Sunday, 10 November 2013

Mengenal Sifat-sifat Tuhan


________________________________________
Mukadimah
Berbagai argumen telah kami sajikan di hadapan Anda untuk membuktikan wujud Tuhan Pencipta manusia dan semesta buana ini. Konklusi global dan mendasar yang dapat kita ambil dari beberapa uraian dan penjelasan sebelumnya ialah bahwa alam semesta ini tidak terjadi dan terwujud dengan sendirinya. Tetapi ia memiliki pencipta yang telah mewujudkannya. Dialah Tuhan Pencipta Yang Mahakuasa dan sempurna ilmu-Nya. Apakah hanya sekedar mengenal dan meyakini adanya Tuhan Pencipta, persoalan ketuhanan ini dapat dianggap selesai? Dengan kata lain, masih perlukah kita mengenal berbagai atribut dan sifat-sifat Tuhan Pencipta tersebut? Jika ya, lalu apa manfaatnya pengetahuan lebih lanjut tentangnya? Jawabnya adalah bahwa sekedar mengenal, mengetahui dan bahkan meyakini adanya Tuhan Pencipta bagi semesta buana ini, tidak dianggap memadai. Karena hal itu tidak akan membuahkan nilai-nilai positif dalam kehidupan, baik kehidupan dalam skala personal maupun sosial, dunia dan akhirat. Karenanya, diperlukan pembahasan lebih lanjut mengenai sifat-sifat Tuhan Pencipta tersebut secara logis dan filosofis, agar tujuan hidup (meraih kebahagiaan hakiki dan sejati) dapat terealisasi.

Terlebih, tanpa mengenal sifat-sifat-Nya, bisa jadi seseorang memiliki keyakinan tentang adanya Tuhan Pencipta, sementara gambaran dan pemahamannya terhadap Tuhan Pencipta tersebut masih kabur. Karenanya, tidak sedikit orang-orang yang menganggap benda tertentu atau energi tertentu sebagai Tuhan Pencipta mereka dan semesta ini.

Pada pembahasan terdahulu, kami telah jelaskan kepada Anda bahwa sebagian besar argumen filosofis itu hanya digunakan untuk membuktikan dan menetapkan keberadaan wâjib al-wujud (wujud Tuhan yang niscaya). Sementara untuk menetapkan sifat-sifat-Nya, baik yang berupa tsubutiyah (penetapan sifat-sifat kesempurnaan bagi-Nya), maupun yang berupa salbiyah (penafian sifat-sifat negatif dari-Nya) masih diperlukan argumen lain sebagai tambahan. Dengan ditetapkannya sifat-sifat tsubutiyah, akan menjadi jelas bahwa hanya Dia-lah yang layak disembah dan diibadati. Di samping itu, peluang untuk menetapkan keyakinan-keyakinan yang lainnya, seperti masalah utusan-Nya, hari kiamat dan lain sebagainya, menjadi terbuka lebar. Sementara penetapan sifat-sifat salbiyah atau penafian segala sifat-sifat yang tidak layak dari-Nya, dimaksudkan agar Tuhan Pencipta yang merupakan wâjib al-wujud itu tersucikan dari berbagai sifat-sifat yang disandang oleh makhluk-makhluk-Nya. Tanpa mengkaji dan memahami sifat-sifat salbiyah ini, seseorang akan terjerumus kepada tasybih (anthropomorphize), yaitu menyerupakan-Nya dengan makhluk ciptaan-Nya.

Pada penjelasan yang lalu -dengan berbagai argumen logis dan filosofis- dapat kita simpulkan bahwa Tuhan Pencipta itu tidak membutuhkan sebab selain-Nya dalam wujud-Nya, karena Dia merupakan wujud mandiri. Dan Dia-lah sebagai sebab dan illat bagi semua realitas yang bersifat mungkin. Dengan demikian -sebenarnya- ada dua sifat yang telah ditetapkan bagi-Nya di dalam uraian tersebut. Dua sifat tersebut ialah:

Pertama, bahwa wâjib al-wujud tidak butuh kepada selain-Nya, karena jika Dia butuh kepada wujud yang lain sekecil apa pun, maka wujud yang lain itu merupakan sebab bagi-Nya. Sementara telah kita ketahui bahwa hal itu mustahil terjadi bagi Tuhan Pencipta, karena akan terjadi tasalsul yang dinilai absurd.

Kedua, bahwa semua wujud yang bersifat mungkin adalah akibat yang membutuhkan sebab. Sementara tidak ada sebab dan illat lain selain Tuhan Pencipta sebagai wâjib al-wujud yang merupakan sebab dan illat utama bagi kemunculan dan keberadaan wujud-wujud mungkin tersebut.

Pada pembahasan kita kali ini, berdasarkan dua kesimpulan di atas, kami akan membahas konsekuensi masing-masing yang berhubungan dengan kedua sifat tersebut. Sehubungan dengan penetapan sifat-sifat tsubutiyah dan salbiyah, kami akan menjelasakan argumen-argumen yang sederhana dan sesuai dengan pembahasan-pembahasan yang telah lalu, agar dapat dipahami dengan mudah.

Tuhan Bersifat Azali dan Abadi
Penjelasan mengenai wujud mungkin atau mumkin al-wujud telah kita lewati pada pembahasan yang lalu. Ciri-ciri wujud mungkin adalah bahwa ia tidak wujud (eksis) secara mandiri, tetapi ia merupakan realitas akibat yang keberadaannya membutuhkan kepada realitas lainnya. Dengan demikian, ia berarti bergantung kepada wujud selainnya, karena ia pernah mengalami ketiadaan pada masa tertentu. Ketiadaan dan kesirnaannya pada masa tertentu itu menunjukkan bahwa dia butuh kepada selainnya, yaitu butuh kepada yang mengadakannya, Dialah wujud wâjib atau wâjib al-wujud. Mengingat bahwa wâjib al-wujud itu ada dengan sendirinya dan tidak membutuhkan kepada yang selainnya, maka berarti Dia bersifat abadi dan azali. Abadi artinya wujud-Nya tidak berakhir dan tidak diakhiri atau dibatasi oleh sesuatu. Azali artinya bahwa wujud-Nya tidak bermula atau tidak didahului oleh ketiadaan pada masa tertentu.

Dari uraian di atas, kita dapat menetapkan dua sifat pada wâjib al-wujud. Pertama, bahwa wâjib al-wujud itu bersifat azali, yakni Dia tidak didahului oleh ketiadaan. Kedua, Dia adalah abadi, yakni tidak akan tersentuh oleh ketiadaan selama-lamanya. Kedua sifat ini dapat juga disebut dengan sifat sarmadi.

Berdasarkan penjelasan ini, setiap sesuatu yang didahului oleh ketiadaan, atau ada kemungkinan menjadi sirna -walaupun hanya sekejap-, maka ia bukanlah wâjib al-wujud. Dari penjelasan ini menjadi jelas bahwa materi, sekuat apapun, tidak mungkin dan mustahil sebagai wâjib al-wujud atau wujud yang niscaya.

Sifat-sifat Positif dan Negatif
Sifat-sifat tsubutiyah atau positif ialah segala sifat kesempurnaan, seperti mahakuasa, mahatahu, mendengar, melihat dan lain sebagainya. Bila dikatakan bahwa Tuhan Pencipta itu mesti menyandang sifat-sifat tsubutiyah, artinya bahwa Dia memiliki berbagai sifat-sifat kesempurnaan yang tidak terbatas, berbeda dengan sifat-sifat kesempurnaan yang ada pada makhluk-Nya. Sifat-sifat kesempurnaan yang terdapat pada manusia itu terbatas dan bersumber dari-Nya. Lawan dari sifat-sifat tsubutiyah ialah sifat-sifat salbiyah (sifat-sifat negatif). Tuhan Pencipta Mahasuci dari sifat-sifat negatif ini, seperti tidak kuasa, tidak pandai, terangkap dan tersusun dan lain sebagainya. Tuhan Pencipta bersifat kuasa, esa dan basâthah (sederhana), artinya Dia tidak tersusun atau terangkap, karena Dia mandiri dan tidak butuh kepada selain-Nya. Sementara makhluk-makhluk-Nya, manusia misalnya, tersusun dari jasmani dan ruhani. Jasmaninya tersusun dan terangkap dari bermacam-macam anggota. Dan setiap yang tersusun dan terangkap pasti membutuhkan kepada yang lainnya yang merupakan sebab baginya.

Apabila kita berasumsi bahwa Tuhan Pencipta itu tersusun, tetapi bagian-bagiannya tidak ada secara fi'li (aktual), artinya belum terwujud saat sekarang ini dan akan muncul kemudian (bil quwwah/potensial), maka asumsi semacam ini batil. Karena sesuatu yang mempunyai bagian-bagian secara bil quwwah atau yang akan muncul kemudian, secara rasional pasti akan dapat dibagi. Walaupun secara fi'li (aktual=pada saat sekarang), bagian-bagiannya itu belum terealisasi dan belum terwujud. Dan adanya asumsi bahwa Tuhan Pencipta itu dapat dibagi, hal ini memestikan bahwa secara keseluruhan Dia bisa sirna. Misalnya seperti garis yang panjangnya satu meter. Apabila garis itu dibagi dua, yakni menjadi dua kali setengah meter, maka garis yang panjangnya satu meter tersebut telah sirna dan tidak ada lagi. Sementara telah kita pahami dari pembahasan yang telah lalu, bahwa Tuah Pencipta (wâjib al-wujud) tidak mungkin mengalami kefanaan ...(transient) dan kesirnaan, walaupun hanya sekejap saja.

Selain itu, perlu diperhatikan bahwa di antara karakter benda dan materi itu dapat disusun dan dirangkap, baik secara bil fi’li (aktual) maupun secara bil quwah (potensial). Sementara non-materi tidaklah demikian. Hal ini dapat ditangkap secara logis, sehingga tidak memerlukan kepada pemikiran filosofis yang dalam atau analisa dan penelitian. Dengan kata lain, bahwa setiap materi itu terangkap, dan setiap yang terangkap mustahil sebagai wâjib al-wujud dan Tuhan Pencipta. Berdasarkan hal di atas, kita dapat pula menetapkan kenon-materian Tuhan. Menjadi Jelas pula, bahwa Tuhan tidak mungkin dapat dilihat dengan mata kepala dan tidak mungkin dapat dijangkau dengan indera apapun, karena setiap yang dapat dilihat dan dijangkau oleh indera merupakan sifat-sifat khas benda dan materi. Sementara telah kita buktikan bahwa Tuhan itu non-materi.

Sampai di sini, kita telah dapat menetapkan sifat salbiyah lainnya bagi Tuhan Pencipta, yaitu ternafikannya ciri dan karakter materi dari zat-Nya. Dengan ternafikannya sifat materi tersebut, maka akan ternafikan pula semua sifat-sifat yang disandang oleh benda dan materi dari-Nya, seperti butuh kepada tempat dan masa. Karena ketika kita menggambarkan sebuah tempat, maka akan tergambar sesuatu yang memiliki bentuk dan panjang yang menempati tempat tersebut. Dengan demikian, mustahil bagi Tuhan Pencipta membutuhkan tempat. Demikian pula dengan masa. Setiap sesuatu yang bermasa dan tidak lepas dari zaman, pasti dapat dibagi kepada ekstensi masa dan durasinya. Oleh karena itu, hanya materi sajalah yang bermasa atau membutuhkan masa. Dengan penjelasan ini, dapat pula ditetapkan bahwa wâjib al-wujud tidak butuh kepada masa dalam wujud-Nya. Dan setiap yang membutuhkan tempat dan masa pasti bukan wâjib al-wujud.

Dengan demikian, kita sama sekali tidak mungkin dapat menggambarkan Tuhan Pencipta itu sebagai dzat yang butuh kepada tempat dan masa. Begitu pula, segala sesuatu yang membutuhkan tempat dan masa bukanlah wâjib al-wujud. Kemudian dengan ternafikannya waktu atau masa dari wâjib al-wujud, maka akan ternafikan pula adanya gerak, perubahan dan penyempurnaan dzat dari-Nya. Karena, setiap gerak atau perubahan apapun tidak mungkin terwujud tanpa masa. Oleh karena itu, orang-orang yang meyakini bahwa Tuhan Pencipta itu berada pada satu tempat seperti 'arsy atau menisbahkan gerak kepada-Nya, seperti Dia turun dari langit, atau meyakini bahwa Tuhan itu dapat dilihat dengan mata, atau dapat berubah dan meningkat, maka sebenarnya mereka tidak dan belum mengenal Tuhan dengan sebenarnya. Atau Tuhan yang mereka kenal itu adalah bukan Tuhan yang sebenarnya, melainkan Tuhan buatan, gambaran dan khayalan mereka sendiri. Secara global, bahwa setiap arti, gambaran dan konsep atau pemikiran yang menunjukkan kekurangan, keterbatasan dan kebutuhan pada dzat Tuhan, maka hal itu semua ternafikan dari dzat-Nya Yang Mahasuci. Inilah yang dimaksud dengan sifat salbiyah Ilahiyah (sifat-sifat negatif bagi Tuhan).

Sebab Pengada
Kesimpulan kedua yang dapat kita ambil dari argumen yang terdahulu ialah: bahwa wâjib al-wujud merupakan sebab dan illat (cause) bagi keberadaan makhluk-makhluk-Nya. Berikut ini kami akan membahas konsekuensi dari kesimpulan tersebut. Pertama-tama, kami akan menjelaskan macam-macam sebab, kemudian menyelidiki keistimewaan-keistimewaan Sebab Ilahi.

Sebab atau illat -secara umum- adalah setiap realitas dimana realitas lain terwujud dan bergantung kepadanya. Dan sesuatu yang bergantung dan terwujud darinya itu disebut akibat atau ma’lul. Sebab atau illat mencakupi juga syarat-syarat dan sebab penyiap (‘illat muiddah, preparing causes). Telah kita buktikan bahwa Tuhan Pencipta bersifat mandiri, sehingga tidak butuh kepada sebab apapun. Tidak adanya sebab bagi Tuhan, artinya bahwa Dia tidak mempunyai ketergantungan dengan realitas yang lain sekecil apapun. Oleh karena itu, tidak mungkin kita menyatakan bahwa Tuhan Pencipta mempunyai syarat dan pengada bagi wujud dan keberadaan-Nya.

Telah dijelaskan di atas bahwa Tuhan sebagai sebab dan illat utama bagi selain-Nya. Artinya bahwa Dia sebagai pencipta dan pengada seluruh makhluk-Nya. Dan hal itu merupakan makna khusus dari 'illah fâiliyah (sebab pelaku, efficient cause). Untuk menjelaskan poin ini, terlebih dahulu kita harus mengetahui secara global akan macam-macam sebab. Penjelasan yang lebih luas mengenai hal ini bisa dirujuk ke kitab-kitab Filsafat.

Telah kita ketahui, bahwa secara pasti munculnya tumbuh-tumbuhan di atas bumi ini disebabkan oleh adanya bibit-bibit, tanah yang subur, air dan udara. Di samping itu, harus pula terpenuhi faktor-faktor lainnya, seperti faktor alami atau insani yang menebarkan bibit-bibit tersebut di atas tanah dan mengalirkan air ke atasnya. Berdasarkan definisi sebab atau illat yang telah kami jelaskan, semua faktor-faktor ini merupakan sebab munculnya tumbuh-tumbuhan tersebut.

Dari aspek-aspek tertentu, sebab-sebab tersebut dapat diklasifikasikan kepada beberapa macam. Misalnya, sebab-sebab yang keberadaannya senantiasa bersifat dharuri (mesti) bagi terwujudnya akibat, hal itu dinamakan sebagai sebab hakiki (real cause). Sekelompok sebab yang kesinambungannya tidak diperlukan untuk kesinambungan wujud akibat, seperti petani -sehubungan dengan tanaman yang ditanamnya- dinamakan sebagai sebab penyiap (preparing causes). Ada pula sebab-sebab yang posisinya dapat digantikan oleh sebab-sebab selainnya, hal itu dinamakan sebagai sebab alternatif (illah badilah). Sedangkan sebab-sebab yang posisi dan pengaruhnya tidak mungkin digantikan oleh selainnya, maka ia dinamakan sebagai sebab eksklusif (‘illah munhasirah).

Terdapat satu macam sebab lain yang berbeda dengan sebab-sebab yang disebutkan pada realitas tumbuh-tumbuhan di atas. Sehubungan dengan sebab ini, kita dapat menemukan contohnya pada jiwa manusia dan sebagian keadaan dan kondisi kejiwaannya. Ketika seseorang menciptakan suatu bayangan atau gambaran di dalam benaknya, atau bertekad mengerjakan suatu tindakan, maka akan terjadilah di dalam dirinya suatu fenomena kejiwaan yang dinamakan dengan gambaran mental (shurah zihniyah), atau kehendak yang keberadaannya merupakan akibat dan bergantung kepada keberadaan jiwa (nafs). Jelas, akibat semacam ini tidak memiliki kemandirian sedikit pun dari sebabnya, dan tidak mungkin berpisah dan mandiri dari wujud sebabnya.

Tetapi pada saat yang sama, kita perhatikan bahwa “penciptaan jiwa” (fâ'iliyah nafs) atas gambaran di mental atau atas kehendak, hal itu memerlukan syarat-syarat tertentu yang muncul lantaran kekurangan, keterbatasan dan kemungkinan (imkan) wujud yang merupakan sifat-sifat substansial jiwa.

Oleh karena itu, penciptaan wâjib al-wujud atas alam raya ini, jauh lebih hebat dan lebih sempurna dibandingkan dengan penciptaan jiwa atas keadaan dan pengalaman-pengalaman dirinya. Kita tidak akan mendapatkan padanan ciptaan Tuhan atas seluruh ciptaan. Karena ciptaan Tuhan sama sekali tidak butuh kepada apapun untuk mengadakan akibat-Nya, yaitu akibat yang sekujur wujudnya hanyalah ketergantungan mutlak kepada-Nya.

Keistimewaan Sebab Pengada
Berdasarkan penjelasan di atas, kami dapat menyebutkan sifat-sifat khas yang penting yang dimiliki oleh Sebab Pengada (creative cause, illah mujidah).

Pertama, Sebab pengada memiliki seluruh kesempurnaan -yang dimiliki oleh akibatnya- secara lebih sempurna, sehingga ia bisa memberikan kesempurnaan kepada setiap akibat sesuai dengan kapasitas wujudnya masing-masing. Berbeda halnya dengan sebab penyiap dan sebab materi yang berlaku sebagai pengadaan lahan yang sesuai untuk perubahan pada wujud akibat, bukan untuk wujudnya itu sendiri. Oleh karena itu, sebab penyiap dan sebab materi tidak mesti mencakupi kesempurnaan-kesempurnaan yang terdapat pada akibatnya.

Misalnya, tersedianya tanah itu tidak perlu kepada kesempurnaan yang dimiliki oleh tumbuh-tumbuhan, atau keberadaan kedua orang tua tidak butuh kepada kesempurnaan anak-anaknya. Adapun Tuhan sebagai sebab pengada (creative cause, illah mujidah), mesti memiliki semua kesempurnaan-kesempurnaan wujud segala sesuatu, di samping sifat basatah-Nya (ketaktersusunan). Dengan kata lain bahwa segala kesempurnaan yang ada pada ciptaan Tuhan, pasti dimiliki oleh Tuhan sebagai penciptanya. Bahkan kesempurnaan yang ada pada Tuhan itu jauh lebih tinggi dan tidak bisa digambarkan atau dipadankan dengan segala kesempurnaan yang dimiliki makhluk-Nya.

Kedua, Sebab pengada itu mewujudkan akibatnya dari ketiadaan. Yakni, dia dapat menciptakan akibatnya. Tetapi, penciptaannya itu tidak mengurangi wujudnya sedikit-pun. Berbeda halnya dengan sebab alami (fa'il tabi'i) yang aktif, yaitu mengubah akibat yang ada dengan mengerahkan seluruh potensi. Apabila diasumsikan ada sesuatu yang terpisah dari dzat wâjib al-wujud, ini berarti bahwa dzat Tuhan dapat dibagi dan berubah. Padahal, ini telah jelas kemustahilannya.

Ketiga, Sebab pengada merupakan sebab sejati (real cause, 'illat hakikiyah). Oleh sebab itu, keberadaannya merupakan dharuri (niscaya) untuk kesinambungan wujud akibatnya. Berbeda dengan sebab penyiap; kesinambungan akibatnya tidak lagi butuh kepadanya.

Sehubungan dengan penjelasan tersebut, maka apa yang telah disampaikan oleh sebagian teolog bahwa kekekalan semesta tidak butuh kepada Tuhan, begitu juga apa yang dikatakan oleh sebagian filosof Barat, bahwa alam materi ini laksana jam yang telah diatur dan diukur putaran waktunya, lalu secara otomatis bergerak dengan sendirinya, sehingga alam semesta ini tidak butuh lagi kepada Tuhan Pencipta dalam melanjutkan berbagai aktifitasnya, maka pandangan-pandangan seperti ini jauh dari kebenaran. Karena alam wujud ini selalu butuh dan bergantung kepada Tuhan dalam segala keadaannya. Apabila Tuhan Pencipta itu menghentikan anugerah-Nya, walaupun hanya sekejap saja, maka akibatnya tidak akan ada lagi yang tersisa dari alam tersebut.(al Mubalaghah)

Smoga ALLAH bagi kefahaman buat kita smua.. adapun ilmu mengenal ALLAH ini adalah ilmu yang wajib di pelajari keatas setiap individu Islam, yakni fadhu ain.


Monday, 14 October 2013

KENAPAKAH ADA NAMA SURAH LUQMAN DLM QURAN..??





Diakui tiada detail mengenai Lukmanul hakim dlm quran. Kisahnya banyak dari Israeliat/ahli2 kitab yahudi & nasrani terdahulu.

Cuma di pondok bila kami tanya kenapakah nama surah itu diletakkan namanya/apakah lebihnya beliau, maka lazimnya tok guru akan ceritakan satu kisah di zaman seorang raja yahudi yang kebingungan apabila rakyatnya ramai mati diserang pelbagai penyakit kronik.

Lalu semua pendeta/ahli kitab dipanggil untuk menasihati raja tentang bagaimana sejarah penyelesaian kes terdahulu jika masalah seumpama itu melanda negara. Pendeta memaklumkan kepada raja bahawa raja terdahulu mengatasinya dengan bertanyakan ramuan ubatan kepada binatang-binatang yang ada. Dan untuk membolehkan memahami bahasa bianatang, raja perlu bertapa/berwirid menggunakan nama tuhan untuk tempoh tertentu hingga tuhan memberi petunjuk. Tempat pertapaan boleh dipilih sama ada di bukit, dalam gua, dalam laut dan sebagainya.

Raja bersetuju dan mengarahkan persediaan dibuat untuk baginda bertapa di dalam laut. Kotak cermin dibina dengan saluran udara khas sedalam lebih 30 kaki, dengan bekalan makanan memadai untuk tempoh 40 hari. Tidak berapa lama bertapa akhirnya Allah menghantar sepasang tangan ghaib mencampakkan satu bungkusan mengandungi gandum diiringi satu suara mengarahkan raja makan roti dari gandum itu, bagi membolehkannya memahami bahasa semua binatang.

raja memberi isyarat agar kotak pertapaannya dinaikkan dan dengan gembira mengumumkan kpd rakyat bahawa baginda telah berjaya mendapat petunjuk Tuhan untuk mengubati semua penyakit rakyatnya. Gandum diserahkan kepada tukang masak istana untuk dibuat roti. Sementara raja masuk berehat/tidur dan akan makan selepas bagun nanti.

Di dapur tukang masak istana ada seorang kanak-kanak berusia bawah 10 tahun yang bebas bermain kerana salah seorang tukang masak itu adalah ibunya. Setelah penat bermain dan merasa lapar budak kecil tersebut seperti biasa ke dapur tempat ibunya berkerja untuk makan. Tanpa sengaja beliau membuka saji dan makan roti yang dimasak oleh ibunya dari gandum hasil pertapaan siraja, hingga habis kerana menyangka seperti makanan2 lain sebelumnya.

Apabila raja bangun, maka diminta roti untuk dimakan. Siibu segera menyediakan roti lain. Setelah dimakan, raja memanggil semua pegawainya untuk cuba memahami bahasa kuda, keldai yang ada. Namun didapati baginda tidak faham sepatahpun.

Semua pendeta sekali lagi dipanggil utnuk memberi keterangan. Pendeta bertanya siraja adakah benar roti yang dimakan itu hasil dari gandum yang diperolehi dari pertapaan..?? Lalu tukang masak dipanggil. Beliau mengaku roti yang asalnya dari gandum pertapaan itu telah habis dimakan oleh anaknya yang masih kecil dan beliau memasak roti baru dari gandum yg sedia ada di dapur istana untuk santapan raja.

Raja pada awalnya amat murka, namun segera reda setelah menyedari yang memakannya adalah budak yang masih kecil. Lalu raja meminta untuk budak tersebut di bawa kepada bianatang. Ternyata anak tukang masak istana itu memahami semua bahasa binatang. Dari situ semua ramuan ubatan dapat diterjemah dari bahasa bianatang kepada bahasa manusia dan semua binatang dikumpulkan di sekitar istana (zoo) bagi membolehkan semua ramuan ubatan pelbagai penyakit dapat dicatat.

Sejak itulah raja melantik budak tersebut sebagai salah seorang menteri kanannya dan memerintahkan sesiapa yang menyebut namanya tanpa diiringi menyebut gelaran "Al-Hakim" (yang bijaksana) wajib dihukum bunuh. Budak bertuah itulah yang namanya tercatat sebagai salah satu surah dalam Al-Quran iaitu "Luqman".




Sunday, 29 September 2013

AHLUL BAIT & KEPIMPINAN "ULAMA" Cahaya Atas Cahaya



( ٱللهُ نُورُ السَّماواتِ وَ الْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكاةٍ فيها مِصْباحٌ الْمِصْباحُ في زُجاجَةٍ الزُّجاجَةُ كَأَنَّها كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لا شَرْقِيَّةٍ وَلا غَرْبِيَّةٍ يَكادُ زَيْتُها يُضيءُ وَلَوْلَمْ تَمْسَسْهُ نارٌ نُورٌ عَلى نُورٍ يَهْدِي اللهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشاءُ وَ يَضْرِبُ اللهُ الْأَمْثالَ لِلنَّاسِ وَ اللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَليمٌ )

Allah SWT berfirman:

“ Allah adalah cahaya seluruh langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah tempat pelita yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu berada dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang penuh berkah, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api (lantaran minyak itu sangat bening berkilau). Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis). Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (An Nur: 35)

"Allah adalah cahaya seluruh langit dan bumi" Allah SWT menguasai segala yg dilangit dan dibumi dengan cahayaNya. Setiap sesuatu yg diciptakanNya bermula dari cahaya yg satu. Kemudiannya cahaya itu berpecah menjadi 2 dalam bentuk unsur hitam dan putih. Cahaya Hitam adalah unsur dunia manakala Cahaya Putih pula berunsur akhirat.Dari cahaya yg berunsur hitam ianya berpecah menjadi 4 keperluan asas utk dunia iaitu tanah,air,api dan angin. Daripada 4 perkara asas itu maka terjadinya Alam dan Manusia. Dari cahaya yg berunsur putih pula ianya berpecah menjadi 4 jenis keperluan asas utk akhirat iaitu Syariat,Tarekat,Hakikat dan Makrifat. Semua ilmu berasal dalam bentuk cahaya sebelum ilmu itu dizahirkan melalui manusia. Daripada 4 perkara ini terbentuknya Islam dan masa. Mungkin anda bertanya bagaimana daripada Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat boleh wujudnya Masa.

Allah SWT mempunyai kaedah dan tertib didalam penciptaanNya. Allah SWT tidak mencipta manusia lebih dulu dan kemudiannya baru mencipta dunia. Dunia dijadikan lebih dulu sebelum Nabi Adam as engkar pada perintah Allah SWT. Manusia akan melakukan yg sebaliknya. Ini membuktikan Allah SWT itu Maha Mengetahui sedangkan manusia diciptakan tanpa berilmu. Islam lebih dulu diciptakan sebelum diciptakan alam dan manusia. Kerana adanya Islam lah masa diciptakan dan bukan sebaliknya.

Islam perlu dimulakan didalam keadaan bermasa dan berakhir didalam keadaan yg tidak bermasa. Islam perlu dimulakan didalam keadaan berdunia dan berakhir didalam keadaan tidak berdunia. Pertamanya Islam diciptakan dalam bentuk Nur Ilahi, yg keduanya manusia dlm bentuk Nur Muhamad, yg ketiganya Masa dalam bentuk Nur Ain dan yg keempatnya dunia dalam bentuk Nur Alam. Apabila penciptaan itu dizahirkan daripada bentuk cahaya kepada bentuk nyata maka ia bermula dari yg keempat iaitu Dunia dan kemudiannya Masa,Manusia dan akhirnya Islam. Allah SWT menggunakan konsep dimana ianya berakhir, maka disitulah ianya bermula kembali.

Apabila Islam diciptakan lebih dulu daripada yg lain maka ini membuktikan Allah SWT telah menyediakan ubat lebih dulu daripada penyakit. Allah SWT tidak akan mengizinkan sesuatu masalah itu terjadi sekiranya jalan penyelesaiannya tidak disediakan didalam Al Quran. Kenapakah umat Islam tidak berjumpa dengan jalan penyelesaian kepada masalah yg dihadapi sekarang melalui Al Quran?

*** Disini tidak dijelaskan tentang penciptaan Malaikat dan Jin kerana ia memerlukan ilmu Makrifat utk memahami konsep penciptaan Nur dan Api.

"Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah tempat pelita yang di dalamnya ada pelita besar". Nur Ilahi diumpamakan seperti sebuah tempat yg didalamnya ada pelita iaitu Al Quran. Al Quran adalah seumpama sebuah pelita besar yg memancarkan cahaya utk menerangi hati manusia dengan Nur Ilahi.

"Pelita itu berada dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang penuh berkah, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api (lantaran minyak itu sangat bening berkilau)". Al Quran yg bercahaya itu pula berada didalam Nur Muhamad dan Nur Muhamad pula berada didalam diri Rasulullah saw. Nur Muhamad diumpamakan seperti kaca yg seakan-akan bintang yg bercahaya. Kaca yg bersih itu boleh membiaskan cahaya manakala bintang membawa maksud petunjuk arah yg tepat. Nur Muhamad berfungsi seumpama cermin yg akan membiaskan cahaya Allah SWT ke hati manusia utk memberi petunjuk ke jalan yg benar. Nur Muhamad boleh diumpama seperti kilauan yg ada didalam sebuah lampu suluh atau lampu kereta. Cahaya yg terpancar dari mentol itu akan dibiaskan oleh kilauan yg ada didalam lampu tersebut supaya cahaya akan menyuluh ke hadapan utk menerangi jalan. Begitulah juga caranya Nur Muhamad membiaskan Nur Allah ke hati manusia. Jika hati manusia itu berkilau dengan Nur Muhamad, maka dia pula akan membiaskan cahaya itu kepada manusia yg seterusnya.

"yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang penuh berkah, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api (lantaran minyak itu sangat bening berkilau)". Perumpamaan minyak pada ayat ini membawa maksud kalimah. Dengan wujudnya kalimah didalam diri manusia maka terpancarlah cahaya Nur Muhamad didalam hatinya. Perumpamaan pokok zaitun yg tidak tumbuh di timur atau dibarat bermaksud agama iaitu Islam. Hanya melalui Islam saja manusia boleh menghidupkan kalimah didalam hatinya. Islam mesti berkembang ke seluruh dunia tanpa ada persempadanan timur atau barat.

Cahaya di atas cahaya bermaksud Para-para Nabi adalah cahaya yg membawa cahaya. Rasulullah saw adalah penghulu para-para Nabi dan Nur Muhamad bersumber daripada Rasulullah saw. Nabi Muhamad yg pertama dijadikan dan yg terakhir diutuskan. Nur Muhamad wujud didalam diri para-para Nabi sebagai pembawa Nur Allah kepada manusia.

Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki. Para-para Nabi hanya sebagai pembawa petunjuk sahaja tetapi akhirnya Allah SWT jualah yg akan menentukan kesudahannya. Kalau orang itu diterima maka Allah SWT yg akan membawa manusia itu kepada cahayaNya.

Kesimpulannya:

1. Ada 4 lapisan cahaya yg terkumpul didalam satu pusat cahaya.

2. Cahaya itu terbahagi pula kepada 2 pasangan iaitu Nur Ilahi dan Nur Muhamad.

3. Nur Ilahi adalah cahaya dilangit dan Nur Muhamad pula adalah cahaya dibumi.

4. Cahaya Al Quran dan Nur Muhamad bersatu didalam diri Rasulullah saw. utk membentuk perhubungan diantara Allah SWT dan RasulNya.

5. Nur Muhamad berfungsi sebagai pembias cahaya daripada Al Quran kepada manusia melalui saluran utamanya iaitu Rasulullah saw.

6. Hati yg dihidupkan dengan kalimah akan menghidupkan pula Nur Muhamad didalam hatinya.

7. Hati yg hidup dengan Nur Muhamad pula akan tertangkap kepada cahaya Al Quran yg dibiaskan dari Rasulullah saw.

Pecahan Cahaya'

1. Nur Ilahi berpecah menjadi 99 asma (asma ul husna) 2. Nur Al Quran berpecah menjadi 7 (Al Fatihah) 3. Nur Muhamad berpecah menjadi 5 (Adam,Nuh,Ibrahim,Musa,Muhamad) 4. Nur Islam berpecah menjadi 3 (Khalifah,Imam,Ulama) 5. Nur Syahadah hanya menjadi 1 (Kalimah)

Rasulullah bersabda:

"Aku telah diutuskan dalam keadaan yang terbaik pada semua keturunan anak Adam, sejak kejadian mereka" (Sahih Bukhari, Jild 4, Buku 56, No. 757)

Nur Muhamad yg hidup dihati adalah tempat utk Nur Ilahi bertapak. Nur Muhamad berfungsi seperti sebuah cermin yg akan menangkap Nur Ilahi dari Al Quran dan membiaskan pula Nur Ilahi itu ke hati manusia utk mendapat petunjuk. Apabila kalimah hidup dalam hati manusia maka bersinarlah Nur Muhamad yg ada didalam hatinya. Dengan bersinarnya Nur Muhamad maka tertangkaplah Nur ilahi kedalam hatinya seperti lensa kamera video yg menangkap cahaya. Nur Muhamad kemudiannya membiaskan Nur Ilahi ke hati manusia yg seterusnya. Dengan cara ini maka Nur Ilahi akan terpancar dari satu manusia ke satu manusia yg lain dan begitulah seterusnya cahaya itu berjalan. Nur Muhamad bersumber daripada Rasulullah saw dan Nur Muhamad itu diwariskan pula kepada ahlul bait Baginda setelah kewafatan Baginda saw. Sebab itu Baginda saw berpesan supaya manusia mesti berpegang dua perkara iaitu Kitabullah Azza Wa Jal dan Ahlul Bait Baginda. Tanpa kedua-duanya maka manusia akan sesat kerana tidak akan mendapat petunjuk daripada Allah SWT. Maka perhatikanlah bagaimana kita memperlakukan kepada keduanya setelah kewafatan Rasulullah saw. Inilah perkara yg patut ulama perhatikan. "Sesungguhnya aku meninggalkan bagi kamu dua buah benda peninggalan yang berat kadarnya, pada lain riwayat, sesungguhnya aku meninggalkan bagi kamu dua peninggalan yang jika kamu berpegang padanya tidak akan kamu sesat sepeninggalanku. Salah satunya lebih besar dari yang kedua, yaitu kitab Allah azza wajalla seumpama tali penghubung yang kokoh terentang dari langit sampai kebumi dan keluargaku ahlil baitku, keduanya tidak akan terpisah satu dengan yang lain hingga bertemu denganku diakhirat ditelaga Haudh/kautsar maka perhatikanlah kamu bagaimana kamu sepeninggalku memperlakukan keduanya".

Diriwayatkan oleh Muslim dan tirmidzi

Umat Islam sepatutnya dibimbing oleh Ulama-Ulama yg berbai'at dengan wakil Rasulullah saw. Dengan cara ini barulah ulama tersebut diberi petunjuk melalui Al Quran bagaimana utk menyelesaikan masalah yg dihadapi oleh umat Islam sekarang. Keadaan umat Islam sekarang seperti layang-layang terputus tali. Perhubungan ulama dengan Rasulullah saw tidak wujud lagi. Maka Ulama hanya boleh bergantung kepada ilmunya sahaja. Masalah pasti tidak selesai. Perhubungan ulama sekarang dengan Rasulullah saw terputus angkara perbuatan Yahudi yg sememangnya memahami bagaimana utk melemahkan Islam. Mereka sudah menjalankan kerja jahat ini beratus-ratus tahun dahulu semasa era penjajahan. Janganlah kita saling menuding jari. Umat Islam terdahulu pun jangan disalahkan malah kita harus berterima kasih kepada mereka kerana diatas usaha dakwah mereka juga kita hari ini beragama Islam. Binalah semula Islam dalam semangat berkasih sayang kerana Allah SWT. Insafi lah betapa kasihnya Rasulullah saw kepada kita. Mudah-mudahan melalui ayat dan hadis diatas Allah SWT memberi petunjuk kepada kita tentang apakah punca masalah umat Islam pada hari ini.

Islam Dan Kepimpinan

Setelah penjajahan melanda wilayah2 Islam, kepimpinan Islam telah diserang dengan hebat. Dengan tertegaknya sistem kufar sekali gus ini mematikan kuasa Raja dan Ulama utk berkuasa semula didalam kerajaan. Penjajah sudah pastikan hanya kepimpinan Melayu yg sudah disebatikan dengan pendidikan barat sahaja boleh diberikan kuasa utk membentuk kerajaan. Sejak itu umat Islam berada pada satu tahap kekeliruan fahaman yg kritikal. Pelajar-pelajar yg memegang diploma, ijazah, masters dan Phd dalam bidang syariat mula diberi tempat didalam pentadbiran Islam. Pentadbiran Islam pula telah diletakkan dibawah kuasa politik. Apakah dengan menguasai ilmu dibidang syariat sahaja sudah melayakkan seseorang itu utk berfatwa bagi pihak Allah SWT. Benarkah begitu caranya Islam ditadbir bagi pihak Allah SWT?

Islam terbentuk daripada 4 komponen iaitu Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat. Setiap satu komponen itu mempunyai fungsinya tersendiri. Syariat hanyalah salah satu daripada komponen yg diperlukan untuk menghidupkan Islam di sepanjang zaman. Sistem pendidikan Islam sekarang tidak merangkumi pengajian Tarekat, ini tidak menepati keperluan pendidikan Islam yg sempurna. Tarekat tidak berfungsi maka Hakikat dan Makrifat akan mati. Apabila makrifat mati maka fungsi Al Quran juga akan turut mati. Apa ertinya Islam tanpa cahaya Al Quran?

Daripada Ali bin Abi Thalib r.a. berkata: Telah bersabda Rasulullah saw.; "Sudah hampir sampai suatu masa di mana tidak tinggal lagi daripada Islam ini kecuali hanya namanya, dan tidak tinggal daripada Al-Quran itu kecuali hanya tulisannya. Masjid-masjid mereka tersergam indah, tetapi ia kosong daripada hidayah. Ulama mereka adalah sejahat-jahat makhluk yang ada di bawah kolong (naungan) langit. Dari mereka berpunca fitnah, dan kepada mereka fitnah ini akan kembali". Di riwayatkan oleh al Baihaqi.

Cuba kita renungkan hadis diatas. Perkataan ‘ulama mereka’ ditujukan kepada ulama pada zaman Islam sudah tinggal nama, Al Quran hanya tinggal tulisan dan mesjid tersergam indah tapi kosong daripada hidayah. Perkataan ‘fitnah’ di dalam hadis diatas pastinya dikaitankan dengan fahaman yg disampaikan oleh ulama tersebut pada umat Islam dizaman itu sehingga berlakunya tiga masalah seperti yg disebut didalam hadis diatas. “Ulama mereka” dan Ulama Pewaris Nabi adalah dua kategori ulama yg berbeza.

Apabila Tarekat pupus, maka Hakikat dan Makrifat turut sama pupus. Ini bermakna tiada lagi golongan Hakikat dan Makrifat di dalam masyarakat Islam. Jika Makrifat sudah pupus maka muncul ulama-ulama seperti yg dimaksudkan di dalam hadis tersebut. Manusia yg belum mencapai taraf Makrifat adalah manusia yg belum sempurna Islamnya. Oleh kerana pada masa itu sudah tidak ada lagi manusia yg sampai ke peringkat Makrifat, maka umat Islam melantik orang-orang yg mempunyai ilmu agama tetapi belum sempurna Islamnya untuk menjadi ‘ulama mereka’.

Daripada Abdullah bin Amr bin 'ash r.a. berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Bahawasanya Allah swt. tidak mencabut (menghilangkan) akan ilmu itu dengan sekaligus dari (dada) manusia. Tetapi Allah swt. menghilangkan ilmu itu dengan mematikan alim ulama. Maka apabila sudah ditiadakan alim ulama, orang ramai akan memilih orang-orang yang jahil sebagai pemimpin mereka. Maka apabila pemimpin yang jahil itu ditanya, mereka akan berfatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan orang lain." Di riwayatkan oleh Muslim.

Di dalam hadis diatas menerangkan Allah SWT akan mencabut atau menghilangkan ilmu agama daripada umat Islam dengan mematikan ulama. Bagaimana istilah ulama ini nak ditakrifkan pada zaman ini? Ada 2 kategori ulama dimana yg satunya berkhidmat didalam kerajaan dan yg satu lagi tidak berkhidmat didalam kerajaan. Setelah Sistem Khulafa dihapuskan oleh Yahudi, British dan Freemason, maka Khalifah Islam pun tenggelam sama. Apabila Khalifah tiada maka tiadalah wakil Rasulullah saw didunia ini. Dengan siapa ulama nak berbai'at? Ulama sepatutnya mewakili Rasulullah saw utk menyambung tugas Rasulullah saw didunia ini. Itu sebab ianya di panggil Ulamak Pewaris Nabi. Bagaimana pula Ulama Pewaris Nabi boleh terhubung dengan Raulullah saw setelah kewafatan Baginda?

Rasulallah saw bersabda:

"Sesungguhnya aku meninggalkan bagi kamu dua buah benda peninggalan yang berat kadarnya, pada lain riwayat, sesungguhnya aku meninggalkan bagi kamu dua peninggalan yang jika kamu berpegang padanya tidak akan kamu sesat sepeninggalanku. Salah satunya lebih besar dari yang kedua, yaitu kitab Allah azza wajalla seumpama tali penghubung yang kokoh terentang dari langit sampai kebumi dan keluargaku ahlil baitku, keduanya tidak akan terpisah satu dengan yang lain hingga bertemu denganku diakhirat ditelaga Haudh/kautsar maka perhatikanlah kamu bagaimana kamu sepeninggalku memperlakukan keduanya". (Diriwayatkan oleh Muslim danTarmidzi)

Daripada hadis diatas kita lihat Rasulullah saw mengaitkan Ahlul Bait Baginda dengan Al Quran dan ditegaskan lagi bahawa keduanya tidak akan terpisah hingga ke akhirat kelak. Islam yg kita amalkan hari ini adalah Islam tanpa ahlul bait dan cahaya Al Quran. Kedua-duanya adalah satu pakej yg tidak boleh dipisahkan. Malah Baginda menegaskan selagi mana manusia berpegang kepada keduanya selepas kewafatan Baginda maka umat Islam tidak akan sesat. Persoalannya apakah ulama dan umat Islam sekarang berpegang kepada kedua-duanya atau hanya memegang kepada ayat-ayat Al Quran sahaja? Apakah dengan berkata “kami menghormati dan menyayangi ahlul bait” tanpa perlu berbai’at sudah dikira mencapai maksud “berpegang” seperti yg ditegaskan oleh Rasulullah saw didalam hadis diatas. Bukankah berbai’at adalah cara dan tertib yg sepatutnya menjadi amalan didalam soal menzahirkan perhubungan yg sebegini. Kita masih mempunyai Al Quran ditangan kita. Tetapi adakah Al Quran yg ada ditangan kita itu masih mengandungi cahaya atau sekadar tinggal tulisan sahaja? Sepatutnya dengan meneliti kedua-dua hadis diatas kita sudah boleh keluar dari kekeliruan. Ini juga sudah cukup utk menjawab kenapa umat Islam lemah dan berpecah belah sekarang. Yg sepuak berpegang kepada ahlul bait dengan caranya, yg sepuak lagi berpegang kepada Al Quran dan Sunnah dengan caranya, yg sepuak berpegang kepada ulama-ulamanya, yg sepuak pula menolak Tarekat, Tasawuf dan Sufi dll. Tidak ada satu pun yg berpegang dengan sebenar-benar pegang kepada yg sepatutnya dipegang secara menyeluruh dan mengikut tertib yg sebenar. Semuanya membuat kesimpulan yg membuat mereka tersimpul dengan ilmu-ilmu dan fahaman-fahaman mereka sendiri. Ulama sekarang hanya berpegang kepada ayat-ayat Al Quran, Sunnah dan ilmu-ilmu dari kitab2 ulama terdahulu. Itu semua hanya kulitnya sahaja. Yg menjadi isinya adalah cahaya Al Quran. Berpandukan semua yg diatas tanpa Nur Ilahi apa jadinya?

Daripada Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda. "Lagi akan datang kepada manusia tahun-tahun yang tandus. Dan pada waktu itu orang yang berdusta dikatakan benar dan orang yang benar dikatakan berdusta. Orang khianat akan disuruh memegang amanah dan orang yang amanah dikatakan pengkhianat. Dan yang berpeluang bercakap hanyalah golongan "Ruwaibidhah"”. Sahabat bertanya, "Apakah Ruwaibidhah itu hai Rasulullah?". Nabi saw. menjawab, "Orang yang kerdil dan sebenarnya hina dan tidak mengerti urusan orang ramai”. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah.

Disaat ini umat Islam sangat2 memerlukan kepimpinan agama utk menyelesaikan segala masalah yg dihadapi oleh umat Islam. Ulama tidak berfungsi mengikut keperluan semasa. Ulama sepatutnya tertumpu kepada masalah2 yg besar seperti Riba, Daulah Islam dll. Kerja yg sepatutnya boleh diselesaikan oleh juruteknik tetapi jurutera yg sibuk menanganinya. Padahal kerja jurutera ditinggalkan. Sudah jelas didalam hadis Rasulullah saw bahawa masalah yg paling besar diakhir zaman ini ialah Riba dan Kepimpinan. Ini bermakna ekonomi dan politik adalah masalah yg perlu ditangani oleh kepimpinan agama. Jika dia benar2 ulama maka pasti Allah SWT beri petunjuk dan jalan utk menyelesaikan masalah ini. Seandainya dia tidak diberi petunjuk dan jalan penyelesaiannya maka dia sepatutnya sedar siapa dirinya dan siapa yg diwakilinya.

Jalan penyelesaian ada ditangan siapa? Itu harus dicari dan bukannya mengalih tumpuan kepada hal2 yg furu. Apakah soal doa qunut, kenduri arwah dll itu belum selesai? Oleh kerana ulama2 sebegini maka orang2 yg sepatutnya lebih layak tidak mendapat tempat sebagai pemimpin. Maka selamanyalah umat Islam dimundurkan dengan ilmu-ilmu mereka dan kegilaan2 mereka itu.

Daripada 3 hadis diatas maka boleh disimpulkan bahawa Islam berada ditahap yg kritikal kerana soal kepimpinan agama. Umat Islam sudah terputus hubungan dengan Rasulullah saw dan juga Al Quran. Inilah faktor yg menyebabkan bantuan Allah SWT kepada umat Islam terbantut. Ilmu-ilmu baru tidak sampai. Fahaman Islam sudah keinggalan zaman. Proses memperbaharui urusan agama juga terhenti. Khalifah, Mujadid, Wali dan Ulama Pewaris Nabi yg menjadi tunggak kepada kekuatan Islam telah digantikan dengan "Ruwaibidhah" dan “ulama mereka”. Umat Islam dan Islam sudah jadi apa sekarang?

Persoalannya adalah adakah "ulama mereka" dan "Ruwaibidhah" boleh membangkitkan Islam dan menyelamatkan umat Islam sekarang? Apakah umat Islam masih bermimpi disiang hari? Kalau mahu menikmati rasa manis, ambil lah manis itu dari madu dan bukannya dari mulut.Bukan kita yg sepatutnya mengejar dunia tetapi dunia yg sepatutnya mengejar kita. Pemimpin yg sepatutnya menguruskan kuasa dan bukannya kuasa yg menguruskan pemimpin.

* Cuba-cubalah umat Islam minta "ulama mereka" menjelaskan apa maksudnya Islam itu sebagai "agama resmi" sesebuah kerajaan. Istilah "agama resmi" itu bagaimana pula

Monday, 23 September 2013

Cara bersetubuh Yang Betul Di Dalam Islam



MEMUJUK RAYU SERTA BERCUMBU- CUMBUAN :

Nabi Muhammad s.a.w. melarang suami melakukan persetubuhan sebelum membangkitkan syahwat isteri dengan rayuan dan bercumbu terlebih dahulu.
- Hadits Riwayat al-Khatib dari Jabir.



TIDAK BERBOGEL :
Apabila diantara kamu mencampuri isterinya, hendaklah ia menutupi dirinya dan menutupi isterinya dan janganlah keduanya (suami isteri) bertelanjang bulat seperti keledai.
- Hadits Riwayat Tabrani.


DI LARANG MENYETUBUHI DUBUR :
Terkutuklah orang yang menyetubuhi isteri diduburnya.
- Hadits Riwayat Abu Dawud dan an-Nasa’i dari Abu Hurairah.



DOA SEBELUM BERSETUBUH :

“Bismillah. Allaahumma jannibnaash syaithaa-na wa jannibish syaithaa-na maa razaqtanaa”.

Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami berdua (suami isteri) dari gangguan syaithan serta jauhkan pula syaithan itu dari apa saja yang Engkau rezqikan kepada kami.

Dari Abdulah Ibnu Abbas r.a. berkata :

Maka sesungguhnya apabila ditakdirkan dari suami isteri itu mendapat seorang anak dalam persetubuhan itu, tidak akan dirosak oleh syaithan selama-lamanya.

- Hadits Sahih Riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas r.a.



HAMPIR KELUAR MANI :
Dan apabila air manimu hampir keluar, katakan dalam hatimu dan jangan menggerakkan kedua bibirmu kalimat ini :

“Alhamdulillaahil ladzii khalaqa minal maa’i basyara”.

Segala pujian hanya untuk Allah yang menciptakan manusia dari pada air.



PUTUS DITENGAH JALAN :
Apabila seseorang diantara kamu bersetubuh dengan isterinya maka janganlah ia menghentikan persetubuhannya itu sehingga isterimu juga telah selesai melampiaskan hajatnya (syahwat atau mencapai kepuasan) sebagaimana kamu juga menghendaki lepasnya hajatmu (syahwat atau mencapai kepuasan).
- Hadits Riwayat Ibnu Addi.



MENDATANGI ISTERI MELALUI BELAKANG (ISTERI MENUNGGING) :

Dari Jabir b. Abdulah berkata :

Bahwa orang-orang Yahudi (beranggapan) berkata: Apabila seseorang menyetubuhi isterinya pada kemaluannya Melalui Belakang maka mata anaknya (yang lahir) akan menjadi juling. Lalu turunlah ayat suci demikian :

“Isteri-isteri kamu adalah ladang bagimu maka datangilah ladangmu itu dari arah mana saja yang kamu sukai.”

- Surah Al Baqarah – ayat 223.

Keterangan:
Suami diperbolehkan menyetubuhi isteri dengan apa cara sekalipun (dari belakang, dari kanan, dari kiri dsb asalkan dilubang faraj).



KELEBIHAN BERSETUBUH :

Berikut adalah cara bersetubuh yang mendapat keberkatan apabila kita melakukannya :-Rasulullah s.a.w. bersabda :

“…..dan apabila engkau menyetubuhi isterimu, engkau mendapat pahala”.

Para sahabat bertanya :

Wahai Rasulullah, adakah seseorang dari kami mendapat pahala dalam melampiaskan syahwat?

Nabi menjawab :
Bukankah kalau ia meletakkan (syahwatnya) ditempat yang haram tidakkah ia berdosa? Demikian pula kalau ia meletakkan (syahwatnya) pada jalan yang halal maka ia mendapat pahala.

- Hadits Riwayat Muslim.



MENGULANGI PERSETUBUHAN :
Apabila diantara kamu telah mecampuri isterinya kemudian ia akan mengulangi persetubuhannya itu maka hendaklah ia mencuci zakarnya terlebih dahulu.
- Hadits Riwayat Baihaqi.



HAID :
Mereka menanyakan kepada engkau tentang perkara Haid.

Katakanlah: “Haid itu adalah kotoran”.

Oleh kerana itu jauhilah diri kamu dengan wanita-wanita yang sedang Haid dan janganlah kamu mendekati (menyetubuhi) mereka, sebelum mereka bersuci*.

Apabila mereka telah bersuci maka bolehlah kamu menyetubuhi mereka ditempat yang diperintahkan Allah kepada kamu.

Sesungguhnya Allah itu menyukai orang-orang yang bertaubat dan Allah menyukai orang-orang yang mensucikan dirinya.

- Surah Al Baqarah – ayat 222.

*Jangan mendekati bermaksud dilarang bersetubuh dengan isteri yang sedang kedatangan bulan dan bukanlah dilarang mempergaulinya sehari-hari.



ISTERI YANG TIDAK BOLEH DI SETUBUHI OLEH SUAMI :

Dari Masruuq b.Ajda’i berkata :

Aku telah bertanya kepada ‘Aisyah tentang sesuatu yang boleh dilakukan seorang suami terhadap isterinya yang sedang Haid.

‘Aisyah menjawab:

Apa saja boleh, kecuali kemaluannya (bersetubuh).

Monday, 24 June 2013

BEZANYA ORANG MUKMIN DENGAN ORANG ISLAM

 

Orang mukmin yang baik itu hidupnya luar biasa. Unik dan berbeza sangat dengan manusia yang lain. Dia berhadapan dengan kehidupan penuh tenang. Kejahatan orang tidak dibalas dengan kejahatan. Bahkan didoakan orang yang membuat jahat dengannya. Berhadapan dengan ujian dia tenang. Berhadapan dengan nikmat dia bersyukur. Jadual waktunya dengan Tuhan tetap dan istiqamah. Walau di dalam keadaan susah dan senang. Bermesra dengan orang. Tetamu yang datang dihormati sesuai dengan kedudukannya. Tidak boleh mendengar orang mendapat kesusahan. Selagi tidak dapat ditolongnya, menderita jiwanya. Merendah diri adalah budaya hidupnya. Setiap orang yang meminta pertolongan jarang tidak ditunaikannya. Pemurah sangat terserlah di dalam kehidupannya. Tidak pernah mengeluh berhadapan dengan penderitaan. Tapi dia mengeluh dengan dosa-dosanya. Atau mengeluh bila berhadapan dengan kelemahan dan kecuaian. Rasa kehambaan tampak kelihatan pada mukany.a Tuhan selalu sahaja disebut-sebut di dalam perbualannya. Nampak sangat bahawa Tuhan itu adalah sandaran hidupnya. Gembira tidaklah sampai ketawa berdekah-dekah. Kesusahannya tidaklah sampai muram di mukanya. Lebih-lebih lagi tidak rasa kecewa dan putus asa berhadapan dengan kesusahannya. Tawakal, sabar dan redha adalah menjadi budaya hidupnya.

Istilah Islam, mukmin dan taqwa ini sering atau kerap kita dengar. Walaupun secara umumnya ia berkaitan dengan orang yang beragama Islam, namun maksudnya tidak sama. Terdapat perbezaan di antara orang Islam, orang mukmin dan orang bertaqwa.

Orang yang masuk agama Islam tidak dikatakan masuk iman atau dikatakan orang mukmin. Orang yang masuk Islam tidak diistilahkan sebagai orang beriman.

Lebih-lebih lagi dia tidak dikatakan orang yang bertaqwa. Istilah yang dipakai ialah dia orang Islam atau muslim. Secara umumnya, itulah umat Islam. Mereka tidak dikaitkan dengan iman dan taqwa. Iman dan taqwa adalah perkara yang berbeza.

Iman dan taqwa sangat mahal. Tidak mudah untuk mendapat iman dan taqwa. Untuk menjadi orang Islam, mudah. Cukup dengan bersyahadah sahaja. Namun dengan sekadar bersyahadah, seseorang itu tidak boleh dikatakan orang mukmin atau orang bertaqwa. Dia baru Islam. Bagaimana pun seorang yang bersyahadah tidak boleh dikatakan kafir. Kalau dia sembahyang, puasa, naik haji dan berjuang, tentulah dia orang Islam.

Untuk menjadi orang Islam, itu mudah tetapi untuk menjadi orang mukmin, susah. Untuk menjadi orang bertaqwa lebih lagi susah. Sebab itu masuk sahaja agama Islam, dia dikatakan Islam atau muslim tetapi tidak dikatakan mukmin atau taqwa.

Di antara orang mukmin dengan orang Islam sangat jauh bezanya.

1.Kalau kita hendak buat misalan, bolehlah kita kata Islam itu ibarat sebuah taman yang indah, yang di dalam taman itu ada pokok buah-buahan, bunga-bungaan dan sayur-sayuran.

Orang yang masuk Islam itu sebenarnya baru masuk dan berada di pintu taman itu. Dia baru ambil tiket untuk membolehkan dia menjelajah taman. Syahadah itu ibarat tiket semata-mata. Dia masih belum tahu apa lagi yang ada di dalam taman itu. Sedangkan dalam taman itu ada bermacam-macam keindahan. Ada keindahan rasa, keindahan akal, keindahan pandangan dan pendengaran dan lain-lain.

Orang mukmin itu, dia sudah menjelajah taman. Sudah round taman. Dia sudah melihat keindahan taman.

Orang bertaqwa pula, dia sudah makan dan merasa semua buah-buahan dan sayur-sayuran dalam taman itu. Maka orang bertaqwalah yang paling tinggi.

2. Sebagai contoh lagi, katalah kita hendak ziarah sebuah zoo. Kita ambil tiket lalu duduk di pintu. Lepas itu kita balik. Atau di sebuah taman bunga yang indah, kita ambil tiket dan duduk di kerusi. Lepas itu kita balik. Kemudian kita cakap kita sudah masuk zoo dan sudah masuk taman. Betullah kita sudah masuk. Tetapi kita belum tengok dan belum rasa hebat dan cantiknya zoo dan taman itu. Soal sudah masuk itu satu perkara. Itulah Islam.  Soal sudah tengok dan sudah rasa keindahan dan kenikmatan zoo dan taman, itu satu perkara lain pula. Itulah mukmin dan taqwa.

3. Contoh lain, macamlah orang yang hendak masuk ke universiti. Dia baru baftar nama, belum belajar dan belum pusing-pusing kawasan universiti lagi. Baru diterima masuk, dia baru ada nama sebagai pelajar universiti. Itulah Islam. Dia belum boleh dikatakan seorang intelek atau seorang graduan. Intelek dan graduan itu ibarat mukmin dan taqwa. Cuma selesai pendaftaran, automatik dia menjadi student. Dia belum dapat ilmu. Jelajah kawasan universiti pun belum.

4. Atau kalau hendak dicontohkan lagi, Islam adalah ibarat kulit buah iaitu benda luar, benda lahir atau benda yang nampak. Iman adalah isinya manakala rasa isi itu adalah taqwa. Soal isi dan rasa, itu soal batin atau soal rohaniah. Kulit buah itu ibarat Islam, seperti syahadah, sembahyang, puasa, zakat dan haji. Mungkin tambah lagi dengan sedekah, belajar dan lain-lain. Itu kulit. Itu Islam.

Kalau kita hendak beli buah, adakah kita hendak makan kulit atau isi? Tentulah isi. Tetapi perlu ingat, kalau kulit cacat kita tidak akan beli buah itu walaupun bukan kulit yang hendak dimakan. Kalau kulit tidak elok, kita tidak beli. Tetapi ada juga buah yang kulitnya cantik dan elok tetapi di dalamnya ada ulat. Kalau kulit baik, belum tentu isinya baik, tetapi kalau kulit rosak sudah tentu, confirm yang di dalamnya rosak. Tidak semestinya kulit yang elok menggambarkan isi yang elok. Begitu juga tidak semestinya kulit yang elok menggambarkan rasa isi yang sedap. Katalah isi elok, namun belum tentu rasanya sedap. Kalau isi elok, boleh dimakan tetapi belum tentu rasanya sedap. Isi elok, itu tamsilan orang mukmin. Rasa sedap, itu tamsilan orang bertaqwa.

Beza antara orang Islam dan orang mukmin terlalu jauh. Kalau wujud ciri mukmin maka secara automatik ciri Islam itu wujud. Namum, kalau ciri Islam wujud pada seseorang, belum tentu ciri mukmin juga ada. Kerana itu iman perlu dicari. Iman itulah taqwa. Tidak cukup jadi orang Islam sahaja tetapi mesti menjadi orang mukmin (bertaqwa).

Iman adalah hakikat dan Islam adalah syariat. Iman bersifat rohaniah dan Islam bersifat lahiriah. Yang Tuhan akan nilai di Akhirat nanti ialah iman. Yang Tuhan akan nilai adalah hakikatnya. Hakikat bertapak pada roh atau hati. Hatilah yang Tuhan akan nilai, bukan soal-soal lahir. Namum, kedua-duanya mesti  dibuat. Tetapi keutamaannya adalah pada hati. Orang mukmin dijamin masuk Syurga sedangkan orang Islam tidak dijamin sedemikian.

Ada satu cerita di zaman Rasulullah SAW. Seorang Arab Badwi masuk Islam. Apabila bertemu dengan Rasulullah, dia berkata kepada baginda,”Wahai Rasulullah, saya sudah beriman.” Terus Rasulullah menegur,” Jangan katakan kamu sudah beriman. Katakanlah sahaja kamu sudah Islam.”

Ertinya untuk dapat iman adalah susah. Untuk menjadi Islam, itu mudah. Syahadah sahaja, sudah Islam. Di sinilah kita lihat mengapa umat Islam masih jahat walaupun ibadah banyak. Ibadah banyak menggambarkan kulit atau syariat Islam. Ibadah tidak semestinya menggambarkan iman dan taqwa.

Katalah seseorang itu sembahyangnya banyak, puasa sunatnya banyak, rajin mengaji dan berjuang tetapi dalam masa yang sama dia berbohong, rasuah, hasad dengki, tidak ada kasih sayang dan tidak pedulikan orang. Islamnya hebat. Syariatnya pun hebat. Tetapi cacatnya terlalu banyak. Itu petanda hatinya belum benar-benar beriman dan bertaqwa.

“KASIH SAYANGKU MENGATASI KEMURKAANKU”


Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah setelah menciptakan makhluk, Dia tulis suatu tulisan di sampingNya di Arasy: Kasih SayangKu mengatasi kemurkaanKu."

Murka Allah adalah suatu sifat Alah yang kita tidak akan dapat melarikan diri daripadanya kecuali bagi orang yang telah benar-benar dapat membersihkan hatinya. Di dalam Al Quran, murka atau marah Allah disebutkan sebagai  Zuntiqam yang bermaksud  Pembalas segala kejahatan dengan azab seksa.  Juga disebutkan sebagai Syadiidul ‘Iqab yang membawa maksud amat pedih seksaan-Nya.

Di dalam Al Quran telah berulang-ulang diingatkan akan sifat murka Allah SWT ini.  Antaranya: “Mahukah kamu Aku tunjukkan tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya daripada (orang-orang fasiq) itu di sisi Allah, iaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi iaitu orang-orang yang menyembah berhala. Merekalah orang yang paling buruk kedudukannya, paling sesat dari jalan yang lurus.” – Al Maidah : 60

“Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka Neraka Jahanam.”- Al Fath : 6

Sifat marah atau murka Allah tidak tergolong di dalam salah satu daripada Asmaul Husna-Nya seperti sifat-sifat Ar Rahman, As Syabur, Al Ghafur, Al Wali dll. Sifat-sifat Pengasih, Penyabar, Pemaaf, Pemelihara itu adalah sifat-sifat yang sentiasa, tetap dan kekal adanya pada Zat Allah sehingga dijadikanlah nama-nama indah bagi-Nya. Sedangkan sifat murka atau marah Allah bukan satu suatu sifat yang tetap bagi-Nya.

Maknanya, Allah bersifat murka atau marah hanya pada waktu-waktu atau pada tempoh-tempoh yang tertentu. Allah akan murka dan marah hanya apabila hambaNya melakukan kejahatan dan dosa. Bila hamba yang berbuat kejahatan itu sedar kembali lantas bertaubat, akan segera hilang marah dan murka Allah. Allah terus memaafkan dan kembali melahirkan kasih sayang-Nya kepada si hamba tadi.

Tetapi lain pula keadaannya terhadap orang-orang kafir. Murka Allah kepada mereka akan kekal selama mana mereka mengekalkan dosa mensyirikkan Allah. Namun akan hilang juga murka Allah kepada mereka yang bertaubat dan kembali meng-Esakan Tuhan dengan menganut agama Islam.

Sepertilah seorang ibu yang begitu sayang kepada anaknya. Apa saja permintaan si anak, ibu akan berusaha memenuhi kehendaknya. Cuma kadangkala apabila anaknya berbuat kesalahan atau kejahatan, akan timbul rasa marah, kecil hati dan tidak suka pada tingkah laku anaknya. Tetapi apabila si anak meminta maaf serta mengubah kelakuannya pasti ibu akan segera memaafkan. Si ibu akan kembali melahirkan kasih dan sayang terhadap anaknya.

Kemarahan si ibu hanya sekali sekala iaitu apabila anaknya melakukan kesalahan. Kemarahan tersebut bukanlah suatu sifat yang tetap dan sentiasa ada tetapi datangnya sesekali.

Begitulah hakikatnya murka Allah sebenarnya adalah diselaputi Rahmat ( Kasih Sayang) Tuhan yang Maha Perkasa. Ada rahmat dan hikmah yang tersembunyi di sebalik setiap bencana yang menimpa akibat kemurkaan Allah.

Murka Allah bukanlah sengaja di ada-adakan, tetapi ada sebab-sebabnya. Sekiranya kita tergolong di kalangan orang yang sentiasa mengingati Allah sewaktu ditimpa kesusahan, kegelisahan dan bala, pasti kita akan dapat rasakan belaian kasih sayang Allah yang tersembunyi di sebalik setiap kesusahan yang menimpa kita. Hanya orang-orang yang tidak pernah pedulikan Allah sahaja yang merasakan ujian dan bala yang menimpa itu adalah untuk menyusahkan dan menyiksa diri mereka.

Begitu baiknya Allah terhadap makhluk-Nya. Marah Allah adalah kerana sayang bukan kerana benci. Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah setelah menciptakan makhluk, Dia tulis suatu tulisan di samping-Nya di ‘ Arasy:  Kasih SayangKu mengatasi kemurkaanKu.”

Sunday, 23 June 2013

CARA-CARA MELAWAN MAZMUMAH TERHADAP MANUSIA



Ibadah sebanyak mana pun, tidak ada nilai di sisi Allah Taala, kalau mazmumah masih bersarang di dalam hati. Sedikit ibadah pun tidak mengapa, asalkan yang fardhu tidak ditinggalkan, tapi mazmumah dapat disembuhkan. Mazmumah itulah yang memudharatkan diri dan orang kerana nafsu yang belum terdidik. Nafsu yang belum terdidik, mazmumahlah yang menguasai diri seseorang. Apalah erti ibadah kalau mazmumah masih bermaharajalela merosakkan orang. Ibadah banyak, masih lagi pemarah, hasad, demdam, tamak, sombong, riyak, ujub, cinta dunia, ingin nama, glamor. Tujuan ibadah adalah untuk mengubat penyakit batin yang memusnah. Ibadah yang di hayati, boleh mendidik nafsu yang liar yang menjadi bala bencana kepada dunia. Ibarat penyakit makan berbagai-bagai jenis ubat tapi tidak menghilangkan penyakit. Tujuan makan ubat untuk menghilangkan penyakit badan. Begitulah ibadah yang berbagai-bagai jenis untuk mengubat mazmumah nafsu yang ganas. Ibadah dibuat nafsu masih berpenyakit, ibadah tidak ada nilai di sisi Allah. Itulah lumrah berlaku di zaman ini. Di dalam mengerjakan ibadah, mazmumah masih mengganas. Kerana itulah kita tidak hairan, adakalanya, di masjid itulah sumber kejahatan. Kerana orang yang bersembahyang, masih membawa penyakit batin, yang memecah-belahkan perpaduan. Orang yang bersembahyang merenggangkan persaudaraan Akibatnya umat Islam sudah tidak dihormati orang.

Mujahadatunnafsi terhadap mazmumah kita kepada manusia seperti hasad, dengki, dendam, buruk sangka, mementingkan diri sendiri, gila pangkat, tamak, bakhil, sombong dan lain-lain boleh dilakukan dengan cara menentang sifat-sifat itu.

Di sini huraikan cara-cara mujahadah terhadap penyakit hasad, dengki, pemarah dan gila dunia serta terhadap sifat-sifat mazmumah.

Dalam usaha melawan nafsu itu kita dikehendaki menempuh tiga peringkat:
1. Takhalli – Mengosongkan atau membuangkan atau mensunyikan
2. Tahalli - Mengisi atau menghiasi
3. Tajalli – Terasa kebesaran dan kehe batan Allah

TAKHALLI

Diperingkat takhalli kita mesti melawan dan membuang terus semua kehendak-kehendak nafsu yang rendah dan dilarang Allah. Selagi kita tidak mahu membenci, memusuhi dan membuangnya jauh-jauh daripada diri kita, maka nafsu itu akan sentiasa menguasai dan memperhambakan kita. Sabda Rasulullah SAW: Sejahat-jahat musuh engkau ialah nafsu engkau yang terletak di antara dua lambung engkau. (Riwayat Al Baihaqi)

Kerana kejahatannya itu telah ramai manusia yang ditipu dan diperdayakan untuk tunduk, ber- tuhankan hawa nafsu. Ini ada diceritakan oleh Allah dengan fir-man-Nya: Apakah tidak engkau perhatikan orang-orang yang mengambil hawa nafsu menjadi Tuhan lalu dia disesatkan Allah. (Al Jaathiah: 23)

Apabila nafsu dibiarkan menguasai hati, iman tidak ada tempatnya. Bila iman tidak ada, manusia bukan lagi menyembah Allah Tuhan yang sebenar- benarnya tetapi menyembah hawa nafsu. Oleh itu usaha melawan hawa nafsu janganlah dianggap ringan. Ia adalah satu jihad yang besar. Ingatlah sabda Rasulullah SAW pada sahabat-sahabat- nya ketika pulang dari satu medan peperangan: Kita baru balik dari satu peperangan yang kecil untuk memasuki peperangan yang lebih besar. Sahabat bertanya: Peperangan apakah itu? Baginda berkata: Peperangan melawan hawa nafsu. (Riwayat Al Baihaqi)

Melawan hawa nafsu sangatlah susah. Barangkali kalau nafsu itu ada di luar jasad kita dan boleh pula kita pegang, jadi senanglah kita picit dan membunuh- nya sampai mati. Tetapi nafsu kita itu ada di dalam diri kita, mengalir bersama aliran darah dan menguasai seluruh tubuh kita. Kerana itu tanpa kesedaran dan kemahuan yang sungguh-sungguh kita pasti dikalahkan untuk diperalatkan semahu-mahunya. Seseorang yang dapat mengalahkan nafsunya akan meningkat ke taraf nafsu yang lebih baik. Begitulah seterusnya hingga nafsu manusia itu benar-benar dapat ditundukkan kepada perintah Allah. Untuk lebih jelas biar saya senaraikan akan peringkat-peringkat nafsu manusia sepertimana iman itu sendiri berperingkat-peringkat.

Di sini disenaraikan dari peringkat yang serendah-rendahnya iaitu nafsu amarah, nafsu lauwamah, nafsu mulhamah, nafsu mutmainnah, nafsu radhiah, nafsu mardhiah dan nafsu kamilah. Kita yang beriman ilmu ini baru berada di taraf nafsu yang kedua yakni nafsu lauwamah. Kita mesti berjuang melawan nafsu itu hingga dia mahu tunduk sepenuhnya kepada perintah Allah supaya mencapai paling minima nafsu mulhamah dan nafsu mutma- innah, yakni yang ada pada diri seseorang yang memiliki iman ayan. Di ‘peringkat iman inilah sahaja kita akan dapat menyelamatkan diri daripada siksaan Neraka. Ini dinyatakan sendiri oleh Allah SWT dalam firman-Nya: Hai jiwa yang tenang (nafsu mutmainnah) kembalilah kepada Tuhanmu de ngan hati yang puas lagi diredhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam Syurga-Ku.(Al Fajr: 27-30)

Nafsu jahat dapat dikenali melalui sifat keji dan kotor yang ada pada manusia. Dalam ilmu tasawuf, nafsu jahat dan liar itu dikatakan sifat mazmumah.Di antara sifat-sifat mazmumah itu ialah sum’ah, riyak, ujub, cinta dunia, gila pangkat, gila harta, banyak cakap, banyak makan, dan mengumpat. Sifat-sifat ini melekat pada hati sepertilah daki melekat di badan. Kalau kita malas menggosok akan tambah menebal dan kuatlah ia bertapak. Sebaliknya kalau kita rajin meneliti dan kuat menggosoknya maka akan bersihlah hati dan sucilah jiwa.Bagaimanapun membuang sifat mazmumah dari hati tidaklah sesenang membuang daki di badan. Ia memerlukan latihan jiwa yang sungguh-sungguh, didikan yang berterusan dan tunjuk ajar yang berke san daripada guru yang mursyid yakni guru yang dapat membaca dan menyelami hati murid-muridnya hingga ia tahu apakah kekurangan dan kelebihan murid itu. Malangnya di akhir zaman ini, kita ketiada- an guru yang mursyid.

Nasib kita hari ini umpama nasib anak-anak ayam yang kehilangan ibu. Tiada yang akan memandu kita melalui jalan kebaikan yang ingin kita tempuhi. Meraba-rabalah kita. Tetapi bagi orang yang mempunyai keazaman yang kuat untuk membersihkan jiwanya, ia tidak akan kecewa kerana tiada orang yang boleh mendidik dan memimpinnya. Ia akan sanggup berusaha sendiri demi kesempurnaan diri dan hidupnya sendiri.

2. TAHALLI

Tahalli bererti menghiasi yakni perkataan lawan bagi takhalli. Sesudah kita mujahadah yakni mengosong- kan hati daripada sifat terkeji atau mazmumah, segera pula kita menghiasi hati dengan sifat-sifat terpuji atau mahmudah. Untuk mudah difahami cuba kita gambarkan hati kita sebagai sebuah mangkuk. Selama ini mangkuk itu berisi sifat-sifat mazmumah. Setelah kita mujaha dah maka sifat itu keluar meninggalkan mangkuk kosong. Waktu itulah kita masukkan ke dalam mangkuk itu sifat mahmudah.Di antara sifat-sifat mahmudah yang patut menghiasi hati kita ialah jujur, ikhlas, tawadhuk, amanah, taubat, bersangka baik, takutkan Allah, pemaaf, pemurah, syukur, zuhud, tolak ansur, redha, sabar, rajin, berani, lapang dada, lemah lembut, kasihsayang sesama mukmin, selalu ingatkan mati dan tawakal. Untuk menghiasi hati dengan sifat mahmudahkita perlu sekali mujahadah.

Ditegaskan sekali lagi bahawa dalam peringkat mujahadah kita masih tera- sa berat dan susah. Maknanya belum ada ketenangan dan kelazatan yang sebenarnya. Insya-Allah kalau kita sungguh-sungguh, lama kelamaan bila ia sebati dengan hati akan terasalah lazatnya. Cara-cara mujahadah dalam tahalli samalah seperti kita mujahadah untuk takhalli. Misalnya kita mahu mengisi hati dengan sifat pemurah, maka kita mujahadah dengan mengeluar kan harta atau barang kita terutama yang kita suka dan sayang untuk diberikan kepada yang memerlukan.

Mulanya tentu terasa berat dan payah tetapi janganlah menyerah. Kita lawan. Ingatkan hati bagaimana orang-orang muqarrobin berebut-rebut untuk dapat pahala sedekah. Sayidatina Aishah r.a di waktu tiada apa-apa untuk dimakan, beliau cuba untuk mendapatkan hanya sebelah kurma untuk disedekahkan. Begitu inginnya mereka pada pahala dan rindunya kepada Syurga. Mereka berlumba-lumba menyahut pertanyaan Allah SWT: Siapakah yang mahu meminjam- kan kepada Allah pinjaman yang baik nanti Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya dan dia akan memperolehi pahala yang banyak.(Al Hadid: 11)

Setiap kali kita rasa sayang pada harta kita setiap kali itu pula kita keluarkannya. Insya-Allah lama ke- lamaan kita akan memiliki sifat pemurah. Begitu juga dengan sifat-sifat yang lain seperti kasih sayang, berani, tawadhuk, pemaaf, zuhud dan semua sifat-sifat mahmudah yang lain perlulah kita miliki dan untuk itu kenalah mujahadah. Jika tidak iman juga turut tiada sebab iman berdiri di atas sifat-sifat mahmudah.

3. TAJALLI

Sebagai hasil mujahadah dalam takhalli dan tahalli kita memperolehi tajalli iaitu sejenis perasaan yang datang sendiri tanpa memerlukan usaha lagi.Agak sukar untuk ditulis apa itu tajalli sebenarnya sebab ia hanyalah sejenis perasaan (zauk) yang hanya mungkin dimengertikan oleh orang-orang yang merasainya. Sepertilah kemanisan gula, tidak dapat digambarkan dengan tepat kecuali dengan merasai sendiri gula itu.

Tajalli secara ringkas ialah perasaan lapang, tenang dan bahagia. Hati seakan-akan celik, hidup, nampak dan terasa kehebatan Allah.Ingatan dan rindu penuh tertuju pada Allah. Harapan dan pergantungan tiada pada yang lain lagi selain daripada Allah. Seluruh amal bakti adalah kerana dan untuk Allah semata-mata. Apa sahaja masalah hidup, dihadapi dengan tenang dan baha- gia. Tiada apa pun kesusahan dalam hidupnya sebab semua itu dirasakan pemberian daripada kekasihnya, Allah SWT.Kalau begitu, bagi orang-orang yang beriman dunia ini sudah terasa sebagai Syurga. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan sejati dan abadi iaitu kebahagiaan hati. Hasad dengki menjadikan jiwanya menderita, kecewa dan sakit jiwa. Hatinya tidak selamat di du- nia maka tidak mungkin dia boleh selamat di Akhiat.

Firman Allah: Hari khiamat iaitu hari di mana harta dan anak-anak tidak berguna kecuali mereka yang datang menghadap Allah dengan hati yang selamat sejahtera.(Asy Syuara’: 88-89)

1. HASAD DENGKI

Hampir semua orang dihinggapi penyakit hasad dengki. Cuma bezanya banyak atau sedikit, bertindak atau tidak. Hatta ulama-ulama pun terkena penyakit ini bahkan lebih berat lagi. Hadis ada mendedahkan tentang enam golongan manusia yang akan tercampak ke dalam Neraka dengan enam sebab. Salah satu dari mereka ialah ulama kerana hasadnya. Allah SWT menjelaskan tentang orang-orang yang hasad dengki dalam surah Muhammad: Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahawa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka? Dan kalau Kami kehendaki nescaya Kami tunjukkun mereka padamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan mereka dan Allah mengetahui perbuatan kamu. (Muhammad: 29-30)

Tanda adanya hasad dengki dalam diri kita ialah apabila orang lain dapat kejayaan kita sakit hati dan orang lain dapat bencana kita senang hati. Jiwanya sentiasa menderita dan terseksa.Bahayanya hasad dengki ialah seperti apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW: Sesungguhnya hasad itu memakan amalan kebaikan seperti api memakan kayu.

Bila kita berhasad dengki, kita akan hina meng hina, fitnah memfitnah, benci membenci, dendam mendendam, jahat sangka dan mengadu domba yang semuanya akan mendatangkan dosa-dosa dan meng- hapuskan kebaikan lainnya. Seseorang yang melayan hasad dengkinya adalah penjahat dan perosak serta pemecah-belah persauda- raan antara manusia. Juga dia seorang yang paling biadab dengan Allah SWT. Sama ada dia sedar atau tidak, dia benci kepada Allah. Walau banyak mana sekalipun sembahyangnya, puasanya, hajinya dan hebat perjuangannya tetapi di sisi Allah tetaplah dia ahli Neraka.

Pernah sahabat-sahabat bertanya Rasulullah SAW: Sesungguhnya ada seorang wanita yang berpuasa siang harinya dan di malam harinya bersembahyang tahajjud tetapi selalu menyakiti jirannya dengan lidahnya. Jawab baginda Rasulullah: “(Tidak ada kebaikan lagi baginya) dia adalah ahli Neraka. ”

Orang yang kaki tahajjud dan puasa sunat pun masuk Neraka kerana hasad dengki, apalagi kita yang tiada bertahajud, puasa sunatpun tidak, masih lemak dengan hasad dengki dan umpat-mengumpat ini. Kalau betul kita beriman kepada Allah dan takut kan Neraka, insaflah akan kejahatan hati-hati kita itu dan marilah kita membaikinya dengan melakukan mujahadatunnafsi. Allah berfirman: Hai orang yang beriman, jangan lah satu kaum menghina kaum yang lain (kerana) boleh jadi mereka (yang dihina) lebih baik dari mereka (yang menghina) dan janganlah pula wanita-wanita menghina wanita-wanita lain (kerana) boleh jadi wanita (yang dihina) itu lebih baik dari mereka (yang menghina) dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelaran yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman (seperti hai fasik, kafir dan lain-lain) dan barangsiapa yang tidak ber taubat maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (Al Hujurat: 11)

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah dari banyak prasangka. Sesungguhnya sebahagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu mengumpat sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepada nya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Al Hujurat: 12)

Begitulah pujukan-pujukan Allah pada kita supa ya kita tidak lagi berhasad dengki, umpat mengumpat dan buruk sangka. Di antara langkah-langkah yang mesti kita lakukan sebagai mujahadah terhadap hasad dengki ialah:

Setiap kali orang yang kita dengki itu apabila beroleh kejayaan, kita kunjungilah dia untuk mengucap tahniah dan bergembira bersamanya. Sebaliknya apabila orang itu mendapat bencana, kita kunjungi pula untuk mengucapkan takziah dan tumpang bersedih bersa- manya.

Sanjung dan pujilah kebaikan dan keistimewaan orang yang kita hasad dengki itu di belakangnya dan kalau ada kesalahan dan keburukannya kita rahsiakan.

Selalulah ziarah dan beri hadiah pada orang yang kita dengki itu.

Kalau ada orang cuba menjatuhkan orang yang kita dengki itu, kita pertahankan dia. Jangan layan orang (atau syaitan) yang hen- dak merosakkan mujahadah kita.

Berdoalah pada Allah SWT agar memudahkan kita mengubat penyakit dengki yang ada dalam diri kita itu. Ingatlah selalu Firman-Nya: Dan mereka yang bermujahadah pada jalan Kami nescaya Kami tunjuki jalan-jalan Kami itu. (Al Ankabut: 69)

Timbul hasad dengki kita pada seseorang ialah kerana orang itu mempunyai keistimewaan dan ke lebihan yang mengatasi apa yang ada pada diri kita.

Bila kita terasa orang itu telah mengalahkan kita dalam perjuangan atau perlumbaan maka datanglah dengki itu. Sepatutnya tidak begitu. Kalau kita beriman dengan Allah, yakin akan keadilan-Nya mengatur pemberian kepada hamba-hamba-Nya, kita tidak akan berdengki-dengkian lagi.

Firman Allah: Terjemahannya: Janganlah kamu irihati terhadap apa yang dikurniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (An Nisa’: 32)

Allah yang melebih dan mengurangkan pembe rian-Nya kepada seseorang. Dan Allah adalah adil atas pemberian lebih dan kurang itu. Dia bermaksud menguji kita. Siapa yang sedar dirinya sebagai hamba- Nya, lalu akan sentiasa bersyukur pada nikmat yang diperolehi, redha dengan taqdir dan sabar menung gu ujian. Dalam hadis Qudsi Allah berfirman: Barangsiapa tidak redha terhadap taqdir yang berlaku ddn tidak sabar terhadap bala (cubaan) daripada-Ku, maka carilah Tuhan selain Aku.(Riwayat: At Tabrani)

Dalam Al Quran Allah berfirman: Dialah yang menjadikan mati dun hidup supayd Dia menguji kamu siapa antara kamu yang lebih baik amalnya dan Dia maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Al Mulk: 2) Itulah maksud Allah menjadikan hidup yang sementara ini.

Firman-Nya lagi: Sesungguhnya Kami telah mencip- takan manusia dari setitis mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan) kerana itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. (Al Insan: 2)

Kalau Allah lebihkan seseorang itu dari kita, ertinya Allah mahu menguji kita sama ada sabar dan redhakah kita dengan kekurangan yang Allah takdirkan. Dan kalau Allah lebihkan kita dari seseorang, ertinya Allah mahu menguji kita, bersyukurkah kita terhadap nikmat itu atau sebaliknya sombong, bongkak, dan lupa diri sebagai hamba Allah.

Kalau begitu apa perlu hasad dengki? Kalau hasad dengki juga ertinya kita tidak redha dengan Allah. Kita tidak senang dengan peraturan-Nya dan kita tidak menerima kehendak-Nya. Sebab itu orang yang hasad bukan sahaja bermusuh dengan orang yang dihasadkan itu tetapi juga bermusuh dengan Allah. Biadab dengan manusia dan biadab dengan Allah maka layaklah menjadi ahli Neraka.

2. PEMARAH

Sifat pemarah berasal dari sifat sombong (ego). Lagi besar ego seseorang itu lagi besarlah pemarahnya. Ini berkaitan pula dengan kedudukan seseorang.Kalau tinggi kedudukannya, besar pangkatnya, banyak hartanya, ramai pengikutnya maka tinggilah egonya dan menjadi-jadilah pemarahnya. Sebaliknya seseorang yang rendah taraf kedudukannya kurang- lah rasa ego maka kuranglah sifat pemarahnya. Lihat antara seorang ayah dengan anaknya. Jarang kita dengar si anak memarahi ayah. Yang selalu berlaku ialah ayah memarahi anak. Atau antara tuan rumah dengan orang gajinya. Tidak pernah orang gaji marahkan tuannya tetapi tuan selalu marahkan orang gaji itu. Atau seperti murid dengan guru. Murid tidak pernah marah gurunya tetapi guru selalu marahkan muridnya. Sebagai misalan yang lain, ketua pejabat dengan pekerjanya. Jarang kerani arahkan “boss”nya tetapi boss selalu marahkan keraninya. Begitulah seterusnya. Jarang kita temui seorang ayah, guru, ketua pejabat, tuan rumah dan seorang pemimpin yang tidak ber- sifat pemarah terhadap orang-orang di bawah mereka.

Pendeknya sifat pemarah ini ada pada setiap orang dari kita seperti hasad dengki. Pemarah juga adalah sifat mazmumah yakni sifat terkeji. Ia boleh memecahbelahkan hati-hati manusia. Sebab itu se- orang yang pemarah adalah seorang yang biadap terhadap Allah SWT. Kenapa mesti marah ? Cuba kita renung sebuah bait gubahan seorang mujahid: Takdir Allah sudah putus dan putusan Allah sudah terjadi. Istirehatkun hati dari kata-kata “barangkali” dan “kalau “.

Setiap kesilapan dan kelemahan manusia pada kita adalah ujian Allah untuk kita. Allah mahu lihat siapa yang mampu menahan rasa malunya kepada Allah. Mari kita lihat bagaimana tindakan seorang mukmin sejati terhadap takdir-takdir buruk yang menimpa hidupnya: Ahnaf bin Qais adalah seorang yang lemah lem- but. Beliau ditanya orang: Dengan siapakah beliau belajar berlemah lembut itu?

Ahnaf menjawab, “Dengan Qais bin Asim iaitu pada suatu hari ketika Qais bin Asim sedang berehat- rehat masuklah jariahnya (hamba) membawakan Qais panggang besi berisi daging panggang yang masih panas. “Belum sempat diletakkan di depan Qais tanpa sengaja besi pemanggang itu jatuh menimpa anak kecil Qais. Menjerit-jeritlah si anak, kesakitan dan kepanasan hingga meninggal dunia. Qais dengan tenang melihat kejadian yang menyayat hati itu dan berkata kepada hamba yang pucat mukanya, “Aku bukan sahaja tidak marah kepada kamu, tetapi mu- lai hari ini kamu aku merdekakan.”

“Begitulah sopan santun dan lemah lembutnya Qais bin Asim,” Kata Ahnaf bin Qais mengakhirkan ceritanya. Bukan Qais tidak sayangkan anaknya tetapi hatinya sentiasa melihat pentadbiran Allah dan sentiasa merasakan sesuatu kejadian adalah takdir dari Allah, sentiasa sabar dengan Allah, redha dengan Allah serta rasa kehambaannya pada Allah, rasa malu, hina dan takut dengan kekuasaan Allah membuat Qais tenang menghadapi kematian anaknya disebabkan kecuaian hambanya.

Hati Qais memandang kejadian itu sebagai ujian Allah ke atasnya barangkali untuk penghapusan dosa atau untuk mengangkat darjatnya di sisi Allah SWT. Kerana itu hatinya tenang. Dia (Qais) redha dengan ujian itu malah dengan ujian itu dirasakan mendapat peluang untuk mende katkan lagi hatinya pada Allah SWT. Sebab itu dia tidak nampak lagi kesalahan jariahnya. Bukan sahaja dia tidak marah malah rasa kasihan pada jariah yang ketakutan itu memaksa Qais mem- bebaskan hambanya itu. Dia hanya nampak pentad- biran Allah yang wajib diterima tanpa soal jawab dan tanpa “kalau” lagi. Demikian rasa kehambaan yang menghiasi hati dan roh Qais, seorang yang cukup berakhlak terha dap Allah SWT dan terhadap manusia (hambanya). Demikian rasa marah lahir dari perasaan “ketuan an” yang ada dalam hati kita. Kita rasa kita yang lebih besar, kita lebih mulia, lebih hebat dari orang lain. Tanpa perasaan-perasaan itu tidak mungkin kita jadi pemarah. Kita akan berlemah lembut, memaaf- kan kesalahan orang dan bertolak ansur dengan sesama manusia. Sebab kita manusia sama sahaja yang datang ke dunia melalui jalan yang gelap, lubang kencing yang hina tanpa sedikitpun harta, dalam keadaan busuk hanyir, bodoh dunggu, pekak, bisu, buta, capek dan hodoh sekali.

Firman Allah: Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia memberi kamu pendenga ran, penglihatan dan hati. Moga-moga kamu bersyukur. (An Nahl: 78)

Allah-lah yang mencantikkan kita kemudiannya dan diberi sedikit kelebihan. Kepandaian dan keistimewaan itu Allah pinjamkan sekejap sahaja. Tujuan- nya supaya kita dapat beribadah dan berbakti menurut kehendak-Nya (bersyukur). Bukan untuk kita rasa kita lebih mulia, kita hebat hingga datang pula perasaan-perasaan sombong, riak, bengis dan pemarah kepada orang lain yang agak kurang dari kita. Sepatutnya bila kita rasa ada kelebihan pada kita, kita jadi takut pada Allah. Takut kalau-kalau nikmat itu tersalah guna hingga menderhakai Allah Taala dan berdosa pada manusia. Takut kalau-kalau nikmat itu menjadikan hati rasa “tuan” maka timbullah sifat ego yang besar yang membiakkan bermacam-macam mazmumah yang sangat dibenci oleh Allah. Firman-Nya: Dalam hati mereka ada penyakit lalu Allah tambahkan penyakit mereka. (Al Baqarah: 10)

Kita mesti ubati penyakit hati kita. Ertinya kita mesti buang rasa “ketuanan” kita iaitu dengan melakukan mujahadatunnafsi.

1. Mula-mula kita mesti rasa malu kepada Allah. Kalau ada orang besar di rumah kita, sanggupkah memarahi isteri kita di depan orang itu? Tentu tidak. Allah sentiasa melihat malah sentiasa bersama kita. Kalau kita yakinkan ini tentu kita tidak akan jadi pemarah lagi sebab kita tahu Allah tidak suka kita jadi pemarah. Rasa malu dan takut kepada Allah akan membuatkan kita sentiasa berlemah-lembut dan memaafkan kesalahan orang kepada kita.

2. Bila datang rasa hendak marah kita kata begini: ‘Ya Allah, aku tahu pemarah itu adalah hina di sisi-Mu. Tolonglah pelihara diriku daripada kejahatan nafsu ini dan selamatkan aku daripada api Neraka.

3. Sesudah itu kita diam. Jangan marah tetapi banyakkan zikir dan ingat kebesaran Allah. Allah Tuhan yang Maha Besar itu pun bersifat sangat pemaaf. Siapa kita untuk jadi pemarah? Bukankah kita hamba yang hina dina?

AMALAN BATIN

4. Kita harus insaf bahawa setiap manusia terma- suk diri kita sendiri, ada kelemahan dan kekurangan. Kalau hari ini orang bersalah pada kita, maka tidak mustahil bahawa nanti kita pula bersalah dengan orang. Kalau kita bersalah kita tidak suka orang marahi kita. Maka begitulah juga kalau orang yang bersalah dengan kita dia tidak suka kalau dimarahi. Tegurlah dengan lemah lembut dan kasih sayang. Firman Allah:

Terjemahannya: Maka katakanlah (hai Musa dan Harun) kepadanya (Firaun) dengan kata-kata yang lemah lembut mudah-mudahan ia ingat dan takut. (Thaha: 44)

Sudah begitu jahat dan kufurnya Firaun terhadap Allah, namun Allah masih lagi perintahkan kepada Nabi-Nya supaya berlemah lembut. Sebab hanya dengan lemah lembut, hati manusia boleh lembut dan jadi insaf dan takut. Sebaiknya kalau kita berkasar bukan sahaja orang yang dikasari tidak menerima teguran kita malah dia benci dengan kekerasan kita. Di sisi Allah pula kita tercatit dengan kekerasan kita. Di sisi Allah kita ter- catit sebagai orang yang tidak berakhlak dan tidak berhikmah sedangkan Allah memerintahkan kita supaya berhikmah: Serulah (semua munusia) kepada Tuhanmu dengan hikmah (bijaksana) dan penga- jaran yang baik dun berhujjahlah dengan mereka secara yang paling baik. (An Nahl: 125)

3. GILA DUNIA

Gila dunia juga adalah penyakit hati atau satu maz- mumah yang menghalang kita untuk mendekatkan hati dengan Allah (yakni penghalang untuk mencapai darjat kerohanian yang tinggi). Seorang pencinta dunia ialah seorang yang hatinya dipenuhi keinginan untuk meluas dan membanyakkan ketinggian dan kekayaan di dunia maka fikirannya sentiasa bekerja untuk tujuan itu dan lahirnya ia bertungkus lumus untuk itu. (Dunia ialah segala sesuatu yang tiada manfaatnya untuk Akhirat; sebaliknya apa sahaja perkara yang boleh diuntukkan pada akhirat maka ia bukan lagi disebut dunia). Lawan kepada penyakit gila dunia ialah sifat zuhud iaitu hati yang tiada keinginan kepada sesua tu yang tiada manfaat untuk akhirat. Firman Allah: Itulah negara Akhirat (syurga) yang Aku jadikan (syurga itu) untuk orang-mang yang tidak menginginkanketinggian dan kerosakan di muka bumi ini. (AI Qashash: 83)

Hati yang tiada keinginan untuk jadi “tuan” dan tidak pula ingin untuk melakukan kejahatan (kero- sakan) di dunia, itulah hati yang selamat dan itulah bakal penghuni syurga. Firman Allah: Hari Qiamat (hari manusia meninggalkan dunia ini) ialah hari di mana harta dan anak-anak tiada memberi manfaat kecuali mereka yang datang mengadap Allah membawa hati yang selamat. (Asy Syuara’: 88-89)

Mungkin kita bertanya: Bagaimana boleh saya buang keinginan kepada dunia yang indah ini? Sebab kita hidup di kelilingi oleh tarikan-tarikan dunia yang amat menarik dan hati kita pula sangat cinta padanya?

Pertama, ketahuilah bahawa ada antara dunia ini yang diharamkan dan wajiblah kita jauhi. Tentang yang dihalalkan, tidak berdosa kalau diambil tetapi janganlah berlebih-lebihan iaitu lebih dari keperluan. Rasulullah SAW pernah menyatakan benci kepada dunia, kerana dua perkara. Sabda baginda: Halalnya akan dihisab dan haramnya diseksa (dalam Neraka).

Satu hari ketika baginda berjalan bersama saha- bat-sahabat, Rasulullah terjumpa seekor bangkai kambing. Baginda bertanya sahabat, ‘Mengapa bangkai ini dibuang oleh tuannya?”

Sahabat menjawab, “Kerana ia tidak berguna lagi maka ia dibuang dan tidak dihiraukan oleh tuannya.” Maka bersabda Rasulullah SAW: “Demi Allah yang menguasai diriku, bahawa dunia ini lebih rendah pada pandangan Allah daripada bangkai kambing pada pandangan tuannya. Seterusnya baginda bersabda: “Dunia ini terkutuk dan terkutuk pula apa-apa yang ada di dulamnya kecuali yang digunakan untuk mencari keredhaan Allah.”

Dari itu ketahuilah mengambil dunia ini lebih daripada keperluan atau bukan untuk mencari keredhaan Allah adalah tidak sunnah hukumnya. Kalau begitu ia akan jadi hijab antara kita dengan Allah yakni akan membutakan hati dan memisahkan kita daripada Allah. Bagi orang yang menyedari hakikat ini tentu mereka tidak cinta lagi kepada dunia. Dunia yang nampaknya indah ini rupanya buruk sifatnya. Umpama bunga dedap, rupa dan warnanya sungguh menarik hati tetapi tiada baunya. Atau umpama perempuan cantik yang jahat perangainya tentu tia da gunanya. Kita orang awam yang tidak kenal sifat dunia ini, kecantikannya menawan hati. Tetapi bagi bijak pandai, iaitu orang-orang arif seperti Nabi dan Rasul, para muqarrobin dan solehin, mereka kenal sangat dunia ini tentang buruk dan hinanya. Sebab itu mereka zuhud terhadapnya. Mereka ambil bahagian dunia ini yang tidak boleh tidak sahaja. Lebihnya adalah umpama najis pada mereka sebab itu mereka buang sahaja.

Tugas kita sekarang mujahadah dengan nafsu gila dunia itu. Kita lawan keinginan rendah itu hingga ia tewas. Barulah keinginan kita kepada Allah dan hari Akhirat akan timbul dan bernyala-nyala dalam dada kita. Langkah-langkah yang perlu diambil antaranya: Harta, wang ringgit, pakaian, makanan, kenderaan, tempat tinggal dan lain-lain kekayaan kita yang halal yang kita “bank”kan selama ini hendaklah kita gunakan untuk mencari keredhaan Allah.

Kedudukan kita, jawatan, pangkat, nama yang masyhur, pengaruh dan apa sahaja ketinggian kita yang memungkinkan kita rasa “tuan” di dunia ini hendaklah dialatkan untuk mencari keredhaan Allah sama ada untuk menegakkan hukum Allah, mempergiatkan dakwah Islamiah, berlaku adil dan ikhlas dalam pentadbirannya dan membuka peluang-peluang yang banyak untuk Islam dan umatnya.

Hentikan dari usaha-usaha mencari kekayaan dan ketinggian dunia hanya kerana keserono kan duniawi tetapi arahkan usaha itu kepada agama Allah untuk negara Akhirat yang kekal abadi.

Bahagi-bahagikan isi dunia yang datang kepa- da hamba-hamba Allah yang lebih memerlu kannya. Kosongkan hati kita daripada keinginan kepada kekayaan dan ketinggian duniawi.

Pintalah hidayah dan taufik Allah selalu agar kita menjadi seorang yang zahid yang berilmu yang menolak dunia kerana Allah sebagaimana yang disunnahkan oleh junjungan mulia Muhammad SAW.

Sabda baginda: Dua rakaat sembahyang dari seorang alim yang hatinya zuhud bbih baik dan lebih disukai Allah dari ibadah orang-orang abid yang dilakukan selama umur dunia kerana ibadah tanpa ilmu tiada bernilai.

Firman Allah SWT: Dijadikan indah pada (pandangan) manusia berbagai keinginanan yang terdiri daripada wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternakan dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (Syurga).

Katakanlah: Mahukah aku khabarkan kepada mu apa yang lebih baik dari yang demikian itu ? Untuk orang-orang yang bertaqwa terhadap Tuhan mereka ialah Syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Dan (ada pula) isteri-isteri yang disucikan serta mendapat keredhaan Allah dan Allah Maha Melihat akan hamba-hambaNya. Mereka itu selalu berdoa: “Ya Tuhan kami sesungguhnya kami telah beriman maka ampuni- lah segala dosa kami dan peliharalah kami dari seksa Neraka. ” (Ali Imran: 14-16)

Bersabda Rasulullah SAW maksudnya: Sesungguhnya Allah suka memberi keduniaan dengan sebab amalan Akhirat tetapi kalau amalnya khusus untuk dunia maka tidak akan diberi Akhirat.