Friday, 21 December 2012

ISLAM BERPECAH 73 GOLONGAN



BAB 73 GOLONGAN


Tentang Islam akan terpecah menjadi banyak golongan “Akan ada segolongan umatku yang tetap atas Kebenaran sampai Hari Kiamat dan mereka tetap atas Kebenaran itu.” HR. Bukhari dan Muslim.
Rasulullah Saw lewat riwayat Jabir Ibnu Abdullah bersabda :
“ Akan ada generasi penerus dari umatku yang akan memperjuangkan yang haq, kamu akan mengetahui mereka nanti pada hari kiamat, dan kemudian Isa bin Maryam akan datang, dan orang-orang akan berkata, “Wahai Isa, pimpinlah jamaa’ah (sholat), ia akan berkata, “Tidak, kamu memimpin satu sama lain, Allah memberikan kehormatan pada umat ini (Islam) bahwa tidak seorang pun akan memimpin mereka kecuali Rasulullah SAW dan orang-orang mereka sendiri.” Hadis tentang sejumlah 73 golongan yang terpecah dalam Islam Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Orang-orang Yahudi terpecah kedalam 71 atau 72 golongan, demikian juga orang-orang Nasrani, dan umatku akan terbagi kedalam 73 golongan.” HR. Sunan Abu Daud.

Dalam sebuah kesempatan, Muawiyah bin Abu Sofyan berdiri dan memberikan khutbah dan dalam khutbahnya diriwayatkan bahwa dia berkata, “Rasulullah SAW bangkit dan memberikan khutbah, dalam khutbahnya beliau berkata, 'Millah ini akan terbagi ke dalam 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka, (hanya) satu yang masuk surga, mereka itu Al-Jamaa’ah, Al-Jamaa’ah. Dan dari kalangan umatku akan ada golongan yang mengikuti hawa nafsunya, seperti anjing mengikuti tuannya, sampai hawa nafsunya itu tidak menyisakan anggota tubuh, daging, urat nadi (pembuluh darah) maupun tulang kecuali semua mengikuti hawa nafsunya.” HR. Sunan Abu Daud.

Dari Auf bin Malik, dia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda:"Yahudi telah berpecah menjadi 71 golongan, satu golongan di surga dan 70 golongan di neraka. Dan Nashara telah berpecah belah menjadi 72 golongan, 71 golongan di neraka dan satu di surga. Dan demi Allah yang jiwa Muhammad ada dalam tangan-Nya umatku ini pasti akan berpecah belah menjadi 73 golongan, satu golongan di surga dan 72 golongan di neraka." Lalu beliau ditanya: "Wahai Rasulullah siapakah mereka ?" Beliau menjawab: "Al Jamaah." HR Sunan Ibnu Majah.

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Orang-orang Bani Israil akan terpecah menjadi 71 golongan dan umatku akan terpecah kedalam 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka, kecuali satu, yaitu Al-Jamaa’ah.” HR. Sunan Ibnu Majah.
“Bahwasannya bani Israel telah berfirqah sebanyak 72 firqah dan akan berfirqah umatku sebanyak 73 firqah, semuanya akan masuk Neraka kecuali satu.” Sahabat-sahabat yang mendengar ucapan ini bertanya: “Siapakah yang satu itu Ya Rasulullah?” Nabi menjawab: ” Yang satu itu ialah orang yang berpegang sebagai peganganku dan pegangan sahabat-sahabatku.” HR Imam Tirmizi.

Abdullah Ibnu Amru meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Umatku akan menyerupai Bani Israil selangkah demi selangkah. Bahkan jika seseorang dari mereka menyetubuhi ibunya secara terang-terangan, seseorang dari umatku juga akan mengikutinya. Kaum Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan. Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka, hanya satu yang masuk surga.” Kami (para shahabat) bertanya, “Yang mana yang selamat ?” Rasulullah Saw menjawab, “ Yang mengikutiku dan para shahabatku.” HR Imam Tirmizi.Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Orang-orang Yahudi terbagi dalam 71 golongan atau 72 golongan dan Nasrani pun demikian. Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan.” HR Imam Tirmizi.

Diriwayatkan oleh Imam Thabrani, ”Demi Tuhan yang memegang jiwa Muhammad di tangan-Nya, akan berpecah umatku sebanyak 73 firqah, yang satu masuk Syurga dan yang lain masuk Neraka.” Bertanya para Sahabat: “Siapakah (yang tidak masuk Neraka) itu Ya Rasulullah?” Nabi menjawab: “Ahlussunnah wal Jamaah.”

Mu’awiyah Ibnu Abu Sofyan meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) dalam masalah agamanya terbagi menjadi 72 golongan dan dari umat ini (Islam) akan terbagi menjadi 73 golongan, seluruhnya masuk neraka, satu golongan yang akan masuk surga, mereka itu Al-Jamaa’ah, Al-Jamaa’ah. Dan akan ada dari umatku yang mengikuti hawa nasfsunya seperti anjing mengikuti tuannya, sampai hawa nafsunya itu tidak menyisakan anggota tubuh, daging, pembuluh darah, maupun tulang kecuali semua mengikuti hawa nafsunya. Wahai orang Arab! Jika kamu tidak bangkit dan mengikuti apa yang dibawa Nabimu…” HR.Musnad Imam Ahmad.

Umat Islam terpecah menjadi 7 golongan besar yaitu:

1. Mu'tazilah, yaitu kaum yang mengagungkan akal pikiran dan bersifat filosofis, aliran ini dicetuskan oleh Washil bin Atho (700-750 M) salah seorang murid Hasan Al Basri.
Mu’tazilah memiliki 5 ajaran utama, yakni :
Tauhid. Mereka berpendapat :
Sifat Allah ialah dzatNya itu sendiri.
al-Qur'an ialah makhluk.
Allah di alam akhirat kelak tak terlihat mata manusia. Yang terjangkau mata manusia bukanlah Ia.Keadilan-Nya. Mereka berpendapat bahwa Allah SWT akan memberi imbalan pada manusia sesuai perbuatannya.Janji dan ancaman. Mereka berpendapat Allah takkan ingkar janji: memberi pahala pada muslimin yang baik dan memberi siksa pada muslimin yang jahat.
Posisi di antara 2 posisi. Ini dicetuskan Wasil bin Atha yang membuatnya berpisah dari gurunya, bahwa mukmin berdosa besar, statusnya di antara mukmin dan kafir, yakni fasik.Amar ma’ruf (tuntutan berbuat baik) dan nahi munkar (mencegah perbuatan yang tercela). Ini lebih banyak berkaitan dengan hukum/fikih.
Aliran Mu’tazilah berpendapat dalam masalah qada dan qadar, bahwa manusia sendirilah yang menciptakan perbuatannya. Manusia dihisab berdasarkan perbuatannya, sebab ia sendirilah yang menciptakannya.
Golongan Mu'tazilah pecah menjadi 20 golongan.

2. Syiah, yaitu kaum yang mengagung-agungkan Sayyidina Ali Kw, mereka tidak mengakui khalifah Rasyidin yang lain seperti Khlifah Sayyidina Abu Bakar, Sayidina Umar dan Sayyidina Usman bahkan membencinya. Kaum ini di sulut oleh Abdullah bin Saba, seorang pendeta yahudi dari Yaman yang masuk islam. Ketika ia datang ke Madinah tidak mendapat perhatian dari khalifah dan umat islam lainnya sehingga ia menjadi jengkel. Golongan Syiah pecah menjadi 22 golongan dan yang paling parah adalah Syi'ah Sabi'iyah.

3. Khawarij, yaitu kaum yang sangat membenci Sayyidina Ali Kw, bahkan mereka mengkafirkannya. Salah satu ajarannya Siapa orang yang melakukan dosa besar maka di anggap kafir. Golongan Khawarij Pecah menjadi 20 golongan

4. Murjiah.
Al-Murji’ah meyakini bahwa seorang mukmin cukup hanya mengucapkan “Laailahaillallah” saja dan ini terbantah dengan pernyataan hadits bahwa dia harus mencari dengan hal itu wajah Allah, dan orang yang mencari tentunya melakukan segala sarananya dan konsekuensi-konsekuensi pencariannya sehingga dia mendapatkan apa yang dia cari dan tidak cukup hanya mengucapkan saja. Jadi menurut al-murji’ah bahwa cukup mengucapkan “Laailahaillallah” dan setelah itu dia berbuat amal apa saja tidak akan mempengaruhi keimanannya, maka ini jelas bertentangan dengan hadits “dia mencari dengan itu wajah Allah”, maka ini adalah bentuk kesesatan al-murji’ah.

Al-Mu’tazilah dan Al-Khawarij meyakini bahwa seorang yang melakukan dosa-dosa besar kekal didalam api neraka, dan ini terbantah dengan sabda Rasulullah “sesungguhnya Allah mengharamkan atas api neraka orang yang mengucapkan Laailahaillallah”. Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwasanya pengharaman api neraka membakar orang-orang yang mengucapkan “Laailahaillallah” itu ada dua, pertama pengharaman secara mutlak dan ini bagi orang yang mengucapkan “Laailahaillallah” dengan mendatangkan seluruh syarat-syaratnya, konsekuensi-konsekuensinya dan kandungan-kendungannya sehingga dia terlepas dari syirik besar, syirik kecil dan perbuatan-perbuatan dosa besar, kalaupun dia terjatuh kepada perbuatan dosa maka dia bertaubat dan tidak terus menerus diatasnya, maka orang yang sempurna tauhidnya seperti ini diharamkan api neraka untuk membakarnya secara mutlak, yakni dia tidak disentuh oleh api neraka sama sekali. Kemudian yang kedua, yaitu pengharaman yang tidak mutlak dan bersifat kurang, yang dimaksud yaitu pengharaman untuk kekal didalam api neraka, ini bagi orang-orang yang kurang tauhidnya sehingga dia terjatuh kedalam syirik kecil atau dosa-dosa besar yang dia terus menerus didalamnya, maka orang yang demikian ini diharamkan atas api neraka untuk membakarnya dalam jangka waktu yang kekal selama dia belum mengugurkan tauhidnya ketika didunia.

Oleh karena itu pendapat al-mu’tazilah dan al-khawarij yang menyatakan bahwa pelaku dosa besar kekal didalam api neraka, ini adalah pendapat yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah.Tidak ada dzikir yang lebih utama didunia ini kecuali “Laailahaillallah”.Salah satu sebab dikabulkannya doa adalah dengan menggunakan sifat Allah dan nama-Nya, secara khusus memanggil Allah dengan uluhiyah-Nya, meminta dan berdoa kepada Allah dengan menyebutkan rububiyah-Nya.
“Laailahaillallah” merupakan dzikir dan doa, disebut dengan doa karena orang yang mengucapkan “Laailahaillallah” mengharapkan ridha Allah dan ingin sampai kepada surga-Nya.
Golongan Murjiah pecah menjadi 5 golongan.

5. Najariyah, Kaum yang menyatakan perbuatan manusia adalah mahluk, yaitu dijadikan Tuhan dan tidak percaya pada sifat Allah yang 20. Golongan Najariyah pecah menjadi 3 golongan.

6. Al Jabbariyah, Kaum yang berpendapat bahwa seorang hamba adalah tidak berdaya apa-apa (terpaksa), ia melakukan maksiyat semata-mata Allah yang melakukan. Golongan Al Jabbariyah pecah menjadi 1 golongan.

7. Al Musyabbihah / Mujasimah, kaum yang menserupakan pencipta yaitu Allah dengan manusia, misal bertangan, berkaki, duduk di kursi. Golongan Al Musyabbihah / Mujasimah pecah menjadi 1 golongan.Dan satu golongan yang selamat adalah Ahli Sunah Wal Jama'ah. Ahli Sunah wal Jama'ah.

1. Pengertian. Secara etimologi Ahli adalah kelompok/keluarga/pengikut. Sunah adalah perbuatan-perbuatan Rasulullah yang diperagakan beliau untuk menjelaskan hukum-hukum Al Qur'an yang dituangkan dalam bentuk amalan. Al Jama'ah yaitu Al Ummah ( Al Munjid) yaitu sekumpulan orang-orang beriman yang di pimpin oleh imam untuk saling bekerjasama dalam hal urusan yang penting.Menurut istilah Ahli Sunah wal Jama'ah adalah sekelompok orang yang mentaati sunah Rasulullah secara berjama'ah, atau satu golongan umat islam di bawah satu komando untuk urusan agama islam sesuai dengan ajaran Rasulullah dan para sahabatnya.

2.Syarat terbentuknya Al Jama'ah.Secara singkat telah diterangkan oleh Sayyidina Umar RA: " Tidak ada islam kecuali dengan jama'ah, Tidak ada jama'ah kecuali dengan imam, Tidak ada imam kecuali dengan Bai'at, Tidak ada bai'at kalau tidak ada taat.

Dan bai'at bukanlah syahadat, sebagaimana yang diyakini oleh mereka yang salah, dan apalagi dengan pengkafiran diluar kelompok tersebut.

3. Terpeliharanya Islam.
Dalam masa-masa kerusakan islam Allah menunjukkan kasih sayangnya dengan membangkitkan para mujadidnya setiap 100 tahun sekali yang meluruskan kembali pemahaman ajaran Rasul sesuai dengan kebutuhan pemahaman mereka saat itu hingga turunnya masa imam Mahdi.Dari berbagai sumber.

INI PULA PANDANGAN YUSUF QARDAWI DLM BAB 73 GOLONGAN INI.....

 Apa Pendapat Tuan Tentang Hadis Yang Mengatakan Umat Islam Akan Berpecah Menjadi 73 Puak?

...... Terdapat beberapa hadis yang membicarakan hal ini. Sebagai contoh, Nabi bersabda, “Sesungguhnya golongan Bani Israel berpecah kepada 72 golongan dan umatku akan berpecah kepada 73 golongan, kesemua mereka di dalam neraka kecuali satu. (Sahabat-sahabat) bertanya: ‘Siapakah yang satu itu wahai Rasulullah?’ Nabi menjawab: Mereka yang mengikut landasan yang aku dan sahabatku bawa”. Hadis ini diriwayatkan oleh Tirmizi.

....... Dr Yusuf Qardawi berkata, “Hadis ini tidak terdapat dalam Sahihain (iaitu Bukhari dan Muslim) sama sekali, sedangkan isu yang dibawa hadis ini adalah penting. Ini bererti hadis tersebut tidak sahih mengikut syarat kedua-duanya”.

....... Terdapat riwayat yang hanya menceritakan tentang perpecahan tanpa bahagian yang terakhir yang menyatakan “kesemua golongan memasuki neraka kecuali satu..”. Sebagai contoh, Nabi bersabda, “Sesungguhnya golongan Yahudi akan berpecah menjadi 71 atau 72 golongan dan orang-orang Nasrani akan berpecah menjadi 71 atau 72 golongan dan umatku akan berpecah kepada 73 golongan”.

....... Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Tirmizi, Ibn Majah, Ibn Hibban dan al-Hakim. Hadis ini disahihkan oleh Imam Ibn Hibban dan al-Hakim, dan dikatakan Hasan Sahih oleh Tirmizi. Riwayat ini diterima melalui Muhammad bin Amir bin Alqamah bin Waqas al-Laithi dan di dalam kitab Tahzib at-Tahzib dinyatakan bahawa beliau merupakan seorang yang diragui dari segi hafalannya. Ada ulama mengatakan, “Dia seorang yang jujur tetapi diragui dalam banyak hal”.

....... Dr. Yusuf Qardawi membahaskan dengan panjang lebar berhubung hadis-hadis inidalam kitabnya as-Sahwatul Islamiyah Baina al-Ikhtilaf al-Masyruk wa at-Tafarruq al-Mazmum. Beliau berkata, “Hadis ini menimbulkan kemusykilan. Pada satu segi ia menyatakan perpecahan umat Islam lebih banyak daripada perpecahan Yahudi dan Nasrani. Dari sudut yang lain ia menyatakan kesemuanya akan memasuki neraka kecuali satu golongan sahaja. Pernyataan yang kedua ini membuka ruang untuk setiap golongan mendakwa bahawa merekalah golongan yang selamat dan yang lain-lainnya akan dimasukkan ke dalam neraka. Ia jelas akan membawa kepada perpecahan umat serta permusuhan”.
.
......  Al-Allamah Ibn Wazir dalam kitabnya al-‘Awasim wal Qawasim berkata, “Janganlah tertipu dengan hadis lemah yang menyatakan ‘kesemuanya akan memasuki neraka kecuali satu golongan’. Itu adalah tambahan bahkan merupakan rekaan orang-orang Mulhid (sesat)”.

...... Dr Yusuf Qardawi juga merujuk kepada kenyataan Imam Abu Muhammad Ibn Hazm yang berkata, “Kedua-dua hadis ini dari segi sanadnya adalah sama sekali tidak sah. Hadis seperti ini tidak dapat dijadikan hujah..”.

...... Justeru, jika hadis-hadis ini kita terima (dan sememangnya ada ulama yang menerima hadis-hadis ini), kita terima sebagai peringatan secara umum agar kita sebagai umat Islam wajib mementingkan perpaduan dalam hidup. Asas kepada perpaduan itu ialah mengikut ajaran Islam secara serius berpandukan al-Quran dan Sunnah. Hadis-hadis ini juga mengingatkan kita bahawa perpecahan tidak mustahil berlaku di kalangan umat Islam jika kita tidak berhati-hati.

........ Dr Yusuf Qardawi merumuskan, “Hadis-hadis itu tidak menunjukkan bahawa perpecahan itu - dalam bentuk dan jumlah yang disebutkan – akan kekal abadi sampai ke hari kiamat. Apabila muncul perpecahan dalam umat cukuplah ia menjadi bukti tentang kebenaran hadis tersebut. Mungkin sebahagian telah muncul dan kemudian berjaya ditumbangkan oleh kebenaran sehingga ia lenyap selama-lamanya,,”

....... Yang pasti, memandangkan terdapat perbezaan pendapat berkaitan status hadis-hadis ini, kita tidak wajib mempercayai bahawa perpecahan seperti yang dinyatakan akan berlaku secara tepat dan ia tidak dapat dielakkan lagi. Kita beriman dengan apa yang Allah nyatakan dalam surah Ali Imran ayat 110 yang bermaksud, “Kamu merupakan sebaik-baik umat yang dikeluarkan bagi manusia, kamu mengajak kepada makruf, kamu mencegah kemungkaran dan kamu beriman kepada Allah”.JADI BYK KEMUSYKILAN DLM BAB INI..APA PON KAMI RAJA2 MELAYU DAN ORG MELAYU, DIBUMI MELAYU BERPEGANG DGN AHLISUNNAH WALJAMAAH (MAZAHAB IMAM SAPI'E).....WALLAHHUALAM (ARKIB MQTK MALAYSIA 2012)

9 JENIS ANAK-ANAK SYAITAN




أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Pengasih.

"Persamaan syaitan, apabila ia berkata kepada manusia, 'Jangan percaya'; kemudian apabila dia tidak percaya, ia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri daripada kamu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Pemelihara semua alam.'" 
(Al-Hasyr, 59:16)





Umar al-Khattab r. a berkata, terdapat 9 jenis anak syaitan:

1. Zalituun
Duduk di pasar/kedai supaya manusia hilang sifat jimat cermat. Menggoda supaya manusia berbelanja lebih dan membeli barang-barang yang tidak perlu.

2. Wathiin
Pergi kepada orang yang mendapat musibah supaya bersangka buruk terhadap Allah.

3. A’awan
Menghasut sultan/raja/pemerintah supaya tidak  mendekati rakyat. Seronok dengan kedudukan/kekayaan hingga terabai kebajikan rakyat dan tidak mahu mendengar nasihat para ulama.

4. Haffaf
Berkawan baik dengan kaki botol. Suka menghampiri orang yang berada di tempat-tempat maksiat (cth : disko, kelab mlm & tempat yg ada minuman keras).

5. Murrah
Merosakkan dan melalaikan ahli dan orang yg sukakan muzik sehingga lupa kepada Allah. Mereka ini tenggelam dalam keseronokan dan glamour etc.

6. Masuud
Duduk di bibir mulut manusia supaya melahirkan fitnah, gosip, umpatan dan apa sahaja penyakit yg mula dari kata-kata mulut.
 
7. Daasim (BERILAH SALAM SEBELUM MASUK KE RUMAH…)
Duduk di pintu rumah kita. Jika tidak memberi salam ketika masuk ke rumah, Daasim akan bertindak agar berlaku keruntuhan rumahtangga (suami isteri bercerai-berai, suami bertindak ganas, memukul isteri, isteri hilang pertimbangan menuntut cerai, anak-anak didera dan pelbagai bentuk kemusnahan rumah tangga lagi).
 
8. Walahaan 
Menimbulkan rasa was-was dalam diri manusia khususnya ketika berwuduk dan solat dan menjejaskan ibadat-ibadat kita yg lain.

9. Lakhuus
Merupakan sahabat orang Majusi yang menyembah api/matahari.


firman Allah Ta’ala, artinya, “Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” 
(QS. al-Baqarah: 168).




TIPS: 
  • Perlindungan pertama: Menahan pandangan, ucapan, makan, dan berinteraksi dengan manusia secara berlebihan. Hal ini dilarang kerana syaitan masuk bersamaan dengan sikap  berlebihan ini. Dan kerana pandangan merupakan salah satu panah Iblis. 
  •         Perlindungan kedua: Membaca dua surat al-Mu’awwidzatain (surat al-Falaq dan an-Nas). Sesungguhnya kedua surat ini (al-Falaq dan an-Nas) memiliki pengaruh yang dahsyat dalam menjaga atau melindungi seorang hamba yang ikhlas dari kejahatan syaitan dan tipu dayanya yang lemah. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits, “Tidaklah berlindung orang-orang yang meminta perlindungan dengan yang lebih utama dari keduanya” (Surat al-Falaq dan Surat an-Nas)”. (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh al-Albani). 
 
Keselamatan kamu adalah IKHLAS semata-mata... insya'Allah 

Iblis berkata: 
" Wahai Tuhanku! Kerana Engkau telah menjadikan daku sesat, demi sesungguhnya aku akan memperelokkan segala jenis maksiat kepada Adam dan zuriatnya di dunia ini, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali di antara zuriat-zuriat Adam itu hamba-hambaMu yang IKHLAS", 

Al-Hijr, 15 : 39-40.





Dan ia (syaitan) bersumpah kepada keduanya (Adam dan Hawa):
“Sesungguhnya aku adalah dari mereka yang memberi nasihat kepada kamu berdua.”
[al-A’raaf 7:19-21]



"Bila kamu membaca Al-Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syetan yang terkutuk. Sesungguhnya syetan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan berta- wakal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (syetan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang menyekutukannya dengan Allah." 
(An-Nahl: 98-100)

Tipu Dayanya terhadap Anak Adam

Selanjutnya, iblis melakukan tipu daya kepada salah seorang putera Adam, dan demikian terus mempermainkannya, sampai ia tega membu- nuh saudaranya sendiri, membuat murka ayahnya dan berbuat maksiat kepada Tuhannya. Dengan demikian ia membuat Sunnah yang buruk terhadap keturunan Adam dalam hal pembunuhan jiwa. Dan disebutkan dalamAsh-Shahih^ bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,  "Tidaklah suatu jiwa pun dibunuh secara zalim kecuali atas anak Adam yang pertama menanggung darah pembunuhannya, sebab dia adalah orang yang pertama kali memberikan Sunnah pembunuhan." Maka, si iblis itu melakukan tipu daya kepada pembunuh tersebut agar memutuskan tali silaturrahim, berbuat durhaka kepada kedua orangtuanya, menimbulkan murka Tuhannya, dan berbuat zalim kepada dirinya sendiri, lalu ia mencampakkannya pada siksa yang berat serta mengharamkannya dirinya dari pahala yang besar.
*) Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (3335), Muslim (1677) dari Ibnu Mas'ud

                                                                                   ************************
Au'zubillahiminashsyaitonirrajim 
"Aku berlindung dengan Allah dari Syaitan yang direjam'
"Demi Allah, seandainya Dia tidak membahagiakan hamba-Nya dengan memberi taufiq, -
dan sungguh demi Allah, Dia begitu Maha Penyayang kepada hamba-Nya-
tentu tak seharipun iman bisa bertahan di hatinya, 
sebab begitu banyak penyakit dan godaan yang mendera,
bahkan sampai tak terhingga.
Sungguh, kalau bukan taufiq dan kasih sayang-Nya, 
 
jiwa takkan mau meninggalkan syahwatnya, 
takkan takut terhadap bara neraka yang menyala, 
 tidak pula terhadap suatu hari,
di mana ia akan menghadap Tuhannya, 
di situ ia akan diputuskan secara adil, 
dan sungguh Dia tidak berbuat zalim kepada hamba-Nya.

Tuesday, 11 December 2012

POLIGAMI: Panduan perkahwinan dan poligami untuk suami isteri



Selanjutnya Siti 'Aisyah (r.a.) menerangkan, maksudnya;

Bahawa Rasulullah (s.a.w.) selalu berlaku adil dalam mengadakan pembahagian antara isteri-isterinya. Dan beliau berkata dalam doanya:
"Ya Allah, inilah kemampuanku membahagi apa yang ada dalam milikku. Ya Allah, janganlah aku dimarahi dalam membahagi apa yang menjadi milikku dan apa yang bukan milikku."


Di satu sisi, al-Qur'an, secara praktisnya, telah jelas tidak berbantahan lagi bagi memperbolehkan poligami. Tetapi di sisi lain kelompok yang menolak poligami, melihat pelaku poligami tidak konsisten dengan sikapnya. Kenapa mereka menikahi perawan atau janda-janda cantik lagi kaya bukannya anak-anak yatim dan juga janda-janda tua yang ditinggal mati suaminya?

Inilah kecelaruan sosial yang terjadi dalam masyarakat. Poligami tetaplah poligami. Walaupun seluruh dunia mengutuk poligami, masih akan ada suami yang berpoligami. Dan hukum itu jika ditolak dengan Qauluhu (perkataan), Fe'el-luhu (PERBUATAN) dan Qalbun'hu (HATI) .. maka tetap jatuh kufur kerana ia hukum Allah.. Tugas kita menjayakan amanah itu tanpa curiga dan bukannya menjadi RAJA PENGHALANG kerana pemikiran kita sendiri dan itulah TAGHUT!! dan wajib dilaknat!!

Kemudian Prof. Dr. T.M. Hasbi Ash-Shidieqy pula menerangkan; "Orang yang boleh beristeri dua ialah yang percaya benar akan dirinya dapat berlaku adil, yang sedikit pun tidak akan ada keraguannya. Jika dia ragu, cukuplah seorang sahaja." 

“Allah menjadikan pasangan untuk kalian dari jenis kalian sendiri; supaya kalian merasakan ketenangan dan menjadikan diantara kalian cinta dan kasih sayang; sesugguhnya yang demikian ini adalah tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir”.

Dalam poligami tidak ada masalah yang sulit sebagaimana yang dibayangkan banyak orang. Masalah poligami kembali pada penerapannya. persiapan seorang suami dituntut sebelum melakukan poligami, sama seperti persiapan calon suami isteri untuk melakukan perkawinan. Semua perbezaan-perbezaan yang ada dibicarakan untuk kesenagan di kemudian hari.

Dalam melakukan poligami paling sedikit ada tiga orang yang berperanan penting. Pertama, suami kemudian isteri pertama dan terakhir isteri kedua, begitu seterusnya sampai isteri kempat. Namun yang paling berperanan adalah suami.Berbicara mengenai penerapan poligami dapat ditinjau dari berbagai sudut, namundengan tidak melupakan tiga syarat di atas. Tanpa mengindahkan ketiga syarat di atas, memang seseorang masih saja dapat melakukan poligami. Hal ini kerana tidak adanya dlail-dalil agama yang mengharamkannya.

DALIL DAN SYARAT POLIGAMI
Asas pensyariatan yang menjadi dalil utama di dalam keharusan berpoligami
ialah firman Allah SWT dalam surah an-Nisa’, ayat 3 :
ْ
“Dan jika kamu takut tidak berlaku adil terhadap perempuan-perempuan yatim, maka berkahwinlah (dengan) perempuan-perempuan lain yang kamu berkenan, dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu bimbang tidak akan berlaku adil maka berkahwinlah dengan seorang sahaja, atau memadailah dengan hamba hamba perempuan yang kamu miliki. Itu adalah lebih dekat untuk mencegah
supaya kamu tidak melakukan kezaliman ”.

Menurut Dr. Muhammad al-Bahi dalam bukunya yang diterjemahkan ke bahasa Melayu oleh Fathurrahman (1988), poligami bukanlah suatu prinsip yang wajib dilaksanakan di dalam syariah Islam sehingga boleh menyebabkan berdosa jika tidak mengamalkannya. Poligami hanya merupakan perkara harus dan satu rukhsah (keringanan) dalam keadaan darurat. Jelasnya di sini walaupun bahasa yang digunakan di dalam ayat di atas berunsur perintah, ia bukanlah membawa kepada makna wajib dilaksanakan. Bahkan jika diamati ia boleh membawa kepada suatu tegahan dan haram hukumnya jika suami yang berpoligami tidak berupaya berlaku adil dan mengakibatkan penganiayaan terhadap isteri yang dikahwini.


POLIGAMI:
Terlintas tak mahu berpoligami itu pun dah dikira satu dosa, apatah lagi mengingkarinya! kerana POLIGAMI itu ARAHAN ALLAH.. PERINTAH DAN HUKUM-NYA..!! pada lelaki bukan wanita. laa... WANITA HARUS DIMADU... salah langkah.. ahakk wajib lak!! pada wanita yang taknak.. ada firmanNya: "LELAKI BAIK UNTUK PEREMPUAN YAN BAIK; DAN LELAKI JAHAT UNTUK PEREMPUAN YANG JAHAT".. dan bagi lelaki, "TIADA YANG TERLEBIH BAIK BAGI SEORANG LELAKI MELAINKAN DIBERI KEFAHAMAN MEMAHAMI ALQURAN"..

Poligami juga diizinkan dalam Yahudi. Ini berdasarkan undang-undang Talmud, di mana Nabi Ibrahim isterinya tiga, Nabi Sulaiman isterinya seratus. Perlaksanaan poligami berterusan dalam Yahudi sehinggalah Rabai Gersom Ben Yehudah (960-1030M) mengeluarkan perintah menentangnya. Namun masyarakat Yahudi Sephardic yang hidup di kalangan umat Islam terus mengamalkannya sehingga tahun 1950. Namun di Barat, trend hidup pragmatik yang mereka cipta menggantikan agama.

Islam apabila membenarkan poligami, seperti biasa menetapkan dalam setiap perkara peraturan dan disiplinnya. Soal berlaku baik dan adil kepada isteri, bukan sahaja diwajibkan untuk mereka yang berpoligami, bahkan kepada sesiapa yang bermonogami juga wajib melakukan kebaikan dan keadilan kepada isterinya.

Jika ada kecuaian mereka yang berpoligami bukan bererti poligami itu buruk, tetapi sikap pelaksananya itu yang salah. Betapa banyak mereka yang monogami yang menzalimi isteri, tidak bertanggungjawab terhadap keluarga dan berbagai lagi. Apakah kerana tindakan salah mereka itu, maka monogami juga patut dilarang? Inilah mentaliti kelompok liberal yang tidak terurus pemikiran mereka.


Maka dalam sejarah Islam, poligami tokoh-tokoh telah membuahkan kebaikan ilmu, keluasan keluarga dan keturunan. Berbagai lagi hikmah poligami yang boleh disenarai panjang. Malang sekali,
apabila golongan Pro-Barat atau ‘Islam-Liberal’ ini menyatakan tujuan mereka menentang pologami itu kerana hendak membela wanita, apakah pada mereka selain isteri pertama itu bukan wanita?
Wanita itu, bukan isteri pertama sahaja, tetapi setiap yang berjantina wanita termasuk yang akan menjadi isteri kedua dan seterusnya. Perasaan dan kehendak mereka juga adalah tuntutan dan hak wanita yang perlu dihormati.

Pernah saya sebutkan bahawa kadang-kala hukum-hakam Islam boleh diumpamakan sebuah kedai yang menyediakan berbagai jenis ubat untuk semua jenis penyakit. Jangan kerana ada ubat yang
dijual itu tidak bersesuaian dengan penyakit kita maka kita menganggap ubat tersebut mesti dihapuskan. Poligami adalah salah satu ubat bagi penyakit yang bersesuaian dengannya.
Menghalang zina dan membantu wanita. Bagi yang tidak memerlukan ubat ini dia tidak disuruh meminumnya.

Poligami juga adalah jalan keluar kepada kehendak cinta di luar kawalan. Di zaman ini, untuk seseorang lelaki mendapatkan wanita secara haram, amatlah mudah. Namun jika ada lelaki yang
ingin berkahwin sekalipun atas poligami yang membawanya menanggung berbagai risiko, saya rasa dia patut dihormati dan ada nilai tanggungjawab terhadap wanita....
Gejala anak dara tua bukan salah islam. Bukan salah Allah dan RasulNya. Ini kesalahan kita yang jahil dan bebal tentang agama. Kesalahan kita yg terpengaruh dgn fahaman barat dan agama lain.

Saya pernah berjumpa dgn seorang wanita yang berkata "saya benci kepada poligami; NERAKA PUN NERAKA LAA!". MASYA'ALLAH.. 2 perkara yg bododh!! yang pertama, membenci suatu yang dihalalkan oleh Allah termasuk dalam membenci keputusan Allah. berhati-hati dengan perkataan. saudari boleh berkata "saya tidak mahu bermadu" tetapi tolong jangan kata "saya membenci poligami". yang ke dua, bila pula masanya seorang perempuan itu boleh berpoligami? Yang dibolehkan berpoligami hanyalah lelaki. Wanita haram berpoligami atau berpoliandri (wanita memiliki banyak suami). hatta wanita yang suaminya berpoligami sekalipun, dia hanya memiliki seorang suami. dia tidak berpoligami. Saya husnuzzan yang dimaksudkannya ialah "saya tidak mahu bermadu". Ayat Allah pada surat an-nisa ayat 3 di tujukan kepada lelaki dan bukannya perempuan.

"Dan jika kamu takut tidak berlaku adil terhadap perempuan-perempuan yatim (apabila kamu berkahwin dengan mereka), maka berkahwinlah dengan sesiapa yang kamu berkenan dari perempuan-perempuan (lain): dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu bimbang tidak akan berlaku adil (di antara isteri-isteri kamu) maka (berkahwinlah dengan) seorang sahaja, atau (pakailah) hamba-hamba perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat (untuk mencegah) supaya kamu tidak melakukan kezaliman." an-nisa : 3

ada juga yang apabila ditanya tentang poligami terus meminta cerai kepada suaminya. ingatlah hadith rasulullah:

"Dari Sauban r.a bahawa Rasulullah saw bersabda : "Mana-mana perempuan yang meminta cerai daripada suaminya tanpa ada apa-apa keuzuran syar'ie, maka haram ke atasnya bau syurga" ..(Riwayat : Abu Daud)..

 PANDUAN:

Yang membezakan antara isteri yg bermadu dengan yang tidak bermadu hanyalah isteri tidak bermadu tidur dengan suaminya setiap hari dan isteri bermadu tidur dgn suaminya selang sehari (jika madu 2). Perlu diingat suami berpoligami dibolehkan mengunjungi semua isterinya setiap hari cuma tidak dibenarkan tidur bersama.

Mungkin ada org berkata ini berjumpa selang sehari ini tidak bagus kerana merenggangkan perhubungan. Tapi kalau merujuk buku 'man from mars and woman from venus' oleh pakar hubungan jantina dr john gray, jumpa suami selang sehari akan lebih merapatkan
hubungan dan menghangatkan cinta dan duduk rapat setiap masa akan melemahkan cinta. sila baca bab "men are like rubber band" yang menceritakan bahawa salah satu kriteria lelaki ialah cinta mereka seperi getah gelung. bila berjauhan, cinta lelaki itu akan makin meningkat seperti getah gelung yang ditarik. tetapi apabila sudah berdekatan sangat lama, cinta kaum adam akan mula kurang 'regangannya'. buku ini adalah buku yang sangat menakjubkan tentang perbezaan dua dunia antara lelaki dan wanita. buku ini adalah antara buku terlaris di dunia.

Setengah orang mendapat jodoh pada usia 16 tahun dan setengah yang lain hanya dapat jodoh pada usia 40an dan setengah mereka pula mati sebagai anak dara / teruna.

Adakah Allah mempunyai sifat pilih kasih dengan hanya memberikan jodoh kepada ...orang tertentu sahaja?? Persoalan seperti ini boleh merosak akidah seseorang.

Kalau merujuk surah Assyura ayat 30, setiap musibah dari Allah adalah kerana dosa manusia. Saya redha dan mengakui bahawa segala musibah yang menimpa saya selama ini adalah disebabkan kesilapan saya belaka.

Jodoh adalah milik Allah dan rahmat ini akan hanya diberikan kepada mereka yang Allah kehendaki. Seseorang yang jauh dari rahmat jodoh sebenarnya sedang mengalami satu musibah. Musibah ini adalah kerana pelakunya ada membuat kesilapan.

Ramai orang telah ditutup hatinya oleh syaitan dari mengenali / muhasabah kesilapan mereka. Bila mereka gagal mengenalpasti kesilapan ini, hiduplah mereka terus menerus tanpa rahmat Allah yang satu ini.

Antara dosa perempuan atau lelaki yang menyebabkan rahmat kahwin ditolak oleh Allah ialah:

1. Pernah berusaha melalui bomoh melalui mandi bunga, memakai susuk dsb agar dicepatkan jodoh mereka. Dosa ini sangat besar kerana mensyirikkan Allah.

2. Mengamalkan ilmu sesat dari "ustaz" atau orang pandai yang sebenarnya seorang bomoh sesat seperti ilmu membaca mentera bila keluar rumah, ilmu kunci tubuh bagi wanita dsb. Ilmu ini mengundang pertolongan dari syaitan seperti mudah mesra dengan semua orang dsb tetapi orang ini tidak sedar akan janji iblis yang membantunya dan antara janji tersebut ialah orang ini akan dipastikan tidak kahwin sampai mati.

3. Berkata sombong seperti seorang rakan saya "aku kalau nak kahwin, aku petik aja jari, 10 orang datang nak kahwin dengan aku". Sombong adalah milik Allah sahaja (Al Mutakabbir) dan dilarang manusia mengamalkan sifat ini. Kita pastinya melayakkan pelbagai azab Allah sekiranya mengamalkan sifat sombong ini.

4. Terlalu memilih Mr Right / Ms Right dengan sewenang-wenang menolak pilihan yang ditentukan Allah. Kebanyakan orang yang tidak berkahwin ini sebenarnya pernah dilamar oleh seseorang tetapi terus menolak mentah-mentah tanpa merujuk kepada Allah seperti melalui sembahyang istikhorah atas alasan seperti tidak sama taraf dsb. Allah sudah menetapkan dalam Al Quran bahawa perempuan baik dijodohkan dengan lelaki baik dan sebaliknya. Kalau perempuan macam SAH AHLI NERAKA MACAM JADDAH BT ASYTTH (HARAM JADDAH) YG MERACUN SAIDINA HUSSEIN CUCU NABI SAW atau HABIBAH YANG BERKAHWIN SEMALAMAN DENGAN NABI LALU DICERAIKAN DAN AKHIRNYA GILA BILA KELUAR DARI RUMAH NABI SAW!".. maka.. watak2 itu.., janganlah berangan untuk mendapat jodoh suami macam Nabi Muhamad SAW @ SIBGHAHNYA. Masya'Allah'hulaquwatailla-billah..

5. Rosak akidah mereka dengan menolak hukum Allah seperti poligami, hudud dsbnya. Setengahnya sanggup bercakap seperti "aku sanggup jadi anak dara tua sampai mati dari menjadi isteri kedua". Membenci mana-mana hukum Allah sudah cukup melayakkan diri untuk menjadi Kafir. Dosa ini adalah dosa paling besar dalam Islam dan inilah antara punca azab musibah yang Allah turunkan seperti musibah tidak dapat jodoh.

6. Putus asa dan mengeluh. Mengeluh bukan ciri orang Islam. Terus menerus mengeluh akan terus menerus mengundang azab Allah. Putus asa seperti berkata "biarlah aku menjadi anak dara tua sampai mati" akan mengundang musibah yang berat dari Allah iaitu kekal tidak berkahwin. Allah membahasakan orang yang putus asa ini agar mencari tali untuk menggantung diri sampai mati (bunuh diri)

7. Banyak berbuat dosa mengundang pelbagai musibah dari Allah. Ada manusia yang malas sembahyang dan ada juga yang gemar berbuat maksiat pastinya mengundang azab musibah dari Allah. Apatah lagi kalau dosa berzina.

8.Tidak mahu mendalami ilmu agama juga adalah satu dosa kerana belajar agama adalah wajib untuk semua orang. Tidak melakukannya mengundang dosa yang kelak mengundang pelbagai musibah azab dari Allah.

Allah tidak pernah pilih kasih dengan memberikan jodoh hanya kepada sebahagian orang sahaja. Manusialah yang selalu menzalimi diri sendiri. Kezaliman inilah yang mengundang musibah azab dari Allah dan tidak dapat jodoh adalah antara pelbagai musibah azab dari Allah SWT.

Masalah utama dalam menyelesaikan masalah orang seperti ini ialah ORANG YANG BERMASALAH INI TIDAK MENGETAHUI BAHAWA SEBENARNYA MEREKA INI SEDANG BERMASALAH.....


Untuk itulah, masalah poligami harus dilihat bukan hanya dalam perspektif boleh dan tidak boleh, tetapi masalah-masalah apa sajakah yang ada dalam poligami. Ulama' fiqh dulu selalu mempertimbangkan izin isteri untuk berpoligami. Hal ini untuk menyikapi adanya wacana keadilan dan konteks poligami. Kemudian keadilan diartikan sebagai kesediaan dan kerelaan isteri untuk dimadu. Apabila isteri mengizinkan, maka suami boleh menikah lagi. Masalahnya, seringkali pihak isteri mendapat maklumat yang tidak tepat, salah dan mengelirukan baik dari segi teologis dari ukuran yang disandarkan kepada Rasulullah tentang Isteri yang mahu di madu. Tentunya, ini menjadi anggapan buruk atas ketulusan wacana poligami untuk memecahkan permasalahan sosial yang utama seperti perselingkuhan dan zina. Justeru menepati motif dan kehendak utama hadis Rasulullah SAW iaitu, "BERKAHWINLAH! KERANA AKU BERBANGGA DENGAN UMATKU YANG RAMAI".. ITU MATLAMATNYA!! dan kesudahan yang baik itu bagi orang2 yang bertaqwa"..;.

Melihat hal tersebut, hal ini tentunya harus dipertanyakan kembali sebab ternyata pihak isteri telah tersalah fahaman dan kesadarannya oleh justifikasi teologis yang hanya menguntungkan pihak suami dan juga bandingan kontranya yang menguntungkan pihak syaitan...


Menurut pendapat ini keberbolehan berpoligami disebabkan kepatuhan dari sifat ayat iaitu kelompok yang memperbolehkan dengan bersyarat lelaki yang berpoligami. Ketentuan ini ditetapkan atas akhir ayat yang menjelaskan tentang wacana kezaliman dan TIDAK ADIL dalam berpoligami. Padahal permasalahan yang terjadi di masyarakat bukanlah wacana boleh atau tidak boleh, mampu atau tidak.. ada asasnya iaitu kerana firman Allah: "JIKA KAMU MAHU BERLAKU ADIL"... maka Al-Qur'an secara NYATANYA tidak melarang berpoligami, "kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi: dua, tiga atau empat". Ini adalah justifikasi yang sangat kuat bagi pelaku poligami. Belum lagi realiti pada permasalahan sosial yang menunjukkan adanya peningkatan jurang keimanan dan kekufuran juga perselisihan. Ini malah memperkuat keharusan poligami iaitu HARUS BAGI ALLAH ATAS MNETAPKAN JODOH!

Pernikahan yang sah merupakan salah satu jalan orang yang beradab dalam menyalurkan hasrat seksual dan mempertanggungjawabkannya baik secara agama maupun sosial atau dipanggil FITRAH.. Dari sisi ini, pelarangan poligami malah menjadi sesuatu yang menolak adab dalam hukum Allah sebab seakan-akan mengesahkan beberapa orang sahaja yang mampu berpoligami untuk menyalurkan hasrat seksual secara sah dengan penilaian tanpa asas dari sumber yang benar. Tetapi kalau poligami diperbolehkan maka terjadi ketidakadilan dalam hubungan suami-istri? Kalau suami diperbolehkan agama untuk poligami, kenapa istri dilarang poliandri? Kalau saja alasannya hanya urusan seksual, ini tidaklah logik dan kurang tepat kerana hal-hal yang mengenai masalah seksual, laki-laki maupun perempuan adalah mempunyai masalah yang sama; sama-sama ingin berpetualang, nafsunya kejahatan!

Hak Anak dan Masyarakat dalam Poligami perlu diberi asasnya. Semua pelaku poligami berpegangan pada pemahaman teks al-Qur'an untuk berpoligami. Berpegang IKTIKAD ATAU KEYAKINAN tersebut; maka ketika sebagian masyarakat dan juga institusi krajaan & pemerintah melarang poligami, maka akan terjadi 'class social' antara yang menolak dan yang menerima. Ada unsur nafsu di situ.. Maka wajib mengetahui bahawa setiap pegangan pelaku poligami adalah pemahamannya terhadap teks alQuran yang menjadi kitab suci agama Islam...

Untuk itulah, poligami harus didudukan bukan hanya keuntungan antara suami dan isteri tetapi adalah masalah keluarga yang membabitkan seluruh anggota keluarga dan juga masyarakat. Harus diketahui poligami terjadi dalam rangka berdefinasikan rumah-tangga. Sedangkan dalam susunan anggota keluarga bukan hanya suami-isteri, tetapi ada anak dan juga masyarakat amnya. Anak adalah salah satu bahagian dari pola kitaran poligami yang ikut serta merasakan ekses dari hasil poligami itu sendiri dan itulah matlamatnya..


KEMAMPUAN BERPOLIGAMI; BATU UKURNYA

Masalah mampu dalam poligami: SEBENARNYA SAYA TAK INGAT DI DALAM KITAB MANA SAYA BACA- HADIT SAHIH MUSLIM ATAU MANA-MANA KITAB dari rujukan MQTK dan Raja-raja Mealayu. yess.. .. ADA!! iaitu kisah seorang LELAKI ARAB BADWI yang paling miskin harta bendanya di tanah jazirah itu. Maka pada suatu hari, lelaki Badwi itupun datang menemui Rasulullah SAW dan memohon supaya DIDOAKAN MENJADI KAYA. Tapi ditolak oleh rasulullah SAW dengan sabdanya, "BERKAHWINLH KAMU!" dengan tegasnya.

Lalu Nabi SAW menghadiahkan sesuatu yang menjadi maskahwin Lelaki Badwi itu; dan kisah ini berlarutan sebanyak tiga kali dan begitulah juga jawapan nabi SAW, 'BERKAHWINLAH KAMU..!" tak ubah2.. hee..

Maka pada suatu hari Rasulullah berkunjung ke rumah orang Arab Badwi itu setelah lelaki itu beristeri tiga. Namun apabila berjumpa lelaki Badwi itu, maka nabi SAW bertanya, 'KENAPA KAMU TIDAK MEMOHON AKU MENDOAKAN KAMU KAYA?..

Maka jawab lelaki Badwi itu,: "AKU MALU YA RASULULLAH!! Setiap kali aku mohon didoakan kaya mmaka setiap kali itu engkau mengatakan, 'BERKAHWINLAH!" dan aku malu kerana aku seorang yang miskin dan tidak berkemampuan"...

maka Rasulullah SAW tersenyum dan bersabda;"KERANA KAMU SEORANG YANG BERILMU"..

... so batu ukurnya ILMU dan firman Allah:

"KAMI TURUNKAN ALQURAN ITU UNTUK ORANG-ORANG YANG MAHU BERIBADAT DENGAN ILMU"...
ameen

HAMKA DALAM PERSOALAN IMAM MAHDI DAN NABI ISA


HADIST MAHDI DAN ISA

Al-Quran tidaklah memberikan tuntunan yang tegas tentang akan turunnya Mahdi dan Isa di akhir jaman. Padahal tiga orang yang mengaku dirinya Nabi atau Rasul di jaman ini (Mirza Ghulam Ahmad, Miza Ahli Muhammad dan Bahaullah), belum dapat menegakkan pendakwaan itu, kalau tidak berdasar kepada hadis-hadis tentang turunnya Mahdi dan Isa itu.

Seratus tahun sesudah Nabi Muhammad wafat, barulah orang mempunyai kesempatan untuk mengumpulkan hadis. Yang lebih dahulu dikumpulkan hanyalah Quran. Jadi dalam masa 100 tahun adalah masa "kosong" yang merupakan kesempatan untuk membuat hadis bagi golongan-golongan yang bertentangan. Terutama kaum Syiah. Payahlah ulama hadis menjaring hadis mana yang masyhur, mana yang shahih, mana yang dhaif dan mana yang maudhu. Pertentangan-pertentangan yang maha hebat di waktu itu di antara beberapa firkah yang timbul karena politik, menimbulkan golongan-golongan yang sampai hati membuat hadis-hadis palsu, sehingga payah menjaringnya setelah ilmu hadis muncul sebagai ilmu yang berdiri sendiri. Ibnu Khuldun didalam "Muqaddamah" tarikhnya mengkaji satu-persatu hadis Mahdi itu dan menyelidiki sanad serta matannya sedalam-dalamnya, sehingga kemudian diambil kesimpulan bahwasanya sebagian besar dari hadis ini tidak dapat diterima. Oleh sebab itu maka kaum Ahli Sunnah tidaklah menjadikan hadis-hadis Mahdi atau nuzul Isa itu menjadi pokok kepercayaan prinsipiil.

Ulama tafsirpun berbincang hebat tentang turunnya Nabi Isa. Lebih-lebih telah tersebut pula dalam satu hadis, bahwa "Mahdi itu tidak lain adalah Isa." Mereka perbincangkan apakah Isa itu masih hidup, lalu diangkat Tuhan kelangit, ataukah dia telah meninggal dunia sebagaimana kebanyakan manusia. Tuhan bersabda tentang Nabi Isa:

"Sesungguhnya Aku mewafatkan engkau dan mengangkatkan engkau kepadaKu."

Orang yang memegang kepercayaan bahwa Nabi Isa belum mati, dan hanya menguatkan bahwa Nabi Isa diangkat ke langit dengan tubuhnya, terpaksa mesti mencari arti yang lain dari kata "wafat" itu. Tetapi yang berpendapat bahwa Nabi Isa mati, langsung saja mengartikan ayat itu menurut zahir bunyinya. Mula-mula beliau wafat, setelah itu beliau diangkat ke hadirat Tuhan, sebagaimana setiap insan yang mulia. Sebab itu ke-angkat-an itu tidak mesti ke langit, melainkan ke hadirat Tuhan.

Orang Ahmadi memegang tafsir yang menyatakan bahwa Nabi Isa telah wafat, telah mati. Dan kemudian dari hal itu, merekapun menguatkan bahwa Nabi Isa akan datang kembali. Yang datang itu bukan Isa Israili yang dahulu, karena dia telah jelas meninggal. Yang ditunggu kedatangannya sebagaimana tersebut dalam hadis adalah orang lain yang membawa sifat-sifat Isa. Kata orang Ahmadi, orang itu adalah Mirza Ghulam Ahmad.

Sebenarnya kepercayaan tentang akan datangnya Mahdi diakhir zaman, atau Nabi Isa akan datang kembali, atau Messiah menurut kepercayaan Yahudi, atau Buddha Gautama bagi orang beragama Buddha, mendalam juga dalam kalangan kaum Syiah yang selalu menunggu-nunggu kembalinya Imam mereka yang ghaib. Ismailliyah menunggu Ismail. Istna Asyriyah menunggu Muhammad bin Hasan Al-Askary, Imam Syiah ke-12. Kisaniyah menunggu datangnya kembali Muhammad bin Ali Hanafiyah Semuanya itu sekarang tengah ghaib dan akan datang kembali!

Kepercayaan seperti inipun mendalam pula pada setengah penganut tasawuf, yang mempercayai bahwa alam diatur oleh wali-wali Allah yang bernama "Watad," dan "Badal," dan "Quthub." "Quthub" itu adalah ghaib pula. Di Indonesia kepercayaan ini sangat mendalam dalam filsafat kejawen yang menunggu kedatangan Ratu Adil.

Mirza Ghulam Ahmad menyatakan bahwa dialah yang ditunggu-tunggu itu. Dialah Isa Al-Masih yang dijanjikan, dia pula Mahdi yang ditunggu-tunggu. Dan karena ada pula sebuah hadis menyatakan bahwa setiap 100 tahun akan datang seorang mujaddid (pembaharu keagamaan), maka dia pulalah mujaddid itu. Pendeknya segala yang ditunggu-tunggu itu, tidak ada orang lain, melainkan dirinya sendirilah.

Oleh karena dialah Al-Masih, tentu dialah nabi. Kadang-kadang Mirza Ghulam Ahmad menyatakan bahwa dia bukanlah membawa syariat baru. Dia dengan Nabi Muhammad saw adalah bagaikan Harun terhadap Musa belaka. Penguat syariat Muhammad, bukan pengubahnya. Tetapi satu hal dia menyatakan memang berubah yaitu jihad. Jihad tidaklah dengan senjata, cukup dengan mengemukakan alasan-alasan belaka. Adapun Bahaullah menyatakan dirinya terang-terang nabi lain sesudah Muhammad. Dengan kedatangannya habislah tugas agama Al-Bab dengan kitabnya Al-Bayan. Dan dengan kedatangan Al-Bab dahulu, habis pulalah tugas syariat Muhammad.

Adapun dasar kepercayaan kita dengan berpegang kepada ayat yang tertulis di atas tadi nyatalah bahwa Nabi Isa telah wafat. Nabi Isa telah wafat, dengan berdasarkan kepada "mutawaffika" tadi. Dan dia telah diangkat ke hadirat Allah, (wa rafi'uka ilayya), sebagaimana setiap roh yang suci senantiasa diangkat menghadap ke hadirat Allah.

Adapun tentang turunnya kembali beliau ke dunia, sebelum hari kiamat datang, adalah hadis yang bernama "Al-Uhad." Tidak termasuk kedalam hadis yang mutawatir. Maka menurut pertimbangan ahli-ahli hadis, kalau sekiranya tidak kita jadikan menjadi pokok kepercayaan, sebagaimana pokok kepercayaan yang enam perkara (rukun iman), tidaklah kita keluar dari Agama Islam.

Meskipun demikian tidaklah boleh kita menolak kekuasaan Tuhan. Turunnya Nabi Isa kembali ke dunia, tidaklah hal yang mustahil, walaupun tulangnya telah hancur. Bukanlah didalam Al-Quran ada tersebut cerita burung-burung yang telah dicincang lumat oleh Nabi Ibrahim atas perintah Tuhan. Burung itu empat ekor banyaknya. Lalu dihantarkan ke puncak empat buah bukit. Tuhan memerintahkan kepada Ibrahim supaya empat burung itu dipanggil kembali. Maka datanglah keempat burung itu, dengan izin Allah!

Dipandang dari segi kepercayaan ini, datangnya Nabi Isa kembali ke dunia setelah beribu tahun beliau wafat, hanyalah permulaan saja dari kebangkitan mahluk Tuhan yang lain. Seluruh insan dihari kemudian akan dibangkitkan. Hanya Isa Al-Masih didahulukan. Hal ini biasa saja bagi Tuhan.

Oleh sebab itu, maka pendakwaan orang-orang seperti Mirza Ghulam Ahmad, bahwa merekalah Isa Al-Masih yang dijanjikan itu, tidaklah kita percayai. Kita memandang mereka itu hanyalah sebagai pendakwa-pendakwa kenabian yang lain juga. Sebelum merekapun telah ada juga pendakwa kenabian itu. Menggelegak menggejala setahun dua tahun, taruhlah sepuluh-duapuluh tahun, kemudian padam lagi. Dan kelak akan begitu pula. Bukan saja yang seperti ini ada dalam Islam, juga ada dalam agama Kristen. Bahkan kaum theosofi pernah mengemukakan Khrisna Murti sebagai Al-Masih yang ditunggu-tunggu itu.

Kaum Ahmadi mengambil alasan atas kebenaran seruan mereka, ialah karena kian lama faham mereka kian tersiar, terutama di benua Eropa dan Amerika. Ini bukan alasan! Sebab kehausan manusia di kedua benua itu akan tuntunan rohani, setelah terlalu tenggelam dalam hidup kebendaan, menyebabkan ada diantara mereka yang lekas saja menerima suatu propaganda baru. Bukan faham Ahmadi saja yang mereka terima, gerakan yang lainpun mendapat pasaran subur juga disana. Di Jerman telah ada pula penganut faham Buddha dan mempunyai biara sendiri. Pelajaran tasawuf dari Inayat Khan mendapat penganut juga. Bahkan seorang yang mendakwakan dirinya Al-Masih dan memakai gelar Khrisna Vedanta di negara bagian Colorado, USA, telah mendapat pengikut pula. Demikian pula seorang kulit hitam di Pennsylvania (Philadelphia) mengaku dirinya Tuhan dan memakai nama Father Divine, tidak pula kurang penganut dan pengikutnya.

Di Amerika muncul tidak kurang 200 sekte Kristen. Masing-masing mengatakan bahwa mazhab mereka kian lama kian besar dan melebihi yang lain.

Terutama kaum Bahai! Mereka timbul di negeri Iran yaitu pada jaman pemerintahan Sultan Nasiruddin Syah. Seorang syah yang terkenal kejam pemerintahannya dan berkuasa tanpa batas. Bahaullah pada mulanya mengajarkan pembelaan hak kaum wanita, menganjurkan penghentian poligami, mengatakan bahwa dalam ajarannya tidak ada kekuasaan kaum mullah. Tentu saja ajaran "baru" dari Bahaullah ini menggoncangkan politik dan susunan masyarakat kerajaan, persekutuan kaum mullah dengan Syah. Kaum ini dikafirkan dan diperangi. Al-Bab sampai dibunuh dan Bahaullah dibuang keluar negeri. Padahal setelah kecerdasan beragama maju kembali, orang telah merasa bahwa tidak perlu ada nabi baru membawa ajaran baru. Seruan-seruan yang diserukan Bhaullah itu memang telah ada dalam tubuh Islam ajaran Muhammad sendiri, dengan tidak usah keluar dahulu dari Islam, dan membuat agama baru.

Adapun kaum Ahmadi dan usahanya melebarkan Islam ke benua Eropa dan Amerika, dengan dasar ajaran mereka, faedahnya bagi Islam ada juga. Mereka menafsirkan Quran kedalam bahasa-bahasa yang ada di Eropa. Padahal di jaman 100 tahun yang lalu masih merata kepercayaan tidak boleh mentafsirkan Quran. Pentafsiran Quran dari kedua golongan Ahmadiyah itu membangkitkan minat bagi golongan yang menginginkan kebangkitan Islam ajaran Muhammad kembali untuk memperdalam selidiknya tentang Islam. Orang sekarang telah pandai menimbang. Tafsir kaum Ahmadi itu mereka baca juga. Yang baik mereka terima dan kepercayaan tetang kenabian, kerasulan, kemahdian, ke-Al-Masih-an Mirza Ghulam Ahmad mereka singkirkan ketepi. Dan tafsir-tafsir karangan ulama Islam sendiripun telah muncul, yang isinya jauh melebihi tafsir Ahmadi. Kelebihan tafsir Ahmadi hanyalah karena ditulis dalam bahasa Barat, menarik hati kaum terpelajar cara Barat, tapi kosong ilmunya tentang bahasa Arab.

Di Indonesia sendiri, ketika gerakan-gerakan ini mulai masuk, agak ribut juga orang menerimanya. Apalagi mereka suka berdebat-debat sebagai alat propaganda untuk menarik perhatian. Dalam pada itu maka pengertian kaum Islam tentang agama bertambah mendalam, ahli-ahli Islampun telah timbul lebih banyak daripada dahulu. Kian lama kian sepi gerakan mereka. Yang dapat tertarik hanyalah orang-orang yang belum ada pengertiannya tentang Islam. Setinggi-tinggi usaha mereka adalah memelihara pengikut-pengikutnya. Di Tempat yang kuat Islamnya, seperti di Padang Panjang, terpaksa pengikut-pengikutnya itu meninggalkan kampung halaman, dan pindah ke kota Jakarta, sebab "bebas" mengerjakan kepercayaannya. Sikap merekapun telah berubah!

Jika semula pada waktu pertama kali mereka suka mengajak berdebat, diakhir-akhir ini mereka mengambil sikap hanya mempertahankan diri jika datang serangan. Tandanya bahwa pasaran mereka telah mulai sepi.

Adapun kalau ada tambahan pengikut mereka, tidaklah hal demikian mengherankan kita di Indonesia ini. Buka saja Ahmadiyah, Bahai-pun telah ada pengikutnya disini. Bukan saja Bahai dan Ahmadi, bahkan Katolik dan Protestan-pun ada juga tambahan penganutnya disini. Bahkan orang yang masuk komunis-pun ada. Sebabnya adalah karena Islam di Indonesia pada jaman yang sudah-sudah terdesak oleh beberapa desakan. Baik politik, atau ekonomi atau kejahilan tentang ajaran agama Islam sebenarnya.

Semuanya ini adalah cemeti untuk membangkitkan beransang kaum Muslimin, dibawah pimpinan ulama dan pimpinanNya supaya bangkit dan berusaha menegakkan "Dakwah Islamiyah," lebih giat daripada yang sudah-sudah.

Alhasil, Muhammad adalah penutup dari segala rasul, dan bukanlah dia mata-cincin dari segala rasul. Sesudah dia tidak ada nabi lagi, baik nabi yang menasikhkan syariat Muhammad, ataupun nabi yang dikatakan "pengiring" Muhammad. Dengan kedatangannya sempurnalah binaan kepercayaan isi alam yang telah dibawa berturut-turut oleh nabi-nabi dan rasul-rasul sebelum dia. Beliau bersabda:

"Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan nabi-nabi yang sebelum aku, adalah seumpama seseorang yang membangun bangunan-bangunan. Diperindahnya dan diperbagusnya binaan itu, kecuali (ketinggalan) suatu batu tembok pada sudut daripada sudut-sudutnya itu. Maka manusiapun berkelilinglah dan takjub melihat binaan itu, dan mereka berkata: 'Alangkah baiknya ditutupi sebuah batu tembok yang kurang ini.' Maka akulah batu tembok itu, dan akulah penutup segala nabi-nabi."

Maka kalau ada orang mendakwakan dirinya nabi sesudah Muhammad, niscaya bohonglah pendakwaannya itu. Dan barang siapa yang mempercayai akan dakwaan orang itu, mendustakanlah dia akan pernyataan Muhammad. Sebab itu maka tidaklah dia golongan Ummat Islam (Ummat Muhammad).

Sesungguhnya demikian, sebagai Ummat Islam yang mengaku adanya keluasan dada (tasamuh), kita akan bergaul juga dengan mereka sebaik-baiknya, sebagaimana kita bergaul dengan Ummat Buddha, Kristen dan Yahudi.

Apalagi Nabi Muhammad saw. telah pula memeberi peringatan bagi kita bahwa sesuadh beliau wafat akan datang orang mendakwakan dirinya nabi atau rasul. Padahal mereka adalah pembohong. Nabi bersabda:

"Akan ada pada akhir kemudian ummatku orang-orang dajjal pembohong. Membicarakan kepada kamu perkara-perkara yang belum pernah kamu dengar, dan tidak pula pernah didengar oleh nenek-moyangmu. Maka berawas-awaslah kamu dan berawas-awaslah mereka. Janganlah sampai mereka menyesatkan kamu dan jangan memfitnahi kamu."

Dan sabda beliau pula:
"Sesungguhnya akan ada pada ummatku tigapuluh orang pembohong! Semuanya mengaku bahwa dirinya Nabi. Akulah penutup segala nabi. Tidak ada nabi sesudah aku. Dan akan senantiasalah segolongan dari ummatku tegak diatas kebenaran. Tidak akan memberi bencana atas mereka siapapun yang menentang mereka, sehingga datanglah ketentuan Allah, dan mereka tetap saja demikian."

Cukuplah wahyu dengan turunnya penutup segala kitab suci, yaitu Al-Quran. Bereslah risalat dan nubuwwat dengan datangnya penutup segala rasul dan nabi yaitu Muhammad saw.

Dengan kepercayaan yang demikianlah hidup kita dan mati kita.
* * *
Bagaimanapun kepintaran kita dan betapapun ilmu pengetahuan yang didapat oleh manusia di dalam alam ini, namun rahasia yang masih tersembunyi masih lebih banyak. Rahasia yang menjadi rahasia dari segala rahasia adalah lingkungan "ghaib," yang hanya dapat dirasai adanya, tetapi tak dapat dicapai oleh pancaindera atau oleh akal sekalipun dimana letaknya.

Kita akui, memang kadang-kadang kecerdasan berfikir dan berakal mendapat kesimpulan tentang adanya, tetapi hanya sebagian kecil dari rahasianya. Sebagaimana Aristoteles dan beberapa filsuf yang lain yang menghitung "yang Ada" dengan filsafat, akhirnya bertemu dengan keyakinan akan adanya Tuhan. Tetapi itu hanya sebagian kecil saja. Lebih banyak yang tidak dapat kita ketahui. Maka datanglah nabi-nabi dan rasul-rasul, dan penutup dari segala nabi dan rasul, bercakap dengan wahyu, menerima "kalimat" dari Allah sendiri. Maka dengan tuntunan beliau hilanglah keraguan kita dan teranglah bagi kita jalan kesana, sesudah payah meraba-raba dan mencari-cari. Maka pikiran yang beliau berikan dan cita yang beliau tanamkan dihati kita adalah pikiran dan cita yang sempurna, yang diwaktu hidup dapat kita pakai dan diwaktu mati dapat kita tumpang.

Maka percayalah kita kepadanya dan kita turutlah garis langkah yang beliau tinggalkan, yang patut kita lalui, untuk keselamatan kita pada hidup ini dan hidup setelah ini ...




RABIATUL ADAWIYAH: WALI ALLAH WANITA SOLEHAH


Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyah tergolong wanita sufi yang terkenal dalam sejarah Islam. Dia dilahirkan sekitar awal kurun kedua Hijrah berhampiran kota Basrah di Iraq. Dia lahir dalam sebuah keluarga yang miskin dari segi kebendaan namun kaya dengan peribadatan kepada Allah. Ayahnya pula hanya bekerja mengangkut penumpang menyeberangi Sungai Dijlah dengan menggunakan sampan.

Pada akhir kurun pertama Hijrah, keadaan hidup masyarakat Islam dalam pemerintahan Bani Umaiyah yang sebelumnya terkenal dengan ketaqwaan telah mulai berubah. Pergaulan semakin bebas dan orang ramai berlumba-lumba mencari kekayaan. Justeru itu kejahatan dan maksiat tersebar luas. Pekerjaan menyanyi, menari dan berhibur semakin diagung-agungkan. Maka ketajaman iman mulai tumpul dan zaman hidup wara’ serta zuhud hampir lenyap sama sekali.

Namun begitu, Allah telah memelihara sebilangan kaum Muslimin agar tidak terjerumus ke dalam fitnah tersebut. Pada masa itulah muncul satu gerakan baru yang dinamakan Tasawuf Islami yang dipimpin oleh Hasan al-Bashri. Pengikutnya terdiri daripada lelaki dan wanita. Mereka menghabiskan masa dan tenaga untuk mendidik jiwa dan rohani mengatasi segala tuntutan hawa nafu demi mendekatkan diri kepada Allah sebagai hamba yang benar-benar taat.

Bapa Rabi’ah merupakan hamba yang sangat bertaqwa, tersingkir daripada kemewahan dunia dan tidak pernah letih bersyukur kepada Allah. Dia mendidik anak perempuannya menjadi muslimah yang berjiwa bersih. Pendidikan yang diberikannya bersumberkan al-Quran semata-mata. Natijahnya Rabi’ah sendiri begitu gemar membaca dan menghayati isi al-Quran sehigga berjaya menghafal kandungan al-Quran. Sejak kecil lagi Rabi’ah sememangnya berjiwa halus, mempunyai keyakinan yang tinggi serta keimanan yang mendalam.

Menjelang kedewasaannya, kehidupannya menjadi serba sempit. Keadaan itu semakin buruk setelah beliau ditinggalkan ayah dan ibunya. Rabi’ah juga tidak terkecuali daripada ujian yang bertujuan membuktikan keteguhan iman. Ada riwayat yang mengatakan beliau telah terjebak dalam kancah maksiat. Namun dengan limpah hidayah Allah, dengan asas keimanan yang belum padam di hatinya, dia dipermudahkan oleh Allah untuk kembali bertaubat. Babak-babak taubat inilah yang mungkin dapat menyedar serta mendorong hati kita merasai cara yang sepatutnya seorang hamba brgantung harap kepada belas ihsan Tuhannya.

Marilah kita teliti ucapan Rabi’ah sewaktu kesunyian di ketenangan malam ketika bermunajat kepada Allah:

“Ya Allah, ya Tuhanku. Aku berlindung diri kepada Engkau daripada segala yang ada yang boleh memesongkan diri daripada-Mu, daripada segala pendinding yang boleh mendinding antara aku dengan Engkau!

“Tuhanku! bintang-bintang telah menjelma indah, mata telah tidur nyenyak, semua pemilik telah menutup pintunya dan inilah dudukku di hadapan-Mu.

“Tuhanku! Tiada kudengar suara binatang yang mengaum, tiada desiran pohon yang bergeser, tiada desiran air yang mengalir, tiada siulan burung yang menyanyi, tiada nikmatnya teduhan yang melindungi, tiada tiupan angin yang nyaman, tiada dentuman guruh yang menakutkan melainkan aku dapati semua itu menjadi bukti keEsaan-Mu dan menunjukkan tiada sesuatu yang menyamai-Mu.

“Sekelian manusia telah tidur dan semua orang telah lalai dengan asyik maksyuknya. Yang tinggal hanya Rabi’ah yang banyak kesalahan di hadapan-Mu. Maka moga-moga Engkau berikan suatu pandangan kepadanya yang akan menahannya daripada tidur supaya dia dapat berkhidmat kepada-Mu.”

Rabi’ah juga pernah meraung memohon belas ihsan Allah SWT:

“Tuhanku! Engkau akan mendekatkan orang yang dekat di dalam kesunyian kepada keagungan-Mu. Semua ikan di laut bertasbih di dalam lautan yang mendalam dan kerana kebesaran kesucian-Mu, ombak di laut bertepukan. Engkaulah Tuhan yang sujud kepada-Nya malam yang gelap, siang yang terang, falak yang bulat, bulan yang menerangi, bintang yang berkerdipan dan setiap sesuatu di sisi-Mu dengan takdir sebab Engkaulah Tuhan Yang Maha Tinggi lagi Maha Perkasa.”

Setiap malam begitulah keadaan Rabi’ah. Apabila fajar menyinsing, Rabi’ah terus juga bermunajat dengan ungkapan seperti:

“Wahai Tuhanku! Malam yang akan pergi dan siang pula akan mengganti. Wahai malangnya diri! Apakah Engkau akan menerima malamku ini supaya aku berasa bahagia ataupun Engkau akan menolaknya maka aku diberikan takziah? Demi kemuliaan-Mu, jadikanlah caraku ini kekal selama Engkau menghidupkan aku dan bantulah aku di atasnya. Demi kemuliaan-Mu, jika Engkau menghalauku daripada pintu-Mu itu, nescaya aku akan tetap tidak bergerak juga dari situ disebabkan hatiku sangat cinta kepada-Mu.”

Seperkara menarik tentang diri Rabi’ah ialah dia menolak lamaran untuk berkahwin dengan alasan:

“Perkahwinan itu memang perlu bagi sesiapa yang mempunyai pilihan. Adapun aku tiada mempunyai pilihan untuk diriku. Aku adalah milik Tuhanku dan di bawah perintah-Nya. Aku tidak mempunyai apa-apa pun.”

Rabi’ah seolah-olah tidak mengenali yang lain daripada Allah. Oleh itu dia terus-menerus mencintai Allah semata-mata. Dia tidak mempunyai tujuan lain kecuali untuk mencapai keredaan Allah. Rabi’ah telah mempertalikan akalnya, pemikirannya dan perasaannya hanya kepada akhirat semata-mata. Dia sentiasa meletakkan kain kapannya di hadapannya dan sentiasa membelek-beleknya setiap hari.

Selama 30 tahun dia terus-menerus mengulangi kata-kata ini dalam sembahyangnya:

“Ya Tuhanku! Tenggelamkanlah aku di dalam kecintaan-Mu supaya tiada suatupun yang dapat memalingkan aku daripada-Mu.”

Sunday, 9 December 2012

16 KEBAIKAN SUJUD DALAM SOLAT





Pakar sains mengatakan sujud ketika solat adalah waktu manusia paling menggalakan sistem pernafasan dan mengembalikan kedudukan organ ke tempat asalnya. Percaya atau tidak, berikut adalah hikmah yang diperoleh
daripada perbuatan bersujud ketika sembahyang.

1. Membetulkan kedudukan buah pinggang yang terkeluar sedikit daripada tempat asalnya.

2. Membetulkan pundi peranakan yang jatuh.

3. Melegakan sakit hernia.

4. Mengurangkan sakit senggugut ketika haid.

5. Melegakan paru-paru daripada ketegangan.

6. Mengurangkan kesakitan bagi pesakit apendiks atau limpa. Kedudukan sujud adalah paling baik untuk berehat dan mengimbangkan lingkungan bahagian belakang tubuh.

7. Meringankan bahagian pelvis.

8. Memberi dorongan supaya mudah tidur.

9. Menggerakkan otot bahu, dada,leher, perut serta punggung ketika akan sujud dan bangun daripada sujud. Pergerakan otot ini akan menjadikan ototnya lebih kuat dan elastik,secara semula jadi dan ia juga akan memastikan kelancaran perjalanan darah.

10. Bagi wanita, pergerakan otot itu menjadikan buah dadanya lebih baik,mudah berfungsi untuk menyusukan bayi dan terhindar daripada sakit buah dada.

11. Sujud juga mampu mengurangkan kegemukan.

12. Pergerakan bahagian otot sewaktu sujud juga boleh memudahkan wanita bersalin.organ peranakan mudah kembali ke tempat asal serta terhindar daripada sakit gelombang perut.(Convulsions).

13. Organ terpenting iaitu otak kita juga akan menerima banyak bekalan darah dan oksigen.

14. Mengelakkan pendarahan otak jika tiba-tiba menerima pengepaman darah ke otak secara kuat dan mengejut serta terhindar penyakit salur darah dan sebagainya.

15. Dari segi psikologi pula, sujud membuatkan kita merasa rendah diri di hadapan Yang Maha pencipta sekali gus mengikis sifat sombong,riak takbur dan sebagainya.

16. Manakala dari sudut perubatan pula, kesan sujud yang lama akan menambahkan kekuatan aliran darah ke otak yang boleh mengelakkan pening kepala dan migrain, menyegarkan otak serta menajamkan akal fikiran sekali gus menguatkan mentaliti seseorang.


Untuk itu marilah kita sama-sama mengamalkan sujud dalam solat yang banyak dan lama-lama bagi satu-satu sujud. Dan sujud lama dalam solat terutamanya dalam solat sunat yang bersendirian adalah digalakkan di dalam Islam. Wallahu a’lam.



Thursday, 6 December 2012

HADRAT HARAMIL QUDSIYAH.



Alam Mulki :
Alam kebendaan, yang pertama-tama disadari seseorang.
Dapat diraba dan dilihat langsung dengan panca indera atau dengan alat bantu.

Alam Jabarut :
Alam yang diisi oleh mahluk jin, setan dan iblis
Orang-orang tertentu kadang-kadang mampu melihat alam ini untuk dirinya sendiri dan tidak untuk orang lain.
Apabila hal ini diceritakan kepada orang lain maka tidak semua orang akan mempercayainya dan keadaan ini dapat menimbulkan bantahan ingkar dikalangan masyarakat umum.

Alam Malakut :
Alam yang diisi oleh malaikat-malaikat. dengan izin Allah diperlihatkan kpd manusia-manusia kamil, nabi-nabi dan rasul-rasul.

Alam Lahut :
Arsy, alam yang tak ada awal, tak ada akhir, tak terbatas dan tak berwujud. Kalau terpikir bentuknya oleh manusia, maka itu bukanlah yang dimaksudkan kerana ia tiada boleh diakal-akalkan.

Ketahuilah perkataan orang-orang Arif itu bukanlah seperti maklumat isu pembaca- pembaca berita, atau catatan para wartawan pada media cetak, malah kalam-kalam mereka adalah pancaran isyarat-isyarat di sebut juga sebagai Alam Ghaib atau Alam Tinggi.
 
Pancaran ini pula melekat atau terpancang kepada hati mereka yang telah hidup sir-sirri nya. Dengan itu, apa-apa yang diucapkan adalah merupakan sesuatu yang aneh pada pandangan umum. Ketinggian dan mulianya sesuatu pengucapan itu sebenarnya diukur atau dinilai berdasarkan kehalusan maknanya yang tersirat serta dalam maksudnya yang berlapis-lapis lagi tersembunyi di samping bertebaran hikmah yang berpaksikan ketauhidan.

Dalam Hadith Qudsi ada ungkapan Firman:
"Hai hambaKu, bila engkau ingin masuk ke HaramilKu (Haramil Qudsiyah), maka engkau jangan tergoda oleh Mulki, Malakut, Jabarut kerana alam Mulki adalah syaitan bagi orang Alim dan alam Malakut adalah syaitan bagi orang Arif dan alam Jabarut adalah syaitan bagi orang yang akan masuk ke alam Qudsiyah"

Hal RAHSIA DIRI bukannya satu pekerjaan yang mudah untuk mencungkil sesuatu yang terpendam di dasar yang dalam kerana pekerjaan ini adalah pekerjaan orang-orang ahli dalam menyelam dan tahu selok belok lautan tempat di mana tersimpannya mutiara-mutiara bernilai. Selebihnya pekerjaan ini hanyalah untuk mereka yang "ahli" dengannya. Untuk mencapai kesempurnaannya pula, tidaklah cukup dengan sekadar ilmu pengetahuan semata-mata kerana ia merupakan sesuatu yang hanya dapat dicapai dengan "zauk" dan "wujdan" di mana segala asma dan rusum isyarat tidak dapat  memperihalkan akan ianya itu.

Demikianlah hal yang bersangkutan dengan rahsia- rahsia ini. Maka kupasan disinilah hanyalah sebagai sentuhan dalam tahap ilmu pengetahuan semata-mata yang dikutip dan dihimpun dari kata-kata ahli sufi yang kaya dengan pengalaman keruhaniannya.
Tidak lebih dari itu dan sememangnya ia tidak akan dapat melangkah kesempadan yang satu lagi itu tanpa Rahmat dan KurniaanNya.

"Sesungguhnya barangsiapa yang Allah tidak berikan cahaya, maka tidaklah ada cahaya baginya"

Ketahuilah bahawasanya orang yang Salik kepada Allah Taala itu apabila bersungguh-sungguh ia
berjalan kepada Tuhannya dan serta beradab ia pula dengan gurunya yang menjalaninya, nescaya diputuskan segala alam hingga sampai ia kepada Tuhannya.

Maka yang pertama-tama alam yang diputuskan atau dilalukan ialah Alam Mulki dan dinamakan juga Alam Nasut iaitu barang yang didapatkan dengan mata kepada seperti ijsam dan lain- lainnya yang dinamakan pula Alam Nafsu.

Kemudian maka dilalukan pula Alam Malakut iaitu barang didapatkan dia dengan mata hati dan iaitu Alam Qalbi dan dinamakan pula Alam Akhirat.

Maka dilalukan pula Alam Jabarut dan iaitu segala Alam Arwah, kemudian dilalukan pula
Alam Laahut dan iaitu Alam Sirri yakni RahsiaNya Allah Taala.

Jika dikaitkan dengan Hal atau Maqam ianya dinamakan Maqam Jam'ul Jami' dan Fana Ul Fana dan Baqabillah.

Jika merujuk kepada puncak tempat maka ahli sufi menggunakan istilah Haramil Qudsiyah atau Hadrat Qudsiyah dan jika ingin menunjuk tingkat-tingkat alam yang ada maka mereka menggunakan istilah Alam Lahut atau Alam Sirri sebagai Alam Tertinggi dari alam-alam lain yang ada.

Dan padanya Alam Laahut atau Alam Sirri itu hilang segala Asma' dan segala isyarat dan tiada dipandangnya di sana melainkan "Waahidun Ahad" dan padanya sehingga-hingga fana hamba dengan Tuhannya, yakni selesailah ia daripada memandang kepada Agyar dan "sucilah hatinya" daripada Akdar dan Agyar dan pada ketika itu dipenuhkan didalamnya segala makrifat yang sempurna dan Asror dan patutlah ia tempat tajalli Tuhannya dengan sebab dilepaskan daripada diperhambakan oleh segala Agyar.

Maka dinamakan tatkala itu "KaabatulLah" dan "Mahligai Allah" dan "Rumah Allah" yakni maksud
daripadanya tempat TajalliNya dan tempat tilikanNya dan tempat rahsiaNya dan patutlah baginya menanggung Amanah Rahsia Allah dan dapatlah ia mengenal Allah dengan Allah.

Bahawa Qalbu mempunyai dua mata, serupa juga dengan dua mata bagi jasad ini. Jasad dapat melihat benda-benda yang zahir dengan mata-mata zahir dan Qalbu melihat hakikat dengan mata akal. Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud...

'Tiada ada seorang hambapun melainkan Qalbunya ada mempunyai dua mata.'
 
Dengan kedua-dua mata ini dapatlah ia dicapai apa yang ghaib. Bila Allah Taala hendak memberikan kebaikan kepada hambanya, dibukakan dua mata Qalbunya supaya dapat melihat sesuatu yang ghaib dari pemandangan mata lahirnya itu.

Yang nampak habis lenyap, hapus dan fana namun begitu jiwa (ruh) itu sendiri tetap bertafakur tentang Keindahan dan Kekudusan Mutlak itu dan merenung dirinya dalam keindahanNya, yang dikurnia kepadanya kerana ia telah mencapai Hadirat Ilahi. Pada mereka benda-benda yang nampak ini fana dan hancur sirnanya.

Diperingkat tersebut itu hanya dicapai oleh beberapa orang terpilih sahaja, iaitu mereka yang hancur lebur dalam Keagungan Wajah Yang Maha Suci dan Kebesaran Tuhan Yang Maha Mulia dengan ini mereka sendiri pun fana dan lenyap hilang.
 
Malah Fana dalam Fananya.
Tidak ada lagi ruang bagi tafakur diri kerana tidak ada yang bersangkutan dengan diri. Tidak ada lagi yang tinggal kecuali Allah.

"Semuanya hancur musnah kecuali WajahNya"

Diperingkat terakhir inilah yang dikatakan sebagai Jam'ul Jami' dan Fana Ul Fana dan Baqabillah. Haramil Qudsiyah atau Hadrat Qudsiyah. Alam Laahut atau Alam Sirri.

Sekian Salam Hormat.

WASSALAM