Monday, 25 August 2014

Jalan bermakrifat



Awaluddin makrifatullah,  akhiruddin makrifatullah

Awal beragama adalah mengenal Allah Azza wa Jalla (makrifatullah) , akhir beragama atau tujuan beragama adalah muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang Ihsan atau muslim yang meyaksikan Allah (bermakrifat)

Sedangkan anak kunci mengenal Allah Azza wa Jalla adalah mengenal diri sendiri

Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu,  siapa yang kenal dirinya akan Mengenal Allah

Firman Allah Taala yang artinya “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?“ (QS. Fush Shilat [41]:53 )

Pengenalan diri bahwa pada hakikatnya semua manusia telah menyaksikan Allah ketika mereka belum lahir ke alam dunia, pada keadaan fitri , sebelum panca inderanya berfungsi.

Firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (QS- Al A’raf 7:172)

Setelah manusia terlahir ke alam dunia , maka mereka lupa akan kesaksian atau penyaksian terhadap Allah.

Hakikat kata insan (manusia) adalah nasiya , nis yan, tidak tahu, lupa.

Fitrah manusia adalah bertuhan, mencari Allah, ingin kembali menyaksikan Allah. Syarat untuk dapat menyaksikan Allah adalah fitri, suci sebagaimana sebelum manusia lahir ke dunia

Manusia terhalang  atau menghijabi dirinya sehingga tidak dapat  menyaksikan Allah dengan hatinya adalah karena dosa mereka. Setiap dosa merupakan bintik hitam hati (ketiadaan cahaya), sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada hati.  Ketika bintik hitam memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab) dari menyaksikan Allah.  Inilah yang dinamakan buta mata hati.

Sebagaimana firman Allah ta’ala  yang artinya, “Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS Al Isra 17 : 72)

“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (al Hajj 22 : 46)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Seandainya bukan karena setan menyelimuti jiwa anak cucu Adam, niscaya mereka menyaksikan malaikat di langit” (HR Ahmad).

Allah Azza wa Jalla menciptakan tauladan bagi manusia pada diri Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Firman Allah ta’ala yang artinya,
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab:21)

“Sungguh dalam dirimu terdapat akhlak yang mulia”. (QS Al-Qalam:4)

Beliau sejak kecil dikenal berakhlak baik, jujur, amanah , dapat dipercaya dan sifat-sidat baik lainnya ditengah-tengah masyarakat jahiliyah.

Fitrahnya untuk menyaksikan Allah menghantarkan Rasulullah untuk berkhalwat (mengasingkan diri dari keramaian) dan bertahanuts (perenungan/kontemplas dirii) di gua hira.

Dari mulai disanalah diturunkan syarat-syarat untuk menyaksikan Allah kembali yang dinamakan perkara syariat atau dikenal dengan agama dimulai dengan menyaksikan Allah secara lisan yang dikenal dengan syahadat

Anak manusia dikatakan berada pada “on track” untuk dapat kembali menyaksikan Allah adalah setelah mereka mengucapkan syahadat.

Syahadat adalah penyaksian Allah yang diucapkan dan kemudian dibuktikan dengan memenuhi perkara syariat atau syarat sebagai hamba Allah yakni menjalankan kewajibanNya (ditinggalkan berdosa) , menjauhi laranganNya (dikerjakan berdosa) dan menjauhi apa yang telah diharamkanNya (dikerjakan berdosa)

Muslim yang membuktikan syahadat dengan menjalankan perkara syariat disebut mukmin, orang beriman

Firman Allah ta’ala yang artinya
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imron [3]:31 )

“Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir” (QS Ali Imron [3]:32 )

“dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.” (QS Al Anfaal [8]:1 )

Muslim yang menjalankan amal ketaatan atau muslim yang beriman (mukmin) dan menjalankan amal kebaikan atau mereka yang mengungkapkan cintanya kepada Allah Allah Azza wa Jalla dan RasulNya adalah disebut muhsin / muhsinin, muslim yang ihsan atau muslim yang baik atau sholihin.

Firman Allah ta’ala yang artinya, “Inilah ayat-ayat Al Qura’an yang mengandung hikmah, menjadi petunjuk dan rahmat bagi muhsinin (orang-orang yang berbuat kebaikan), (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat. Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS Lukman [31]:2-5)

Ada dua kondisi yang dicapai oleh muslim yang ihsan atau muslim yang telah bermakrifat.

Kondisi minimal adalah mereka yang selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla.
Kondiri terbaik adalah mereka yang dapat melihat Allah Azza wa Jalla dengan hati (ain bashiroh)

Apakah Ihsan ?

قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11)

Rasulullah bersabda “Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)

Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,
“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.
Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”

Sebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. Bagaimana anda melihat-Nya? dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”

Muslim yang telah mencapai Ihsan atau muslim yang telah bermakrifat, minimal mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau yang terbaik mereka yang dapat melihat Allah dengan hati maka mereka mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar hingga terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah sesuai dengan tujuan beragama atau sesuai dengan tujuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus oleh Allah Azza wa Jalla

Rasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).

Seorang muslim yang dikatakan telah mentaati Allah dan RasulNya adalah minimal muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang sholeh dan mereka akan berkumpul dengan orang-orang disisiNya. Hanya 4 golongan manusia yang disisiNya yakni para Nabi (Rasulullah yang utama), para Shiddiqin, para Syuhada dan orang-orang sholeh

Firman Allah ta’ala yang artinya “Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69 )

Maqom Shiddiqin atau kedekatan dengan Allah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/09/2011/09/28/maqom-wali-allah/

Semakin dekat kita kepada Allah sehingga menjadi kekasihNya (Wali Allah)

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin ‘Utsman bin Karamah telah menceritakan kepada kami Khalid bin Makhlad Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal telah menceritakan kepadaku Syarik bin Abdullah bin Abi Namir dari ‘Atho` dari Abu Hurairah menuturkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah berfirman; Siapa yang memusuhi wali-KU, maka Aku umumkan perang kepadanya, dan hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan, jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah, maka Aku mencintai dia, jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-KU, pasti Ku-lindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya.” (HR Bukhari 6021)

Wali Allah adalah,
Mereka yang mencintai Allah dan Allah mencintai mereka
Mereka yang saling mencintai karena Allah ta’ala
Wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya
Mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia
Mereka adalah muslim yang terbaik bukan Nabi yang dirindukan para Nabi dan para Syuhada

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Swt seorang dari shahabatnya berkata, siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka. Nabi Saw menjawab dengan sabdanya: Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita”. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)

Hadits senada, dari ‘Umar bin Khathab ra bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya diantara hamba-hambaku itu ada manusia manusia yang bukan termasuk golongan para Nabi, bukan pula syuhada tetapi pada hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla menempatkan maqam mereka itu adalah maqam para Nabi dan syuhada.”Seorang laki-laki bertanya : “siapa mereka itu dan apa amalan mereka?”mudah-mudahan kami menyukainya. Nabi bersabda: “yaitu Kaum yang saling menyayangi karena Allah ‘Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah, dan mereka itu saling menyayangi bukan karena hartanya, dan demi Allah sungguh wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya, dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia,” kemudian beliau membaca ayat : ” Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Yunus [10]:62 )

Jika belum dapat menyaksikan Allah dengan hati atau belum mencapai ma’rifat maka setiap kita akan bersikap atau melakukan perbuatan, ingatlah selalu perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa  “Jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11)

Wassalam





Sunday, 24 August 2014

Muslim Menyembah Ka'abah Sebagai Tuhan? Muslim Menyembah Ka’abah?


Soalan:

Bukankah Islam itu melarang menyembah patung tetapi kenapa Muslim menyembah dan tunduk kepada Ka’abah dalam solat?



Jawapan:

Ka’aba adalah Qiblat, iaitu arah di mana Muslim menghadap ketika mereka solat. Perlu diingatkan bahawa Muslim tidak pernah sesekali menyembah Ka’abah, melainkan mereka hanya menyembah Allah Maha Satu. Berikut adalah beberapa pencerahan dan penerangan.



(1) Islam Zaman Dahulu

Pada Zaman Islam yang dahulu, Bilal iaitu orang yang melaungkan azan akan berdiri di atas Ka’abah untuk azan. Maka tidak logik bahawa seorang bilal yang dikatakan menyembah Ka’abah, berdiri dan memijak di atas Ka’abah iaitu Tuhannya? Jika Ka’abah itu Tuhan, kenapa memijak Tuhan?



(2) Jahitan Gambar Ka’abah Atas Sejadah

Jika anda lihat beberapa sejadah yang digunakan Muslim, terdapat gambar Ka’abah yang dijahit atasnya.

Jika Ka’abah itu Tuhan yang disembah, kenapa diletakkan di atas lantai dan dipijak-pijak oleh kaki? Setaraf dengan kaki? Penganut agama mana yang akan memijak Tuhannya?



(3) Ka’abah Penyatu Masyarakat Muslim

Ka’abah adalah arah di mana seluruh Muslim di dunia menghala ketika mereka solat. Jika tiada Ka’abah, ibadat mereka bersepah dan tidak teratur.

Ka’abah adalah suatu tanda/arah untuk menyatukan umat Muslim agar mereka bersepadu dan berkumpul menghala ke arah yang sama.



(4) Ka’abah Adalah Titik Tengah Peta Dunia.

Muslim adalah golongan pertama yang melukis peta dunia. Mereka melukis peta dengan bahagian Selatan menghala atas dan bahagian Utara menghala bawah. Ka’abah adalah titik tengahnya.

Tetapi kemudian kartografer barat (pelukis peta)melukis peta, cuma diterbalikkan sahaja di mana Utara di atas dan Selatan di bawah. Dan Alhamdulillah, Ka’abah tetap di tengah-tengah.



(5) Ka’abah Kawasan Neutral

Sains membuktikan bahawa Ka’abah adalah titik neutral dunia, di mana kompas bahkan tidak bergerak, kerana mereka berada di kawasan sifar. Anda boleh merujuk saintis jika tidak percaya kata saya. Sains telah buktikan.

Bahkan, burung-burung tidak akan lalu di atas Ka’abah tetapi mereka akan mengelilingi keliling Ka’abah semata-mata untuk melintas.

Sains juga telah buktikan, bahawa terdapat satu gelombang infiniti di Ka’abah yang menghala kea rah langit, dan gelombang ini tidak ada di tempat lain melainkan hanya di Ka’abah.



Konklusi:

Sekarang anda sudah tahu bahawa Muslim tidak menyembah Ka’abah, tetapi Ka’abah hanyalah arah mereka untuk beribadat. Hujah di atas mampu mematahkan pendapat bahawa Muslim itu menyembah Ka’abah. Tidak logik sekali hujah mereka.



Wallahu alam, Allah Lebih Mengetahui.


Kedatangan Nabi Isa As Ke Dunia


Kedatangan Nabi Isa As Ke Dunia

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Kedatangan Nabi Isa As

Diriwayatkan oleh Muslim dari Al-Nawas bin Sam’an bahawa Rasulullah SAW bersabda tentang Nabi Isa: “Beliau akan turun berdekatan dengan menara putih di timur Damsyik, dengan memakai pakaian kuning. Dua telapak tangannya terletak di atas sayap dua malaikat. Apabila dia menundukkan kepalanya menitislah air. Apabila dia mengangkat kepalanya lagi, turunlah daripadanya seperti untaian mutiara.”

Berdasarkan hadis ini bererti Nabi Isa akan turun di Syam, bahkan juga di Damsyik, iaitu di sisi menara sebelah timur. Beliau akan turun pada waktu fajar. Ibnu Katsir ada berkata: “Sesungguhnya tidak ada di Damsyik menara yang dikenal di sebelah timurnya kecuali yang berada disamping masjid jamik Amawi, iaitu di sebelah timur Damsyik.” Menara tersebut telah diperbaiki pada zaman Ibnu Katsir, iaitu pada tahun 741 hijrah. Pembiayaannya diambil dari harta orang-orang Nasrani yang sebelumnya telah membakar menara masjid tersebut. Besar kemungkinan nanti Nabi Isa akan turun di tempat itu.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Abu Hurairah, bahawa Rasulullah s.a.w bersabda:
“Para nabi semuanya bersaudara disebabkan ayah mereka satu dan hanya ibu mereka yang berlainan. Sedangkan agama mereka adalah satu. Dan akulah orang yang paling dekat dengan Isa bin Maryam kerana tidak ada Nabi di antara kami. Sesungguhnya dia akan turun. Apabila dia turun nanti, untuk mengenalinya orangnya sedang dan kulitnya putih kemerah-merahan. Dia memakai pakaian yang kuning. Dari kepalanya seperti menitis air walaupun rambut dan kepalanya tidak basah. Dia akan mengajak orang kepada Islam. Pada zamannya juga nanti dia akan menghancurkan segala agama kecuali Islam. Allah SWT akan membinasakan Dajal pada zamannya, bahkan ditangannya. Pada zamannya nanti dunia akan aman sehingga harimau dan unta berkawan dengan baik. Begitu juga harimau dengan lembu, serigala dengan kambing. Kanak-kanak akan bermain dengan ular dan ular itu tidak menggigit mereka. Keadaan seperti itu berjalan selama empat puluh tahun. Kemudian Nabi Isa a.s. wafat dan disembahyangkan oleh kaum muslimin.”

Muhammad s.a.w adalah nabi penutup dan tidak akan ada lagi nabi sesudahnya. Turunnya Nabi Isa pada akhir zaman akan menguatkan lagi kebenaran agama Islam. Islam bererti menyerahkan segala urusan bagi Allah yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, beriman dengan semua Rasul, berserah kepada Allah dan taat dengan sebenar-benar taat. Itu semua sebenarnya sudah dianjurkan oleh agama-agama langit semenjak zaman Nabi Ibrahim, selaku bapa nabi-nabi, sampai kepada Muhammad s.a.w selaku nabi terakhir.

Isa a.s. adalah nabi dan rasul yang mulia, datang dari sisi Allah. Beliau dahulu sudah ada membawa syariat kepada umatnya tiba-tiba beliau diangkat ke langit. Nanti di akhir zaman beliau akan turun lagi dengan izin Allah tetapi bukan membawa agama atau syariat baru. Beliau datang nanti untuk menguatkan agama Islam,

Ummu Syuraik bertanya kepaad Rasulullah s.a.w tentang hari Dajal: “Ya Rasulullah, ke mana orang-orang Arab ketika itu?” Rasulullah s.a.w menjawab: “Jumlah mereka pada waktu itu terlalu sedikit. Mereka lari ke Baitul Maqdis menjumpai Imam mereka, seorang lelaki soleh (Imam Mahdi menurut riwayat itu).
“Ketika Imam mereka sudah berdiri di depan untuk mengimami solat Subuh, tiba-tiba datang Nabi Isa. Imam mereka itu mundur untuk memberi peluang kepada Nabi Isa untuk mengimami solat Subuh itu tetapi Isa a.s sambil memegang bahu Imam itu berkata: “Teruskanlah, sesungguhnya iqamat dibacakan untuk engkau.” Maka sembahyanglah mereka semua di belakang Imam tadi.

“Selesai solat, Isa a.s berkata kepada semua jemaah: “Bukakan pintu itu.” Mereka membuka pintu masjid itu, tiba-tiba Dajal sudah berdiri di situ dan di belakangnya ada 70,000 Yahudi lengkap membawa senjata.
“Melihat Nabi Isa ada di dalam masjid itu, Dajal tiba-tiba saja layu atau cair seperti cairnya garam disirami air. Dajal itu lari terbirit-birit kerana ketakutan. Nabi Isa bersama kaum Muslimin terus saja mengejarnya kemudian menjumpainya di Babu Luddi. Dan di sanalah Nabi Isa membunuh Dajal itu.

“Orang-orang Yahudi pun akan dikalahkan dan dibinasakan Allah pada waktu itu. Mereka cuba lari dan bersembunyi tetapi semua benda tempat mereka bersembunyi akan pandai bercakap atau bercerita dengan izin Allah. Benda-benda dimaksud termasuklah dinding, batu, pokok kayu dan sebagainya. Kalau ada orang Yahudi yang bersembunyi di balik belakang mereka, benda-benda itu akan memberitahukannya. Termasuk juga satu pokok berduri (disebut pokok Yahudi), jika mereka bersembunyi di bawahnya, pokok itu akan berkata: “Wahai hamba Allah yang beriman, di sini ada orang Yahudi, bunuhlah dia.”

Kata Rasulullah s.a.w lagi: “Dajal akan berada di dunia selama empat puluh hari. Satu hari lamanya seperti setengah tahun, terkadang seperti satu bulan. Satu bulan seperti satu minggu. Dan pada hari yang terakhir terasa sekejap sahaja. Pagi-pagi kamu berada di pintu masuk kota Madinah (Madinah pada zaman Rasul), sampai kamu di pintu yang lain hari pun masuk waktu malam.”

Mendengar yang demikian ada yang bertanya: “Bagaimana kami mengerjakan solat dalam waktu yang begitu singkat ya Rasulullah?” Rasulullah s.a.w menjawab: “Ukur sajalah jaraknya dan bandingkan dengan waktu yang panjang sekarang ini.”

Rasulullah s.a.w berkata: “Isa bin Maryam akan memimpin umatku dengan bijaksana dan adil. Beliau akan menghancurkan salib-salib yang ada di dunia ini dan akan membunuh semua babi. Beliau juga akan menghapuskan cukai. Manusia pada waktu itu tidak perlu membayar cukai, bahkan zakat pun tidak dibayar lagi kerana tidak ada orang yang berhak menerimanya.

“Pada hari itu semua makhluk dalam keadaan aman dan tenteram. Tidak ada saling cemburu, dengki, saling memarahi dan mengganggu antara sesama makhluk Allah. Sehingga ada anak perempuan yang bermain-main dengan harimau dan harimau itu tidak menerkamnya, begitu juga kambing berkawan dengan serigala. Seluruh dunia ketika itu nanti diliputi oleh kedamaian, keamanan dan ketenteraman. Bahkan ketika itu nanti tidak ada pertelingkahan keyakinan dan pendapat. Tidak ada yang disembah selain Allah.

“Orang Arab ketika itu nanti akan merampas kembali semua miliknya. Bumi mengeluarkan cahayanya, menumbuhkan tanam-tanamannya seperti zaman Nabi Adam. Sehingga manusia akan memetik buah anggur dan delima sehingga mereka kenyang memakannya.”

Ibnu Katsir berkata: “Abdul Rahman Al-Muharibiy berkata: “Sebaiknya hadis ini dijadikan untuk mendidik saja. Hadis ini tidak sahih tetapi banyak hadis lain yang hampir sama maksudnya dengannya. Di antaranya ada diriwayatkan oleh Muslim dari Abdullah bin Umar, bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: “Kamu akan memerangi orang-orang Yahudi. Kamu akan memerangi mereka habis-habisan sehingga batu tempat mereka bersembunyi pun akan berkata: “Wahai orang muslim, di sini ada orang Yahudi, bunuhlah dia.”

Menurut riwayat, bumi nanti akan mengeluarkan segala khazanah kekayaannya, iaitu pada zaman Nabi Isa. Pada waktu itu dunia dalam keadaan makmur dan harta melimpah ruah, sehingga tidak ada lagi orang yang berhak menerima zakat.

Dari Abu Hurairah, katanya Rasulullah s.a.w bersabda: “Sudah hampir masanya turun kepada kamu Ibnu Maryam menjadi hakim yang adil, yang akan membunuh Dajal, membunuh babi, menghancurkan salib dan menghapuskan cukai kerana harta ketika itu melimpah ruah. Ketika itu nanti manusia hanya sujud kepada Allah Tuhan sekalian alam.”

Diriwayatkan oleh Ahmad, dari Ibnu Mas’ud, dari Rasulullah s.a.w: “Pada malam aku diisrak mikrajkan, aku telah berjumpa dengan Ibrahim, Musa dan Isa a.s. Mereka membincangkan hari kiamat dengan menanyakan
permasalahannya kepada Ibrahim. Tetapi beliau hanya menjawab: “Tidak ada pengetahuanku tentang hari kiamat. Cuba kalian tanya kepada Musa.” Mereka tanya Nabi Musa tetapi beliau juga hanya menjawab: “Aku tidak tahu tentang kiamat. Cuba kalian tanyakan kepada Isa.”

“Mereka tanyakan kepada Isa kemudian beliau berkata: “Sebenarnya tidak ada yang mengetahui masalah ini kecuali Allah. Menurut yang dijanjikan Allah kepadaku, Dajal nanti muncul sedangkan di tanganku ada dua sabit (alat pemotong). Sebaik saja Dajal itu melihat aku, dia pun hancur seperti hancurnya timah yang terkena panas. Allah akan membinasakannya, begitu juga orang-orang kafir lainnya. Sehingga batu dan pokok kayu nanti akan ikut berkata: “Wahai orang muslim, di bawahku ada orang kafir bersembunyi, marilah dan bunuhlah dia.”

Sunday, 2 March 2014

Perbezaan Antara Muslim Dengan Mukmin





Bagi sesiapa yang memeluk agama Islam, seseorang itu akan bersyahadah. Maka dengan itu dia dikatakan 'masuk Islam'. Mengapa tidak dikatakan 'masuk iman'? Dengan syahadah, seseorang itu dianggap muslim. Tidak pula dikatakan dengan syahadah dia menjadi mukmin, sedangkan hanya mukmin yang diterima Tuhan. Islam tidak disebut pun tidak mengapa kerana secara automatik, Islam ada dalam iman. Tetapi kalau dia Islam, tidak bermakna dia ada iman. Ini menunjukkan orang yang 'masuk Islam', belum tentu 'masuk iman'. Sebab itu tidak dikatakan seseorang itu 'masuk iman'.
Iman itu adalah kemuncaknya. Oleh yang demikian marilah kita menjadi orang mukmin dan bukan hanya sekadar menjadi orang muslim. Iman dan Islam tidak sama. Orang mukmin dan orang Islam tidak sama. Tapi kedua-duanya mesti ada, mesti wujud dan mesti saling perlu-memerlukan.
Sebagai contoh atau tamsilan, di antara iman dan Islam itu ialah seperti buah. Isi buah itu iman dan kulit buah itu adalah Islam. Macam mana cantik sekalipun kulit buah, bukan kulitnya yang hendak dimakan. Yang hendak dimakan itu ialah isinya. Namun mana ada isi yang tidak ada kulit. Kalau ada isi buah yang tidak ada kulit, isi itu pun akan rosak, tidak boleh dimakan lagi. Sebab itu, apabila kita tengok buah yang kulitnya sudah agak rosak, dimakan oleh tupai atau burung contohnya, isi di dalam pun turut rosak.
Jadi, kulit dan isi tidak boleh dipisahkan. Tetapi perlu diingat, yang orang makan adalah isi buah itu, bukan kulitnya. Menunjukkan isi lebih utama daripada kulit. Tetapi kulit dan isi mesti bersatu, tidak boleh berpisah. Cuma yang lebih penting ialah isinya. Iman itu ibarat isi dan Islam itu ibarat kulit. Sebab itu, janganlah dipisahkan isi dengan kulit yakni iman dan Islam. Kalau begitu marilah kita berusaha menjadi orang mukmin dan jangan hanya sekadar menjadi orang muslim. Orang mukmin sudah tentu dia muslim. Orang muslim belum tentu dia mukmin.
Sebagai contoh lagi, Islam diibaratkan sebuah taman yang cantik dan indah, yang di dalamnya ada berbagai-bagai keindahan, kenikmatan dan kebaikan. Bagi seorang Islam yang dikatakan muslim itu, dia adalah seorang yang baru berada di muka pintu taman. Dia sudah masuk tetapi baru sekitar pintu sahaja, tidak sampai benar-benar masuk ke dalam taman. Jika Islam itu diibaratkan seperti taman yang disebutkan, bermakna seseorang itu baru melepasi pintunya. Seolah-olah Tuhan mempunyai satu taman yang indah dan cantik kemudian ada satu pintu masuk yang besar. 'Masuk Islam' itu seperti hanya masuk pintu, masih tidak tahu lagi apa yang ada di dalam taman. Jika sudah memasuki pintu, sudah berpeluang pula menjelajah taman dan dapat merasa segala keindahan dan nikmat yang ada dalam taman itu barulah seseorang itu dikira sudah beriman.
Yang dikatakan seorang mukmin itu, dia sudah pun menjelajahi taman. Dia sudah melihat kecantikan, kebaikan, kehebatan dan keindahan taman. Di dalam taman itu ada bermacam-macam keindahan yakni keindahan rasa, keindahan akal, keindahan pandangan, pendengaran dan lain-lain lagi. Bila 'masuk Islam', keindahan-keindahan itu belum dirasa. Bila seseorang itu sudah bebas dalam taman, dapat rasa pelbagai kenikmatan dalam taman itu, barulah dikatakan dia seorang mukmin.
Sebab itu beza antara orang Islam dan orang mukmin terlalu jauh. Ciri orang mukmin terlalu banyak. Kalau wujud ciri mukmin maka secara automatik ciri Islam itu wujud. Bagaimanapun kalau ciri Islam wujud pada seseorang, belum tentu ciri mukmin juga ada. Kerana itu iman perlu dicari. Dengan kata lain, iman itulah taqwa. Kalau begitu, tidak cukup hanya menjadi orang Islam sahaja tetapi mesti menjadi orang mukmin atau orang bertaqwa.
Bagi seorang yang sudah syahadah, mengerjakan sembahyang, berpuasa, membayar zakat dan mengerjakan haji, tidak boleh dikatakan dia tidak Islam. Seperti contoh yang digambarkan tadi, dia sudah masuk ke dalam taman tetapi hanya duduk di tepi pintu. Adakah itu mencukupi? Sebab itu, jangan sekadar menjadi orang Islam tetapi jadilah orang mukmin. Apabila kita sudah menjadi orang mukmin, secara automatik kita Islam. Tetapi kalau menjadi Islam belum tentu menjadi mukmin.
Kembali pada tamsilan buah tadi, Islam itu adalah kulit dan iman itu adalah isinya. Kalau begitu, kita mesti faham bahawa kulit buah itu kalau tidak cantik pun tidak mengapa asalkan kulitnya jangan rosak. Walaupun kulitnya nampak buruk tetapi jika ia tidak rosak, tidak ditebuk tupai, tidak dimakan ulat, biasanya isi di dalamnya juga baik. Berlaku juga buah yang kulitnya cantik sungguh tetapi kadang-kadang bila dibuka, rupanya masih muda lagi dan isinya tidak manis. Itulah gambaran untuk memudahkan kita faham.
Dengan kata lain, iman adalah hakikat dan Islam adalah syariat. Iman bersifat rohaniah manakala Islam bersifat lahiriah. Yang akan Tuhan nilai di Akhirat nanti adalah iman. Yang Tuhan akan nilai adalah hakikatnya. Hakikat bertapak pada roh iaitu hati. Hatilah yang Tuhan nilai tetapi bukan soal-soal lahir. Namun kedua-dua mesti dibuat. Keutamaannya adalah pada hati. Sebab itu untuk menjadi orang Islam adalah mudah. Bila sudah bersyahadah, seseorang itu tidak boleh dikatakan kafir lagi. Betapalah kalau dia sudah bersembahyang dan sebagainya. Tetapi sama ada dia sudah beriman atau tidak, belum diketahui. Orang mukmin dijamin masuk Syurga sedangkan orang Islam tidak dijamin masuk Syurga.
Satu sejarah di zaman Rasulullah, ada seorang Arab Badwi telah masuk Islam lantas berjumpa Rasulullah SAW. Dia pun berkata, "Ya Rasulullah, saya sudah jadi orang mukmin." Pada masa itu juga Rasulullah menegur, "Janganlah engkau katakan bahawa engkau sudah beriman. Cukuplah engkau katakan bahawa engkau sudah Islam." Apakah yang dimaksudkan oleh peristiwa ini? Di sini jelas menunjukkan bahawa orang Islam tidak semestinya beriman. Tetapi kalau orang beriman sudah semestinya Islam. Sebab itu orang Badwi tersebut ditegur oleh Rasulullah SAW.
Bagi orang Islam, walau macam mana banyak ibadah sekali pun, siang berpuasa sunat, malam tahajud, membaca Quran, wirid, zikir dan rajin pergi umrah tetapi itu semua tidak akan mengubah sikapnya. Dia masih lagi bakhil, tamak, cinta dunia, tidak ada kasih sayang, masih lagi sombong, megah, gila nama, gila puji, tidak takut buat salah, tidak cintakan makhluk Tuhan, tidak cinta dan takut kepada Tuhan, sekalipun ibadahnya mengkagumkan dan mengejutkan orang yang melihat. Kalau ibadah yang begitu banyak tetapi buahnya sedikit, masih masuk Neraka lagi. Sebab yang Tuhan pandang dalam ajaran Islam ini adalah hasil dari beriman dan hasil dari Islam. Hasil dari iman dan Islam ialah seseorang itu akan melahirkan buah-buah akhlak yang mulia seperti cinta-mencintai, berkasih sayang, bekerjasama, bertolong bantu, sabar, redha dan tawakal. Walaupun ibadahnya sedikit, buah ibadah itu lebih Tuhan pandang daripada banyak beribadah tetapi tidak melahirkan buah-buah akhlak tadi bahkan tidak takut dan tidak cinta pun kepada Allah.
Kita buat satu contoh iaitu orang yang menanam padi kerana hendakkan buah padi. Padi itu buahnya yang dimakan, bukan daunnya. Ia bukan jenis sayur tetapi pokok yang ada buah. Yang manakah lebih baik, antara mengusahakan 2 ekar bendang yang mengeluarkan hasil iaitu berbuah dibandingkan dengan mengusahakan 500 ekar tetapi tidak berbuah? Lebih baik mengusahakan 2 ekar tanaman padi yang berbuah daripada 500 ekar tanaman padi yang tidak berbuah. Apa yang diharapkan dari menanam padi dan yang dibanggakan adalah hasil padinya bukan banyaknya pokok padi atau luasnya kawasan tanaman.
Untuk menguatkan tamsilan ini, di sini dihuraikan lagi dua cerita yang berlaku di zaman Rasulullah. Pada satu masa, Rasulullah sedang berhadapan dengan para Sahabat. Adalah menjadi tabiat Rasulullah apabila berjumpa dengan seseorang apalagi kalau ramai, kesukaan baginda adalah bercakap tentang Tuhan, tentang Syurga dan tentang Neraka. Sama ada pertemuan itu berlaku secara kebetulan atau dirancang, rasmi atau tidak rasmi. Yang penting apabila berjumpa orang maka Rasulullah terus mengambil peluang.
Dalam satu majlis, selepas membaca Quran dan Hadis, tiba-tiba Rasulullah berkata, "Tidak lama lagi akan datang ke majlis kita ini seorang ahli Syurga." Tidak lama selepas itu terdengar suara orang memberi salam, "Assalamualaikum." Itulah suara ahli Syurga yang dimaksudkan itu. Kemudian dia masuk. Dia tidak tahu tentang hal yang dikatakan Rasulullah.
Ada seorang Sahabat yang sangat berminat dengan cerita itu. Apabila bersurai, Sahabat lain pun balik tetapi Sahabat ini tidak balik. Dia mengikut Sahabat yang dikatakan ahli Syurga itu dari belakang tanpa pengetahuannya. Tujuan Sahabat itu tadi adalah untuk melihat apakah amalan ahli Syurga ini supaya nanti dapat diikuti atau dicontohi.
Bila sudah sampai di rumah ahli Syurga itu, dia memberi salam, "Boleh tak saya bermalam di rumah saudara?"
"Sila-sila! Ahlan wa sahlan marhaban. Terima kasihlah kerana datang ke rumah saya." Yang dikatakan ahli Syurga tadi gembira menyambut Sahabat itu. Sahabat yang menjadi tetamu itu tidak memberitahu lagi maksud kedatangannya, sedangkan niatnya adalah kerana mahu melihat sendiri apa yang orang itu lakukan sehingga Rasulullah mengatakan bahawa orang itu akan masuk Syurga.
Mereka pun sama-sama bersembahyang Maghrib, sembahyang Isyak dan makan minum. Sahabat tadi melihat semuanya tetapi tidak perasan apa-apa lagi. Hinggalah tiba waktu tidur malam. Oleh kerana ada tujuan, dia tidak tidur sangat sebab hendak melihat apa yang berlaku di rumah itu. Begitulah sehingga sampai waktu Subuh. Akhirnya, dia pening memikirkan kerana Sahabat ahli Syurga tadi hanya mengerjakan ibadah yang wajib sahaja. Sunat rawatib pun tidak dibuatnya apatah lagi tahajud.
Selepas sembahyang Subuh, Sahabat pun berkata, "Sebenarnya saya datang hendak tengok keadaan kehidupan awak. Sebab semalam, saya dengar Rasulullah mengatakan awak ni ahli Syurga. Saya hendak tengok apa yang awak buat hingga masuk Syurga. Tapi saya lihat, sunat rawatib pun awak tidak buat. Yang wajib saja yang awak buat. Jadi saya hendak tahu mungkin ada hal-hal lain yang awak buat. Mesti ianya berkait dengan hal-hal hati, bukan soal-soal lahir."
Tuan rumah pun menjawab, "Saudara, dalam hidup saya, bukan sahaja saya tidak berhasad dengki dengan orang, terniat untuk berhasad dengki pun tidak."
Fahamlah Sahabat tadi. Patutlah Rasulullah SAW cakap dia ahli Syurga. Kelebihannya adalah hal keimanan. Munasabahlah cakap Rasulullah.
Begitulah yang diibaratkan buah yang kulitnya nampak tidak cantik tetapi isinya tidaklah rosak dan tidak cacat. Cuma tidak cantik. Macam durian kuning. Di luarnya tidaklah cantik benar tetapi isi di dalamnya cukup sedap.
Pada satu masa lain, ada Sahabat bertanya kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, saya ada seorang jiran perempuan. Saya kagum dengan ibadahnya, banyak sungguh. Siang berpuasa sunat, malam tahajud. Selain itu sunat lain pun banyak dia buat seperti membaca Quran, wirid, zikir dan lain-lain. Cuma ada sedikit cacat. Dia selalu menggunakan lidahnya untuk menyakiti jiran. Dia mengata, mengumpat, menyakitkan dan bercakap kasar dengan jiran. Saya hendak tanya apa pandangan Rasulullah tentang itu sedangkan ibadahnya banyak?" Rasulullah menjawab bahawa dia adalah penghuni Neraka.
Di sini kita faham bahawa ibadahnya tidak berbuah. Orang yang menggunakan lidah untuk menyakiti orang lain adalah orang yang tidak berakhlak dan tidak bermoral. Sepatutnya orang yang beragama tujuannya untuk melahirkan akhlak mulia. Agamanya lebat tetapi tidak membuahkan akhlak.
Jelaslah bahawa kalau menjadi orang Islam sahaja tidak menjamin Syurga. Kalau sudah menjadi orang mukmin baru dijamin Syurga. Di sini baru kita faham perbezaan orang mukmin dan Islam. Apabila seseorang itu mukmin, dia pasti Islam. Tetapi seorang Islam belum tentu dia mukmin.
Kalau begitu apa perbezaan mukmin dan muslim? Inilah kemuncak pada bab ini. Saya hendak menggambarkan secara umum perbezaan antara muslim dengan mukmin. Ciri-ciri orang mukmin perlu diketahui supaya dapat diusahakan agar ciri-ciri itu menjadi pakaian diri. Untuk menjadi orang Islam mudah. Apabila seseorang itu sudah bersyahadah, dia tidak boleh dikatakan kafir hatta kalau dia tidak bersembahyang sekalipun. Jadi, di sini dijelaskan tentang ciri-ciri orang mukmin berdasarkan ayat Quran dan sebahagian daripada Hadis supaya nanti dapat dilihat apa sebenarnya sifat-sifat orang mukmin. Kemudian sifat-sifat itu boleh diusahakan agar kita dapat menjadi orang mukmin.
CIRI-CIRI MUKMIN
Di antara sifat orang mukmin yang dinyatakan di dalam Al Quran, seperti yang terkandung di dalam satu ayat pendek:
Maksudnya: "Sesungguhnya (orang mukmin itu) apabila disebut nama Tuhan, gementar hati mereka dan apabila dibacakan ayat-ayat Allah bertambah imannya, sedang mereka itu bertawakal kepada Tuhannya." (Al Anfal: 2)
Ayat tersebut membawa tiga sifat orang mukmin iaitu:
1.   Bila disebut nama Tuhan, orang mukmin akan rasa takut. Setidak-tidaknya ada rasa kehebatan dan kekuasaan Tuhan.
2. Apabila dibaca ayat-ayat Tuhan kepada mereka, akan bertambahlah iman. Bukan sekadar hendak mencari pahala kerana bagi orang mukmin, mereka tidak memikirkan tentang pahala. Apabila orang mukmin membaca Quran, akan datang rasa takut, semakin bertambah iman dan semakin dalam rasa kehambaan dan itulah pahala bagi mereka. Kalau orang Islam pula, tidak timbul rasa takut. Mereka cuma hendakkan pahala di Akhirat. Itulah bezanya. Ayat-ayat Tuhan di sini ada dua maksud:
a. Maksud yang bersifat rohani iaitu Al Quran. Baca saja ayat Al Quran, ada satu perasaan timbul iaitu rasa takut, hebat dan terasa adanya Tuhan.
b. Maksud ayat itu juga ialah ciptaan-ciptaan lahiriah seperti gunung-ganang, lautan, daratan, langit, bumi dan sebagainya. Kejadian diri kita itu termasuk dalam ayat-ayat Tuhan. Kejadian-kejadian yang menakutkan atau yang menggembirakan, itu semua termasuk dalam ayat-ayat Tuhan. Semuanya merupakan tanda-tanda adanya kehendak bagi yang mencipta. Bagi orang mukmin, apabila mendengar saja ayat Tuhan, terus datang perasaan takut.
3. Dalam ayat tadi juga, menggambarkan orang mukmin adalah orang yang menyerahkan dirinya bulat-bulat kepada Tuhan setelah mereka yakin dan percaya dengan Tuhan. Mereka tidak lagi meragukan tentang makan minum, kesihatan, nasib dan masa depan. Apa sahaja yang Tuhan buat itu mempunyai hikmah dan apa yang datang dari Tuhan, itulah yang lebih baik. Walaupun ada benda-benda negatif, mereka dapat melihat bahawa itu semua adalah baik. Mereka berbaik sangka dengan Tuhan yang Tuhan tidak zalim dan mereka tidak prejudis dengan Tuhan.
Bagi orang Islam, mereka masih prejudis lagi dengan Tuhan. Mereka percaya tetapi nasib mereka tidak diserah kepada Tuhan bulat-bulat. Masih ada rasa takut lagi, memikirkan hal itu dan ini. Mereka sebenarnya berlepas diri dengan Allah, bukan menyerah diri pada-Nya.

Di dalam ayat lain, Allah berfirman:
Maksudnya: "Sesungguhnya jawapan orang mukmin itu apabila diajak kepada Allah dan Rasul, agar menghukum di antara mereka, mereka berkata, 'Kami dengar dan kami patuh'." (An Nur: 51)
Apabila mendengar perintah Allah, orang mukmin hanya taat dan patuh. Tidak ada masalah bagi mereka untuk patuh. Tidak berlaku pada orang mukmin itu bila datang perintah dari Tuhan, dia tidak yakin atau mempertikaikannya. Sedikit pun tidak mempersoalkannya. Bukankah mahal sifat orang mukmin itu?
Firman Allah SWT:
Maksudnya: "Dan tidaklah patut orang mukmin, lelaki dan perempuan, apabila Allah dan Rasul memerintahkan sesuatu ketetapan (sama ada perintah suruh atau larang), ada bagi mereka pilihan lain (berdolak-dalik) dalam urusan mereka." (Al Ahzab: 36)
Ayat ini pula bermaksud, orang mukmin tidak memilih sebaliknya terus melaksanakan perintah. Orang mukmin itu apabila disuruh sembahyang, dia sembahyang. Disuruh puasa, dia puasa, begitu juga bersedekah dan sebagainya. Ada orang boleh sembahyang dan boleh puasa tetapi apabila disuruh berjuang dan berjihad, banyak alasannya. Terasa susah kerana cabarannya banyak. Ada pula yang bila diperintahkan sembahyang, puasa atau naik haji tidak ditolak tetapi apabila diminta membayar zakat dan sedekah, dia berdolak-dalik. Ertinya bagi golongan ini, ada perintah Tuhan yang diterima dan ada yang tidak boleh diterima. Bagi orang mukmin, semuanya diterima. Ada juga yang boleh sembahyang dan puasa tetapi apabila disuruh berpoligami, terus menentang sedangkan orang mukmin itu tidak memilih-milih.
Firman Allah Taala lagi:
Maksudnya: "Orang mukmin lelaki dan perempuan, setengahnya menjadi pembantu bagi yang lain, mereka menyeru orang berbuat baik dan mengajak manusia menjauhi larangan Tuhan." (At Taubah: 71)
Dalam ayat ini, ada dua lagi sifat orang mukmin iaitu:
1. Menjadi pendakwah, motivator dan penasihat.
2. Berjuang menegakkan amal maaruf nahi mungkar secara berjemaah dan bekerjasama. Di antara satu sama lain ada ikatan atau jemaah. Tidak boleh berbuat secara bebas atau secara perseorangan seperti pejuang bebas, mubaligh bebas atau pendakwah bebas yang tidak ada ikatan iaitu tidak berjemaah. Seseorang mubaligh, motivator atau penasihat mesti terikat dengan jemaah supaya sejauh mana pun dia pergi, ada tempat untuk dirujuk. Tidak boleh menjadi seperti layang-layang putus tali, bebas dan tidak terikat. Itu bukan sifat orang mukmin.
Apabila orang mukmin itu sentiasa berdakwah, memberi nasihat, tunjuk ajar, mengajak kepada kebaikan dan menjauhi larangan serta sentiasa terikat dengan jemaah, ertinya dia ada pemimpin yang mengikatnya. Sebab yang penting pada jemaah itu ialah pemimpinnya. Tidak boleh menjadi pendakwah yang ibarat layang-layang putus tali. Supaya apabila ditanya atau diminta itu dan ini, ia akan menjadi mudah. Mereka boleh dibawa untuk merujuk kepada jemaah yang sudah ada tempat, pejabat atau pusatnya. Perkara itu tidak mungkin boleh dilakukan oleh pendakwah bebas. Begitulah cantiknya ajaran Tuhan. Sayangnya kalau ajaran itu tidak difahami. Suruhan supaya orang mukmin itu mesti terikat antara satu sama lain dikuatkan oleh Hadis:
Maksudnya: "Antara mukmin dengan mukmin itu ibarat satu bangunan yang mereka itu saling kuat-menguatkan (kemudian Rasulullah SAW merapatkan jari-jari tangan tangan Baginda)." (Muttafaqun 'alaih)
Rasul tidak mengatakan orang Islam dengan orang Islam itu bagaikan satu bangunan. Di dalam ayat ini disebut orang mukmin. Yang mana bangunan itu ialah gabungan dari bahagian-bahagian yang boleh diikat-ikatkan hingga boleh saling kuat-menguatkan satu sama lain. Itulah gambaran hidup orang mukmin. Kalaulah takdirnya bahan-bahan itu boleh bercakap, jika jurubina berkata, "Hai bahan-bahan rumah, aku mahu membina rumah dari engkau. Engkau menjadi atap, tiang dan dinding." Bahan-bahan itu menjawab, "Ya, kami sanggup." Tetapi jika tingkap berkata, "Saya tidak mahu terikat dengan dinding!" Dinding pula tidak mahu bersandar dengan tiang. Maka akan terbinakah bangunan itu?
Begitulah orang mukmin yang Rasul ibaratkan seperti satu bangunan. Semua bahagian mesti berkait dalam semua perkara. Bukan hanya satu dua perkara saja. Atas sebab inilah jemaah sangat penting dalam Islam. Malahan menegakkan jemaah itu adalah sunnah yang paling besar. Jemaah itu seolah-olah seperti satu kubu. Bagaimanapun berjuang, mesti ada kubu sebagai tempat berlindung yakni ada jemaah untuk menjadi tempat rujukan terutama apabila ada kesusahan.
Firman Allah SWT:
Maksudnya: "Sesungguhnya orang mukmin itu sifatnya bersaudara (berkasih sayang) dari itu damaikanlah antara dua saudaramu (yang bertentangan)." (Al Hujurat: 10)
Di sini ada dua lagi sifat orang mukmin:
1. Berkasih sayang.
2. Berukhwah dan mendamaikan. Orang mukmin sifatnya sentiasa mendamaikan pergaduhan dan menyelesaikan masalah orang lain.
Maknanya orang mukmin ada rasa berkasih sayang, bersatu padu, ada rasa bersama dan bekerjasama seperti bersaudara.
Ciri lain lagi dalam ayat di atas ialah orang mukmin sentiasa berusaha mendamaikan dua saudara. Atau mereka sentiasa berjuang bagaimana hendak menyatukan umat Islam dan hendak menyatukan manusia. Kalau setakat orang Islam sahaja, tidak ada rasa bersama. Di masjid, orang Islam bergaduh dan bertumbuk. Kadang-kadang berebut hendak menjadi imam sembahyang. Sedangkan orang mukmin takut hendak menjadi imam sebab takut hendak menanggung semua makmum. Kalau semuanya baik, memang eloklah. Bagi orang Islam pula, mereka berebut hendak menjadi imam.
Hadis menyebut lagi tentang sifat orang mukmin:
Maksud: "Perumpamaan sifat orang mukmin itu dalam berkasih sayang dan kasihan belas (di antara satu sama lain) ibarat anggota badan. Kalau kepala (salah satu anggota) sakit, maka seluruh tubuh tidak dapat tidur dan demam." (Riwayat Muslim)
Kasih sayangnya dan saling cinta-mencintai sesama mereka ibaratkan satu badan. Dalam satu badan, mana-mana anggota yang sakit, yang lain pun ikut sakit. Contohnya kalau tangan sakit, air mata pun keluar. Otak pula tidak berapa berfungsi. Perasaan tidak stabil. Seluruh badan rasa sakit. Itulah orang mukmin. Ertinya, hati orang mukmin bila melihat orang sakit, dia akan turut rasa sakit. Bila orang mendapat hiburan dia turut rasa terhibur. Begitu juga kalau orang bergembira, dia pula yang merasakan kegembiraannya. Jangan-jangan dia lebih gembira dari orang yang gembira tadi. Kerana tuan punya diri yang mukmin malu hendak menunjukkan kegembiraannya. Tetapi orang lain yang tidak ada kena-mengena pula yang melahirkan kegembiraannya. Contohnya, bagi orang mukmin, kalau kawannya mendapat PhD, dia merasa gembira seolah-olah dia yang dapat. Dia pula yang sibuk hendak mempamerkan PhD kawannya kepada orang lain. Bukan senang hendak berbuat begitu. Kalau bukan orang mukmin, pasti tidak boleh melakukannya.
Bagi orang Islam kalau menghadapi situasi itu, mungkin tidak berasa hasad dengki tetapi dia akan moyok. Orang mendapat PhD, dia pula yang moyok. Tetapi itu dikira boleh tahan kerana tidak berhasad dengki cuma rasa tidak seronok sahaja.
Begitulah orang mukmin. Kesusahan orang seolah-olah dia yang susah. Kesenangan orang, dia turut merasa senang walaupun hidupnya sendiri merempat.
Begitu banyak sifat orang mukmin yang dapat disenaraikan. Jadi, apa yang dapat difahami setelah menghayati ayat-ayat Al Quran dan Hadis itu? Kalau tidak ada ciri-ciri itu, ertinya kita hanya Islam. Begitu juga dengan orang yang tidak gementar hatinya dengan Tuhan. Atau kalau masih memilih-milih perintah Tuhan. Itu masih setakat Islam sahaja. Kalau masih belum berkasih sayang, tidak tawakal, tidak ada penyerahan diri, tidak bekerjasama dan tidak masuk jemaah bererti belum menjadi mukmin. Apabila tidak terasa susah dengan kesusahan orang dan senang dengan kesenangannya maka itu ertinya hanya baru setakat Islam. Kalau begitu orang Islam tidak boleh diharap. Inilah yang berlaku pada dunia hari ini. Yang ramai adalah orang Islam bukan orang mukmin. Semua itu adalah panduan untuk menjadi orang mukmin.
Itulah sebab-sebabnya untuk menjadi orang mukmin itu sangat mahal. Oleh kerana mahalnya, mereka dianggap orang Tuhan iaitu orang yang bertaqwa. Apabila sudah menjadi orang Tuhan maka Tuhanlah yang bertanggungjawab ke atas mereka. Tuhan melindungi dan memberi perhatian kepada mereka. Pendengaran mereka adalah pendengaran Tuhan. Penglihatan mereka adalah penglihatan Tuhan dan begitulah seterusnya.
JANJI TUHAN UNTUK ORANG MUKMIN
Oleh kerana cintanya Tuhan kepada orang mukmin maka Tuhan menyebut dalam Al Quran bahawa hanya orang mukmin sahaja akan diberi kemenangan, kejayaan, rezeki tidak diduga, dilindungi dan dijauhkan dari mala petaka. Jaminan itu tidak diberikan kepada orang Islam. Contohnya, ayat Al Quran:
Maksudnya: "Bilamana penduduk sebuah kampung (atau negeri atau negara) itu beriman dan bertaqwa, nescaya Kami akan bukakan ke atas mereka barakah daripada langit dan bumi." (Al A'raf: 96)
Di situ, disebut 'beriman' dan 'bertaqwa' tetapi bukan 'Islam'. Nyatalah bahawa Tuhan memberi jaminan akan membuka barakah langit dan bumi apabila beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Apabila Tuhan membuka barakah langit dan bumi, maka hidup manusia akan aman, harmoni, bahagia dan rezeki pula melimpah-ruah. Di dalam ayat tersebut, Tuhan tidak menyebut 'Islam' tetapi 'taqwa'. Di dalam ayat yang lain pula, Allah SWT berfirman:
Maksudnya: "Barang siapa bertaqwa pada Allah, Tuhan akan bagi dia jalan keluar daripada kesusahan, dan memberinya rezeki dari sumber yang tidak diduga." (At Talaq: 2-3)
Dalam ayat ini, Tuhan menyebut bahawa barang siapa bertaqwa kepada-Nya, maka Tuhan akan lepaskan dia dari kesusahan dan diberi rezeki dari sumber yang tidak diduga.
Ayat seterusnya berbunyi:
Maksudnya: "Sesungguhnya berhak atas Kami menolong orang mukmin." (Ar Rum: 47)
Ertinya jaminan kuat bahawa Tuhan akan menolong orang-orang mukmin. Tuhan tidak akan menolong orang Islam melainkan yang mukmin.
Allah SWT berfirman lagi tentang orang mukmin:
Maksudnya: "Sesungguhnya pemimpin kamu itu adalah Allah, Rasul dan orang mukmin, yang mendirikan sembahyang, yang menunaikan zakat, yang tunduk dan patuh. Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul dan orang beriman menjadi pemimpinnya, maka sesungguhnya itulah dia parti Allah. Ketahuilah, parti Allah pasti akan menang." (Al Maidah: 55-56)
Ayat itu bermaksud, dalam Islam, pemimpinnya mesti orang mukmin. Sesiapa yang menjadi pemimpin, mesti daripada orang mukmin barulah menjadi parti Allah. Apabila seorang yang menjadikan Allah, Rasul dan orang mukmin sebagai pemimpinnya, itulah dia parti Allah.
Nampaknya menjadi orang mukmin itu begitu penting maka mesti diusahakannya sebab hanya orang mukmin yang dijamin kemenangan di dunia dan di Akhirat serta dijamin masuk Syurga. Orang Islam, di dunia tidak akan menang dan di Akhirat akan masuk Neraka. Cuma tidak kekal sebab sudah masuk Islam. Begitu pun, sekejap di Neraka itu, beribu tahun lamanya. Api Neraka itu satu hari pun tidak larat untuk ditanggung. Jadi perlulah kita menjadi orang mukmin.
Seorang Islam itu tentu masih ada hasad dengki, riyak, sombong dan lain-lain sifat mazmumah. Itulah yang menyebabkan huru-hara. Makin ramai yang sembahyang, makin ramai pergi masjid, makin rasa tidak seronok sebab yang mengisi masjid itu hanya orang Islam, bukan orang mukmin. Hati-hati orang Islam masih tidak boleh diikat. Kalau hendak melahirkan jemaah Islam di kalangan orang Islam, itu bukan menjadi rahmat tetapi bala. Seperti yang biasa dilihat, mereka bergaduh dalam mesyuarat hingga membaling kerusi. Ertinya, hanya orang mukmin yang boleh melahirkan jemaah. Kalau bukan mukmin, bila membuat jemaah akan jadi bala juga. Bukan dapat rahmat dan nikmat tetapi pening kepala. Macam-macam masalah.
Mahalnya mukmin dan pentingnya mukmin ini sebab kerana merekalah akan diberi kemenangan. Sebab itu Rasul berkata kepada Tuhan seperti yang dinyatakan di dalam Al Quran:
Maksudnya: "(Wahai Tuhan) jadikanlah kami pemimpin kepada pengikut yang bertaqwa." (Al Furqan: 74)
Pengikut yang bertaqwa itu maksudnya orang mukmin. Rasul tidak menyebut, "Wahai Tuhan, jadikan aku pemimpin bagi orang Islam." Oleh itu, di dalam hidup ini, kalau dapat menjadi orang mukmin baru dapat menjadi orang Tuhan. Apabila sudah menjadi orang Tuhan, barulah ada jaminan Tuhan akan bela dan Tuhan akan beri kemenangan.
Di sinilah rahsianya mengapa umat Islam di seluruh dunia hari ini hina dan tidak mendapat bantuan Tuhan. Yakni kerana masih di peringkat Islam bukan mukmin. Baru di peringkat muslim tetapi bukan bertaqwa. Adalah pelik bila ulama-ulama hendak mencari sebab mengapa umat Islam terjadi begini, iaitu hina, mundur dan bergaduh sesama sendiri, mereka mengatakan kerana kurangnya ilmu. Dikatakan pula umat Islam kurang maju dan terhina hari ini sebab tidak ada ilmu, tidak ada kemajuan dan miskin. Tidak pula disebut tentang taqwa dan tentang iman. Seolah-olah mereka tidak faham Al Quran sedangkan sudah ada ayat yang jelas tentang perkara ini tetapi tidak pula mereka menyebutnya. Mereka juga memberi alasan lagi bahawa umat Islam kurang memahami ilmu sains dan teknologi. Padahal sudah jelas bahawa Tuhan memberikan formula gagalnya orang-orang Islam ialah kerana tidak bertaqwa kepada Allah, bukan kerana tidak cukup ilmu sains dan teknologi.
Inilah yang Tuhan sedang sedarkan kita. Orang yang sudah Islam hendak kita mukminkan, hendak kita taqwakan. Inilah kerja kita. Memanglah berat. Di seluruh dunia hampir dua billion umat Islam dan kita hendak berjuang terhadap mereka iaitu hendak meningkatkan mereka daripada muslim kepada orang yang bertaqwa. Itu bukan kerja kecil. Sebab itu tidak mengapa kalau kita hanya kelompok kecil tetapi berjiwa besar. Kalau sudah menjadi orang Tuhan, kelompok yang kecil itu boleh memberi rahmat dan berkat yang besar kepada kelompok yang besar dengan izin Allah. Kalau sudah menjadi orang Tuhan, Tuhan yang akan melakukannya.
Marilah kita berusaha menjadi orang mukmin yang bertaqwa bukan hanya setakat orang Islam.

Sajak
Hati Mukmin
Mengalirlah air mata mukmin atau mengalirlah
air mata hatinya bila mengingat Tuhannya
Malunya hati mukmin bila mengenang Rahim
dan Rahman Tuhan, anugerah dan pemberian-Nya
Remuk-redamlah hatinya bila teringat
Qahhar dan Jabbar-Nya
Kecut perutnya bila teringat hukuman dan azab-Nya
Resah gelisah jiwanya bila melakukan dosa
Sedih hatinya bila lalai dengan Tuhannya
kemudian sedar semula
Tidak tentu arah rasa hatinya
bila terbuat kesalahan dan kesilapan
Hati mukmin tidak pernah tenang dengan Tuhannya
tapi tenang dengan dunianya
Jiwanya sentiasa sahaja bergelombang
terhadap Tuhannya
Jiwanya bagaikan air lautan tidak pernah tenang
Kalaulah bukan kerana ada kewajipan masyarakat
yang patut dipertanggungjawabkan
Sudah tentu mereka suka bersendirian
Atau membawa diri berkelana bersama Tuhannya
Atau menyisihkan dirinya dari masyarakatnya
Kerana terlalu memikirkan diri terhadap Tuhannya
Begitulah hati seorang mukmin
Sentiasa gundah-gulana
Oleh itu mereka tidak sempat memikirkan
hal orang lain
Kerana terlalu memikirkan nasib dirinya

Saturday, 1 February 2014

Tentang Manusia


 
 
Sesungguhnya manusia diciptakan oleh Allah SWT adalah paling sempurna dibandingkan dengan machluk yang lainya, termasuk diantaranya Malaikat, Jin, Iblis, Binatang, dllnya. Tetapi kita sendiri sebagai manusia tidak tahu atau tidak kenal akan diri kita sendiri sebagai manusia. Untuk itu marilah kita pelajari diri kita ini sebagai manusia, Siapa diri kita ini? Dari mana asalnya? Mau kemana nantinya? Dan yang paling penting adalah bagaimana kita menempuh kehidupan didunia ini supaya selamat didunia dan akhirat nanti?


Sebenarnya manusia itu terdiri atas 3 unsur yaitu:
  1. Jasmani.
    Terdiri dari Air, Kapur, Angin, Api dan Tanah.
  2. Ruh.
    Terbuat dari cahaya (NUR). Fungsinya hanya untuk menghidupkan jasmani saja.
  3. Jiwa. (An Nafsun/rasa dan perasaan).
    Terdiri atas 3 unsur:
    • Syahwat/Lawwamah (darah hitam), dipengaruhi sifat Jin, sifatnya adalah: Rakus, pemalas, Serakah, dll (kebendaan/materialis)-menjadi beban masyarakat.
    • Ghodob/Ammarah ( Darah merah ), dipengaruhi oleh sifat Iblis, Sifatnya adalah: Sombong, Merusak, Angkara murka dll (Menentang)-Menjadi pengacau masyarakat.
    • Natiqoh/Muthmainah (darah Putih), Dipengarui sifat malaikat, Sifatnya adalah: Bijaksana, Tenang, Berbudi luhur, Berachlak Tinggi dan Mulia- Menciptakan kedamaian dan kasih sayang.
 

Alat dari pada Jiwa yaitu otak, yang terdiri atas 3 bagian juga:
  1. Akal (timbangan) haq atau bathil
  2. Pikir (hitungan) Untung rugi
  3. Zikir (ingatan) Ingat Allah
Jadi kalau diibaratkan mobil maka jasmani ini adalah Body daripada mobil sedangkan Ruh sebagai Accu yang sifatnya hanyalah sebagai yang menghidupkan saja dan Jiwa adalah sopir atau yang mengendalikan dari pada mobilnya dimana dialah yang bertanggung jawab atas keselamatan dari pada mobil itu sendiri. Jadi Disini jelaslah bahwa yang dikatakan manusia itu adalah Jiwanya dimana dialah yang bertanggung jawab atas perbuatanya. 
Machluk machluk yang diciptakan Allah ( dimana ada yang menjadi musuh atau lawan manusia yaitu Iblis dan Jin kafir.) 
Ada 6 machluk yaitu:
  1. Malaikat, Dari Nur (cahaya) menerangi/mengawasi manusia.
  2. Iblis, Dari Nar (Api), sifatnya merusak, merupakan musuh manusia.
  3. Jin, Dari asap yang beracun, sifatnya memabukan, merupakan penggoda dan juga membantu manusia.
  4. Tumbuhan, Hanya mempunyai  naluri, berfaedah, untuk kebutuhan manusia.
  5. Hewan, Syahwat dan ghodob, berfaedah untuk kepentingan manusia.
  6. Manusia, Sebagai pengatur alam, pengurus dunia(khalifah rachmatan lil alamin).
Corak corak Manusia:
  • Mu'min
  • Kafir
  • Munafi
Perjalanan Kehidupan Manusia:
  1. Alam Arwah/Ruh, Masih didalam alam suci/taqdir ketentuan
  2. Alam Rahim, Didalam Kandungan Ibu/Qadarditentukan
  3. Alam Dunia/Alam Qodho, Penyelesaian/Untuk sementara
  4. Alam Kubur/Alam Barzah, Dalam tahanan alam Kubur/prefentif
  5. Alam Mizan, Timbangan Alam dibangkitkanya kembali Manusia
  6. Yaumil Ma'lum ( Hari Pengumuman/Keputusan), Sorga bagi yang beramal baik; Neraka bagi yang beramal buruk

Perjalanan Panjang Kehidupan Manusia di Tujuh Alam


Dalam perjalanan hidupnya manusia akan melalui 7 tahap perjalanan hingga akhirnya mendapat kemenangan bertemu dengan Allah di surga atau terpuruk dilembah neraka. Tiap tahap ditempuh dalam waktu yang berbeda mulai dari hitungan beberapa bulan hingga ribuan tahun. Inilah ketujuh alam yang telah, sedang dan akan dilalui oleh setiap manusia.


1.Alam ruh
Perjalanan hidup manusia dimulai darialam ruh ketika Allah mengumpulkan semua ruh manusia yang akan diturunkan kebumi. Kejadian ini dikisahkan dalam QS.Al-A’raf ayat 173:
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”


2.Alam Rahim
Setelah membuat kesaksian tentang Allah selanjutnya satu persatu ruh tersebut dihembuskan Allah kedalam rahim ibu sebagaimana disebutkan dalam QS. Sajdah ayat 9, “Kemudian dibentukNya (janin dalam rahim) dan ditiupkan ke dalamnya sebagian dari ruhNya.”
Sejak itu mulailah manusia memasuki tahap kedua dari perjalanan hidupnya. Kurang lebih selama 9 bulan janin manusia menetap dirahim ibu untuk kemudian setelah tiba waktunya lahir kedunia menjadi seorang bayi.


3. Alam dunia
Sejak lahir kedunia mulailah manusia memasuki tahap ketiga dari perjalanan hidupnya. Manusia hidup diduniadengan umur yang beragam mulai dari yang hidup hanya beberapa saat hingga yang hidup puluhan tahun bahkan ada yang lebih dari 100 tahun. Kehidupan dunia adalah kehidupan yang pertama bagi manusia. Allah menjadikan dua kali kehidupan dan dua kali kematian bagi manusia sebagaimana disebutkan dalam QS Al Mukmin ayat 11.


4. Alam Kubur (barzakh)
Jika kematian datang menghampiri seseorang maka putuslah hubungannya dengan kehidupan dunia. Hanya amal baik dan buruklah yang abadi menemani sampai kealam kubur. Amal baik seperti shalat, zakat, sedekah dan zikir semua itu akan membawa kebahagian dan ketentraman dialam kubur.
Sebaliknya amal buruk seperti perbuatan dosa mendurhakai Allah, melakukan perbuatan yang dilarang dan dimurkaiNya, serta meninggalkan amal perbuatan yang diperintahkan semua itu akan membawa kesengsaraan dialam kubur. Alam ini adalah masa penantian yang penuh kesengsaraan bagi kaum pendosa dan penuh kebahagiaan bagi orang beriman. Alam kubur akan berakhir pada hari kiamat kelak.


5.Hari Kiamat (kebangkitan)
Peristiwa kiamat dimulai dengan tiupan sangkakala dari malaikat Isrofil yang diikuti dengan hancurnya seluruh kehidupan di muka bumi. Kemudian pada tiupan sangkakala untuk yang kedua kalinya semua mahluk sejak bumi terbentang sampai kiamat dibangkitkan dan dikumpulkan di padang mahsyar . Firman Allah dalam QS Az-Zumar ayat 68:
Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).”


6.Hari Penghisaban (perhitungan amal)
Pada hari berhisab setiap orang diadili, ditimbang amal baik dan buruknya tidak ada satu perbuatanpun yang luput dari pemeriksaan. Orang yang baik timbangan amalnya akan menerima raport dari sebelah kanan. Dia akan kembali kepada teman dan saudaranya dengan penuh kegembiraan. Sedangkan orang yang buruk timbangan amalnya akan menerima kitab raport dari belakang, dia mengeluh dan kembali kepada teman serta saudaranya dengan berkeluh kesah. Susana tersebut dilukiskan dalam QS. Al-Insyiqaq ayat 7-12.


7.Hari Pembalasan
Setelah menerima raport setiap orang diperintahkan menempuh perjalanan menuju tempat abadi yang telah disiapkan untuk mereka. Orang yang telah menerima raport dari sebelah kanan dengan mudah dapat melalui lembah neraka yang ganas, dia tidak merasakan panasnya api neraka sedikitpun. Dia sampai di surga abadi dengan penuh kegembiraan disambut oleh penduduk surga dengan pesta meriah,hidup kekal selamanya disana.
Namun orang-orang yang menerima raport dari belakang, terpuruk dilembah nerakadan tidak pernah bisa keluar dari situ untuk selamanya sebagaimana yang difirmankan Allah dalam QS Maryam ayat 68- 72.


Kehidupan manusia di dunia adalah kehidupan yang akan menentukan kehidupan dia selanjutnya di alam lain. Setiap kebaikan sesuai ajaran Islam akan memudahkan hidupnya di alam kubur dan di hari pembalasan. Dan sebaliknya, keburukan akan membawanya pada kesengsaraan di alam kubur dan di alam akhirat. Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa memperbanyak amal untuk meraih ridho-Nya dan bertemu dengan-Nya di surga kelak.