daripada isteri-isteri yang menyempurnakan hak-hak suami mereka.” (HR Al-Bazzar dan At-Thabrani).

 
Hadis-hadis di atas menerangkan betapa memelihara dan menghormati hak suami serta ketaatan isteri terhadap suami amat dititikberatkan oleh agama Islam. Hatta jika suami itu berkedudukan rendah berbanding dengan isteri, umpamanya suami sebagai buruh sementara isteri pula guru, doktor dan seumpamanya, namun kedudukan atau martabat suami sebagai pemimpin atau ketua keluarga tetap tidak terjejas sama sekali.

 
Oleh yang demikian, isteri tidak boleh beranggapan bahawa dengan kedudukannya yang lebih baik membolehkannya bertindak sesuka hati seperti membelakangkan suami atau mengambil alih peranan suami sebagai ketua dalam keluarga. Jika ini berlaku, ia amat bercanggah dengan syariat Islam, sebagaimana firman Allah SWT:Kaum lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.(QS An-Nisa’: 34)

 
Bagi isteri yang tidak mentaati atau enggan menjalankan tugas dan tanggungjawabnya dengan sempurna pasti akan menerima balasan di akhirat kelak sebagaimana yang pernah digambarkan oleh Rasulullah SAW ketika Baginda diisra’kan ke langit dimana Baginda telah diperlihatkan dengan neraka yang kebanyakan penghuninya terdiri daripada kaum wanita.
 
 
Sebagaimana yang diceritakan oleh Saidina Ali k.w. dalam satu riwayat: “Suatu hari aku masuk ke rumah Nabi beserta Fatimah, aku mendapati Baginda sedang menangis. Lalu aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apa yang membuatkan tuan menangis?" Baginda menjawab: “Wahai Ali, pada malam aku diangkat ke langit, aku melihat kaum perempuan daripada umatku diseksa di neraka dengan bermacam-macam seksaan. Lalu aku menangis kerana begitu berat seksaan mereka yang aku lihat." Saidina Ali k.w. bertanya: “Apa yang anda lihat, wahai Rasulullah?” Rasululah SAW bersabda: “Aku lihat seorang perempuan yang tergantung dengan lidahnya, sedang api neraka yang sangat panas dituangkan ke dalam lehernya dan aku lihat seorang perempuan yang tergantung dengan rambutnya sehingga mendidih otak kepalanya dan aku lihat pula seorang perempuan yang tergantung dua kakinya dalam keadaan terikat dan dilumurkan minyak tanah pada seluruh badanya lalu dituangkan air panas pada lehernya……
 
 
Anakandanya Siti Fatimah r.a. berkata: “Khabarkan kepadaku apa yang menyebabkan mereka diseksa?” Baginda bersabda: “Adapun perempuan yang tergantung dengan lidahnya dan air panas dituangkan ke dalam lehernya itu kerana dia sering menyakiti hati suaminya. Sementara perempuan yang tergantung dengan rambutnya sehingga mendidih otak kepalanya adalah disebabkan dia tidak mahu menutup aurat (rambut) daripada lelaki lain. Adapun perempuan yang tergantung dengan dua kakinya itu adalah disebabkan dia keluar rumah tanpa izin suaminya….
 
 
Sungguh amat dahsyat seksaan yang akan diterima, jika isteri mengabaikan hak-hak suami, tidak menghormatinya, apatah lagi menyakiti hatinya.
Sebenarnya bukan tidak boleh para isteri menegur suami, tetapi ia memerlukan masa yang sesuai dengan dibawa berbincang, ketika keadaan mengizinkan. Bukan dengan membebel sepanjang hari. Tetapi apa yang berlaku hari ini ialah adanya segelintir isteri yang tergamak bercakap kasar dan mengherdik suaminya kerana tidak mendapat apa yang diinginkan, sehingga kadang-kadang sampai tidak bertegur sapa dan bermasam muka.
Lebih dahsyat dan buruk lagi apabila isteri membanding-bandingkan suaminya dengan suami orang lain yang mampu memberikan permintaan isterinya, sekali gus dilabelkan pula sebagai suami mithali. Betapa rendahnya martabat suami. Jadi, suami mana yang tidak tersentuh dengan ungkapan-ungkapan sedemikian ? 
 
 
 

Sebenarnya bukan tidak boleh sama sekali meminta sesuatu daripada suami, tetapi janganlah sampai membebankan mereka. Apalah gunanya, jika suami berhutang keliling pinggang hanya untuk memenuhi hasrat isteri. Mintalah mengikut kemampuan suami dan sentiasa bersifat ‘qanaah’ atau merasai cukup dengan apa yang diberikan, kerana bagi isteri yang sedemikian akan mendapat keredhaan daripada Allah SWT. Sebaliknya, bagi isteri yang tidak pernah menghargai atau bersyukur, Allah SWT tidak akan memandang kepadanya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada seorang isteri yang tidak bersyukur kepada suaminya." (HR An-Nasa’i)

 
Islam juga menyarankan supaya para isteri melakukan kerja-kerja rumah seperti memasak, mencuci pakaian, mengasuh dan menjaga anak-anak, melayani kehendak suami dan sebagainya dengan penuh ikhlas dan tabah. Mungkin bagi setengah orang, agak sukar untuk dilaksanakan apatah lagi dalam situasi zaman sekarang di mana isteri juga bekerja. Namun percayalah, ia bukan saja akan menjadi perkara biasa tetapi juga ringan dan lancar jika kita menganggapnya sebagai ibadah dan juga satu jihad.

 
Marilah kita sama-sama merenungi kisah anakanda kesayangan Rasulullah SAW iaitu Siti Fatimah az-Zahra yang melaksanakan rutin hariannya sebagai seorang suri rumahtangga tanpa pembantu rumah. Suatu hari, Fatimah telah meminta suaminya Saidina Ali k.w. supaya menemui Rasulullah SAW dan meminta jasa baik Baginda untuk menyerahkan seorang wanita tawanan perang sebagai pembantu rumah mereka.

 
Rasulullah SAW bagaimanapun tidak dapat memperkenankan permintaan puterinya kerana semua harta rampasan perang termasuk wanita-wanita itu tidak menjadi milik Baginda, tetapi milik negara Islam dan kaum Muslimin. Baginda tidak dapat memberikan sesuatu yang bukan menjadi miliknya.
 
 
Permintaan Fatimah itu membimbangkan Baginda, bukan kerana tugas berat yang sedang dipikul oleh puterinya itu tetapi disebabkan oleh bayangan keluh kesah seorang isteri yang tertekan akibat tugas-tugas yang perlu dilaksanakannya.
Pada sebelah malamnya Baginda telah mengunjungi rumah Fatimah dan menyatakan kepadanya: “Apakah kamu berdua (Ali dan Fatimah) suka kepada pemberian yang akan ku berikan ini, sedangkan ia lebih baik daripada apa yang kamu minta pada siang hari tadi?
 
 
Fatimah amat sukacita mendengarkan tawaran tersebut sekalipun dia tidak mengetahui apa bentuknya. Rasulullah SAW menyatakan kepada Fatimah bahawa hendaklah dia membaca Subhanallah, Alhamdulillah dan Allahu Akbar sebanyak 33 kali setiap hari sebelum tidurnya.
 
 
Semenjak itu wirid yang diajarkan oleh Rasulullah SAW telah menjadi amalannya dan suaminya. Hasilnya Fatimah mendapati dia tidak lagi menjadi keluh kesah dalam menghadapi apa jua kerja-kerja sehariannya yang berat, malah merasa cukup bahagia melakukannya.

 
Apa yang berlaku pada hari ini, hampir sebahagian besar keluarga mempunyai pembantu rumah, yang bertanggungjawab menguruskan semua kerja-kerja rumah, termasuk menyediakan makanan, pakaian dan sebagainya. Tanpa pembantu terasa pincang pentadbiran rumahtangga dan banyak perkara yang tidak dapat diuruskan dengan baik dan teratur. Kenapa? Sudah pasti jawapannya mudah, tidak cukup masa untuk melakukan kerja-kerja tersebut terutamanya bagi wanita yang berkerjaya.
 
 
Adakah jawapan itu tepat? Kaum wanita harus sedar, selaku isteri, ibu dan juga wanita yang berkerjaya mereka harus pandai dan bijaksana dalam mengatur dan membahagikan tugas dan masa. Jika di amat-amati betapa ruginya selama ini bagi isteri yang membiarkan kerja-kerja rumah ditangani oleh pembantu rumah. Betapa tidaknya, jika kerja-kerja tersebut dilakukan sendiri dengan hati yang ikhlas, dengan mudah saja mereka mendapat ganjaran atau pahala yang berlipat ganda.

 
Bagi para suami pula, sifat tolak ansur dan saling bekerjasama amat diharapkan. Isteri telah melakukan pengorbanan mencari rezeki tambahan untuk menyara keluarga yang sepatutnya menjadi tanggungjawab suami. Jadi apalah salahnya, kiranya para suami bersama-sama membantu kerja-kerja di rumah. Bukankah ini salah satu ciri keluarga harmoni?

 
Keharmonian rumah tangga akan terbentuk jika suami dan isteri saling faham memahami, bekerjasama, bertolak ansur, berunding dalam menyelesaikan masalah dan tidak mementingkan diri sendiri. Oleh itu tanamkan ciri-ciri yang membawa keharmonian berumahtangga itu, agar kita akan hidup bahagia di dunia dan akhirat.


Derhaka Kepada Suami
PERKAHWINAN di dalam Islam adalah suatu aqad yang mulia antara lelaki dan wanita. Ia menghalalkan setiap keduanya untukyang lain. Dengan itu mereka akan saling mengasihi, tolong menolong, bergabung dan bertolak ansur. Al-Quran telah menggambarkan hubungan ini dengan suatu gambaran yang menarik yang bermaksud:
 
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Diamenciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dandijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”
(Ar-Rum: 21)
 
Diantara tanda Islam memuliakan wanita ialah, Islam memberikannya hak memilih suami. Ibu dan bapa tiada hak memaksa anakperempuan mereka mengahwini lelaki yang tidak diingininya. Wanita Islam tidak mengabaikan hak ini tetapi mereka meminta nasihat daripada ibu bapa mereka kerana pengalaman mereka yang luas. Islam memberikan hak ini untuk menjamin kebahagiaan sesuatu perkahwinan di mana ia diasaskan daripada kesesuaian pasangan pada perasaan, adat, keinginan dan matlamat. Apabila wujud kepincangan, kehidupan suami dan isteri tidak berjalan dengan baik. 
 
Setengah wanita sukar memberikan cintanya dengan tulus dan boleh mengakibatkan penderhakaan pada suami yang tidak dicintainya. Dalam hal ini, dia berhak menuntut talak.
 
Wanita Islam yang sedar dengan petunjuk agamanya, akan memilih suami bukan hanya berdasarkan paras rupa, tetapi yang penting dilihat ialah akhlaknya. Mereka tidak akan tergoda dengan lelaki yang leka, lemah dan lesu. Wanita mukmin hanya tertarik dengan lelaki mukmin yang bersungguh-sungguh, sedar, bersih hatinya dan terbuka pemikirannya. Benarlah firman Allah yang bermaksud:
 
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk lelaki-lelaki yangkeji, dan lelaki-lelaki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuklelaki-lelaki yang baik dan lelaki-lelaki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula…)” (An-Nur: 26)
 
Ini bukanlah bermakna wanita Islam mengabaikan sudut kecantikan rupa, paras yang indah, lalu dia redha dengan yang burukdan hodoh rupa parasnya. Dia berhak memilih sebagaimana yang menguasai jiwanya, diredhai oleh perasaan dan hatinya.

ISTERI YANG MENOLAK PANGGILAN SUAMI
Abu Hurairah meriwayatkan bahawa Nabi SAW bersabda:
“Sebaik-baik wanita adalah apabila engkau pandang dia makadia menggembirakan, bila engkau perintah dia taat, bila engkau tiada dia menjaga hartamu dan menjaga pula kehormatandirinya.” Wanita Islam yang bijaksana sentiasa mahu mencari keredhaan Allah dengan taat kepada suaminya dalam perkara yang bukan maksiat, berbakti untuk suaminya dan sentiasa berusaha untuk menggembirakan suaminya. Dia akan redha dengan kesusahan atau font kesempitan hidupnya, sebagaimana yang telah dicatatkan dalam sejarah Islam unggulnya peribadi Fatimah r.a.
 
Wanita Islam yang benar, rela berkhidmat di rumah untuk suaminya dan dia tahu hak suami ke atasnya. Sesungguhnya ia adalah hak yang amat besar sebagaimana sabda Rasulullah:
“Kalaulah aku mahu memerintahkan seseorang sujud kepadaseseorang yang lain, nescaya aku akan perintahkan wanita sujud kepada suaminya.”(Hadith Hassan Sahih riwayat Tarmidzi)
 
Ketaatan adalah satu penyebab bagi wanita ke syurga sebagaimana sabda Rasulullah:
“Apabila wanita itu telah melakukan solat lima waktu, puasapada bulannya, taat kepada suaminya, menjaga kemaluannya, akan dikatakan kepada dia: Masuklah kamu ke dalam syurga daripadamana-mana pintu yang kamu sukai.”(Riwayat Ibn Majah)
 
Disamping itu, Islam juga mengancam dengan dosa kemurkaan dan laknat kepada wanita yang berpaling daripada peringatan ini:
 
“Apabila seseorang lelaki memanggil isterinya ke katilnya tetapi dia enggan mendatanginya, lalu suaminya tidur dalam keadaan marah kepadanya nescaya malaikat akan melaknatnya sehinggawaktu subuh (pagi).” (Sahih Muslim)


TIPS: 
"ISTERI KENA MENYUKAI APA YANG SUAMINYA SUKA DAN MESTI MEMBENCI APA YANG SUAMINYA BENCI"..