Wednesday, 1 August 2012

Mengenal Para Wali Allah





Wali Allah

Syaikh Abu Hasan Ali Hujwiri dalam kitabnya yang berjudul Kasyf Al-Mahjub, mengatakan bahwa wali Akhyar sebanyak 300 orang, wali Abdal sebanyak 40 orang, wali Abrar sebanyak 7 orang, wali Autad sebanyak 4 orang, wali Nuqaba sebanyak 3 orang dan wali Quthub atau Ghauts sebanyak 1 orang. Sedangkan menurut Syaikhul Akbar Muhyiddin ibnu `Arabi dalam kitabnya al-Futuhat al-Makkiyyah membuat pembagian tingkatan wali dan kedudukannya. Jumlah mereka sangat banyak, ada yang terbatas dan yang tidak terbatas. Sedikitnya terdapat 9 tingkatan, secara garis besar dapat diringkas sebagai berikut:

1. Wali Quthub al-Aqthab atau Wali Quthub al-Ghauts
Wali yang sangat paripurna. Ia memimpin dan menguasai wali diseluruh alam semesta. Jumlahnya hanya seorang setiap masa. Jika wali ini wafat, maka Wali Quthub lainnya yang menggantikan.

2. Wali Aimmah
Pembantu Wali Quthub. Posisi mereka menggantikan Wali Quthub jika wafat. Jumlahnya dua orang dalam setiap masa. Seorang bergelar Abdur Robbi, bertugas menyaksikan alam malakut. Dan lainnya bergelar Abdul Malik, bertugas menyaksikan alam malaikat.

3. Wali Autad
Jumlahnya empat orang. Berada di empat wilayah penjuru mata angin, yang masing-masing menguasai wilayahnya. Pusat wilayah berada di Kaabah. Kadang dalam Wali Autad terdapat juga wanita. Mereka bergelar Abdul Hayyi, Abdul Alim, Abdul Qadir dan Abdul Murid.
 
4. Wali Abdal
Abdal berarti pengganti. Dinamakan demikian karena jika meninggal di suatu tempat, mereka menunjuk penggantinya. Jumlah Wali Abdal sebanyak tujuh orang, yang menguasai ketujuh iklim. Pengarang kitab al-Futuhatul Makkiyyah dan Fushus Hikam yang terkenal itu (Muhyiddin ibnu 'Arabi) mengaku pernah melihat dan bergaul baik dengan ke tujuh Wali Abdal di Makkatul Mukarramah.
Pada tahun 586 di Spanyol, Muhyiddin ibnu 'Arabi bertemu Wali Abdal bernama Musa al-Baidarani. Sahabat Muhyiddin ibnu 'Arabi yang bernama Abdul Majid bin Salamah mengaku pernah juga bertemu Wali Abdal bernama Muâ'az bin al-Asyrash. Beliau kemudian menanyakan bagaimana cara mencapai kedudukan Wali Abdal. Ia menjawab dengan lapar, tidak tidur dimalam hari, banyak diam dan mengasingkan diri dari keramaian.
 
5. Wali Nuqobaa
Jumlah mereka sebanyak 12 orang dalam setiap masa. Allah memahamkan mereka tentang hukum syariat. Dengan demikian mereka akan segera menyadari terhadap semua tipuan hawa nafsu dan iblis. Jika Wali Nuqobaa melihat bekas telapak kaki seseorang diatas tanah, mereka mengetahui apakah jejak orang alim atau bodoh, orang baik atau tidak.

6. Wali Nujabaa
Jumlahnya mereka sebanyak 8 orang dalam setiap masa.

7. Wali Hawariyyun
Berasal dari kata hawari, yang berarti pembela. Ia adalah orang yang membela agama Allah, baik dengan argumen maupun senjata. Pada zaman nabi Muhammad sebagai Hawari adalah Zubair ibnu Awam. Allah menganugerahkan kepada Wali Hawariyyun ilmu pengetahuan, keberanian dan ketekunan dalam beribadah.

8. Wali Rajabiyyun
Dinamakan demikian, karena karomahnya muncul selalu dalam bulan Rajab. Jumlah mereka sebanyak 40 orang. Terdapat di berbagai negara dan antara mereka saling mengenal. Wali Rajabiyyun dapat mengetahui batin seseorang. Wali ini setiap awal bulan Rajab, badannya terasa berat bagaikan terhimpit langit. Mereka berbaring diatas ranjang dengan tubuh kaku tak bergerak. Bahkan, akan terlihat kedua pelupuk matanya tidak berkedip hingga sore hari. Keesokan harinya perasaan seperti itu baru berkurang. Pada hari ketiga, mereka menyaksikan peristiwa ghaib.
Berbagai rahasia kebesaran Allah tersingkap, padahal mereka masih tetap berbaring diatas ranjang. Keadaan Wali Rajabiyyun tetap demikian, sesudah 3 hari baru bisa berbicara.
Apabila bulan Rajab berakhir, bagaikan terlepas dari ikatan lalu bangun. Ia akan kembali ke posisinya semula. Jika mereka seorang pedagang, maka akan kembali ke pekerjaannya sehari-hari sebagai pedagang.

9. Wali Khatam
Khatam berarti penutup. Jumlahnya hanya seorang dalam setiap masa. Wali Khatam bertugas menguasai dan mengurus wilayah kekuasaan ummat nabi Muhammd saw.
Jumlah para Auliya yang berada dalam manzilah-manzilah ada 356 sosok, yang mereka itu ada dalam kalbu Adam, Nuh, Ibrahim, Jibril, Mikail, dan Israfil. Dan ada 300, 40, 7, 5, 3 dan 1. Sehingga jumlah kerseluruhan 356 tokoh. Hal ini menurut kalangan Sufi karena adanya hadits yang menyebut demikian.

Sedangkan menurut Syaikh al-Akbar Muhyiddin ibnu 'Arabi (menurut beliau muncul dari mukasyafah) maka jumlah keseluruhan Auliya yang telah disebut diatas, sampai berjumlah 589 orang. Diantara mereka ada satu orang yang tidak mesti muncul setiap zaman, yang disebut sebagai al-Khatamul Muhammadi, sedangkan yang lain senantiasa ada di setiap zaman tidak berkurang dan tidak bertambah. Al-Khatamul Muhammadi pada zaman ini (zaman Muhyiddin ibnu 'Arabi), kami telah melihatnya dan mengenalnya (semoga Allah menyempurnakan kebahagiaannya), saya tahu ia ada di Fes (Marokko) tahun 595 H. Sementara yang disepakati kalangan Sufi, ada 6 lapisan para Auliya, yaitu para Wali: Ummahat, Aqthab, A'immah, Autad, Abdal, Nuqaba dan Nujaba.

Pada pertanyaan lain : Siapa yang berhak menyandang Khatamul Auliya sebagaimana gelar Khatamun Nubuwwah yang disandang oleh Nabi Muhammad saw?.

Ibnu Araby menjawab :
Al-Khatam itu ada dua: Allah menutup Kewalian (mutlak), dan Allah menutup Kewalian Muhammadiyah. Penutup Kewalian mutlak adalah Nabi Isa Alaihissalaam. Dia adalah Wali dengan Nubuwwah Mutlak, yang kelak turun di era ummat ini, dimana turunnya di akhir zaman, sebagai pewaris dan penutup, dimana tidak ada Wali dengan Nubuwwah Mutlak setelah itu. Ia disela oleh Nubuwwah Syari'at dan Nubuwwah Risalah. Sebagaimana Nabi Muhammad saw sebagai Penutup Kenabian, dimana tidak ada lagi Kenabian Syariat setelah itu, walau pun setelah itu masih turun seperti Nabi Isa, sebagai salah satu dari Ulul 'Azmi dari para Rasul dan Nabi mulia. Maka turunnya Nabi Isa sebagai Wali dengan Nubuwwah mutlaknya, tetapi aturannya mengikuti aturan Nabi Muhammad saw, bergabung dengan para Wali dari ummat Nabi Muhammad lainnya. Ia termasuk golongan kita dan pemuka kita.

Pada mulanya, ada Nabi, yaitu Adam as. Dan akhirnya juga ada Nabi, yaitu Nabi Isa, sebagai Nabi Ikhtishah (kekhususan), sehingga Nabi Isa kekal di hari mahsyar ikut terhampar dalam dua hamparan mahsyar. Satu Mahsyar bersama kita, dan satu mahsyar bersama para Rasul dan para Nabi.
Adapun Penutup Kewalian Muhammadiyah, saat ini (zaman Muhyiddin ibnu 'Arabi) ada pada seorang dari bangsa Arab yang memiliki kemuliaan sejati. Saya kenal di tahun 595 H. Saya melihat tanda rahasia yang diperlihatkan oleh Allah Ta'ala pada saya dari kenyataan ubudiyahnya, dan saya lihat itu di kota Fes, sehingga saya melihatnya sebagai Penutup Kewalian Muhammadiyah darinya. Dan Allah telah mengujinya dengan keingkaran berbagai kalangan padanya, mengenai hakikat Allah dalam sirr-nya.

Sebagaimana Allah menutup Nubuwwah Syariat dengan Nabi Muhammad SAW, begitu juga Allah menutup Kewalian Muhammadi, yang berhasil mewarisi Al-Muhammadiyah, bukan diwarisi dari para Nabi. Sebab para Wali itu ada yang mewarisi Ibrahim, Musa, dan Nabi Isa, maka mereka itu masih kita dapatkan setelah munculnya Khatamul Auliya’ Muhammadi, dan setelah itu tidak ada lagi Wali pada Kalbu Muhammad saw. Inilah arti dari Khatamul Wilayah al-Muhammadiyah. Sedangkan Khatamul Wilayah Umum, dimana tidak ada lagi Wali setelah itu, ada pada Nabi Isa Alaissalam. Dan kami menemukan sejumlah kalangan sebagai Wali pada Kalbu Nabi Isa As, dan sejumlah Wali yang berada dalam Kalbu para Rasul lainnya.

Dilain tempat, Ibnu 'Arabi mengatakan bahwa dirinyalah yang menjadi Segel (Penutup) Kewalian Muhammad. Beberapa wali yang pernah mencapai derajat wali Quthub al-Aqthab (Quthub al-Ghaus) pada masanya :
• Sayyid Hasan ibnu Ali ibnu Abi Thalib
• Khalifah Umar ibnu Abdul Aziz
• Syaikh Yusuf al-Hamadani
• Syaikh Abdul Qadir al-Jilani
• Syaikh Ahmad al-Rifa'i
• Syaikh Abdus Salam ibnu Masyisy
• Syaikh Ahmad Badawi
• Syaikh Abu Hasan asy-Syazili
• Syaikh Muhyiddin ibnu Arabi
• Syaikh Muhammad Bahauddin an-Naqsabandi
• Syaikh Ibrahim Addusuqi
• Syaikh Jalaluddin Rumi

Syaikh Abdul Qadir al-Jilani
Beliau pernah berkata Kakiku ada diatas kepala seluruh wali. Menurut Abdul Rahman Jami dalam kitabnya yang berjudul Nafahat Al-Uns, bahwa beberapa wali terkemuka diberbagai abad sungguh-sungguh meletakkan kepala mereka dibawah kaki Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.

Syaikh Ahmad al-Rifa'i
Sewaktu beliau pergi Haji, ketika berziarah ke Maqam Nabi Muhammad Saw, maka nampak tangan dari dalam kubur Nabi bersalaman dengan beliau dan beliau pun terus mencium tangan Nabi SAW yang mulia itu. Kejadian itu dapat disaksikan oleh orang ramai yang juga berziarah ke Maqam Nabi Saw tersebut. Salah seorang muridnya berkata :

“Ya Sayyidi! Tuan Guru adalah Quthub”. Jawabnya; “Sucikan olehmu syak mu daripada Quthubiyah”. Kata murid: “Tuan Guru adalah Ghaus!”. Jawabnya: “Sucikan syakmu daripada Ghausiyah”.

Al-Imam Sya’roni mengatakan bahwa yang demikian itu adalah dalil bahwa Syaikh Ahmad al-Rifa'i telah melampaui “Maqamat” dan “Athwar” karena Qutub dan Ghauts itu adalah Maqam yang maklum (diketahui umum).
Sebelum wafat beliau telah menceritakan kapan waktunya akan meninggal dan sifat-sifat hal ihwalnya beliau. Beliau akan menjalani sakit yang sangat parah untuk menangung bilahinya para makhluk. Sabdanya, Aku telah di janji oleh Allah, agar nyawaku tidak melewati semua dagingku (daging harus musnah terlebih dahulu). Ketika Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i sakit yang mengakibatkan kewafatannya, beliau berkata, “Sisa umurku akan kugunakan untuk menanggung bilahi agungnya para makhluk.

Kemudian beliau menggosok-ngosokkan wajah dan uban rambut beliau dengan debu sambil menangis dan beristighfar . Yang dideritai oleh Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i ialah sakit “Muntah Berak”. Setiap hari tak terhitung banyaknya kotoran yang keluar dari dalam perutnya. Sakit itu dialaminya selama sebulan. Hingga ada yang tanya, Kok, bisa sampai begitu banyaknya yang keluar, dari mana ya kanjeng syaikh. Padahal sudah dua puluh hari tuan tidak makan dan minum.

Beliau menjawab, Karena ini semua dagingku telah habis, tinggal otakku, dan pada hari ini nanti juga akan keluar dan besok aku akan menghadap Sang Maha Kuasa. Setelah itu ketika wafatnya, keluarlah benda yang putih kira-kira dua tiga kali terus berhenti dan tidak ada lagi yang keluar dari perutnya. Demikian mulia dan besarnya pengorbanan Aulia Allah ini sehingga sanggup menderita sakit menanggung bala yang sepatutnya tersebar ke atas manusia lain. Wafatlah Wali Allah yang berbudi pekerti yang halus lagi mulia ini pada hari Kamis waktu duhur 12 Jumadil Awal tahun 570 Hijrah. Riwayat yang lain mengatakan tahun 578 Hijrah.

Syaikh Ahmad Badawi
Setiap hari, dari pagi hingga sore, beliau menatap matahari, sehingga kornea matanya merah membara. Apa yang dilihatnya bisa terbakar, khawatir terjadinya hal itu, saat berjalan ia lebih sering menatap langit, bagaikan orang yang sombong. Sejak masa kanak kanak, ia suka berkhalwat dan riyadhoh, pernah empat puluh hari lebih perutnya tak terisi makanan dan minuman. Ia lebih memilih diam dan berbicara dengan bahasa isyarat, bila ingin berkomunikasi dengan seseorang. Ia tak sedetikpun lepas dari kalimat toyyibah, berdzikir dan bersholawat.

Pada usia dini beliau telah hafal Al-Quran, untuk memperdalam ilmu agama ia berguru kepada syaikh Abdul Qadir al-Jailani dan syaikh Ahmad Rifai. Suatu hari, ketika beliau telah sampai ketingkatannya, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, menawarkan kepadanya: “Manakah yang kau inginkan ya Ahmad Badawi, kunci Masyriq atau Maghrib, akan kuberikan untukmu”, hal yang sama juga diucapkan oleh gurunya Syaikh Ahmad Rifai, dengan lembut, dan karna menjaga tatakrama murid kepada gurunya, ia menjawab; Aku tak mengambil kunci kecuali dari al-Fattah (Allah ).

Peninggalan syaikh Ahmad Badawi yang sangat utama, yaitu bacaan shalawat badawiyah sughro dan shalawat badawiyah kubro.

Syaikh Abu Hasan Asy-Syazili
Keramat itu tidak diberikan kepada orang yang mencarinya dan menuruti keinginan nafsunya dan tidak pula diberikan kepada orang yang badannya digunakan untuk mencari keramat. Yang diberi keramat hanya orang yang tidak merasa diri dan amalnya, akan tetapi dia selalu tersibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang disenangi Allah dan merasa mendapat anugerah (fadhal) dari Allah semata, tidak menaruh harapan dari kebiasaan diri dan amalnya.

Di antara keramatnya para Shiddiqin ialah :
1. Selalu taat dan ingat pada Allah swt. secara istiqamah (kontineu).
2. Zuhud (meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi).
3. Bisa menjalankan perkara yang luar bisa, seperti melipat bumi, berjalan di atas air dan sebagainya.

Diantara keramatnya Wali Qutub ialah :
1. Mampu memberi bantuan berupa rahmat dan pemeliharaan yang khusus dari Allah swt.
2. Mampu menggantikan Wali Qutub yang lain.
3. Mampu membantu malaikat memikul Arsy.
4. Hatinya terbuka dari haqiqat dzatnya Allah swt. dengan disertai sifat-sifat-Nya.

Beliau pernah dimintai penjelasan tentang siapa saja yang menjadi gurunya. Kemudian beliau menjawab, Guruku adalah Syaikh Abdus Salam ibnu Masyisy, akan tetapi sekarang aku sudah menyelami dan minum sepuluh lautan ilmu. Lima dari bumi yaitu dari Rasululah saw, Abu Bakar r.a, Umar bin Khattab r.a, Usman bin Affan r.a dan Ali bin Abi Thalib r.a, dan lima dari langit yaitu dari malaikat Jibril, Mika'il, Isrofil, Izro'il dan ruh yang agung.

Beliau pernah berkata, Aku diberi tahu catatan muridku dan muridnya muridku, semua sampai hari kiamat, yang lebarnya sejauh mata memandang, semua itu mereka bebas dari neraka. Jikalau lisanku tak terkendalikan oleh syariat, aku pasti bisa memberi tahu tentang kejadian apa saja yang akan terjadi besok sampai hari kiamat. Syekh Abu Abdillah Asy-Syathibi berkata, Aku setiap malam banyak membaca Radiyallahu'an Asy-Syekh Abul Hasan dan dengan ini aku berwasilah meminta kepada Allah swt apa yang menjadi hajatku, maka terkabulkanlah apa saja permintaanku.

Lalu aku bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw. dan aku bertanya, Ya Rasulallah, kalau seusai shalat lalu berwasilah membaca Radiya Allahu ˜An Asy-Syaikh Abu Hasan dan aku meminta apa saja kepada Allah swt, apa yang menjadi kebutuhanku lalu dikabulkan, seperti hal tersebut apakah diperbolehkan atau tidak?. Lalu Nabi saw menjawab, Abu Hasan itu anakku lahir batin, anak itu bagian yang tak terpisahkan dari orang tuanya, maka barang siapa bertawassul kepada Abu Hasan, maka berarti dia sama saja bertawassul kepadaku.

Peninggalan syaikh Abu Hasan asy-Syazili yang sangat utama, yaitu Hizib Nashr dan Hizib Bahar. Orang yang mengamalkan Hizib Bahar dengan istiqomah, akan mendapat perlindungan dari segala bala. Bahkan, bila ada orang yang bermaksud jahat mau menyatroni rumahnya, ia akan melihat lautan air yang sangat luas. Si penyatron akan melakukan gerak renang layaknya orang yang akan menyelamatkan diri dari daya telan samudera. Bila di waktu malam, ia akan terus melakukan gerak renang sampai pagi tiba dan pemilik rumah menegurnya. Hizib Bahar ditulis syaikh Abu Hasan asy-Syazili di Laut Merah (Laut Qulzum).

Di laut yang membelah Asia dan Afrika itu syaikh Abu Hasan asy-Syazili pernah berlayar menumpang perahu. Di tengah laut tidak angin bertiup, sehingga perahu tidak bisa berlayar selama beberapa hari. Dan, beberapa saat kemudian Syaikh al-Syadzili melihat Rasulullah. Beliau datang membawa kabar gembira. Lalu, menuntun syaikh Abu Hasan asy-Syazili melafazkan doa-doa. Usai syaikh Abu Hasan asy-Syazili membaca doa, angin bertiup dan kapal kembali berlayar.

WALLOHU A'LAM BISSHOWAB



~FATIMAH AZZAHRA A.S. KETUA WANITA SYURGA~




"wanita solehah dicemburui oleh bidadari syurga"


Nama : Fathimah Gelar : Az-Zahra Julukan : Ummu al-Aimah, Sayyidatu Nisa’, al-‘Alamin, Ummu Abiha Ayah : Muhammad Rasulullah saw  Ibu : Khadijah al-Kubra Tempat/Tgl Lahir : Makkah, Hari Jum’at, 20 Jumadi al-Tsani (jamadil akhir) Hari/Tgl Wafat : Selasa, 3 Jumadi al-Tsani Tahun 11 H Umur : 18 Tahun Makam: ??? Jumlah Anak : 4 orang; 2 laki-laki dan 2 perempuan Laki-laki : Hasan dan Husein Perempuan : Zainab dan Ummu Kaltsum 

Riwayat Hidup
Di antara anak wanita Rasulullah s.a.w, Fathimah Az-Zahra a.s, merupakan wanita paling utama kedudukannya. Kemuliannya itu diperoleh sejak menjelang kelahirannya, yang didampingi wanita suci sebagaiman yang diucapkan oleh Khadijah:"Pada waktu kelahiran Fartimah a.s, aku meminta bantuan wanita-wanita Quraish tetanggaku, untuk menolong. Namun mereka menolak mentah-mentah sambil mengatakan bahwa aku telah menghianati mereka dengan mendukung Muhammad. Sejenak aku bingung dan terkejut luar biasa ketika melihat empat orang tinggi besar yang tak kukenal, dengan lingkaran cahaya disekitar mereka mendekati aku. Ketika mereka mendapati aku dalam kecemasan salah seorang dari mereka menyapaku: ‘Wahai Khadijah! Aku adalah Sarah, ibunda Ishhaq dan tiga orang yang menyapaku adalah Maryam, Ibunda Isa, Asiah, Putri Muzahim, dan Ummu Kultsum, Saudara perempuan Musa. Kami semua diperintah oleh Allah untuk mengajarkan ilmu keperawatan kami jika anda bersedia". Sambil mengatakan hal tersebut, mereka semua duduk di sekelilingku dan memberikan pelayanan kebidanan sampai putriku Fathimah a.s lahir." Meningkat usia 5 tahun, beliau telah ditinggal pergi ibunya.


Tidak secara langsung beliau mengantikan tempat ibunya dalm melayani, membantu dan memebela Rasulullah s.a.w, sehingga beliau mendapat gelar Ummu Abiha (ibu dari ayahnya). Dan dalam usia yang masih kanak-kanak, beliau juga telah dihadapkan kepada berbagai macam uji coba. Beliau melihat dan meyaksikan perlakuan keji kaum kafir Quraish kepada ayahandanya, sehingga seringkali pipi beliau basah oleh linangan air mata kerana melihat penderitaan yang dialalmi ayahnya. Ketika Rasulullah pindah ke kota Madinah beliau ikut berhijrah bersama ayahnya. Selang beberapa tahun setelah hijrah tepat pada tanggal 1 dzulhijjah, hari jum’at, tahun 2 Hijrah, beliau menikah dengan Ali bin Abi Thalib.Dari pernikahannya suci yang diberkati oleh Allah SWT, beliau dikaruniai dua orang putra; Hasan dan Husein serta dua orang putri, Zainab dan Ummi Kaltsum, mereka semua terkenal sebagai orang yang sholeh, baik dan pemurah hati.


Fathimah bukan hanya seorang anak yang paling berbakti pada ayahnya, tapi sekaligus sebagai seorang istri yang setia mendampingi suaminya disegala keadaan serta sebagai pendididk terbaik telah berhasil mendidik anak-anaknya. Masa-masa indah bagi beliau adalah ketika hidup bersama Rasulullah s.a.w. Beliau mempunyai tempat agung disisi Rasulullah sehingga digambarkan di kitab Thabari Hal 40, Siti Aisah berkata: “Aku tidak melihat orang yang pembicaraannya mirip dengan Rasulullah s.a.w seperti Fathimah as. Apabila datang kepada ayahanya, beliau berdiri, menciumnya, menyambut gembira dan mengiringnya lalu didudukkan di tempat duduk beliau. Apabila Rasulullah datang kepadanya, ia pun berdiri menyambut ayahandanya dan mencium tangan beliau s.a.w".


Tidak heran, jika setelah kepergian baginda Rasulullah, beliau sangat sedih dan berduka cita, hatinya menangis dan menjerit sepanjang waktu. Namun perlu diketahui bahwa kesedihan dan tangisannya itu bukanlah semata-mata kehilangan Rasulullah s.a.w tapi juga beliau melihat kelakukan umat sesudahnnya yang sudah banyak menyimpang dari ajaran ayahnya, dimana penyimpangan itu akan membawa kesengsaraan bagi kehidupan mereka. Sejarah mencatat bahwa Sayyidah Fathimah Az-Zahra a.s setelah kepergian Rasulullah s.a.w tidak penah terlihat senyum apalagi tertawa.


Sejarah juga mencatat bahwa antara beliau dengan khalifah pertama dan kedua terjadi perselisihan tentang tanah Fadak dan tentang masalah lainnya. Menurut Sayyidah Fathimah a.s tanah itu adalah hadiah dari ayahnya untuk dirinya, namun khalifah berkata: "Bahwa nabi tidak meninggalkan sesuatau dari keluarganya, sedangkan warisan nabi berubah statusnya menjadi sedekah yang digunakan untuk kemaslahatan kaum muslimin". M.H. Shakir berbependapat: "Wafat Rasulullah s.a.w sangat mempengaruhinya, ia sangat sedih, berduka dan tangis hatinya memekik sepanjang masa. Sayang sekali, setelah wafat nabi, pemerintah mengambil alih tanah fadak dan menyerahkannya sebagai milik negara".Kehidupan Fathimah az-Zahra a.s, wanita agung sepanjang masa adalah kehidupan yang diwarnai kesucian, kesederhanaan, pengabdian, perjuangan dan pengorbanan bukan kehidupan yang diwarnai kemewahan yang ramah dan lembut. Fathimah hanya hidup tidak lebih dari 75 hari setelah kepergian ayahnya.


Pada tanggal 14 Jumadil Ula, tahun 11 Hijriyah wanita suci, wanita agung dan mulia sepanjang masa, menutup mata dalam usia yag relatif muda yaitu 18 tahun.Namun sebelum wafatnya beliau mewasiatkan keinginan kepada Imam ali as yang isinya:1. Wahai Ali, engkau sendirilah yang harus melaksanakan upacara pemakamanku.2. Mereka yang tidak membuat aku rela/ridha, tidak boleh menghadiri pemakamanku.3. Jenazahku harus dibawa ke tempat pemakaman pada malam hari. Fathimah Az-Zahra ," Putri bungsu Rasulullah sa.w, telah tiada. Tidak ada ungkapan yang mampu mengambrakan keagungan Fathimah Az-Zahra yang sebenarnya.


DR. Ali Syariati memberikan komentar tentang Fathimah: " Saya akan bangga dan hendak mengatakan , "Fathimah a.s adalah putri Khadijah yang besar". Saya rasa itu bukan Fathimah a.s. Saya hendak mengatakan," Fathimah a.s adalah putri Rasulullah s.a.w. Saya rasa itu bukan juga Fathimah. Saya hendak mengatakan, "Fathimah a.s adalah istri Ali. Saya rasa itu juga bukan Fathimah A.s. Saya hendak mengatakan Fathimah a.s adalah ibunda Zainab. Saya masih merasa itu bukan Fathimah a.s. Tidak, semua itu benar tetapi tak satupun yang menggambarkan Fathimah a.s yang sesungguhnya. "Fathimah a.s adalah Fathimah a.s."


Karomah Fathimah as

Abu Sai'd al-Khudri berkata: “Pada suatu hari Ali AS berkata bahwa beliau AS berasa amat lapar. Beliau AS kemudian meminta Fatimah AS menyediakan makanan. Fatimah AS bersumpah bahwa tidak ada makanan yang tinggal untuk menghilangkan kelaparan Ali AS. Imam Ali AS bertanya mengapa Fatimah AS tidak memberitahukan kepadanya bahwa di rumah mereka sudah tidak ada makanan lagi. Fatimah AS menyatakan bahwa dia AS merasa malu untuk menyatakan perkara itu, dan dia AS juga tidak mau menuntut apa-apa dari Imam Ali AS.


Imam Ali AS keluar dari rumah dengan rasa tawakal kepada Allah SWT. Beliau AS meminjam uang sebanyak satu dinar dengan hasrat untuk membeli makanan untuk penghuni rumahnya. Dalam perjalanan pulang, beliau bertemu Miqdad ibn Aswad sedang terbaring di atas jalan pasir yang panas terik oleh sinar matahari yang membakar. Miqdad kelihatan sedih dan muram. Lalu Imam Ali AS bertanya kepadanya apa yang terjadi tetapi dia enggan menyatakan perkara yang berlaku kepada Imam Ali AS. Tetapi akhirnya dia menyatakan juga rahasia itu dan berkata:“Wahai Abul Hasan! Aku bersumpah bahwa ketika aku keluar rumah tadi, penghuni rumahku berada di dalam kelaparan yang amat sangat. Anak-anakku kelaparan dan aku tidak sanggup menonton keadaaan mereka menangis itu. Lalu aku meninggalkan mereka, dan berusaha mencari jalan untuk mengatasi masalah tersebut." Air mata Ali AS jatuh bercucuran dan mengenai janggutnya apabila mendengar kisah tersebut. Ali AS berkata kepadanya: " Aku bersumpah bahwa aku juga mengalami keadaan yang sama seperti engkau."


Ali AS lalu menyerahkan uang yang dibawanya kepada Miqdad. Ali AS kemudian pergi ke masjid di mana pada ketika itu Nabi S.A.W sedang shalat. Ali AS bershalat di tempat suci itu, dan selepas selesai menunaikan kewajibannya, beliau AS menemui Nabi S.A.W di pintu masjid. Rasulullah S.A.W bertanya Ali AS tentang makanan apa yang akan dia siapkan untuk makam malam karena Nabi S.A.W hendak ikut makan malam di tempat putrinya.. Ali AS tunduk dan tidak berkata apa-apa. Beliau AS tidak tahu apa yang harus dikatakan. Kelihatannya Rasulullah S.A.W tahu tentang kisah uang satu dinar itu. Telah diwahyukan kepada Nabi Muhammad S.A.W bahwa hendaklah beliau S.A.W bersama Ali AS pada petang itu." Mengapa anda tidak berkata sesuatu?," tanya Nabi Muhammad S.A.W. Ali AS dengan menjawab:" Diriku di tanganmu."


Fathimah az-Zahra Pemimpin Wanita di Surga

Nabi Muhammad S.A.W memegang tangan Ali AS dan dua orang yang agung ini berjalan bersama-sama ke rumah Fatimah AS. Apabila sampai di sana, Fatimah AS baru selesai menunaikan kewajibannya (solat), dan di atas tungku ada satu periuk masakan sedang di masak dan ketika ia sedang mendidih. Fatimah AS kemudian keluar apabila mendengar bunyi tapak kaki ayahnya datang dan menyambut kedatangan mereka.


Nabi S.A.W mengucapkan salam dengan lembut." Semoga Allah SWT memberi rahmat ke atas kamu berdua, dan semoga kamu dapat menyediakan kami hidangan makan malam!" sambung Rasulullah S.A.W. Fatimah AS mengambil periuk tersebut dan meletakkan di hadapan ayahnya S.A.W dan suaminya, Ali AS, yang terkejut dan bertanya isterinya bau makanan yang lezat di dalam periuk itu. Fatimah AS berkata:" Adakah anda marah dengan memandangku dengan pandangan yang demikian! Adakah aku telah melakukan sesuatu yang salah menyebabkan aku layak menerima kemarahanmu!?"

Ali AS berkata:" Mengapa tidak? Semalam engkau bersumpah bahwa engkau tidak mempunyai sedikit makanan pun untuk kita hidup selama beberapa hari! Apa artinya ini semua?" Dengan memandang ke langit Fatimah AS menyambung:" Tuhanku yang berkuasa ke atas langit dan bumi akan menjadi saksi bahwa apa yang akan aku katakan ini adalah benar." Ali AS menambah:" Wahai Fatimah! Sudikah engkau menyatakan kepada kami kisah sebenarnya.


Sudikah engkau dengan jujur menyatakan kepada kami siapakah yang mengantarkan hidangan yang lazat ini yang menjadi makanan kita!" Rasulullah S.A.W dengan lembut meletakkan tangannya ke atas bahu Ali AS dan berkata:" Wahai Ali! Semua sebenarnya ini adalah anugerah dari Allah SWT karena kemurahan yang kamu tunjukkan ketika memberikan uang dinar tersebut."...Sesungguhnya Allah memberikan (rezeki) apa yang dikehendakiNya tanpa hisab."(Ali-Imran:37)"Dan apabila Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrabnya, dia mendapati makanan di sisinya." (Ali-Imran:37)[Bihar al-Amwar, Jilid 43, hlm.59-61; Amali Tusi, Jilid 2, hlm.228-230]


Fatimah al-Zahra as (ucapan Alaiha Salam silakan rujuk misalnya dalam Sahih Bukhari, Juzuk 5, hadith 368, dan 546)adalah puteri Rasulullah SAWA. Ibunya Khadijah adalah isteri Rasulullah S.A.W yang pertama dan amat dikasihinya. Tentang Khadijah, Rasulullah S.A.W pernah bersabda yang bermaksud: "Empat wanita yang terbaik ialah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiah binti Muzahim isteri kepda Firaun." [Muhibuddin al-Tabari, Dhakha'ir al-Uqba fi Manaqib Dhawi al-Qurba, hl.42; Al-Hakim alam al-Mustadrak, Juzuk 3, hlm.157]. Fatimah AH mempunyai nama-nama timangan seperti Ummal Hasan, Ummal Husayn, Ummal Muhsin, Ummal A'immah dan Umma Abiha [Bihar al-Anwar' Juzuk 43, hlm.16] Rasulullah SAWA menggelarkannya Fatimah AH sebagai "Ummu Abiha" bermaksud ibu kepada ayahnya. Ini kerana Fatimah AH sentiasa mengambil berat tentang ayahandanya yang dikasihi itu.


Selain daripada itu gelaran-gelaran lain ialah Zahra, Batul, Siddiqah Kubra Mubarakah, Adhra, Tahirah, dan Sayyidah al-Nisa [Bihar al-Anwar, Juzuk 43, hlmn.16] Fatimah dilahirkan pada 20 Jamadil Akhir di Mekah yaitu pada Hari Juma'at, tahun kelima selepas kerasulan Nabi Muhammad S.A.W [Manaqib Ibn Shahrashub, (Najaf), Juzuk 3, hlm.132; al-Kulaini, al-Kafi; Misbah al-Kaf'ami; Syeikh al-Mufid, Iqbal al-Amal]. Tempat beliau dilahirkan ialah di rumah ayahanda dan ibundanya iaitu Rasulullah S.A.W dan Khadijah al-Kubra. Beliau AH wafat pada tahun ke-11 hijrah iaitu selepas enam bulan kewafatan ayahandanya Rasulullah S.A.W [al-Bukhari, Sahih, Juzuk 5, Hadith 546] Kelahiran Fatimah AH amat menggembirakan Rasulullah SAWA. Beliau S.A.W bersabda tentang Fatimah AH: " Dia adalah daripadaku dan aku mencium bau syurga dari kehadirannya."[Kasyf al-Qummah, Juzuk 2, hlm.24].


Mengapa diberikan Nama Fatimah? Menurut Imam Ali al-Ridha AS nama "Fatimah" diberikan oleh Rasulullah S.A.W Fatimah AH dan para pengikutnya terpelihara dari api neraka. Imam Ja'far al-Sadiq AS berkata: " Rasulullah S.A.W bersabda kepada Ali AS: Tahukah kamu nama mengapa nama Fatimah diberikan kepadanya? Ali menjawab: Mengapa dia diberikan nama itu? Dia (Rasulullah S.A.W) bersabda: Kerana dia dan shiahnya akan diperlihara dari api neraka." Ketika masih berumur dua tahun Fatimah AH turut bersama-sama ayahanda dan bondanya di perkampungan Shi'bi Abi Talib kerana di boikot oleh masyarakat Mekah.


Kemudian pada tahun ke sepuluh kerasulan, bondanya Khadijah pula meninggal dunia. Peristiwa ini menjadikan Fatimah banyak bergantung hidup kepada ayahandanya Muhammad Rasulullah S.A.W. Dalam peristiwa hijrah ke Madinah, Fatimah AH bersama-sama dengan rombongannya iaitu Fatimah binti Asad bin Hashim iaitu ibu kepada Imam Ali AS, Fatimah binti al-Zubair bin Abdul Muttalib,Fatimah binti Hamzah, dan juga Ayman dan Abu Waqid al-Laithi berhijrah ke Madinah. Rasulullah S.A.W telah sampai dahulu di Quba, Madinah. Sebelum meninggalkan Mekah Rasulullah S.A.W telah mengarahkan Ali bin Abi Talib supaya menyusul bersama keluarganya kemudian. Justeru, rombongan hijrah tersebut diketuai oleh Ali bin Abi Talib AS.


Keperibadian Fathimah as

Fatimah AH termasuk dalam Ahlul Bayt Rasulullah S.A.W sebagaimana yang dinyatakan dalam ayat al-Tathir dalam surah al-Ahzab: 33. Dalam Surah Al-Ahzab:33 bermaksud: "Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan kalian daripada kekotoran (rijsa), wahai Ahlul Bayt dan menyucikan kamu sebersih-bersihnya."  Ayat di atas mengisahkan Hasan dan Husayn AS sedang dalam keadaan sakit. Rasulullah S.A.W dengan beberapa orang sahabat menziarahi mereka. Rasulullah S.A.W mencadangkan kepada Ali AS bernazar kepada Allah SWT bahawa dia dan keluarganya akan berpuasa selama tiga hari apabila anak mereka sembuh dari penyakit tersebut. Ali, Fatimah, dan pembantu mereka, Fizzah bernazar kepada Allah SWT. Apabila Hasan dan Husayn AS sembuh, mereka pun berpuasa.


Pada waktu berbuka datang seorang pengemis meminta makanan kepada mereka. Pada hari itu mereka hanya berbuka dengan sahaja. Keesokan hari ini datang seorang anak yatim meminta makanan daripada mereka pada waktu berbuka dan sekali lagi mereka hanya berbuka dengan air sahaja. Pada hari ketiga, datang pula seorang tawanan perang meminta makanan. Selepas memberikan makanan, Ali membawa anak-anaknya ke rumah Rasulullah S.A.W. Rasulullah S.A.W berasa sedih melihat keadaan cucunya itu. Ali AS membawa Rasulullah S.A.W ke rumah mereka. Sampai di sana Rasulullah S.A.W. melihat Fatimah AH sedang berdoa dengan keadaan yang amat lemah. Rasulullah S.A.W berasa amat sedih.


Turun malaikat Jibril berkata kepada beliau S.A.W," Wahai Muhammad ambillah dia (Fatimah). Allah memberikan tahniah pada Ahl Bayt kamu." Lalu Jibril membacakan ayat tersebut.[Al-Hakim al-Haskani, Shawahid al-Tanzil, jld.II, hlm.298; al-Alusi, Ruh al-Ma'ani, jld.XXIX, hlm.157; Fakhur al-Razi, Jild.XIII, hlm.395] Rasulullah S.A.W bersabda yang bermaksud:" Fatimah adalah sebahagian daripadaku. Barang siapa yang membuat dia marah, akan membuat aku marah." [a-Bukhari, Jilid II, hlm.185] Imam Ali al-Redha AS berkata bahawa Rasulullah S.A.W bersabda bermaksud:" Hasan AS dan Husayn AS adalah makhluk yang terbaik di dunia selepasku dan selepas bapa mereka (Ali AS) dan ibu mereka (Fatimah AH) adalah wanita yang terbaik di kalangan semua wanita."[Bihar, Jilid 43, hlm. 19 dan 20]Dari Imam Ali AS dari Rasulullah S.A.W berkata kepada Fatimah AH bermaksud: “Sesungguhnnya Allah marah kerana kemarahanmu dan redha kerana keredhaanmu." [Mustadrak al-sohihain, juzuk 3, hlm152]


Dari Aisyah berkata bahawa: " Tidak pernah aku melihat seorang pun yang lebih benar dalam berhujah daripadanya melainkan ayahnya (Rasulullah S.A.W)."[Mustadrak al-Sohihain, Juzuk 3, hlm.160]Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadith dari Aisyah berkata bahawa Rasulullah S.A.W bersabda:".....Tidakkah engkau redha (wahai Fatimah) bahawa engkau adalah saidati-nisa fil-Jannah(pemimpin wanita di syurga) atau pemimpin wanita seluruh alam..." [Sahih Bukhari, Jld. IV, hadith 819]Dalam hadith yang lain al-Bukhari meriwayatkan dari Aisyah sebuah hadith yang panjang dan di sini dinyatakan sebahagiannya: "....Wahai Fatimah! Tidakkah engkau redha bahawa engkau adalah saidati-nisa il-mu'minin (pemimpin wanita mu'minin) atau saidanti-nisa-i hadzhihi il-ummah (pemimpin wanita umah ini)?"[Al-Bukhari, Jilid 8, hadith 301]


Al-Bukhari meriwayatkan hadith dari Imam Ali AS bahawa pada suatu ketika Fatimah AH mengadu tentang kesusahannya mengisar tepung. Apabila beliau AH mendengar berita ada beberapa orang hamba dari rampasan perang telah dibawa kepada Rasulullah S.A.W, beliau AH lalu pergi (ke rumah Rasulullah S.A.W) untuk menemui baginda S.A.W bagi mendapatkan pembantu tersebut, tetapi pada ketika itu (Rasulullah S.A.W tidak ada di rumah) Aisyah tidak dapat mencari baginda S.A.W. Lalu Fatimah menceritakan hasratnya kepada Aisyah. Apabila Rasulullah S.A.W pulang, Aisyah menyatakan kepadanya perkara tersebut. Rasulullah S.A.W kemudian pergi ke rumah kami....Mahukan kamu aku nyatakan suatu perkara yang lebih baik daripada apa yang kamu minta? (Iaitu) apabila kamu hendak masuk ke tempat tidurmu, maka ucapkanlah Allahu Akbar 34 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Subhan Allah 33 kali.


Ini adalah lebih baik daripada yang kamu pohonkan."[ Al-Bukhari, Jld. VI, hadith 344]Amru bin Dinar meriwayatkan dari Aisyah berkata: " Tidak pernah aku melihat seseorang pun yang lebih benar daripada Fatimah salamullah 'alaiha selain daripada ayahnya."[Hilyatul-awliya, Juzuk 2, hlm. 41]Ibnu Abbas meriwayatkan bahawa Rasulullah S.A.W bersabda yang bermaksud: "Pada malam aku diangkat ke langit (mi'raj), aku melihat di pintu syurga tertulis bahawa Tidak ada Tuhan melainkan Allah, Muhammad Rasulullah, Allah mengasihiku, dan Hasan, dan Husayn sofwatullah (sari yang terbaik dari Allah) , Fatimah Khiratullah (sesuatu yang terbaik dari pilihan Allah), laknatullah ke atas mereka yang membenci mereka."[Tarikh al-Baghdadi, Juzuk 1, hlm. 259] Fatimah al-Zahra AH mempunyai sifat-sifat berikut seperti ayahnya dan suaminya serta anggota keluarganya :(1) menemukan jalan yang benar (ihtida') (2) mentaati prinsip-prinsip Islam (iqtida'), dan (3) berpegang teguh serta menyakini kewajipan-kewajipannya (tamassuk)." [ Nasa'i dalam Khashais Alawiyyah]


Sikap Rasulullah terhadap Fathimah as

Rasulullah mengaitkan Fatimah AH dengan dirinya S.A.W. Justru Rasulullah S.A.W bersabda yang bermaksud:“Fatimah adalah daripadaku dan barang siapa yang membuat dia marah, akan membuat aku marah." [Al-Bukhari, Jilid V, hadith 111]Ketika berpergian, Fatimah AH adalah orang yang paling akhir beliau S.A.W mengucapkan selamat tinggal, dan ketika pulang dia (Fatimah AH) adalah orang yang pertama yang ditemui oleh ayahnya S.A.W. [Bihar, Jilid 43, hlm.39-40;

Ahmad bin Hanbal, Musnad, Juzuk 5, hlm.275; Al-Baihaqi, Sunan, Juzuk 1, hlm.26].Imam Ali AS suatu ketika bertanya kepada Rasulullah S.A.W:" Wahai Rasulullah! Siapakah di kalangan keluargamu yang paling dekat denganmu? Fatimah binti Muhammad," jawab baginda S.A.W.[Al-Tabari, Dhakair al-Uqba; Al-Tirmidzi, Sunan. hlm.549; Al-Mustadrak, Jilid 3, hlm.21 dan 154]


Kezuhudan Fathimah as

Imam Hasan AS meriwayatkan," Aku belum pernah melihat seorang wanita yang lebih alim daripada ibuku. Ia selalu melakukan solat dengan begitu lama sehingga kakinya menjadi bengkak." Imam Hasan AS juga meriwayatkan:“Aku melihat ibuku, Fatimah berdiri solat pada malam Jumaat. Beliau meneruskan solatnya dengan rukuk dan sujud sehingga subuh. Aku mendengar beliau AH berdoa untuk kaum mu'minin dan mu'minah dengan menyebut nama-nama mereka. Beliau berdoa untuk mereka semua tetapi beliau AH tidak berdoa untuk dirinya sendiri. "Ibu," Aku bertanya kepada beliau AH. "Mengapa ibu tidak berdoa untuk diri sendiri sebagaimana ibu berdoa untuk orang lain?" Beliau menjawab," Anakku, (berdoalah) untuk jiran-jiranmu diutamakan dan kemudian barulah dirimu sendiri."[Bihar al-Anwar, Jilid 43, hlm.81-82; Abu Muhammad Ordooni, Fatimah The Gracious, hlm.168-169;Sayyid Abdul Razak Kammoonah Husseini, Al-Nafahat al-Qudsiyyah fi al-Anwar al-Fatimiyyah, Juzuk 13, hlm.45]

Asma' binti Umays meriwayatkan:“Pada suatu ketika aku sedang duduk-duduk bersama Fatimah AH apabila Nabi S.A.W datang. Beliau S.A.W melihat Fatimah AH memakai rantai di lehernya yang telah diberikan oleh Ali bin Abi Talib AS dari bahagiannya yang diambil daripada harta rampasan perang." Anakku", beliau S.A.W berkata, " Janganlah tertipu dengan apa yang orang katakan. Anda adalah Fatimah puteri Muhammad, anda memakai barang perhiasan (yang menjadi kesukaan) orang-orang yang bongkak." Beliau AH serta-merta melucutkan rantainya pada ketika itu juga dan menjualnya. Dengan wang dari jualan tersebut, beliau AH membeli dan kemudian membebaskan seorang hamba lelaki. Apabila Rasulullah S.A.W mendengar apa yang beliau AH lakukan, beliau S.A.W berasa gembira dan mendoakan rahmat kepada Imam Ali AS.[Al-Hakim, Al-Mustadrak, Juzuk 3, hlm. 152; Bihar al-Anwar, Jilid 43, hlm.81]


Kehidupan Politik Sayyidah Fathimah as

Kehidupan Fatimah a.s. bukan hanya melakukan tugas sebagai suri rumah tangga dan beribadat saja tetapi juga meliputi soal-soal politik sejak dari zaman ayahandanya Rasulullah S.A.W di Mekah hingga selepas wafat ayahandanya S.A.W. Beliau a.s. dengan gigih menyokong keras perjuangan ayahandanya Rasulullah S.A.W dan berpegang teguh kepada prinsip-prinsip Islam yang telah dididik oleh ayahandanya Rasulullah S.A.W. Pada tahun kesepuluh kerasulan, Khadijah ibu Fatimah a.s. meninggal dunia. Fatimah a.s. kehilangan ibundanya yang tercinta. Pada tahun yang sama, beliau a.s. kehilangan bapa saudara ayahnya Abu Talib yang selalu melindungi Rasulullah S.A.W.


Dengan kewafatan dua orang insan mulia ini, para musyirikin Quraish mulai berani menentang dan menyakiti Rasulullah S.A.W secara terbuka. Sehingga pada suatu saat mereka sanggup memutuskan untuk membunuh Rasulullah S.A.W. Justru, Rasulullah S.A.W membuat keputusan berhijrah ke Madinah. Malam itu Ali AS tidur di tempat tidur Rasulullah S.A.W demi untuk mengelirukan musuh-musuh Allah itu. Pada malam itu juga Fatimah menginap di rumah ayahandanya dan mengetahui semua kejadian tersebut. Fatimah bertahan pada malam itu dengan penuh perjuangan, kesabaran, dan keberanian segala kemungkinan yang akan berlaku kepada mereka. Fatimah a.s. kemudian berhijrah ke Madinah dengan rombongan hijrah di ketuai oleh Ali AS.


Dalam perjalanan ke Madinah, beberapa orang kafir mencoba untuk menghalang mereka tetapi dengan keberanian dan tekad Ali AS, maka mereka ketakutan dan membiarkan rombongan hijrah itu meninggalkan Mekah. Akhirnya setelah menempuh segala kesulitan, mereka pun sampai ke Madinah. Fatimah a.s. turut menjadi saksi Perang Badar dan Perang Uhud. Dalam Perang Uhud, dahi, dan gigi Nabi S.A.W luka parah. Dan yang lebih menyedihkan ialah ketika tersebarnya berita palsu bahwa Rasulullah S.A.W telah terbunuh. Fatimah a.s. berangkat ke Uhud untuk menyaksikan medan pertempuran, dan juga melihat ayahandanya yang dikasihi Rasulullah S.A.W.


Setelah perang berakhir, Fatimah a.s. menemui ayahandanya Rasulullah S.A.W, dan membersihkan wajah baginda dari luka-luka. Dalam peperangan ini juga, Fatimah a.s. menyaksikan bapa saudara ayahnya, Hamzah syahid di medan perang. Selepas Rasulullah S.A.W wafat, Fatimah a.s. turut memperjuangkan hak Imam Ali AS sebagai khalifah yang sah dilantik oleh Rasul S.A.W dan juga tentang haknya terhadap Tanah Fadak.


Fatimah tidak mengiktiraf Abu Bakar sebagai khalifah yang sah. Pada suatu ketika Abu Bakar dan Umar al-Khattab bersama rombongannya mengepung rumah Fatimah a.s. dengan tujuan memaksa penghuni rumah memberikan bai'ah kepada Abu Bakar. Malahan Rombongan tersebut mengancam akan membakar rumah tersebut. Seseorang bertanya kepada Umar: " Wahai ayah Hafsah (Umar al-Khattab), sesungguhnya Fatimah ada di dalam," dan Umar menjawab,: "Wa in (sekalipun)"[Ibn Qutaibah, Al-Imamah Wal-Siyasah, Jilid I, hlm.12-13].


Fatimah a.s. kemudian keluar dari pintu dari berkata lantang:"Hai, Abu Bakar, Alangkah cepatnya anda menyerang keluaga Rasul. Demi Allah, saya tidak akan bercakap dengan Umar sampai saya menemui Allah...Kamu semua telah membiarkan jenazah Rasulullah S.A.W bersama kami, dan kamu semua telah mengambil keputusan antara kamu sendiri tanpa bermusyawarah dengan kami dan tanpa menghormati hak-hak kami. Demi Allah, aku katakan, keluarlah kamu semua dari sini dengan segera! Jika tidak dengan rambutku yang kusut ini, aku akan meminta keputusan dari Allah!"[Ibn Abil Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, Jilid VI, hlm.48-49] Fatimah a.s. menganggap Tanah Fadak sebagai miliknya yang sah karena ia telah diberikan oleh Rasul S.A.W ketika baginda S.A.W masih hidup.


Tanah Fadak terletak dekat dengan Khaibar dan disitu terdapat kebun kurma. Tanah tersebut diserahkan oleh Bani Nadir kepada Rasulullah S.A.W selepas peristiwa Perang Khaibar pada tahun 7 Hijrah. Kemudian Rasulullah S.A.W menghadiahkan tanah tersebut kepada Fatimah a.s. [riwayat dari Abu Sai'd al-Khudri - silakan lihat Fada'il Khamsah fi al-Sihah al-Sittah, Jilid 3, hlm.36] yaitu apabila turunnya ayat Qur'an yang bermaksud," Apa saja harta rampasan (fa'i) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang dalam perjalanan supaya harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah, dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya." (59:7) .


Fatimah a.s. menuntut Tanah Fadak dari Abu Bakar tetapi Abu Bakar menolaknya. Fatimah a.s. lalu menemui Abu Bakar dan terjadilah perdebatan di antara mereka berdua: Al-Jauhari meriwayatkan bahwa ketika sampai berita kepada Fatimah a.s. bahwa Abu Bakar menolak haknya ke atas Tanah Fadak, maka Fatimah a.s. dengan disertai para pembantu wanitanya dan para wanita Bani Hasyim pergi menemui Abu Bakar. Fatimah a.s. berjalan dengan langkah seperti langkah Rasul. Ia lalu memasuki majlis yang dihadiri Abu Bakar, dan penuh dengan kaum Muhajirin dan Ansar. Fatimah membentangkan kain tirai antara dia dan kaum wanita yang menemaninya di satu sisi,dan majlis yang terdiri dari kaum lelaki di sisi yang lain. Ia masuk sambil menangis tersedu, dan seluruh hadirin turut menangis.


Maka gemparlah pertemuan itu. Setelah suasana kembali tenang, Fatimah a.s. pun berbicara:"


Saya memulai dengan memuji Allah Yang Patut Dipuji. Segala Puji bagi Allah atas segala nikmatNya, dan terhadap apa yang diberikanNya..." dan setelah mengucapkan khutbahnya yang sungguh indah, ia lalu berkata: Fatimah a.s.:" Apabila anda mati, wahai Abu Bakar, siapakah yang akan menerima warisan anda?"Abu Bakar:" Anakku dan keluargaku."Fatimah a.s.:" Mengapa anda mengambil warisan Rasul yang menjadi hak anak dan keluarga beliau?"

Sahut Abu Bakar:" Saya tidak berbuat begitu, wahai putri Rasul.

Berkata Fatimah a.s.:" Tetapi anda mengambil Fadak, hak Rasulullah yang telah beliau berikan kepada saya semasa beliau masih hidup....Apakah anda dengan sengaja meninggalkan Kitabullah dan membelakanginya serta mengabaikan firman Allah yang mengatakan," Sulaiman mewarisi dari Daud " (Al-Naml: 16), dan ketika Allah mengisahkan tentang Zakaria serta firman Allah, Dan keluarga sedarah lebih berhak waris mewarisi menurut Kitabullah?(Al-Ahzab:6) Dan Allah berwasiat, " Bahwa anak lelakimu mendapat warisan seperti dua anak perempuan" (Al-Nisa:11) dan firman Illahj," Diwajibkan atas kamu apabila salah seorang daripada kamu akan meninggal dunia, jika ia meninggalkan harta, bahwa ia membuat wasiat bagi kedua orang tua dan keluarganya dengan cara yang baik, itu adalah kewajiban bagi orang-orang yang bertaqwa" (Al-Baqarah: 80).


Apakah Allah mengkhususkan ayat-ayat tersebut kepada anda dan mengecualikan ayahku daripadanya? Apakah anda lebih mengetahui ayat-ayat yang khusus dan umum, lebih daripada ayahku dan anak bapa saudaraku (Ali AS) Apakah anda menganggap bahwa ayahku berlainan agama dariku, dan lantaran itu maka aku tidak berhak menerima warisan?" [Ibn Abil Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, Jilid XVI, hlm.249] Ibn Qutaibah meriwayatkan pertemuan yang mungkin terakhir di antara Fatimah a.s. dan Abu Bakar seperti berikut:" Umar bin Khattab berkata kepada Abu Bakar:" Marilah kita pergi kepada Fatimah, sesungguhnya kita telah menyakiti hatinya."Maka keduanya pun pergi ke rumah Fatimah a.s., dan Fatimah a.s. tidak mengizinkan mereka masuk ke dalam rumah.


Mereka lalu memohon kepada Ali bin Abi Talib, lalu Ali AS memperkenankan mereka masuk ke dalam." Tatkala keduanya duduk dekat Fatimah a.s., Fatimah a.s. memalingkan wajahnya ke arah dinding rumah. Salam Abu Bakar dan Umar tidak dijawabnya.Fatimah a.s. kemudian berkata:" Apakah anda akan mendengar apabila saya katakan kepada anda suatu perkataan yang berasal dari Rasulullah S.A.W yang anda kenal dan anda telah bertemu beliau S.A.W?"Keduanya menjawab: " Ya."Kemudian Fatimah a.s. berkata:" Apakah anda tidak mendengar Rasulullah S.A.W bersabda," Keredhaan Fatimah adalah keredhaan saya, dan kemurkaan Fatimah adalah kemurkaan saya.


Barang siapa mencintai Fatimah, anakku, bererti ia mencintaiku, dan barang siapa membuat Fatimah murka, bererti ia membuat aku murka."Mereka berdua menjawab:" Ya, kami telah mendengarnya dari Rasulullah S.A.W.Fatimah a.s. berkata:" Aku bersaksi kepada Allah dan malaikat-malaikatNya, sesungguhnya kamu berdua telah membuat aku marah, dan kamu berdua tidak membuat aku redha. Seandainya aku bertemu Nabi S.A.W, aku akan mengadukan kepada beliau S.A.W tentang kamu berdua.Abu Bakar berkata:" Sesungguhnya saya berlindung kepada Allah dari kemurkaanNya dan dari kemurkaan anda, wahai Fatimah."Kemudian Abu Bakar menangis, hampir-hampir jiwanya menjadi goncang.


Fatimah lalu berkata:" Demi Allah, selalu saya akan mendoakan keburukan terhadap anda dalam setiap shalat saya."Kemudian Abu Bakar keluar sambil menangis....[Ibn Qutaibah, Al-Imamah Wal-Siasah, Bab Bagaimana Bai'at Ali bin Abi Talib; O.Hashem, Saqifah Awal Perselisihan Ummat, hlm.100-101]


(Dari manaqib sejarah nenek moyang Bani Hasyim)

Wallahu'alam..

"Jadilah wanita berhati FATIMAH"


~Riwayat Hidup Siti Aishah r.a~




Latar Belakang Dan Zaman Kanak-Kanaknya

Aishah Binti Abu Bakr telah dilahirkan di Mekah Empat (4) tahun selepas bermulanya misi Nabi Muhammad SAW (tugasnya sebagai Pesuruh Allah). Apabila Baginda wafat di Madinah, Siti Aishah baru mencapai usia 18 tahun. Namun, dalam masa sesingkat itu, beliau telah dapat menimba ilmu pengetahuan secukupnya untuk membolehkannya menjadi salah seorang cendekiawan Islam terkemuka pernah hidup di masa itu. Selain dari pengetahuannya yang luas mengenai Al Quran, Sunnah dan Figh (Fiqah), beliau juga terkenal dengan kefahamannya dalam bidang-bidang perubatan, sejarah dan puisi. Bagaimanapun, dengan kelebihan semua ini, Aishah mungkin lebih diingati sebagai isteri yang disayangi baginda Nabi SAW.

Beliau ialah anak perempuan daripada pasangan Abdullah bin Abi Quhafah, dikenali pada umumnya sebagai Abu Bakr dan Umm Ruman Bint 'Amir Bin Uwaymir'. Abu Bakr yang membawa pengertian 'bapa seekor unta jantan muda', mempunyai sebilangan lagi nama-nama lain semasa hidupnya. Sebelum kedatangan Islam, beliau di panggil 'Abdul Ka'bah'. Ibunya mempunyai beberapa orang anak tetapi semuanya mati semasa kecil lagi. Justeru itu, dia (ibunya) bernazar jika dikurniakan Allah SWT lagi seorang anak lelaki, beliau akan menamakannya 'Abdul Ka'bah' sebagai menghormati Baitullah. Apabila bertambah dewasa, Abdul Ka'bah juga dipanggil 'Ateeq' (yang terselamat) kerana terlepas dari kematian awal. Oleh kerana nama 'Abdul Ka'bah' (Khadam Ka'bah) tidak sejajar dengan ajaran dan semangat Islam, maka Baginda Nabi SAW menukar namanya itu kepadaAbdullah . Walaubagaimanapun, dia masih dipanggil 'Ateeq' kerana apabila beliau memeluk Islam, Rasulullah SAW berkata kepadanya 'kamu seorang yang terselamat dari 'Api Neraka'. Abu Bakr dikatakan menerima gelaran terpuji 'As-Siddeeq' berikutan peristiwa 'Isra' dan Mi'raj'. Sementara kebanyakan orang enggan mempercayai peristiwa sedemikian berlaku keatas Nabi SAW, Abu Bakr tidak pernah meragui kebenaran itu.

Abu Bakr datang dari golongan bangsawan Quraish. Beliau memiliki pengetahuan yang baik tentang sejarah, bahasa, puisi dan asal kewujudan Negara Arab. Selain daripada aset-aset penting ini, dia juga dikenali sebagai seorang ahli peniaga yang begitu berjaya. Meskipun dengan kebijaksanaan dan kekayaannya, Abu Bakr tetap dengan sikap merendah diri, juga seorang individu yang peramah. Oleh itu, tidaklah menghairankan bahawa ramai diantara mereka (orang-orang Quraish) datang untuk meminta nasihat, bantuan dan sentiasa ceria berada bersamanya.

Dalam tahun-tahun sebelum Islam, Abu Bakr telah berkahwin dengan Qatlah Binti 'Abdul'uzza' dan mereka mendapat dua orang anak, Abdullah dan Asma. Tidak dapat dipastikan sama ada Qatlah pernah menerima Islam atau sebaliknua, bagaimanapun, isteri keduanya, Umm Ruman adalah seorang diantara orang-orang Mekah pertama yang menganuti Agama Islam. Beliau telah melahirkan dua orang cahaya mata, iaitu Abdul Rahman dan Aishah. Selepas memeluki Islam, Abu Bakr berkahwin dengan dua orang lagi perempuan - Asma Binti Umays dan Habibah Binti Kharijah.

Asma melahirkan anak lelaki bernama Muhammad dan Habibah, seorang anak perempuan, Umm Kalthum yang dilahirkan selepas kematiannya (Abu Bakr). Dari kesemua anak-anak itu, Aishah adalah satu-satunya yang mewarisi kebanyakan sifat-sifat keperibadian dan intelek cemerlang yang dimiliki bapanya.

Berhijrah ke Madinah

Sepanjang zaman kanak-kanaknya, di Mekah dan Madinah, Aishah menarik perhatian ramai tentang kegiatan dan kenakalannya. Walaupun perasaannya terjejas dengan kezaliman dan keperitan hidup yang dilakukan orang-orang jahiliah Mekah, beliau tidak sekali-kali membenarkan dirinya dibebankan dengan perasaan sedih dan duka, sebaliknya beliau sentiasa mempamerkan persefahaman dan kecerian. Sudah menjadi adat resamnya untuk menghadapi cabaran-cabaran hidup getir dengan fikiran tenang, yakin dan tabah yang mencerminkan sifat-sifat keperibadian bapanya.

Bapa Aishah bukanlah salah seorang daripada kumpulan pertama muhajirun (penghijrah) ke Madinah. Abu Bakr sepatutnya telah meninggalkan Mekah dengan para muhajirun tersebut, tetapi apabila beliau minta kebenaran dari Nabi SAW untuk berbuat demikian, dia diberitahu, 'Janganlah terburu-buru kerana Allah akan memberi kamu seorang teman'. Mengharapkan bahawa teman itu ialah Nabi SAW, maka Abu Bakr menunggunya dengan penuh sabar. Aishah teringat kembali bahawa telah menjadi kebiasaan pada Baginda SAW diwaktu ini untuk menziarahi bapanya sama ada diawal pagi atau disebelah petang. Tetapi suatu hari, Nabi SAW bekejar ke rumah sahabatnya yang jujur diwaktu tengahari kerana Allah SWT telah merestui Abu Bakr berhijrah ke Madinah.

Panas matahari sangat terik dan kebanyakan penduduk Mekah telah masuk ke dalam rumah untuk menyelamatkan diri dari cuaca panas yang membakar itu. Ketika itu, Aishah dan saudara perempuannay, Asma berada bersama bapanya.

Aishah yang berusia dalam lingkungan enam atau tujuh tahun telah menjadi isteri Baginda SAW yang sah walaupun majlis perkahwinan tidak diadakan sehingga selepas hijrah. Apabila Abu Bakr mendengar bahawa Muhammad SAW telah datang untuk menemuinya, beliau berkata, 'Pastinya, kedatangan Pesuruh Allah itu ke rumah kita diwaktu ini kerana ada sesuatu yang penting'. Sebaik sahaja nabi SAW masuk ke dalam rumah Abu Bakr, jelaslah bahawa Baginda sebenarnya datang untuk satu tujuan khusus. Baginda meminta agar Abu Bakr memberitahu sesiapa juga yang ada bersamanya supaya meninggalkan Mekah. Abu Bakr menjawab, 'Wahai Pesuruh Allah, mereka itu hanyalah keluarga kamu sahaja', yang bermaksud isteri Nabi, Aishah dan saudara perempuannya, Asma.

Aishah tidak pernah melihat seseorang menangis kegembiraan. Tetapi dia melihat buat pertama kali, apabila Nabi Muhammad SAW memberitahu bapanya bahawa Allah telah memberi keizinan kepadanya supaya meninggalkan Mekah. Inilah peluan yang ditunggu sebegitu lama. Selama 13 tahun ketidakadilan dan kekejaman kaum Quraish telah menghalang kemajuan dan pembangunan dalam masyarakat Islam. Akhirnya, Allah SWT telah mengizinkan penghijrahan kaum Muslim untuk mendirikan sebuah pangkalan diMadinah. Baginda Nabi tinggal dibelakang, menunggu perintah dari Allah. Sekarang, ia telah datang.

Abu Bakr membekal dua ekor unta yang disimpannya sebagai persediaan untuk peristiwa ini. Walaupun orang-orang Mekah jahiliah menentang kaum Muslim sekeras-kerasnya, namun mereka tidak begitu suka dengan hasrat orang-orang Islam untuk melakukan penghijrahan. Mereka (orang-orang Jahiliah Mekah) bimbang bahawa orang-orang Islam sekarang mampu memperkukuhkan diri mereka dan akan kembali untuk menguasai Mekah kelak.

Baginda Nabi SAW mengetahui pihak musuh Islam akan cuba menghalangnya dari meninggalkan Mekah. Baginda Nabi SAW membuat keputusan supaya Baginda dan Abu Bakr mesti keluar dari Mekah secara rahsia dan meninggalkan keluarganya dibelakang untuk sementara waktu. Kemudian, sesusah menetap diMadinah, mereka akan mengarahkan orang-orangnya supaya membawa keluarganya ke mari.

Orang yang cekap memandu Baginda SAW dan Abu Bakr ke Madinah, 'Abdullah Bin Urayqit, bukan seorang Muslim. Selepas tidak berapa lama tinggal di Madinah, dia memberitahu untuk pulang ke Mekah. Oleh yang demikian, Nabi SAW menyuruh Zayd Bin Harithah dan Abu Rafi untuk pulang bersama 'Abdullah dan membawa ahli-ahli keluarga mereke ke Madinah. Justeru, Aishah disatukan semula dengan bapa dan suaminya dia Madinah.

Perkahwinan

Ekoran dari ketibaan mereka itu, keadaan di Madinah menimbulkan kesusahan kepada orang-orang Islam Mekah (penghijrahan). Ramai di kalangan mereka, jatuh sakit dan Aishah tidak terkecuali. Selama hampir sebulan dia terlantar di atas katil diserang sejenis penyakit yang menyebabkan dirinya tidak bermaya, beratnya menurun dan rambutnya gugur. Sepanjang waktu ini, ibunya (Umm Ruman) melayannya dan tidak tahu penat lelah. Sememangnya inilah masa yang menyakitkan jiwanya kerana beliau tahu hari perkahwinan Aishah hampir tiba. Masanya telah sampai bagi Aishah memasukirumah Baginda Nabi SAW sebagai seorang isteri. Ketika itu ialah bulan Syawal dan beliau sekarang berusia sembilan tahun. Sebelum Islam, ramai orang-orang Arab tidak suka berkahwin dalam bulan ini. Oleh kerana perkataan 'Syawal' datang dari 'syala' bermaksud 'dia mati', mereka mengaitkan perkahwinan diwaktu ini, sebagai suatu kecelakaan. Nabi Muhammad SAW mahu kepercayaan sebigini dihapuskan daripada hati dan minda orang-orang sebegini dihapuskan daripada hati dan minda orang-orangIslam . Baginda seterusnya berhasrat untuk menanam kepercayaan ke dalam hati mereka bahawa Allah SWT yang menentukan untung dan rugi ke atas manusia itu.

Sehubungan itu, Aishah mula menyukai bulan Syawal. Ia adalah satu bulan yang sentiasa membawa kenangan manis dan bermakna tentang perkahwinannya dengan Pesuruh Allah, Muhammad SAW. Dia mengingati kembali bahawa BagindaNabi SAW telah mengadakan majlis pertunangan dengannya dalam bulan Syawal dan membawanya pulang ke rumahnya sebagai seorang isteri, juga dalam bulan Syawal. 'Dan siapa diantara isteri-isteri baginda Rasulullah yang lebih dikasihinya selain dari aku?' Sesungguhnya Aishah telah mengajak wanita-wanita dari kalangan keluarganya agar mengikuti langkahnya dan masuk ke rumah suami-suami mereka sebagai isteri-isteri juga dalam bulan Syawal.

Anehnya, Aishah sendiri tidak terfikir ketika itu bahawa hari itu ialah hari perkahwinannya. Apabila ibunya datang untuk membuat persediaan ke atas dirinya, Aishah sedang bermain-main dengan kawan-kawannya. Dia mengimbas kembali peristiwa tersebut dengan berkata, 'Umm Ruman datang kepada ku dan diwaktu itu, aku sedang bermain buaian dengan rakan-rakan sepermainan ku. Dia memanggil aku dengan suaranya begitu kuat dan aku datang kepadanya tanpa mengetahui apa maksudnya. Dia memegang tanganku dan membawa aku ke pintu sementara aku tercungap-cungap (kepenatan) sehingga hilang kemengahanku'.

Kemudian dia membawa aku masuk ke dalam sebuah rumah dimana sebilangan wanita ansar telah berkumpul. Mereka mengucapkan resti, mendoakan selamat kepadaku dan berkata, 'Semoga kamu mendapat perkongsian terbaik'. 'Dia (ibuku) telah mengamanahkan aku kepada mereka. Mereka membasuh kepalakuserta menghiasi diriku. Aku hanya terkejut bila melihat Pesuruh Allah SAW yang datang ke situ di sebelah pagi dan sejak itu, aku di amanahkan kepadanya'.

Majlis perkahwinan itu ringkas sahaja. Tidak ada binatang disembelih dan kenduri-kendara - hanya semangkuk susu yang diminum dahulu oleh BagindaNabi SAW. Baginda duduk di sebelah Aishah dan apabila beliau memberikan mangkuk berisi susu itu kepada isterinya, Aishah secara malu menundukkan kepalanya. Asma hadir dia majlis tersebut dan menggesa kakaknya sambil berkata, 'Ambillahdari tangan Nabi ', jadi, Aishah pun minum sedikit susu itu. Kemudian, ianya (mangkuk berisi susu) dibawa keliling supaya dapat diminum oleh para hadirin.

Dalam Islam, pengantin lelaki dijangka memberi sesuatu hadiah kepada pengantin perempuan yang disebut 'maskahwin'. Maskahwin ini merupakan apa jua yang dapat diberinya (pengantin lelaki) - wang, emas atau hanya sepasang pakaian. Dalam kes Aishah, Rasulullah SAW menghadiahkannya emas.

Apabila ditanya kepadanya beberapa tahun kemudian, berapakah nilai sebenar mas itu. Aishah memberitahu Abu Salamah Bin Abdul Rahman, 'Nilainya ialah dua belah uqiyyah satu nashsh'. Kemudian Aishah bertanya, 'Tahukah engkau satu nashsh itu berapakah nilainya?' Abu Salamah menjawab, 'Tidak tahu', jadi Aishah berkata 'Satu nashsh ialah setengah daripada satu uqiyyah bersamaan dengan lima ratus dirham. Itulah maskahwin yang telah diberi Rasulullah SAW kepada isteri-isterinya'.

Selepas perkahwinan mereka, Nabi Muhammad SAW menempatkan Aishah di sebuah bilik yang bercantum dengan Masjid. Di dalam bilik ini, Malaikat Jibril kadang-kadang utun untuk menyampaikan wahyudari Allah SWT. Dalam banyak hal, perkahwinan ini adalah permulaan bagi satu lembaran yang mana baginda mendapat satu imbasan selepas kematian isteri pertamanya, Khadijah Binti Khuwaylid. Rasulullah SAW, menerangkan kepada Aishah, sambil berkata, 'Aku melihat engkau dalam tidurku (mimpi) selama tiga malam'. Malaikat membawa engkau kepadaku yang diselimuti kain sutra dan berkata, 'Inilah isteri engkau'. Apabila aku membuka kain penutup muka, aku dapati bahawa perempuan itu ialah engkau, jadi aku pun berkata, 'Jika ini datangdari Allah ianya boleh dilakukan'.

Dari kesemua isteri Rasulullah SAW, hanya Aishah seorang sahaja yang belum pernah berkahwin. Beliau dikenali sebagai seorang yang sungguh cantik dan pintar. Selaindari kebijaksanaan, beliau juga dianugerahi Allah dengan ingatan menakjubkan. Dengan adunan kesemua sifat-sifat ini, Aishah sememangnya menjadi seorang yang menarik dan mengagumkan. Justeru, tidak ada rahsia mengapa Rasulullah SAW mempunyai perasaan istimewa terhadapnya. Beliau mengakui hakikat ini pada suatu hari apabila 'Amr Bin Al-Aas bertanya kepadanya, semua orang, siapakah yang paling kamu kasihi?' Baginda Rasulullah kemudian menjawab, 'Aishah'. Apabila Amr bertanya lagi,dari semua lelaki, siapakah yang paling kamu kasihi?' Baginda berkata, 'Bapa Aishah'.

Perkahwinan dengan Rasulullah SAW tidak segera mengubah cara kebudak-budakkan Aishah. Dia terus bermain dengan rakan-rakan sepermainan untuk memberi keseronokan kepada dirinya. Mereka (rakan-rakan Aishah) kerap datang untuk menziarahi dirumah barunya. Baginda Nabi SAW memahami kehendak Aishah untuk beransur-ansur masuk ke alam dewasanya sebagai isteri dan rakan hidup. Justeru, Baginda tidak pun menghalang rakan-rakan sepermainannya untuk menziarahi Aishah. Ada kalanya Baginda juga turutserta dalam permainannya. Suatu hari sekembali nya ke rumah , Baginda Rasulullah SAW melihat Aishah sedang bermain dengan anak-anak patungnya. Apabila ditanya akan anak-anak patung itu, Aishah menjawab, bahawa ianya adalah kudaNabi Sulaiman dan mempunyai kepak. Baginda Nabi SAW tidak dapat menahan geli hatinya dan terus ketawa atas jawapan isterinya yang tidak disengajakan itu.


Bersama dengan Isteri-Isteri Rasulullah

Apabila masa berlalu, cinta yang dikongsi kedua-dua mereka bertambah kuat dan mendalam. Dalam apa pun keadaan, Aishah bukanlah insan yang gemar berpura-pura atau menyembunyikan perasaannya terhadap suaminya Baginda Rasulullah SAW. Sebaliknya, beliau kerap bertanya secara bijaksana mengenai perasaan Baginda sendiri terhadapnya. Sesekali dia bertanya kepada Baginda, 'Bagaimana cinta kamu kepadaku?' dan Baginda menjawab, 'Ibarat simpulan tali' - bermaksud ianya kukuh dan tidak lentur. Walaupun dengan kata-kata yang meyakinkan itu, Aishah masih mempunyai perasaan cemburu. Ini terbukti benar terhadap isteri-isteri Baginda Rasulullah yang lain terutama sekali Khadijah. Aishah mengakui sendiri 'Aku tidak merasa cemburu kepada seorang pun daripada isteri-isterinya yang lain sepertimana aku mencemburui Khadijah, walaupun (dia sudah mati dan) aku tidak pernah melihatnya. Baginda Nabi SAW sering menyebut-menyebutnya dan apabila Baginda menyembelih seekor kambing, Baginda akan membahagikan daging-daging itu dan menghantar sebahagiannya  kepada kawan-kawan Khadijah. Apabila aku berkata kepadanya, 'Kamu menganggap Khadijah seolah-olah tidak ada lagi perempuan lain di muka bumi ini selain dia, 'Baginda akan berkata (memuji Khadijah), Khadijah adalah lain daripada yang lain dan aku mempunyai sembilan anak dengannya'.

Pada suatu ketika yang lain, adik perempuan Khadijah bernama Halah Binti Khuwaylid, telah datang ke Madinah untuk menemui Nabi SAW. Baginda gembira dengan lawatan itu dan menyambutnya dengan mesra. Aishah segera berasa cemburu sambil berkata, 'Apa menyebabkan kamu teringat seorang perempuan tua diantara perempuan-perempuan tua Quarash yang tidak mempunyai sebatang gigi dan sudah lama mati yang mana Allah telah menggantikan kamu dengan seorang yang lebih baik?'

Baginda Nabi SAW menjawab, 'Allah tidak memberi aku seorang yang lebih baik daripada Khadijah - dia percayakan aku bila orang menolak aku, dia yakin kepada aku bila orang mengingkari aku, dia menyokong aku dengan kekayaannya sementara orang menghalang aku dan dia melahirkan anak-anakku sementara yang lain (isteri-isteri lain) adalah sebaliknya.

Berhubung perasaan cemburunya, Aishah juga ingat, 'Aku tidak pernah mengetahui seorang tukang masak yang lebih baik dari Suffiyah. Satu ketika, dia membawa satu bekas berisi makanan untuk Baginda Rasulullah SAW, dan aku berasa macam hendak memecahnya. Jadi, aku bertanya kepada Baginda SAW, 'Apakah kelainannya jika aku yang membuatnya. Baginda menjawab, sebuah bekas untuk sebuah bekas dan satu sarapan untuk satu sarapan'.

Biarpun perasaan cemburu ini timbul sekejap-sekejap, Aishah tidak sekali-kali membiarkannya menjadi sesuatu yang membinasakan di luar kawalan. Sebagai seorang isteri Nabi SAW, beliau amat memahami bahawa beliau mestilah menjadi contoh yang baik kepada semua wanita Muslim.

Satu lagi episod yang menarik memperlihatkan tahap kekuatan hati Aishah bila mana dia merasai kedudukannya terancam. Berikutan kekalahan Banu Mustaliq pada tahun ke 5 Hijrah sebilangan orang-orangnya telah ditawan pihak Islam. Diantaranya terdapat seorang wanita rupawan dan menarik hati, Juwayriyyah Binti al-Harith. Suatu hari, wanita itu pergi ke rumah Baginda Rasulullah SAW untuk mendapat bantuan supaya dibebaskan dari tawanan. Juwayriyyah ialah anak perempuan kepada ketua Banu Mustaliq dan puak ini ada hubungan persaudaraan dengan puak Khuza'ah yang kuat dan pihak Islam telah membuat satu perikatan dengannya (puak Khuza'ah).

Kesetiaan puak atau suku kaum memainkan peranan besar pada keseluruhan hal ehwal masyarakat ketika itu, dan ramai dikalangan orang-orang Arab percaya bahawa perkahwinan adalah satu-satunya jalan terbaik untuk mendapat sokongan dan mengekalkan perikatan diantara puak-puak itu.

Memahami perkara ini, Aishah mengetahui bahawa Juwayriyyah adalah calon paling layak untuk berkahwin dengan Baginda Nabi SAW, jadi dia pergi menemui Juwayriyyah dipintu masuk ke rumah dan cube menjauhinya dari berjumpa dengan Rasulullah SAW. Kebimbangannya menjadi kenyataan kerana tidak lama kemudia, Baginda Nabi telah berkahwin dengan Juwayriyyah. Aishah kemudiannya mengakui bahawa itulah sebab dia cuba menjauhkan Juwayriyyah dari suaminya, Nabi Muhammad SAW. Jelaslah, perkahwinan ini dilihat sebagai langkah terbaik untuk mengukuhkan kedudukan orang-orang Islam melalui bantuan dari puak Khuza'ah.

Satu Penghormatan Besar

Aishah tinggal bersama suaminya, Baginda Nabi SAW selama sepuluh tahun. Sepanjang jangka masa ini, beliau di didik dengan pengetahuan Al-Quran dan Sunnah. Sementara dapat mengekalkan sebagai satu sumber yang teguh bagi keceriaan dan keselesaan suaminya, beliau juga dapat menimba sebanyak mungkin maklumat yang tidak ada bandingan oleh mana-mana wanita dalam sepanjang sejarah Islam. Ini membolehkan beliau melakukan peranan istimewa sebagai pendidik dan pakar undang-undang. Sumbangannya dalam bidan-bidang ini tetap memberi suatu inspirasi terus-menerus dan hala tuju ke arah matlamatnya.

Baginda Nabis SAW melakukan ibadat haji di tahun akhir hayatnya dan pada masa yang sama Baginda telah menyampaikan ceramah selamat tinggalnya yang termasyhur. Semasa di 'Arafah, Baginda menerima salah satu wahy terakhir dari Allah SWT 'Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kamu agamamu, Aku lengkapkan nikmatku ke atasmu dan Aku gembira Islam itu menjadi agamamu'.

Tiga bulan kemudian selepas pulang dari mengerjakan ibadat haji, Baginda Nabi SAW jatuh sakit. Diserang kesakitan dan demam, Baginda bertanya kepada isteri-isterinya, 'Di mana aku akan berada esok? Di mana aku akan berada esok?' Memahami harapannya bahawa giliran Aishah akan menjelang tiba tidak berapa lama lagi, mereka membenarkan Baginda tinggal di mana sahaja pilihannya. Justeru, Baginda Rasulullah SAW telah dipindahkan ke rumah Aishah di mana Baginda menghabiskan hari-hari terakhir hayatnya, Aishah pernah berkata, 'Sesungguhnya, ini adalah satu-satunya anugerah Allah kepada aku agar Baginda Rasulullah SAW wafat dirumahku, pada hari giliranku, (iaitu pada hari yang biasanya Baginda SAW tinggal bersama-samanya) diantara dada dan leherku'.

Baginda juga dimakamkan di dalam rumah Aishah, kerana Abu Bakr teringat bahawa beliau telah mendengar Baginda Nabi SAW bersabda, 'Allah Yang Maha Agung, tidak akan mengambil nyawa seseorang nabi kecuali ditempat dimana Dia (Allah) menghendakinya (Nabi itu) dimakamkan'.

Tidak dapat dinafikan, bahawa sesungguhnya Allah SWT telah mengurniakan Aishah satu penghormatan tertinggi dengan mengizinkan PesuruhNya SWS wafat dalam pangkuan Aishah. Selain dari kelebihan keistimewaan untuk merakamkan sebegitu banyak tradisi-tradisi Nabi SAW, beliau juga diberkati dengan peluang untuk merakam saat-saat terakhir kehidupan teragung Baginda Rasulullah SAW.

Semasa Aishah melayani Rasulullah SAW, saudara lelakinya, Abdul Rahman masuk ke dalam bilik sambil memegang sepotong siwak. Baginda mengerling ke arah siwak itu, dan memahami Rasulullah SAW gemarkan kayu tersebut, Aishah bertanya jika Baginda inginkannya. Sambil menunjukkan keinginan kepada siwak, Baginda menganggukkan kepalanya. Bagaimanapun siwak itu agak keras dan Aishah menggigitnya supaya lembut bagi memudahkan Baginda menggunakannya. Ketika ini, suaminya sedang mencelup kedua-dua tangannya ke dalam satu bekas air kecil dia sebelahnya dan sambil membersihkat mukanya, menyebut berulang-ulang, 'Tidak ada Tuhan selain Allah dan pasti mati itu ada penderitaannya'.

Aishah teringat Rasulullah SAW pernah bersabda, semasa sihatnya, 'Allah yang memuliakan pesuruhnya, tidak mematikan seseorang Nabi kecuali sudah ditunjukkan tempatnya disyurga dan kemudian memberinya pilihan'. 'Sekarang dia akan pergi meninggalkan dunia yang fana ini, Aishah telah mendengar Nabi SAW bersabda. 'Ya Allah, dengan para sahabar termulia (iaitu para Nabi, sahabat-sahabatnya, Syuhadak dan Siddiqin)'. Apabila Aishah mendengar perkataan-perkataan ini, dia berkata kepada dirinya, 'Dia tidak memilih kita' Sesungguhnya, Rasulullah SAW telah memilih teman-teman mulia dari Syurga.

Ibu Setia

Setelah sekian lama wafatnya nabi SAW, Allah SWT telah menjelaskan bahawa isteri-isterinya tidak sama dengan wanita-wanita lain. Sebagai 'Ibu-ibu yang setia' mereka sering mengenepikan keinginan peribadi mereka agar dapat membantu Rasulullah SAW mengenengah dan menyempurnakan misinya. Walaupun setelah wafatnya Nabi SAW, mereka tetap mengekalkan peranan utamanya sebagai pendidik dan pembimbing. Allah SWT telah berfirman didalam Al-Quran bahawa tiada siapa pun boleh mengahwini mereka selepas Nabi SAW.

Kerap kali mereka (isteri-isteri Rasulullah) terpaksa menanggung kelaparan dan kemiskinan yang lama. Aishah mengenangi bahawa terdapat masa-masa apabila bulan dan diwaktu itu, mereka (isteri-isteri Nabi SAW) hanya bergantung kepada kurma dan air sahaja untuk hidup. Selepas Rasulullah SAW wafat, isteri-isterinya yang lain menghantar Uthman menemui Abu Bakr untuk bertanya jika baginda SAW ada meninggalkan sesuatu untuk mereka. Apabila Aishah mendengarnya, beliau berkata, 'Tidakkah mereka menyedari bahawa Rasulullah SAW telah berkata, 'Tidak seorang pun dapat mewarisi daripada kami (para Nabi). Apa-apa kami tinggalkan ialah untuk diderma atau disedekahkan'.

Sepanjang hayat mereka, rumah-rumah isteri Rasulullah SAW kekal sebagai pusat penting untuk mendapatkan pembelajaran dan bimbingan. Para terpelajar dan penuntut telah mengembara dari segenap pelusuk dunia bertujuan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan nasihat daripada ibu-ibu yang setia. Sesungguhnya, orang-orang Muslim dari segenap lapisan hidup datang menemui mereka untuk mendapatkan penjelasan dan peraturan-peraturan mengenai perkara-perkara rumit yang berkaitan dengan kepercayaan dan hidup yang menfaatkan mereka. Ibu-ibu setia itu membebaskan mereka dari kejahilan, memberi makan kepada yang laparserta galakkan kepada yang lemah. Lazimnya, rumah Aishah mempunyai tarikan bagi orang-orang Muslim, kerana beliau ialah seorang yang arif dan terkenal diantara isteri-isteri Rasulullah SAW. Seringkali mereka menunjukkan kasihnya kepada Rasulullah SAW dengan membawa hadiah-hadiah untuk Aishah. Kedudukan beliau diantara ibu-ibu setia dan diantara wanita-wanita pada amnya dijelaskan dalam sebuaj hadith yang diriwayatkan oleh Anas Bin Malik, yang berkata, 'Aku telah mendengar Nabi SWS bersabda, 'Kedudukan Aishah diantara wanita-wanita diibaratkan 'thareed' (sepinggan bubur daging yang digemari) berbanding dengan makanan yang lain'.

Ekoran wafatnya Baginda Nabi SAW, bapa Aishah, Abu Bakr, mengambilalih kepimpinan Negara Islam, menjadikan beliau khalifah pertama mendapat bimbingan yang sempurna. Pentadbiran Abu Bakr, hanya berakhir selama dua tahun tiga bulan sahaja. Dalam masa sesingkat ini, Aishah terus memainkan peranan aktif dalam hal ehwal masyarakat.

Bagaimanapun, di bawah pemerintahan 'Umar' barulah beliau mula menampakkan belangnya yang sebenar sebagai seorang terpelajar dan pakar undang-undang. Umar dan para sahabat lain yang terkemuka sering mendapatkan nasihat daripada Aishah mengenai bagaimana cara untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sukar.

Umar terkenal dengan sifatnya yang adil dan cekap dalam menguruskan hal ehwal masyarakat Islam. Bagaimanapun, beliau tidak mengabaikan untuk memberi pertimbangan kepada 'ibu-ibu setia' dan menjadikan satu tugas istimewanya untuk sering memberi mereka bahagian-bahagian dari daging walaupun hanya kepala dan kaki sahaja yang ada dari daging binatang-binatang yang disembelih. Perhatian beratnya terhadap kebajikan isteri-isteri Baginda SAW, dapat diperlihatkan apabila mereka meminta kebenaran Umar untuk mengerjakan ibadat haji. Beliau memerintahkan Uthman Bin Affan supaya mengiringi mereka. Beliau seterusnya mengarahkan dua orang pembantu rapat agar salah seorang daripada mereka mendahului isteri-isteri Nabi SAW sementara seorang lagi mengikut dibelakangnya, dan tiada seorang pun dibenar berjalan bersama-sama mereka. Umar juga memberi amaran bahawa apabila mereka (isteri-isteri Nabi) melakukan tawaf, orang-orang lelaki tidak dibenarkan melakukanya serentak.

Ibadat Siti Aishah r.a

Sepanjang sepuluh tahun sebagai isterinya, Aishah telah menyaksikan ibadat yang dilakukan Nabi SAW. Keseluruhan hidupnya ditumpu kepada Allah SWT. Segala perkataan dan perbuatannya, baik secara umum mahupun sulit, semuanya merupakan suatu bentuk ibadat. Baginda Nabi SAW, menghayati qiyam al-layl (sembahyang di tengah malam). Baginda akan berdiri sebegitu lama melakukan sembahyang hingga kakinya menjadi bengkak. Suatu ketika, 'Aishah bertanya kepadanya, 'Mengapa kamu lakukan ini, wahai Rasulullah, sedangkan Allah SWT sudah mengampunkan segala dosa kamu yang lepas dan akan datang?' Baginda menjawab, 'Tidakkah aku bersyukur sebagai seorang hamba?' Betapa penting nya Baginda Nabi SAW menitikberatkan ke atas sembahyang tengah malam adalah ketara sepertimana diriwayatkan oleh Aishah, 'Jika Rasulullah SAW tertinggal melakukan sembahyang ini, kerana sakit atau sebab-sebab lain, baginda akan mengerjakan sembahyang sebanyak dua belas rakaat diwaktu siang'.

Oleh kerana telah dipupuk dengan perasaan mesra dan kasih sayang yang mendalam terhadap suaminya, Rasulullah SAW maka dengan sendirinya Aishah dapat mengikuti contoh teladan yang diperlihatkan Nabi SAW kepadanya. Pastinya Nabi SAW telah memberi galakkan kepada Aishah untuk melakukan sembahyang tengah malam sebagaimana juga Baginda menggalakkan para sahabat lain berbuat demikian. Ali Bin Abi Talib telah meriwayatkan bahawa suatu malam Rasulullah SAW telah datang menemuinya dan Fatimah dan berkata, 'Tidakkah kamu sembahyang?' Dan Rasulullah SAW pernah berkata kepada Abdullah Bin Umar, 'Wahai Abdullah, jangan jadi seperti orang yang pernah mengerjakan sembahyang diwaktu malam kemudian terus berhenti'.

Terdapat jenis-jenis ibadat lain yang digemari Aishah. Puasa sunat (dibuat secara sukarela) adalah salah satu amalan sedemikian, mahupun memberi derma. Semasa berpuasa, beliau sering memberi sebegitu banyak derma sehingga terlupa disimpan sedikit untuk beliau berbuka puasa. Mu'awiyyah, pada satu ketuka telah mengirimkan wang satu ratus ribu dirham kepada Aishah dan sebelum terbenamnya matahari pada hari tersebut, kesemua wang yang diterima sudah habis didermakan. Kemudian, orang gajinya berkata kepadanya, 'Ada baiknya jika kamu membelikan kami sedikit daging'. Aishah menjawab, 'Pastinya aku berbuat demikian sekiranya engkau memberitahu sebelum wang itu habis'.

Walaupun sesetengah dari para sahabat Nabi diberkati dengan kekayaan dan kebahagian hidup dunia, mereka tidak sekali-kali membenarkan dirinya dipengaruhi dengan kebahagian sedemikian. Kekayaan hanya ditangan mereka, tetapi bukan dihatinya. Justeru itu, kekayaan sedia dibelanjakan ke jalan Allah. Aishah ialah salah seorang dari mereka yang menikmati kekayaan itu, namun beliau tidak pernah dikuasai oleh nafsu hatinya. Beliau memberikan kekayaannya kepada ahli keluarga, anak yatim, musafir dan orang-orang miskin.

Satu ketika semasa Rasulullah SAW masih lagi hidup, seorang perempuan bersama dua orang anaknya (kanak-kanak perempuan) datang berjumpa Aishah untuk meminta bantuan. Tidak ada apa-apa pun dirumahnya melainkan sebiji kurma. Jadi, beliau memberikan kurma tersebut kepada perempuan itu yang kemudiannya membahagikan buah itu diantara kedua-dua anak perempuannya. Sebaik sahaja mereka pergi Baginda Rasulullah SAW masuk ke dalam rumah dan Aishah menceritakan insiden itu. Baginda SWS bersabda, 'Sesiapa yang diuji Allah melalui kanak-kanak perempuan dan melakukan sesuatu yang baik baginya, mereka (kanak-kanak perempuan itu) akan menjadi pendinding baginya dari Api Neraka'.
 Wallahu'alam..




FASAL MENYATAKAN RAHSIA PUASA



Ini Satu Fashal Pada Menyatakan Rahsia Puasa Dan Menyatakan Segala Syaratnya Yang Bathin

Ketahui olehmu, hai orang yang menjalani jalan akhirat dan jalan kepada Allah Ta’ala, bahwa adalah bagi puasa itu 3 darjat:

Darjat Pertama - Puasa orang yang awwam yakni puasa kebanyakkan manusia yaitu menegahkan ia daripada makan dan minum dan jima’ [bersetubuh] dan menahan daripada segala yang membatalkan puasanya seperti yang tersebut pada fashal yang lalu

Darjat Kedua - Puasa orang yang khawwas iaitu puasa orang yang sholihin dan orang yang muttaqin iaitu menegahkan segala yang tersebut daripada yang pertama itu [seperti diatas] dan menegahkan pula akan segala anggotanya daripada berbuat ma’siat dan daripada berbuat yang sia-sia yang tiada memberi manfaat kepada akhirat dan hasil kesempunaan puasa mereka itu dengan 7 perkara:

(Pertama) memejamkan kedua matanya dan menegahkan keduanya itu daripada melihat kepada suatu yang mubah yang membimbangkan hatinya dari dhikruLlah Ta’ala dan daripada ingat kepada Allah. Sabda [Nabi] صلى الله عليه وآله وسلم:

النظر سهم مسموم من سهام إبليس لعنه الله، فمن تركه خوفا من الله آتاه الله إيمانا يجد حلاوته في قلبه – رواه الحاكم، صحيح (العراقي)

Ertinya: Melihat dengan syahwat itu iaitu satu panah yang dibubuh racun daripada beberapa panah iblis, maka barangsiapa meninggalkan melihat itu kerana takut akan Allah Ta’ala, nescaya memberi akan dia oleh Allah Ta’ala akan iman yang mendapat akan manis iman itu di dalam hatinya.
Dan lagi sabda Nabi صلى الله عليه وآله وسلم:

خمس يفطرن الصائم، الكذب، والغيبة، والنميمة واليمين الكاذبة والنظر بشهوة – رواه الأزدي، ضعيف (العراقي)

Ertinya: 5 perkara yang membatalkan (pahala) puasa: (pertama) berdusta; (kedua) mengumpat; (ketiga) mengadu-ngadu akan orang; (keempat) bersumpah dengan dusta; (kelima) melihat akan sesuatu dengan syahwatnya, yakni dengan ingin.

(Kedua) memelihara lidah:
  • daripada perkataan yang haram dan
  • daripada perkataan yang sia-sia yang tiada memberi manfaat di dalam akhirat dan
  • memeliharakan pula akan lidah daripada berdusta dan
  • daripada mengumpat akan orang dan
  • daripada mengadu-ngadu akan orang dan
  • memelihara pula akan dia daripada segala perkataan yang keji-keji dan
  • memelihara pula akan dia daripada  berbantah-bantah dan berkelahi dengan orang dan
  • memelihara daripada memaki orang.

Dan sayogianya hendaklah orang yang puasa itu
  • melazimkan diam dan
  • masyghul [sibuk] ia dengan membanyakkan dhikrullah Ta’ala dan
  • membanyakkan membaca al-Quran.

Dan kata Mujahid رحمه الله تعالى

خصلتان يفسدان الصيام الغيبة والكذب
Ertinya: 2 perkara membinasakan ia akan puasa: (pertama) mengumpat-umpat akan orang dan(dua) berdusta.

Dan sabda Nabi صلى الله عليه وآله وسلم:

إنما الصوم جنة، فإذا كان أحدكم صائما فلايرفث ولايجهل، وإن امرؤقاتله أو شاتمه فليقل إني صائم، إني صائم

Ertinya: Hanyasanya puasa itu perisai. Maka apabila ada seorang kamu puasa, maka jangan mengerjakan suatu yang sia-sia dan jangan berbuat akan perbuatan orang yang jahil. Dan jika ada seorang hendak membunuh akan dia atau memaki akan dia maka hendaklah ia berkata bahwasanya aku puasa, bahwasanya aku puasa.  (Hadits Muttafaqun ‘alaih). Maka jangan dilawan akan orang itu.

(Ketiga) sayogia bagi orang yang puasa itu memeliharakan telinganya daripada mendengar perkataan yang haram dan perkataan yang makruh dan memeliharakan telinganya daripada mendengar perkataan yang sia-sia yang tiada memberi manfaat di dalam akhirat.

Dan sabda Nabi صلى الله عليه وآله وسلم:

المغتاب والمستمع شريكان في الإثم

Ertinya: Orang yang mengumpat akan orang dan orang yang mendengar akan dia itu bersekutu keduanya itu pada berdosa (Hadits riwayat ath-Thabrani, dhaif - al-‘Iraqi)

(Keempat) seyogianya bagi orang yang puasa itu memeliharakan tangannya dan kakinya daripada segala yang diharamkan dan segala makruh dan segala yang sia-sia, tiada memberi manfaat di dalam akhirat.

(Kelima) memeliharakan perut pada ketika waktu berbuka itu daripada memakan makanan yang haram atau memakan yang syubhat. Maka tiada faedah bagi puasa, iaitu meninggalkan daripada makan yang halal kemudian maka berbuka dengan makanan yang haram. Maka adalah misal orang yang puasa itu seperti misal orang yang berbuat mahligai pada hal ia merobohkan negeri kerana makanan yang halal itu memberi mudharat ia dengan memakan banyak akan dia dan tiada memberi mudharat ia dengan makan sedikitnya. Dan puasa itu mensedikitkan makan yang halal, iaitu ubat yang memberi manfaat bagi hati dan membanyakkan akan dia itu membinasakan akan hati dan memakan yang haram itu membinasakan agama. Sabda Nabi صلى الله عليه وآله وسلم:

كم صائم ليس له من صومه إلا الجوع والعطش

Ertinya: Beberapa daripada orang yang puasa padah al tiada baginya daripada puasanya itu melainkan lapar dan dahaga jua.

Maka kata ulama [dalam menjelaskan maksud hadits diatas] orang itu ialah orang yang berbuka dengan memakan yang haram. Dan kata setengah ulama, iaitu menahan daripada memakan yang halal dan berbuka dengan daging manusia dengan mengumpat-umpat akan orang dan mengumpat itu haram. Dan kata setengah ulama iaitu orang yang tiada memelihara akan segala anggota daripada yang haram yang membawa kepada dosa.

(Keenam) seyogianya bahwa jangan membanyakkan pada ketika berbuka itu dengan memakan yang halal sekira-kira memenuh perutnya, kerana sabda Nabi صلى الله عليه وآله وسلم:

ماملأابن آدم وعاء شرا من بطنه

Ertinya: Tiada memenuh oleh anak Adam akan suatu tempat yang terlebih jahat daripada memenuh perutnya dengan memakan yang halal.

Ini kerana maksud dengan puasa itu iaitu hendak mengurangkan makan supaya dhoif syahwat nafsunya dan syahwat syaitannya, maka jika dihimpunkan makanan yang pagi-pagi dan makanan yang petang-petang itu dengan sekali maka pada ketika berbuka puasa itu, maka tiada faedah puasanya itu. Jadi tiada manfaat puasanya itu melainkan dengan sedikit daripada memakan yang halal kerana mengurangkan makan itu meringankan tubuh pada berbuat ‘ibadat dan berbuat sembahyang tahajjud pada malam hari dan merajinkan mengerjakan wiridnya dan dhikirnya hingga terang hatinya.

(Ketujuh) sayogia bahwa adalah hatinya kemudian daripada berbuka itu berulang-ulang antara khauf dan raja’ yankni berulang-ulang antara takut akan Allah Ta’ala dan antara harap akan Allah Ta’ala kerana tiada diketahui adakah diterima akan puasanya itu, maka iaitu daripada orang yang muqarrabin atau ditolongkan akan puasa itu atasnya, maka iaitu daripada orang yang dimurkai Allah Ta’ala. Dan seyogianya ia menghadirkan yang demikian itu pada ketika kemudian daripada tiap-tiap ‘ibadat yang lain daripada puasa itu. والله أعلم


Darjah ketiga - Puasa orang khawwasul khawwas iaitu puasa orang yang muqarrabin yang ‘arifin iaitu menahan hati daripada mencita-citakan dunia dan memikirkan akan dia dan mengosongkan rahsia yang di dalam hati [sirr] daripada barang yang lain daripada Allah Ta’ala. Dan sentiasa hatinya itu syuhud kepada Allah Ta’ala dan batal puasanya itu dengan memikirkan barang yang lain daripada Allah Ta’ala dan yang lain lain daripada negeri akhirat. Demikian lagi batal puasa itu dengan memikir akan pekerjaan dunia, melainkan jika ada dunia itu membawa kepada manfaat akhiratdan jadi bekal baginya di dalam akhirat, maka iaitu tiada dinamakan dunia. Kerana inilah kata ulama ahlul bathin:

من تحركت همته بالتصرف في نهاره لتدبر ما يفطر عليه كتبت عليه خطيئة

Ertinya: Barangsiapa bergerak cita-citanya dengan berbuat di dalam harinya itu kerana membicarakan sesuatu yang akan dimakannya pada ketika berbukanya itu, nescaya disurat atasnya akan dosa.

Dan yang demikian itu kerana kurang percaya dengan anugerah Allah Ta’ala dan kemurahanNya pada memberi rezqi akan dia dan kurang yaqin ia dengan rezqinya yang dijanjikan oleh Allah Ta’ala.

Dan darjat puasa yang ketiga iaitu martabat anbiya’ dan orang-orang siddiqin dan orang-orang muqarrabin yang ‘arifin, kerana cita-cita hati mereka itu semata-mata berhadap kepada Allah Ta’ala dan berpaling hati mereka itu daripada segala yang lain daripada Allah Ta’ala dan telah masuk mereka itu di dalam makna firman Allah:

قُلِ ٱللَّهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ

Ertinya: Ucap olehmu akan Allah Ta’ala kemudian maka tinggalkan olehmu akan manusia di dalam pekerjaan mereka itu pada hal bermain-main mereka itu. (Surah al-An’am: 91).

Wallahu'alam.

HIKMAT DAN RAHSIA AL-QURAN



BISMILLAH (Dengan nama Allah)
Barangsiapa membaca sebanyak 21 kali ketika hendak tidur, nescaya terpelihara dari godaan dan gangguan syaitan, dari bencana manusia dan jin, daripada kecurian dan kebakaran, dan daripada kematian mengejut. Dan barangsiapa membaca sebanyak 50 kali di hadapan orang yang zalim, hinalah dan masuk ketakutan dalam hati si zalim serta naiklah keberanian dan kehebatan kepada pembaca.

SURAH AL-FATIHAH (Pembukaan)
Barangsiapa membacanya sebanyak 41 kali diantara sembahyang sunat Subuh dan fardhunya, nescaya permintaannya di perkenankan, jika sakit lekas sembuh dan nescaya dikasihi oleh makhluk dan ditakuti oleh musuh. Barangsiapa membaca 20 kali sesudah tiap-tiap sembahyang fardhu, nescaya rezekinya dilapangkan oleh Allah dan bertambah baik keadaannya, serta bercahaya rohaninya.

AYAT AL
-KURSI (Kekuasaan Allah)
Barangsiapa membacanya sekali selepas setiap sembahyang fardhu, nescaya terpelihara dari tipu daya dan gangguan syaitan. Dengan membacanya seorang yang miskin akan menjadi kaya, dan jika dibaca ketika hendak tidur nescaya akan terselamat dari kecurian, kebakaran dan kekaraman. Barangsiapa sentiasa membaca ayat Al-Kursi, nescaya Allah akan kurniakan kepada ahli rumahnya kebaikkan yang tidak terhitung banyaknya. Barangsiapa berwudhuk lalu membaca sekali, nescaya Allah akan meninggikan darjatnya setinggi 40 darjat dan Allah akan mendatangkan para malaikat menurut bilangan hurufnya, seraya berdoa untuk sipembaca sehinggalah ke hari Qiamat.

Dan tersebut dalam hadith yang lain:
Barangsiapa membacanya ketika hendak tidur, nescaya Allah akan membuka pintu rahmat baginya hingga kesubuh, dan mengurniakan kota nur menurut bilangan rambut dibadannya. Jika sipembacanya meninggal dunia pada malam itu, ia dikira mati syahid.

Imam Jaafar Shadiq r.a. mengatakan:
Barangsiapa membaca sekali, nescaya Allah akan menghindar darinya 1,000 kesukaran duniawi, yang terkecil sekali ialah kemiskinan dan kepapaan, dan 1,000 kesukaran ukhrawi, yang terkecil sekali ialah azab neraka.

SURAH AL-BAQARAH (Sapi Betina)
Barangsiapa membaca dua ayat terakhir dari surah ini (Amanar rasulu) sebelum tidur, ia akan terselamat dari segala bala bencana dan mara bahaya.

SURAH ALI-IMRAN (Keluarga Imran)
Barangsiapa membaca tiga ayat yang pertama dari surah ini, nescaya ia akan mencapai kesihatan dari segala penyakit dan terselamat dari gangguan jin.

SURAH AN-NISSA' (Perempuan)
Barangsiapa yang membaca ayat yang ke 75 dari surah ini, nescaya ia akan terselamat dari kejahatan para penjahat.

SURAH AL-MAIDAH (Hidangan)
Barang siapa membaca ayat yang ke 7 dari surah ini, sebanyak yang mungkin selama 3 hari berturut -turut, insyaAllah akan terselamat dari was-was semasa wudhu dan sembahyang. Barang siapa membaca ayat 89 hingga ayat 101 dari surah ini, keatas air lalu diberi minum kepada orang yang bercakap dusta, nescaya dia tidak akan bercakap dusta lagi.

SURAH AL-AN'AM (Binatang Ternak)
Barang siapa membacanya sebanyak 7 kali, nescaya akan terhindar dari segala bala bencana. Jika ayat 63 dan 64 dari surah ini,dibaca oleh penumpang kapal, ia akan terselamat dari karam dan tenggelam.

SURAH AL-A'RAAF (Benteng Tinggi)
Barang kali membaca ayat 23 dari surah ini, selepas tiap-tiap sembahyang fardhu, lalu beristighfar kepada Allah, nescaya akan terampun segala dosanya. Barang siapa membaca ayat 47 dari surah ini, ia akan terpelihara dari kekacauan para penzalim serta ia akan mendapat rahmat Allah.

SURAH AL- ANFAL (Rampasan)
Barang siapa membaca ayat 62 dan 63 dari surah ini, nescaya dia akan di cintai dan dihormati oleh sekalian manusia.

SURAH AL-BARAAH (AT-TAUBAH) (Pemutus Perhubungan)
Barang siapa membacanya, nescaya akan terselamat dari kemunafiqan dan akan mencapai hakikat iman. Barang siapa membaca ayat 111 dari surah ini, dikedai atau ditempat-tempat perniagaan, nescaya akan maju perniagaannya itu.

SURAH YUNUS (Yunus)
Barangsiapa membaca ayat 31 dari surah ini, keatas perempuan yang hamil, nescaya ia akan melahirkan anak dalam kandungannya itu dengan selamat. Barang siapa membaca ayat 64 dari surah ini, nescaya ia akan terhindar dari mimpi-mimpi yang buruk dan mengigau.

SURAH AL-HUD (Hud)
Barang siapa membaca, nescaya ia akan mendapat kekuatan dan kehebatan serta ketenangan dan ketenteraman jiwa. Barang siapa membaca ayat 56 dari surah ini, pada setiap masa, nescaya ia akan terselamat dari gangguan manusia yang jahat dan binatang yang liar. Barang siapa membaca ayat 112 dari surah ini, sebanyak 11 kali selepas tiap-tiap sembahyang, nescaya akan mencapai ketetapan hati.

SURAH YUSUF (Yusuf)
Barang siapa membacanya, akan di murahkan rezekinya dan diberikan kemuliaan kepadanya. Barang siapa membaca ayat 64 dari surah ini, ia akan terhindar dari kepahitan dan kesukaran hidup. Barang siapa membaca ayat 68 dari surah ini, nescaya Allah akan mengurniakan kesolehan kepada anak-anaknya.

SURAH AR
-RA'D (Petir)
Barang siapa membaca ayat 13 dari surah ini, ia akan terselamat dari petir. Dan barangsiapa membaca ayat 28 dari surah ini, nescaya penyakit jantungnya akan sembuh.

SURAH IBRAHIM (Ibrahim)
Barang siapa membaca ayat-ayat 32 hingga 34 dari surah ini, nescaya anak-anaknya akan terhindar dari perbuatan-perbuatan syirik dan bida'ah.

SURAH AL-IIIJ'R (Batu Gunung)
Barang siapa membaca 3 ayat yang terakhir dari surah ini, ke atas perempuan yang selalu anak kandungannya gugur, nescaya anak kandungannya itu akan terselamat, dari gugurnya.

SURAH BANI ISRAIL (anak-anak Israil)
Barang siapa membacanya ke atas air, lalu diberi minum kepada orang yang bercakap gagap insyaAllah akan hilang gagapnya itu. Barang siapa membaca ayat 80 dari surah ini, ketika ia pulang dari perjalanan, nescaya dia akan dimuliakan dan dihormati oleh orang-orang yang setempat dengannya.

SURAH AL-KAHF (Gua)
Barang siapa membacanya, akan terhindar dari kemiskinan dan kepapaan. Barang siapa membacanya pada malam Jumaat, mescaya dia akan mendapat rezeki yang murah.

SURAH MARYAM (Maryam)
Barang siapa membacanya, nescaya akan mendapat kejayaan di dunia dan akhirat.

SURAH THAAHAA (Hai Manusia)
Barang siapa membacanya, nescaya Allah akan mengurniakan kepadanya ilmu pengetahuan dan akan tercapai segala maksudnya. Barang siapa membaca ayat-ayat 25 hingga 28 sebanyak 21 kali, tiap-tiap hari selepas sembahyang subuh nescaya otaknya akan cerdas dan akalnya akan sempurna.

SURAH AL ANBIYA (Nabi-Nabi)
Barang siapa membaca ayat 83 dari surah ini, nescaya dia akan mendapat sebesar-besar pangkat di sisi Allah s.w.t .

SURAH AL-HAJ (Haji)
Barang siapa membacanya, Allah akan membinasakan musuh-musuhnya.

SURAH AL-MU'MINUN (Orang-orang Mukmin)
Barang siapa membacanya ke atas air, lalu diberi minum kepada orang yang selalu minum minuman keras,nescaya dia tidak akan meminumnya lagi. Barang siapa membaca ayat 28 dari surah ini, nescaya perahunya akan terselamat daripada karam dan rumahnya akan terselamat dari kecurian dan serangan musuh.

SURAH AN-NUUR (Cahaya)
Barang siapa membacanya, nescaya ia akan terhindar dari mimpi-mimpi yang buruk. Barang siapa membaca ayat 35 dari surah ini, pada hari Jumaat sebelum sembahyang Asar, nescaya dia akan disegani oleh orang ramai.

SURAH AL-FURQAN (Pembaca)
Barang siapa membacanya sebanyak 3 kali ke atas air yang bersih, lalu air itu dipercikkan di dalam rumah, nescaya rumah itu akan terselamat dari gangguan binatang-binatang yang liar dan ular-ular yang bisa.

SURAH ASY-SYU A'RA (Ahli-ahli Syair)
Barang siapa membaca ayat 130 dari surah ini, sebanyak 7 kali dengan senafas ke atas orang-orang yang digigit oleh binatang-binatang yang berbisa nescaya akan hilang bisa-bisa itu.

SURAH AN-NAML (Semut)
Barang siapa membacanya nescaya nikmat-nikmat Allah akan kekal kepadanya.

SURAH AL-QA-SHASH (Cerita)
Barang siapa membacanya ke atas pekerja-pekerjanya, nescaya mereka tidak akan mencuri dan mengkhianat. Barang siapa membaca ayat-ayat 51 hingga 55 dari surah ini, nescaya otaknya akan cergas, akalnya akan sempurna dan budi pekertinya
akan halus.

SURAH AL-ANKABUT (Labah-labah)
Barang siapa membacanya, nescaya demamnya akan sembuh. Barang siapa membacanya, nescaya ia akan terhindar dari gelisah dan keluh kesah.

SURAH AR-RUM (Rum)
Barang siapa membacanya, nescaya Allah akan membinasakan orang yang hendak menzaliminya.

SURAH LUQMAN (Luqman)
Barang siapa membacanya, nescaya ia akan terhindar dari segala-gala penyakit terutama dari penyakit-penyakit perut. Barang siapa membaca ayat 31 dari surah ini, nescaya akan terselamat dari bencana banjir.

SURAH AS-SAJ DAH (Sujud)
Barang siapa membaca ayat-ayat 7 hingga 9 dari surah ini, ke atas kanak-kanak yang baru lahir, nescaya ia akan terhindar dari segala-gala penyakit ruhani dan jasmani.

SURAH AL-AHZAB (Golongan-golongan)
Barang siapa membaca ayat-ayat 45 hingga 48 dari surah ini, nescaya ia akan mendapat kemuliaan dan kehormatan sejati. Dan barang siapa membaca ayat-ayat 60 hingga 66 dari surah ini, nescaya Allah akan membinasakan musuh-musuhnya.

SURAH SABA' (Saba')
Dengan membacanya, terselamatlah ia dari segala-gala bala bencana, terutamanya dari rosaknya tanam-tanaman.

SURAH FAATHIR (Pencipta)
Barang siapa membaca ayat-ayat 29 dan 30, nescaya Allah akan memberkati perniagaannya.

SURAH YAASIIN (Hai Manusia)
Nabi kita Muhammad s.a.w bersabda : "Tiap-tiap sesuatu mempunyai hati dan hati Al-Quran ialah surah Yaasin."
Hadith yang lain mengatakan : "Barang siapa membaca surah Yaasiin kerana Allah, nescaya akan terampun segala dosanya kecuali dosa syirik.."

Dalam satu hadith yang lain Baginda s.a.w bersabda :"Hendaklah kamu membaca surah Yaasiin ke atas pesakit-pesakitmu yang menghadapi sakaratul-maut, nescaya Allah s.w.t akan meringankan kekerasan sakaratul-maut itu."

Dalam satu hadith yang lain pula Baginda s.a.w bersabda : "Aku ingin benar, agar surah Yaasiin ini dihafaz oleh tiap-tiap umatku."

Barang siapa membacanya sebanyak 41 kali, pasti akan tercapai segala hajat dan cita-citanya.

Barang siapa membacanya sebanyak 21 kali pada malam Jumaat, lalu berdoa istghfar untuk kedua ibu bapanya, nescaya dosa kedua ibu bapanya akan diampunkan oleh Tuhan.

Barang siapa membaca sekali ketika membuka kedai atau perniagaan, nescaya akan maju perniagaannya itu.

Barang siapa membacanya sekali pada awal malam, andai kata ia mati pada malam itu, mesti ia mati syahid dan barang siapa membacanya sekali pada awal pagi, andaikata ia mati pada hari itu, mesti ia mati syahid.

Barang siapa membacanya sekali selepas tiap-tiap sembahyang Jumaat, nescaya ia akan diselamatkan dari siksa kubur.

Jika dibacanya oleh seorang askar, ketika ia hendak turun kemedan peperangan, Allah akan mengurniakan kepadanya keberanian dan kegagahan, serta naiklah ketakutan pada musuh-musuhnya.

Hikmat-hikmat dan khasiat-khasiat surah Yaasiin ini banyak benar didapati di dalam kitab-kitab hadith tetapi cukuplah setakat ini untuk di amal oleh anda sekalian.

SURAH ASH-SHAAFFAAT (Yang Berbaris)
Barang siapa membacanya, insya Allah in akan terpelihara daripada gangguan jin.

SURAH SHAAD (Shaad)
Dengan membaca ayat 42 dari surah ini, nescaya akan mendapat kebahagian sejati.

Selamat Mencuba!!~